Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 31 | Murid Baru



Dua lelaki yang memakai seragam sama warna serta terdapat sebuah pin berlambang Organisasi Siswa Intra Sekolah yang melekat di dada kanan almamater mereka.


Dua lelaki tersebut adalah bagian anggota keamanan OSIS yang bertugas mengawasi seluruh siswa yang tak mengikuti peraturan yang sudah ditetapkan.


"lu denger suaranya disini?" Tanya salah satu dari mereka.


Saat upacara, mereka di tugaskan mengawasi siswa yang terlambat datang ke sekolah, memeriksa tiap kelas kalau-kalau ada yang tidak turun ke lapangan. Dan saat memeriksa kelas, mereka tak sengaja mendengar suara dari arah belakang sekolah.


"Gue denger tadi. Tapi kok gak ada ya? Masa gue yang salah dengar?"


Mereka melangkah dan memeriksa ke asal suara tapi tak menemukan apa-apa, lagipula disini tak terlihat ada manusia.


"Apa ada anak yang bolos?"


"Periksa aja."


Risya mengintip dari balik tanaman pagar, menatap dua lelaki yang sedang berbicara. Mereka nampak mengenakan bed OSIS di dadanya. Si*l!! Sepertinya itu OSIS bagian keamanan.


Risya menoleh pada Alby seraya berbisik. "Apa gak bakal ketahuan kita disini?"


Alby menggeleng, sepertinya ia juga tidak tahu akan kah mereka ketahuan atau tidaknya.


"Terus gimana?"


"Nunggu mereka pergi," bisik Alby. Ia mengelus kepala Risya agar tetap tenang di tempatnya.


"Tapi kalau mereka gak pergi?"


"Kita alihkan aja perhatian mereka."


Risya memutar kepalanya lagi menatap dua lelaki yang masih berada di sana. Ia duduk berjongkok, saat kakinya sedikit bergeser, tiba-tiba...


Krek!


Bunyi patahan ranting mengalihkan atensi dua lelaki tadi, mereka menoleh bersamaan. Menilik sekeliling dengan seksama dan berakhir pada pohon-pohon kecil berdaun lebat dan rimbun.


"Oi! Siapa disitu?"


"Keluar gak lu! sebelum gue yang narik lu keluar!"


Mereka saling menatap satu sama lain kemudian melangkah maju, langkah mereka terkesan pelan seolah ingin mengejutkan seseorang. Satu langkah dua langkah sampai mendekati tempat yang mereka curigai, belum sempat menengok mereka seketika dikejutkan oleh sesuatu yang tiba-tiba melompat ke depan.


"Gyaahhh!!!" Pekik lelaki ber-name tag Tio dan ia reflek berlari meninggalkan teman satunya yang bernama Deni.


Deni yang masih syok karena teriakan temannya tadi menilik ke bawah dengan lirikan kaku, melihat benda apa yang telah mengejutkan mereka.


Meoong..


Deni seketika bernafas lega sambil mengusap dada kala mendapati seekor kucing mengeong di depannya. Kucing itu memiringkan kepala seolah heran menatap lelaki tersebut.


"Ngagetin aja si kucing! Mana gue ditinggalin lagi sama si Tio, dasar Tio penakut!" padahal ia juga takut tapi tak mau mengakuinya.


Deni mendumel seraya melangkah meninggalkan tempat dan menyusul temannya. Menyisakan angin yang bertiup menggugurkan dedaunan kering yang jatuh berserak di atas rerumputan.






Teman-teman sekelas nampak melirik bingung pada dua makhluk yang berbeda gender sedang terbahak bersama entah apa yang mereka tertawa kan, padahal tak ada yang lucu.


"Si pendiam bisa ketawa juga euyy.." Bisik satu perempuan berambut keriting.


"Biasanya nggak ada ekspresi nya." Sahut cewek berkacamata.


"Hooh sekali dia ketawa serasa dunia jadi penuh warna, kelas kagak suram lagi kayak di rumah hantu."


"Tapi perasaan nggak ada yang lucu ya, ngapa tu bocah dua ketawa?"


Bisik-bisik segerombolan penggosip di pagi hari tak membuat kedua makhluk yang tergelak bersama berhenti dengan kegiatannya. Alby dan Risya bengek mengingat ekspresi wajah dua lelaki yang terkaget-kaget akibat ulah mereka.


*Flashback


Risya memutar kepalanya lagi menatap dua lelaki yang masih berada di sana. Ia duduk berjongkok, saat kakinya sedikit bergeser, tiba-tiba...


Krek!


Bunyi patahan ranting mengalihkan atensi dua lelaki tadi, mereka menoleh bersamaan membuat Alby panik bukan main.


"Heh bocah lu ngapain?!" Pekik Alby dengan suara berbisik.


"Nggak sengaja."


"Jangan jauh-jauh ke situ, nanti ketahuan."


Risya mengangkat dua jarinya membentuk huruf V sambil cengengesan imut.


Alby geleng-geleng kepala kemudian menoleh de depan seraya menilik dua lelaki itu diantara lubang-lubang kecil di dedaunan.


"Mereka kesini." Kata Alby.


"Gi-"


Alby meletakan telunjuk di depan bibir membuat Risya bungkam dan tubuhnya mengerut, ia bergeser mendekat ke arah Alby.


"Nggak bisa dibiarin kalau kayak gini," gumam Risya pelan. Netra nya menatap sekitar tempat persembunyian mereka.


"Gue tau, Al," ucapnya tiba-tiba membuat Alby menelengkan kepala. Apa lagi yang bocah ini lakukan?


Risya tersenyum mendapatkan sesuatu yang dapat membantu mereka sekarang. Ia dengan cepat berbalik dan menyembunyikan sesuatu itu di belakangnya. Risya mendekat lalu menatap Alby dengan cengiran.


"Kenapa?" Bisik Alby, sesekali ia melirik ke balik pohon.


"Tadaaa!!" Risya mengangkat seekor kucing di hadapan Alby dengan mata berbinar.


"Buat apaan?"


Risya seketika mendatarkan wajahnya lalu menabok kepala Alby pelan dengan satu tangannya, tangan yang satunya untuk memegang kucing.


"Buat usir tuyul!"


"Kayak elu?"


"Heh!!" Risya melotot ke arah Alby sekarang malah cengengesan. Gila kali! Masa dia di samakan dengan tuyul?? Karena tubuhnya pendek?? Si*lan!


"Jangan banyak omong! Cepat liatin mereka udah deket apa belum."


"Iya-iya."


Mereka kembali terdiam. Risya terdiam menunggu jawaban Alby, Alby terdiam menilik dua lelaki di depan sana.


"Gimana?"


"Mau tuker posisi?" Risya mengangguk kemudian mereka bertukar, yang awalnya Risya sebelah kiri Alby sebelah kanan sekarang kebalikannya.


"Mpus, nanti kamu lompat ya?" Ucap Risya berbisik pada si kucing.


Alby memandang Risya dengan kernyitan, ia menjelek-jelekan ekspresinya, memangnya kucing bisa di ajak bicara? Paling nanti kucingnya tak beranjak juga.


Saat dua lelaki itu mendekat, Alby mengangkat satu jarinya menghitung agar Risya bersiap, dua jari terangkat, saat jari ketiga diangkat kucing itu melompat tiba-tiba bersamaan dengan suara teriakan yang membuat Alby terjengit kaget.


Risya cekikikan dibuatnya, ekspresi dua orang itu sangat konyol dan ia tak tahan untuk tidak tertawa.


*Flashback off


"Anak siapa sih jahil banget!"


"Anak Daddy." Risya tertawa menanggapi perkataan Alby


Bersamaan dengan hal tersebut, suara ketukan sepatu yang khas terdengar menuju ke kelas Risya. Serentak dengan suara deritan pintu yang terbuka, membuat anak-anak di kelas terdiam sambil menoleh ke arah sejurus.


Seorang guru lelaki yang memakai kacamata masuk sambil tersenyum, ia berjalan ke depan kelas dan berdiri di dekat mejanya.


"Pagi anak-anak bapak."


"Pagi, Pak!" Sahut mereka serentak.


"Sebelum kita memulai pembelajaran, Bapak ingin memberikan kalian kejutan." Pak Junet - guru bahasa - mempersilakan seseorang dari balik pintu untuk memasuki kelas bersamaan dengan sorakan kagum para siswi di kelas.


Tapi tidak dengan Risya, ia hanya terdiam sambil sesekali melirik ke luar jendela dan mengabaikan teriakan yang memenuhi pendengarannya.


"Silahkan kamu perkenalkan diri pada teman-teman barumu." Pinta Pak Junet pada murid baru.


"Rhaegar Pahlevi pindahan dari negaza Z," ucap murid baru singkat.


"Hai Rhaegar..." Sahut para murid serentak.


"Kiw cowok ganteng." Pekik satu murid yang perempuan menghebohkan isi kelas.


"Yuk bisa yuk jadi pacar gue." Murid yang lain menyorakinya ketika mendengar perkataan itu.


"Udah punya."


Perkataan singkat dari Rhaegar mampu membuat murid perempuan di kelas seketika loyo tak bersemangat. Padahal tadi lagi senang-senang nya.


Pak Junet terkekeh, lalu mengarahkan Rhaegar untuk duduk di bangku karena sudah tak ada lagi murid yang mau bertanya.


Risya yang sedari tadi tak menengok ke depan kini menolehkan kepalanya ke samping karena merasa ada seseorang di dekatnya. Risya mengernyit menatap lelaki disampingnya.


"Gue duduk disini," jelasnya pada Risya. Kemudian ia mengulurkan tangannya seolah mengajak untuk berkenalan.


Risya dengan datar menatap ke arah tangan dan wajah Rhaegar secara bergantian. Lalu menjabatnya dan berucap, "Risya."


"Rhaegar."


Risya mengangguk kemudian melepaskan jabatan tangan mereka dan fokus ke arah papan tulis. Rhaegar tak mengalihkan pandangan sama sekali, ia menatap Risya dalam dan bergumam pelan.


"I really miss you..."


"...Erin."


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...tbc...