
Kejadian sebelumnya
Risya dan Alby berada di taman kota, mereka bertatapan lama. Setelahnya Alby memutuskan lebih dulu kontak mata di antara mereka.
"Lu ngaco banget kalau ngomong. Udah yuk pulang aja, kayaknya lu udah ngantuk," ucap Alby sambil terkekeh.
Risya beranjak mengikuti Alby, ia hanya diam menatap punggung Alby yang berjalan di depannya. Risya menghela nafas, ia hanya ingin menguji Alby sebenernya dan ingin melihat responnya saja. Ternyata sama seperti yang diharapkan nya, Alby biasa saja dan tak terlalu menanggapinya. Mana ada orang yang percaya akan ucapannya yang terdengar konyol dan mustahil terjadi, kan?
Risya memasuki mobil Alby dengan keadaan wajah yang nampak lelah. Alby prihatin dengan Risya dan menyuruhnya untuk tidur sebentar sebelum mereka sampai ke rumah.
"Tidur dulu aja, entar gue bangunin kalau udah sampai."
Alby melajukan mobil mereka menembus jalanan yang sudah lumayan sunyi, hanya ada beberapa pengendara yang berlalu lalang dan tak sebanyak tadi. Risya awalnya menggeleng namun lama kelamaan tertidur juga dan pada akhirnya Alby tak tega membangunkannya.
Sampai di depan pagar rumah rumah Risya, Alby membunyikan klakson. Seseorang dari arah dalam berlari ke arah pagar lalu bertanya pada Alby.
"Maaf, cari siapa ya?" tanyanya karena tak mengenali pemilik mobil dan ini bukan mobil majikannya.
Alby keluar dari mobilnya dan tersenyum ramah. Ia menilik ke arah dalam menatap rumah berlantai dua yang terlihat megah. "Ah maaf pak, ini benar rumahnya Risya Erin?" Tanya Alby takut salah rumah. Ia juga tak menyebut nama akhir Risya karena tidak tahu kepanjangannya.
Pria itu berfikir sejenak kemudian berujar, "Iya benar, tapi Aden siapa ya?"
"Saya Alby, pak. Dan saya ke sini mau nganterin Risya."
Mang Asep membuka pagar dengan cepat. "Non Risya udah ketemu?"
Alby mengernyit, ketemu apa? Dia kan memang dengan Risya. "Bapak bisa bukain pagernya nggak, Risyanya lagi tidur saya nggak tega buat bangunin dia." sahut Alby seraya menatap pria paruh baya ini.
Mang Asep menengok ke dalam mobil Alby untuk memastikan benar atau tidaknya ucapan anak muda ini. Setelah memastikan, mang Asep mempersilakan Alby masuk mengantar nona mudanya.
Mobil berhenti di perkarangan rumah. Alby menengok Risya yang tertidur pulas, ia semakin tak tega untuk membangunkan nya. Akhirnya ia menggendong Risya ala bridal style sampai di depan pintu dan bertemu lelaki dingin yang menatapnya dengan tajam.
**
Sigra meletakkan Risya di atas ranjang dengan pelan, membenarkan bantalnya lalu menyelimuti sampai batas bahu. Sigra memandangi adiknya yang tertidur lelap, hatinya terenyuh melihat wajah sang adik yang begitu tenang dan damai. Sigra tersenyum sedetik kemudian kembali datar lagi kala mengingat lelaki yang mengantar adiknya pulang.
Sigra mengelus puncuk kepala Risya dan mencium dahinya singkat. "Yang tadi itu temen lu ya? Kalau gue gak suka, boleh nggak kalau gue bunuh dia?" Tanyanya dengan senyum miring yang tercetak di bibirnya.
Sedangkan di ruang tamu, Alby menunggu dengan gelisah kala Sigra belum juga turun dari lantai atas. Alby sedikit tak nyaman dengan aura lelaki itu yang memandangnya dengan dingin dan tajam. Kenapa sekarang ia gugup ya? Padahal waktu di kafetaria ia biasa saja melihatnya. Apa karena ini sudah tengah malam ya hingga membuat dia tiba-tiba jadi bergidik?
Tap
Tap
Tap
Terdengar suara langkah seseorang dari arah tangga, Alby menoleh menatap kaki yang terlihat menuruni anak tangga hingga menampakkan wujudnya. Jantung Alby berdegup seirama dengan langkah kaki lelaki tersebut, bukan karena jatuh cinta tapi karena ia gugup. Rasanya seperti di interogasi polisi karena ketahuan mencuri.
Sigra duduk berhadapan dengan Alby, kakinya menyilang dengan tangan yang ia lipat di depan dada. Ia hanya diam menatap Alby dengan tajam, hawa dingin menyelimuti ruang tamu, tubuh Alby kaku dan tak dapat berkutik di depan lelaki itu. Alby jadi takut, kegugupan biasanya bisa membuat orang salah bicara.
"Siapa?" Tanya Sigra membuyarkan keheningan diantara mereka.
"Alby."
"Gue gak nanya nama lu."
Alby langsung bungkam mendengar suara dingin lelaki di depannya, Alby memaki dalam hati, tadi bertanya siapa, ya dia jawab kan namanya, ternyata salah juga.
Alby menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan nya perlahan. "Temen," ucap Alby. Sigra diam dan memberikan tatapan mengintimidasi.
Buset dah tatapannya tajam bener, udah kayak mau nyambit kepala orang.
"Lu maki gue dalam hati?"
"Enggak kok." Dalih Alby cepat. Gila! Apa lelaki ini bisa mendengar isi hati??
"Jadi lu siapa?" Tanya Sigra lagi, bermaksud agar Alby bisa memperjelas perkataannya lagi.
"Alby, temen Risya."
Sigra menggebrak meja. "Elu yang bawa Risya kabur?!"
Alby terperanjat kaget dan langsung menyergah cepat. "Bukan!! Gue gak bawa dia kabur, cuma ajak dia jalan-jalan doang."
Sigra menaikkan sebelah alisnya. "Ada maksud apa lu deketin dia?"
Alby menelan ludahnya kesusahan. "Gue kagak ada maksud apa-apa deketin Risya. Emangnya elu siapanya sih jadi bisa interogasi gue?" Tanya Alby memberanikan diri membalas tatapan tajam Sigra dengan tatapan sengit.
"Gue gak perlu jawab pertanyaan lu." Sigra tersenyum miring menatap Alby yang nampak penasaran akan dirinya. "Kenapa lu bawa Risya? Jelasin sebelum gue bunuh elu di sini."
Alby menghela nafas, susah juga bicara dengan lelaki di depannya ini. "Gue ngajak dia jalan, bukan bawa dia kabur atau semacamnya kayak yang elu pikiran. Gue ngajak jalan dan Risya terima. Awalnya gue juga gak tau kalau dia keluar dari rumah diam-diam, Risya ngasih gue alamat dan di suruh nunggu di jalan dekat tembok yang di sebelah sana." Ucap Alby seraya menunjuk ke arah yang di maksudnya. Dan Sigra mengerti, pasti tembok yang mengarah pada kamar Risya.
"Gue juga kaget karena lihat dia ada di atas tembok itu, gue suruh dia turun lalu setelah itu kita jalan-jalan. Gue malah ngelupain cara dia keluar dari rumah ini dan gak mempermasalahkan itu lagi. Awalnya memang gue lupain tapi setelah malam udah semakin larut gue tiba-tiba inget gimana cara dia keluar rumah. Gue ngajak dia pulang, tapi dia nggak mau dan pada akhirnya gue gak bisa nolak permintaan dia."
"Dan sorry karena selarut ini kita baru balik, jangan bunuh gue. Kita gak macem-macem kok cume ke pasar malem doang dan elu pasti ngerti aja kalau lagi bersenang-senang itu pasti bakal lupa waktu." Jelas Alby panjang lebar, ia sekarang bisa santai tak se kaku tadi. Kalau di depan orang tua Risya mungkin lain cerita lagi.
"Bukan karena lu paksa?"
Alby berdecak. "Bukan!"
Sigra nampak terdiam mendengarkan penjelasan Alby. Rupanya Risya sekarang lebih aktif dari yang dulu, walau dia tak terlalu memperhatikan adiknya tapi ia tahu kalau Risya tak pernah mencoba keluar rumah di malam hari, Risya juga selalu menghabiskan waktunya di dalam kamar. Sekarang Sigra bahkan sedikit tak percaya melihat adiknya jadi se bar-bar itu, keluar malam diam-diam lewat balkon bahkan melompati tembok pembatas. Apakah manusia bisa berubah secepat itu??
Sigra masih menatapnya dengan tajam seraya berkata, "Kejadian yang lu lihat malam ini gue minta lu tutup mulut, dan juga kalau lu macem-macem sama Risya... Gue habisin lu!"
Alby bergidik merasakan aura yang dikeluarkan lelaki ini, ia dengan cepat mengangguk lalu berpamitan dan buru-buru keluar dari rumah Risya sambil mengumpati lelaki dingin itu di dalam hati.
S*al!!
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...tbc...