Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 105 | Caper?



"Udah lah kalian gak usah ribut," celetuk Risya dengan sedikit malas. "Gak udah diperpanjang juga, lagian Soya juga udah maafin dia, kok. Iya 'kan Soy?"


Soya menghembuskan nafasnya ke udara lalu menganggukkan kepala. "Nah, udah liat kan? Jadi jangan ribut-ribut lagi, ini tempat makan bukan tempat berantem," tambah Risya.


Tak berselang lama dari perkataan terakhirnya, kini Rey dan Angga kembali ke meja mereka dengan membawa beberapa makanan.


"Guys! Makanan dateng nih," ucap Angga sambil menaruh satu persatu pesanan teman-temannya di atas meja.


"Makasih, Bu," kata Rey pada seorang wanita paruh baya yang bertugas di kafetaria, wanita itu membantu mereka membawa pesanan tadi.


"Sama-sama." Wanita tadi pergi dan berlalu dari meja mereka.


Angga mendudukkan dirinya di tempat yang sebelumnya ia tempati. "Ini kok pada diem-dieman sih?" Tanyanya sambil menatap mereka bergantian. "Lagi pada berdoa ya? Eh mengheningkan cipta maksudnya."


Sebelum Rey duduk di kursinya, ia menggeplak kepala belakang Angga terlebih dahulu. "Dongo banget lu!" Sentaknya.


Yang lain pun nampaknya tak ada yang berniat menanggapi perkataan Angga hingga membuat lelaki itu mendengus kesal.


Nina juga terdiam seraya menatap sepiring nasi goreng seafood di hadapannya. Teman-temannya sudah memulai acara makan mereka namun hanya ia sendiri yang sedikitpun belum menyentuh makanan miliknya.


Rey yang menyadari Nina nampak melamun pun segera menegurnya, "kenapa, Nin? Lu gak suka ya sama makanannya? Mau gue pesenin lagi yang lain?"


Nina langsung menggeleng cepat. "B-bukan gitu, Kak. Gak usah, ini aja aku suka, kok," sergahnya.


Rey menaikkan sebelah alisnya, lalu kenapa perempuan ini tak menyentuh makanannya jika bukan karena tak suka.


"Maaf."


"Kenapa lu jadi minta maaf?" Tanya Rey pada Nina. "Lu gak salah, Nin. Jangan biasain kayak gitu, minta maaf terus padahal bukan elu yang salah."


Soya terlihat biasa saja, tak terlalu memperdulikan perkataan lelaki itu apalagi ia tahu kalau Rey berkata seperti itu sambil melirik ke arahnya.


Lelaki itu menyindirnya?


Biarkan saja, biar dia senang karena merasa menang.


Ehem! Angga berdehem mencoba menghilangkan rasa canggung yang merambat di antara mereka. Bukannya damai, ternyata kalau dipertemukan malah tambah runyem.


Masing-masing punya ego yang tinggi, tak ada yang mau kalah sebab mereka sama-sama saling menjatuhkan satu sama lain.


"Eh, Sya," panggil Angga sambil menatap Risya. Gadis yang dipanggil pun mendongak untuk balas menatapnya. "Gue denger dua temen lu yang sering bareng lu itu ikut lomba antar sekolah ya?"


Risya hanya menganggukkan kepalanya kemudian kembali menatap ponselnya.


"Emang kenapa, Le?" Timpal Rizhan sambil mengunyah makanan yang berada dalam mulutnya.


Angga menatap Rizhan sekilas. "Nggak, gue cuma nanya doang. Soalnya gak biasanya 'kan Risya sendirian, pasti ada si Alby juga sama teman yang satunya, gue gak tau namanya." Ia nyengir kuda.


Soya lantas menatap Risya dengan mata yang melebar. "Seriusan? Alby sama Rhae ikut lomba?"


"Iya, Soya," sahut Risya membuat Angga mencebikkan bibirnya, tadi saat ia yang bertanya malah direspon dengan anggukan saja tapi giliran Soya malah ditanggapi dengan kata-kata.


Risya pilih kasih ya.


"Dih curang banget!" Keluh Soya. "Kok gue gak dikasih tau sih sama mereka?" Gerutunya sambil mengerucutkan bibirnya.


Risya terkekeh kecil, tangannya terangkat untuk menepuk bahu Soya sebanyak dua kali. "Emang sengaja tuh bocah berdua, kalau lu gak terima, hajar aja," katanya membuat Angga bergidik ngeri.


"Oh iya, Alby ada nitipin sesuatu buat lu."


Mata Soya langsung berbinar-binar mendengar perkataan Risya. "Ciyus??" Tanyanya dan Risya menganggukkan kepala sambil mengulas senyuman. "Nitipin apa?"


Risya membisikan sesuatu ke telinga Soya, yang lain hanya saling lirik karena tak mendengar apa yang mereka bisikan hingga cekikikan.


Soya dekat dengan Alby? Sejak kapan? Tapi waktu itu ia lihat Soya dekat dengan Angkasa.


Dan sekarang Alby? Sampai rela menitipkan sesuatu pada Risya untuk Soya? Apakah itu sesuatu yang spesial? Sejauh apa hubungan mereka??


Relvan menggenggam garpu dengan erat, tangannya terlihat mengeluarkan urat dan membuat Rizhan salah fokus ke arahnya. Bocah itu menelengkan kepala sambil mengerjap pelan, kenapa lagi dengan lelaki itu?


Risya tak terlalu fokus pada beberapa lelaki yang bergabung di meja mereka, ia menggembungkan pipinya tanpa sadar sambil mengedarkan pandangan ke arah sekitar.


Matanya berbinar cerah dan senyuman manis mengembang di bibir manisnya, ia langsung menatap Sigra setelah menemukan apa yang ia inginkan untuk mengganjal mulutnya.


"Gra," panggil Risya. Sigra yang sedang menyantap makanannya pun seketika mendongak dan memandang sang adik.


"Kenapa, hm?" Tanyanya seraya mengusap rambut Risya yang terasa lembut menyusuri jari-jarinya. Entah sejak kapan kebiasaan ini sekarang menjadi hobinya ketika berinteraksi dengan adiknya.


Rasanya ia ingin mengacak-acak rambut Risya setiap hari dan juga mengunyel pipi adiknya yang terlihat bulat itu. Tanpa ingin berbagi dengan orang lain.


"Caca mau itu," ucap Risya sambil menunjuk stand es krim yang ada di kafetaria dengan telunjuk mungilnya.


Sigra menolehkan kepalanya mengikuti arah tunjukkan adiknya, bahkan teman-temannya pun ikutan menoleh entah kenapa.


Es krim?


Sigra menghela nafas dan kembali memutar kepalanya menghadap Risya. "Gak, kamu gak boleh makan itu," tolaknya sambil memasukkan satu sendok makanan miliknya ke dalam mulut.


Risya mendelik sinis ke arah Sigra. "Masa gak boleh? Cuma itu doang kok, boleh ya?" Pintanya lagi dengan wajah memelas.


"Gak." Sigra masih setia dengan jawaban pertamanya. "Nanti kamu pilek kalau makan itu."


"Gak akan pilek, cuman satu doang."


"Gak."


"Tapi Caca mau it--"


Ucapan Risya langsung terhenti saat Nina ikutan menimpali dan memotong perkataannya sebelum ia selesai bicara.


"Bener kata Kak Sigra, Risya. Kamu harus dengerin dia, lagian kamu juga bukan anak kecil lagi 'kan yang kalau minta sesuatu harus diturutin terus. Entar kebiasaan bikin kamu manja."


Mood Risya seketika menurun kala mendengar perkataan yang keluar dari mulut Nina, bikin mood nya jadi buruk aja tuh cewek, mana ia sedang pms lagi!


"Nina bisa gak sih lu jangan ngomong gitu?!" Sergah Soya seraya menatap Nina dengan raut tak suka.


"Emang kenapa? Yang aku bilang bener, kok," sahut Nina dengan raut lugunya.


Sigra menghela nafas seraya melirik Nina dengan tatapan tajam. Kenapa mulut perempuan itu tidak dijahit saja sekalian biar tidak ceplas-ceplos sembarangan?


Ia tak tahu saja kalau Risya sudah merajuk itu pasti akan bertahan lama, sampai Sigra sendiri pun tak ditegurnya.


Ck! Sigra mendecakkan lidahnya. Jika bukan memandang Nina adalah perempuan milik temannya mungkin ia akan memutilasnya jika diperbolehkan oleh dunia.


Mengesalkan!!


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...