Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 130



Risya terlihat cengo karena gerakan reflek para lelaki yang berdiri di dekat tubuhnya. Ini pada kenapa? Tanyanya membatin. Ia juga terkejut saat Relvan juga Rhae yang melakukan hal serupa yaitu; melepas almamater milik mereka.


Risya terdiam sembari melirik ke arah Sigra yang menatap dingin kepadanya. Ia tak dapat melihat ke sekeliling tempat ia berdiri, sebab ketutupan dengan tinggi para lelaki yang mengerumuni dirinya.


"Tutup mata gak lu semua!"


"Apa perlu gue yang congkel mata kalian biar berhenti liatin dia?"


Risya mengerjap saat Rhaegar dan Relvan membuka suara. Kenapa dua lelaki ini melarang untuk membuka mata? Apa ada yang salah di sekitarnya? Risya menilik ke sana ke mari, setelah itu menelisik dirinya sendiri. Tak ada yang salah, dan anehnya lagi, setelah ia mengusap wajahnya, para lelaki ini sudah ada di sekelilingnya.


Risya tak paham.


"Kamu ngapain sih, Ca?"


Risya memiringkan kepalanya. Tak mengerti dengan pertanyaan yang Sigra lontarkan. "Ngapain apanya sih?" Tanyanya dengan bingung. "Harusnya itu aku yang nanya, kalian semua ini pada ngapain? Pengap tau!"


Mereke ini tidak mengerti, kah, kalau dirinya tengah kepanasan? Mana ia berkeringat, malah sekarang suhu di sekitarnya dibuat meningkat jadi panas serta pengap.


"Sorry, tapi kita, kan juga bermaksud buat ngelindungin elu."


Risya menoleh saat Rizhan berkata. Ngelindungi dari apa? Gadis itu mengerutkan keningnya dengan sangat.


Karena merasa tak ada lagi yang terang-terangan menatap ke arah mereka, ketujuh lelaki itu pun sedikit menjauh dan hanya berbalik agar bisa memandang Risya. Risya sendiri pun masih terlihat bingung, ia tak tahu kenapa dan apa salah pada dirinya.


Apa ada yang salah, ya?


"Kenapa sih, kok natep gue kayak gitu?" Risya sambil sedikit mendongakan kepala. Ia juga merasa risih karena ditatap para lelaki secara intens seperti ini.


"Lu ngapain buka baju?" Tanya Rhaegar sambil memicingkan mata.


Risya melirik ke arah Rhae dengan tatapan tidak mengerti. "Buka baju? Emangnya kapan gue ngelakuin hal itu?"


Gila kali! Ia tak akan mungkin untuk melakukan hal sembrono yang tidak berguna seperti itu!


"Barusan," sahut Alby dengan datar. Ia melihat Risya nampak bingung pun kembali bertanya, "lu gak sadar apa?"


Risya menurunkan sedikit kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke arah alas lapangan. Apa sih maksud mereka? Sejak kapan ia pernah buka baju di tempat umum? Risya kembali merenung dengan pikirannya, apa maksud mereka saat ia mengelap keringat tadi?


Oh, iya. Ia, kan, tadi mengelap keringatnya menggunakan ujung baju yang secara otomatis terangkat dan mengekspos seperempat bagian perutnya. Risya menghela nafas saat menyadari hal itu. Ya elah, hanya karena??


Risya kembali memandang mereka. "Maksud lu, pas gue ngelap keringet tadi?" Tanyanya kemudian.


"Lu ngelap keringat? Kenapa harus pake ngangkat baju segala, sih?" Perkataan Relvan terdengar seperti sebuah keluhan. Hei, ada apa dengan lelaki ini? Tak biasanya ia bertingkah begini.


Risya mengernyit. "Ya mau gimana lagi, Van? Tangan gue kotor, nih." Ia berkata seraya memperlihatkan tangannya yang memang terlihat seperti yang ia bilang pada lelaki itu barusan.


Masalahnya, ia tak bisa menyentuh wajahnya dengan kondisi tangan seperti ini. Di tambah juga ada faktor lain yang mempengaruhinya, ia punya kebiasaan buruk dengan menyapu keringat menggunakan ujung baju.


Sigra menghembuskan nafas dengan sedikit kasar, untung hanya sekejap saja terlihat karena ia yang langsung lebih dulu menghalangi pandangan para siswa.


"Jangan lagi diulangin," celetuknya. Ia memandang sang adik dengan lekat, tangannya terangkat merapikan rambut Risya yang nampak berantakan di sisi kanannya. "Lain kali kalau emang niat mau main ini, bawa tisu buat lap keringat kamu."


Haaahhh... Bikin bingung saja mereka ini.


"Ya. Lain kali aku bakal ingat soal hari ini." Risya mengembangkan senyumnya agar Sigra juga tak marah lagi padanya.


"Caper, ya? Pengen banget gitu diperhatiin seluruh siswa." Risya dan tujuh lelaki itu langsung menengok saat sebuah suara terdengar menyeletuk.


"Maksud lu apa jadi ngomong kayak gitu?" Tanya Alby. Ekspresinya terlihat tak suka saat mendengar penuturan perempuan di depan mereka.


Ternyata itu suara yang berasal dari temannya Nina yang bernama Ana. Dia ini memang suka ceplas-ceplos tanpa tahu kondisi disekitarnya itu bagaimana.


Risya menarik baju belakang milik Rhae. "Geser dikit, Gar. Gue kaga bisa liat itu siapa."


Beginilah resiko memiliki tubuh yang pendek alias tidak tinggi, kalau ia berdiri di belakang orang yang tinggi maka ia tak akan bisa melihat apa yang ada di depan mereka. Sedangkan orang yang bertubuh tinggi jelas mereka dapat melihat apa saja yang ada di depan mata saat di mana pun posisi tempat ia berada.


Rhaegar melirik sambil tersenyum simpul, ia dengan sigap langsung bergeser dan memberi peluang untuk Risya. Oh, ternyata Nina dan kawan-kawan, ya? Risya memandang ke arah ketiga perempuan itu. Yang ngomong tadi siapa, ya? Dan itu bukan suara Nina. Sepertinya juga bukan suara teman Nina yang punya rambut sebahu itu. Berarti tinggal yang satu itu.


"Kok lu jadi nanya gue? Harusnya lu tanya lah tuh sama cewek yang caper barusan, maksudnya apa kayak gitu?" Sahut Ana dengan wajah santai.


Risya sontak memegang tangan Sigra, memberitahukan kalau lelaki itu tidak boleh ikut campur dan cukup lihat saja. Ia tahu Sigra bakal menyergah dan pastinya tidak terima saat yang perempuan itu singgung adalah adiknya.


Ya, kan, Kakak mana yang membiarkan adiknya digunjing orang lain di depan mata dan memilih diam saja. Ya, i know... Risya tahu hal itu, dulu Kak Agas juga seperti itu saat merasa ada yang membicarakan dirinya dengan kalimat sarkas.


Risya melepaskan tangan sang Kakak dan menatap datar ke arah Ana. "Lu ngomongin gue? " Katanya.


Ana menatapnya dengan malas. "Kalau elu ngerasa ya bagus sih. Gak perlu capek-capek buat memaksa lu buat sadar diri!"


"Ana!" Tegur Nina kemudian. Ia menatap Risya dengan ekspresi seolah tak enak hati. "Risya, maaf, temen aku emang suka ngomong sembarangan," katanya.


Ana mengernyit kala mendengar perkataan Nina. "Dih, elu ngapain sih, Nin, kok malah jadi ngebelain dia? Bukannya tadi-- aw!" Ucapannya langsung terpotong hingga membuat Risya dan teman-teman menatapnya dengan lekat dan sedikit bingung.


"Kenapa, Na?" Tanya Nina sambil menatap Ana. Lila hanya diam sambil menggigit bibir bawahnya. Ia nampak tak mau ikut angkat bicara.


"Ah, gak apa-apa, kok!" Sahutnya sedikit ketus.


Risya menaikan sebelah alisnya, padahal ia melihat kalau tadi perempuan yang bernama Ana itu nampak meringis sesaat. Dia juga nampaknya ingin mengatakan sesuatu tapi terhenti dan tak jadi.


Mencurigakan! Hm...


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...