
Beberapa saat, keheningan menyelimuti kedua remaja yang ada di dalam ruangan itu. Alby tidak mengubah posisinya, begitu juga dengan Risya.
Risya menilik Alby yang nampak tenang, lalu ia kemudian bertanya pada laki-laki itu, "Al, lu gak tidur, kan?"
"Enggak," sahut sang empu langsung.
Alby kemudian memutar kepalanya menghadap ke arah Risya. Melirik gadis itu dan bertanya, "lu pernah jatuh cinta gak, Sya?"
Risya terdiam dan nampaknya ia sedang berpikir sejenak. Ia kemudian menggelengkan kepala sebagai jawaban akhirnya.
Alby mendengus tipis. "Serius?" Tanyanya sambil mendongakan kepalanya, menatap Risya.
Risya menyatukan kedua tangannya, sebab ia juga tak lagi mengusap kepala Alby. "Iya, serius," jawabnya.
Risya tidak berbohong, ia memang belum pernah merasakan hal seperti itu, jatuh cinta atau suka terhadap lawan jenisnya. Dulu sewaktu di dunia asalnya, Risya kebanyakan hanya sibuk belajar dan belajar tanpa perduli dengan urusan percintaan.
Alby menaikan sebelah alisnya. "Sama Rhae?" Tanyanya lagi.
Risya langsung tersedak ludahnya sendiri. Apa-apaan sih Alby ini? Masa langsung menyudutkannya dengan pertanyaan seperti itu?
"Nggak tuh!" Sahutnya kemudian.
Alby langsung menahan tawanya yang ingin meledak seketika. "Nggak kok wajahnya merah gitu?" Selidiknya sambil tersenyum jahil.
"Apa sih lu?!" Dengus Risya sembari hendak menoyor kepala laki-laki itu. Wajah Alby terlihat begitu menjengkelkan!
Namun Alby langsung menangkap tangan Risya dan membawanya ke dalam genggaman tangannya. "Galak banget sih," celetuknya. Ia tersenyum, senyumnya benar-benar terlihat mengejek gadis itu.
"Gue kan cuma bercanda." Alby terkekeh melihat raut wajah Risya yang terlihat jengkel. Tangan Risya yang masih berada di genggamannya, Alby bawa ke depan mata.
Ditiliknya lekat tangan itu. "Tangan lu kecil banget, Sya. Imut," katanya dan hanya dilanjutkan dengan bergumam di akhir kalimat.
Bukannya baper atau salah tingkah saat tangannya di mainkan oleh seorang laki-laki seperti ini, Risya justru malah semakin kesal dibuatnya.
"Dih! Bukan salah gue, tangan lu aja tuh yang gede!" Tukasnya sembari merotasikan bola matanya.
Alby lantas tertawa kecil, tangan Risya sangat mungil tapi enak untuk di genggam. Lembut, hangat dan juga terasa nyaman.
Risya menatap lekat ke arah Alby yang sepertinya sangat menyukai tangannya itu. Lalu ia kemudian menarik tangannya seketika hingga membuat Alby nampak murung setelahnya.
Risya lantas menatap laki-laki itu dengan tatapan mata sinis. "Apaan dah tuh muka lu? Kayaknya lu efek kelamaan ngejomblo deh," ucap Risya. Ia melipat tangannya ke depan dada sembari melirikkan matanya ke atas sesaat.
"Mending lu cari pacar gih, Al!"
Alby menghela nafas dan menatap Risya dengan malas. "Males gua, Sya," sahutnya seraya merenggangkan tubuhnya sesaat. Pegel juga karena duduk dengan posisi tubuh yang sedikit membungkuk.
"Emang lu udah pernah nyoba nyari pacar?" Risya menatap Alby dengan seksama.
Alby seketika menyahut, "Gak usah dicari juga pacar gue dateng sendiri."
"Cih! Gegayaan lu!" Risya mencebik.
Alby sontak terkekeh geli. Ia lalu memandang Risya dengan lekat hingga membuat gadis itu merasa kesal dan langsung menutup mata Alby menggunakan tangannya.
"Mata lu tuh bisa buta kalau ngeliat kecantikan gue!" Hanya bergurau saja agar Alby berhenti memperhatikan Risya. Tatapan laki-laki itu terlalu membebani dirinya.
Alby menarik sudut bibirnya membentuk senyuman, tangannya lalu meraih tangan Risya yang menutupi matanya. "Gue rela buta demi bisa ngeliat elu, Sya."
Perkataannya lantas membuat Risya langsung menyipitkan mata seraya menarik cepat tangannya untuk kedua kalinya. Kalau Rhaegar mendengar ini, pasti laki-laki itu langsung bercekcok dan saling adu mulut.
Bersamaan dengan itu pula, Dokter Jim keluar dari ruangannya dan berjalan menghampiri Alby dan juga Risya. "Kalian di sini?" Katanya.
Suara itu sontak mengejutkan kedua remaja di dalam sana, mereka seketika menoleh ke arah sejurus. "Kenapa Om Dokter?" Tanya Risya sembari memiringkan kepalanya dengan bingung.
Dokter tak langsung menanggapi perkataan Risya, pria itu meletakan sebuah botol di atas meja di dekat ranjang. "Saya sudah memeriksa sesuatu yang terkandung di dalamnya."
Alby yang sudah berdiri pun lantas bertanya, "beneran ada obat yang larut di dalamnya, Dok?"
Dokter Jim menganggukkan kepalanya sekali. "Saya juga sudah menduganya dari awal, dan saat saya periksa dengan teliti ternyata itu semua memang benar."
Dokter Jim menatap ke arah gadis yang duduk di atas ranjang. "Sebelumnya, dari siapa kamu mendapatkan air mineral itu?" Tanyanya kemudian.
Risya hanya diam, ia bingung hendak menjawabnya bagaimana. Tak mungkin, kan, ia menjawab kalau yang memberikannya itu adalah Soya? Bisa tambah rumit nanti masalahnya.
"Saya dapat dari-"
Brakk!!
Risya langsung terlonjak kaget, begitu juga dengan Dokter Jim dan juga Alby. Seseorang membuka pintu UKS dengan kencang hingga membuat ucapannya tak terselesaikan.
Risya lihat, seorang siswa yang bergegas masuk ke dalam ruangan dan menghampiri mereka. Siswa itu yang nampak terlihat ngos-ngosan karena nafasnya yang tak beraturan.
"Kak- haah..." Siswa itu sedikit membungkuk sambil memegang kedua lututnya, mengatur nafasnya agar lancar menginformasikan sesuatu pada kakak kelasnya itu.
"Kenapa sih?" Tanya Alby penasaran.
"Itu." Siswa itu kembali menunjuk ke arah pintu keluar.
Alby dan Risya langsung saling pandang, Dokter yang berada di antara mereka pun nampaknya juga tidak paham.
"Itu apaan?" Timpal Risya kemudian. Menatap ke arah pintu, siapa tahu ada sesuatu di sana dan ia bisa mendapatkan jawabannya.
"Kak Rhaegar."
"Rhaegar? Rhaegar kenapa?"
Saking penasarannya, Alby sampai mendesak si siswa. Siswa ini lambat sekali menjeda kalimatnya, rasanya Alby ingin sekali menyeleding kepalanya.
"Itu, kak Rhaegar berantem sama kak Soya."
"Hah?!" Risya seketika membelalakkan matanya, pun Alby juga memasang ekspresi serupa. Di detik berikutnya, kedua remaja langsung berlari meninggalkan UKS tanpa perlu bertanya untuk kedua kalinya.
Sang Dokter dan seorang siswa yang tertinggal pun hanya bisa saling pandang. Siswa tersebut lantas menyengir kala baru menyadari ada seorang Dokter di antara mereka tadi.
"Eh, maaf, Pak Dokter, tadi saya sempat gak sopan pas buka pintu," katanya. Dan dokter hanya tersenyum menanggapinya.
***
"Maksud lu apaan masukin kayak gitu ke minuman Risya?"
Suaranya langsung mengundang perhatian anak-anak di dalam kelas XI-IPA2 dan juga beberapa siswa yang lewat di depan kelas itu.
Soya lantas mengerutkan keningnya seraya menutup sebuah buku yang tergeletak di atas meja. "Maksud lu apa sih, Rhae? Gue gak ngerti." Gadis itu sangat bingung saat laki-laki itu masuk ke kelasnya dan berkata seperti itu padanya.
"Lu gak usah pura-pura gak tau deh!" Ujar Rhae lagi. Entah kenapa saat berjalan menuju kafetaria tadi, Rhaegar tiba-tiba teringat sesuatu yang membuat emosinya seketika naik-turun.
Laura yang melihat perdebatan mereka pun sontak berdiri dari duduknya. "Eh, bentar, bentar. Ini sebenarnya kenapa sih?" Ia bertanya dengan posisi berdiri di antara keduanya, melerai dengan mendorong dada Rhaegar agar sedikit menjauh dari Soya.
"Gue bener-bener gak tau maksud lu apa! Elu tiba-tiba masuk ke kelas gue dan marah-marah gak jelas sama gue!" Soya benar-benar tidak mengerti dibuatnya.
Rhaegar mengangguk-anggukan kepalanya, lalu menghembuskan nafas kasar kemudian. Ia menatap Soya dengan sorot mata tajam. "Air mineral yang lu kasih ke Risya, ada obat perangsang di dalamnya."
Suaranya terdengar pelan saat menyebut kata 'obat perangsang' hingga orang-orang di sekitar tidak bisa mendengar apa yang ia ucapkan.
"Dan elu, masih mau berpura-pura gak tau tentang hal itu?"
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...