
Di dalam kamar yang begitu senyap itu, hanya terdengar nyanyian sebuah lagu yang mengalun merdu memenuhi seisi kamar nya. Risya, gadis itu terlihat sangat asik dengan sebuah laptop yang berada di pangkuan nya, mata nya begitu fokus menilik layar laptop tersebut sampai-sampai ia tak mendengar bunyi ketukan pintu yang sudah ada sedari ia asik tadi.
Tok!
Tok!
Tok!
Bunyi itu terus berulang namun tetap tak mendapat sahutan dari seseorang yang berada di dalam. Sigra yang berdiri di depan pintu kamar adik nya pun nampak mengerutkan dahi, ia sontak bertanya-tanya kemana pergi nya Risya hingga tidak membukakan ia pintu?? Sigra mendekatkan telinga nya ke daun pintu seolah ingin mendengar sesuatu dari ruangan itu.
"Ngapain, bang?" Tanya mommy yang baru saja naik ke atas untuk mengantarkan makanan untuk putri kecil nya.
Sigra tersentak saat menyadari kehadiran sang Mommy yang menyapa nya secara tiba-tiba. "Eh, Mom, kenapa?" Tanya nya bingung.
"Harus nya Mommy yang nanya, kamu itu ngapain berdiri di depan kamar adek kamu?" Tanya Mommy sambil mengernyitkan kening nya.
Apa tingkah nya ini terlihat aneh? Sigra tak berpikir begitu apalagi merasa, ia cuma ingin memastikan adik nya ada di dalam apa tidak.
Sigra berdehem pelan, "ah, nggak apa-apa kok, Mom," sahut nya. "Sigra cuma nyari Caca, tapi dia nya kemana ya? Dari tadi Sigra ketuk-ketuk pintu nya nggak ada yang nyahut."
Ah ternyata begitu? Mommy pun mengangguk-anggukan kepala nya. "Palingan adek kamu tidur atau nggak dengerin musik, dia 'kan suka banget tuh sama hal kayak gitu." Mommy menyodorkan nampan makanan yang ia bawa untuk Risya ke arah Sigra. "Nih, sekalian aja kamu kasih ke Caca. Dari pulang sekolah tadi dia belum makan, kata nya nanti tapi Mommy tunggu eh dia malah gak keluar-keluar dari kamar." Mommy Aliya berucap terkekeh kecil.
Sigra menyambut nampan itu. "Ketuk aja, sayang. Adek kamu pasti denger, kok. Teriakin aja kalau masih gak denger."
Perkataan yang Mommy sontak membuat Sigra tersenyum tipis mendengar nya. "Mommy ke bawah dulu, ya." Sigra mengangguk sekali sembari menatap punggung sang Mommy lalu kembali mengalihkan pandangan nya ke arah pintu kamar adik nya.
Ketukan yang ia ulang ternyata tak mempan juga, akhir nya dengan mengesampingkan image cool diri nya, ia pun berteriak di depan kamar Risya.
"Caca!!" Panggil nya dengan lantang.
Ternyata itu sampai ke telinga orang yang berada di dalam sana, tak berselang lama setelah teriakan tersebut, terdengar langkah kaki dan bunyi kenop pintu yang hendak di buka.
Ceklek!
Pintu tersebut dibuka lebar menampakan seorang gadis yang berdiri di sana, Sigra seketika terdiam menatap makhluk cantik di depan nya. Rambut panjang sampai pinggang, ponian, pipi tembem, mata bulat dan memakai pakaian onesie karakter beruang.
Astaga! Adik nya terlihat begitu imut!
Risya yang melihat Abang nya terbengong pun lantas melambai-lambaikan tangan nya ke depan wajah Sigra. "Helow!!" Sapa nya. "Abang kenapa bengong, sih?" Sambung nya.
"You're so cute," gumam Sigra kecil.
"Hah?" Risya memiringkan kepala nya, gumaman Sigra terdengar begitu samar hingga membuat nya kebingungan. Sigra bergumam apa ya? Ia hanya mendengar kata "cute" saja.
Risya memasang wajah cengo dan seketika ia juga Sigra tersadar dari pesona adik nya. "Nih, kata Mommy kamu dari tadi belum makan." Sigra menyerahkan nampan tersebut dan di sambut pula oleh sang empu.
"Oh, iya ya." Risya mengangguk kecil lalu setelah menerima pun ia hendak menutup pintu kamar nya namun terhenti saat Sigra nampak menahan nya.
"Kenapa, bang?" Risya bertanya sambil mengernyit heran, apakah Sigra masih ada urusan dengan nya hingga tak memperbolehkan ia menutup pintu??
Sigra menatap bola mata Risya dengan dalam. "Aku gak di suruh masuk dulu?" Tanya nya. Wajah nya terlihat memelas macam anak kucing yang habis tercebur di got sebelah.
Risya menelan saliva nya dengan kasar, apa Sigra tak menyadari kalau lelaki itu terlihat menggemaskan di saat memasang ekspresi wajah yang seperti itu??
Risya terdiam sejenak. "Ternyata dia mau masuk juga," gumam nya. Ia membalas tatapan Sigra. "Ya udah sih, masuk aja." Usai berkata seperti itu, Risya memutar tubuh nya dan berjalan lebih dulu ke arah ranjang.
Sigra mengulum senyum nya seraya menutup pintu kamar tersebut dan melangkahkan kaki nya menghampiri sang adik. Tak ada maksud lain sebenar nya, ia hanya ingin berkunjung saja.
Risya mengambil sebuah meja kayu kecil dan meletakkan nya di atas kasur milik nya lalu menaruh nampan yang ia bawa di atas nya. Ia duduk dengan rapi sambil bersiap mencicipi makanan tersebut. Terlihat menggiurkan, sepertinya ini masakan Mommy.
Risya mengunyah satu demi satu makanan itu, ia melirik kala Sigra nampak melihat ke arah nya, apakah bocah itu ingin juga?
"Abang udah makan belum?" Tanya Risya seolah bermaksud ingin menawari Sigra, padahal ia manusia yang sangat pelit berbagi jika menyangkut perihal makanan. "Kalau belum ayo makan bareng Caca."
"Nggak, Abang udah makan, kok." Sigra mengulas senyuman tipis. "Habiskan aja, makan yang banyak juga," celetuk nya. Risya menganggukkan kepala lalu memakan kembali makanan nya.
Risya melirik ke arah Sigra sambil nyengir kuda. "Gak kenapa-kenapa, kok," sahut nya santai.
Sigra mendecakkan lidah nya, bagaimana bisa adik nya sesantai itu padahal ia sangat khawatir pada nya. Ia tak suka kala melihat risya sakit apalagi sampai membuat nya harus di rawat di rumah sakit.
"Gimana bisa kamu bilang itu gak kenapa-kenapa? Abang khawatir, Ca." Risya merasa bersalah melihat wajah Sigra yang tiba-tiba terlihat sendu.
"Maaf," ucap Risya.
"Iya, lain kali jangan ngomong kayak gitu lagi."
Risya mengangguk antusias. "Oke, ini 'kan Caca juga udah makan. Jangan khawatir, kalau Abang bawel lagi bakal Caca tendang dari kamar ini."
Sigra terkekeh kecil seraya mengusap pipi Risya yang menggembung lucu. "Abang gak akan bawel lagi, tapi gak tau deh kalau nanti." Reflek saja wajah Sigra ditimpuk oleh Risya dengan bantal.
Risya kembali fokus pada makanan milik nya dan segera menghabiskan nya. Sigra tersenyum, melihat adik nya makan dengan lahap tentu saja membuat Sigra merasa senang.
Sayang sekali, kenapa mereka baru dekat dalam waktu belakangan ini? Kenapa tidak dari dulu saja ya? Kenapa ia tak berpikir begitu? Kalau dari dulu mereka sedekat ini mungkin akan lebih bahagia rasa nya.
Mereka pernah dekat hanya pas waktu mereka kecil saja, selepas kejadian dulu, mereka seketika menjaga kagak satu sama lain. Mereka--
"Bang!"
Sigra mengerjap mata nya sambi melirik ke arah Risya. "Abang ngelamunin apa, sih?" Tanya Risya penasaran.
Sigra menggeleng kecil, "gak ngelamunin apa-apa. Cepet habiskan makanan kamu." Lelaki itu merebahkan tubuh nya seraya memejamkan mata, melihat itu Risya sontak mendelik ke arah nya.
"Kalau mau tidur di kamar sendiri sana, jangan di sini."
Sigra nampak mendengus dan tak menghiraukan celetukan adik nya, ia mengubah posisi tubuh nya menjadi tengkurap sambil ke arah Risya.
Tak beberapa saat Risya pun beranjak dari duduk nya dan lantas membuat Sigra bertanya-tanya. "Mau kemana?"
Risya menoleh, "mau nganter ini." Ia mengangkat nampan tersebut. "Bentar aja."
Risya melangkah menuju pintu dan keluar dari kamar nya. Keheningan seketika melanda, Sigra jadi bosan sendiri jika tak ada Risya yang menemani. Padahal kan ia juga sering sendiri tapi kenapa ya ia seolah tak terbiasa jika begini?
Sigra mengalihkan pandangan ke arah lain dan tepat ke arah sebuah laptop. Diraihnya benda tersebut dan meletakkan nya di depan nya. Sigra tak tahu harus melakukan apa jadi ia membuka hal-hal random saja.
Mata nya terlihat begitu fokus menatap layar laptop tersebut, satu hal yang kini menarik perhatian nya, ada sebuah file dokumen yang ia tak tahu isi nya itu apa.
Ia memalingkan kepala nya menatap pintu, memastikan apakah adik nya sudah kembali ke sini. Ternyata belum juga. Sigra sangat penasaran namun juga ragu, jari nya bergerak untuk membuka data tersebut.
"Data dan rahasia?" Dahi nya berkerut dengan sangat, apakah ini boleh ia buka??
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...