
Setelah kejadian hari itu, Risya dijaga ketat oleh sang Daddy. Ia tak lagi dibiarkan sendirian bahkan Sigra pun selalu mendekati nya terang - terangan.
Puluhan pengawal berjaga dari jauh karena Risya tak setuju jika mereka berdiri di sisi nya sepanjang hari dan sudah pasti ia akan jadi pusat perhatian publik, ia tak mau.
Awal nya ia pun menolak keputusan Daddy Vino, ia berkata kalau ini hanya lah kecelakaan yang tidak disengaja. Namun sang Daddy bersikeras dan berkata juga bahwa kita tidak tahu kedepannya akan seperti apa dan berjaga - jaga juga tidak ada salah nya.
Hingga perdebatan panjang terjadi, bukan ingin bersikap kurang ajar namun ia merasa tak nyaman jika berada diantara banyak orang. Saat sang Mommy memohon pada Risya untuk menuruti permintaan Daddy, karena ia juga takut kejadian ini akan terjadi lagi.
Akhir nya dengan berat hati Risya mengiyakan keputusan itu tapi dengan syarat para pengawal yang menjaga dia harus mengawasi dia dari kejauhan saja, dan mereka tidak boleh mencolok saat berada di keramaian.
Pada hari itu juga kisah awal pertemanan Soya dan Risya dimulai.
Beberapa hari telah berlalu sampai Risya benar - benar sembuh total. Akhir nya ia kembali ke sekolah dan saat itu juga Soya sering berkunjung ke kelas Risya saat istirahat tiba.
Ia mengajak Risya ke kantin bersama, walau pun Risya terlihat cuek tapi gadis itu cukup perhatian terhadap nya. Soya juga berkenalan dengan kedua teman Risya dan ia juga mengenalkan mereka dengan satu teman nya.
Beberapa hari saat Risya tak masuk sekolah, Soya selalu menanyakan kabar tentang gadis itu melalui Sigra.
Sebenarnya Soya punya banyak pertanyaan mengenai hubungan keduanya, mengapa Sigra seperti dekat sekali dengan Risya bahkan lelaki itu memanggil Risya dengan nama panggilan. Lalu Ayah dari Sigra sendiri pun turun tangan langsung untuk mencari gadis itu.
Namun itu hanya bisa ia simpan dalam benak saja, ia tak berani menanyakan walau rasa ingin tahunya sangat besar. Pasalnya, saat ia menanyakan tentang Risya saja Sigra sudah menatap nya dengan tajam. Apalagi ia menanyakan masalah pribadi mereka, bisa-bisa ia dihabisi oleh Sigra.
Ia tahu betul tempramen lelaki itu, Sigra adalah tipe manusia yang tak suka diusik, tak suka berisik, apalagi dengan manusia yang banyak bertanya.
Walau wajah Sigra itu imut - imut tegas, tapi sayang sifatnya tak ada imut - imut nya sama sekali. Sigra itu mirip serigala yang hidup di kandang kelinci, karena dia sendiri yang terlihat begitu menakutkan dibanding teman - temannya. Mending Soya memilih aman ya, kan?
Sekarang Soya tengah berada di kafetaria sekolah bersama teman - teman barunya, dengan beberapa makanan yang tertata di atas meja dan beberapa gelas air untuk minum mereka.
"Sya, tangan lu gimana? Udah sembuh belum?"
Risya, Alby, Laura dan Rhaegar seketika menghentikan kegiatan makan mereka. Mereka serentak menatap sejurus ke arah Soya.
"Tangan lu sakit?" Tanya Rhaegar.
Ia hanya tahu di hari Risya tak ikut mengerjakan tugas kelompok itu Risya tengah sakit karena Sigra yang memberitahu dia. Namun Sigra tak mengatakan secara detil Risya sakit apa sampai beberapa hari tak masuk sekolah.
Risya mengangguk sekali. "Tangan gue kena pisau." Sahut nya santai. Kemudian ia kembali melanjutkan makannya.
Laura mengernyit seolah mencerna ucapan Risya. "Pas masak di dapur ya?" Tanya nya.
Uhuk! Uhuk!
Risya langsung tersedak mendengar itu, buru - buru ia meraih minumnya dan menenggaknya sampai setengah.
"Pelan - pelan aja, Sya. Nggak bakal ada yang ngambil makanan elu." Ucap Alby. Ia nampak khawatir kala wajah Risya terlihat memerah akibat tersedak tadi.
"M-maaf, pertanyaan gue salah ya?" Laura merasa bersalah telah membuat Risya jadi tersedak seperti ini.
Risya memberikan cengiran pada mereka pertanda ia tidak apa - apa. Hanya saja tadi ia terkejut maka nya reflek tersedak.
"Nggak apa - apa kok Lau, pertanyaan lu gak salah. Cuman ya bukan karena masak di dapur." Kata Risya sambil terkekeh.
"Terus?" Tanya Rhaegar seraya menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya. "Jangan bilang kalau elu mainin tuh pisau?" Terka nya.
Risya mengendikan bahu, kalau ia berterus terang pada mereka, yang ada mereka yang bertambah khawatir padanya.
"Intinya gue sekarang udah baik-baik aja jadi kalian gak perlu khawatir dan no komen lagi." Tegas nya.
Ia menoleh ke arah kirinya. "Soya, gue udah sembuh kok." Ucap nya dengan senyuman tipis. Ia mendekatkan kepalanya sedikit ke arah Soya. "Cuma mungkin bakal sakit lagi kalau kena benturan keras."
Soya memeluk Risya dari samping. "Itu namanya lu belum sembuh total, Sya. Maaf, disaat pengobatan lu gue gak ada karena Om Vino suruh gue pulang. Mana gue gak tau lagi lu dilarikan ke rumah sakit mana." Tukas nya dengan nada sedih.
"Ih kalian kenapa sih? Kok jadi melow gitu?" Tanya Laura penasaran.
Ia heran mereka itu tiba-tiba jadi akrab seolah sudah berteman lama. Padahal yang Laura tahu mereka baru saja berteman kemarin. Bukan cemburu karena Soya tiba-tiba memiliki teman tanpa sepengetahuan dia namun ia hanya penasaran. Ia tak masalah juga, Soya memang layak memiliki banyak teman selain dirinya.
Alby dan Rhaegar hanya diam memandang ketiga perempuan yang duduk didepan mereka. Tak ingin ikut campur terlalu banyak tentang mereka.
Tapi kalau berhubungan dengan Risya, bisa dipertimbangkan lagi tentang kata yang "tidak ingin ikut campur terlalu banyak" itu.
"Udah cepet abisin makanan kalian, bentar lagi bel masuk bunyi." Ucap Alby.
Ketiga perempuan itu mengangguk dan kembali menghabiskan makanan mereka sebelum jam istirahat pertama habis.
Kringgg...
Pas sekali saat tegukan terakhir air yang masuk ke kerongkongan Risya, bel tersebut berbunyi.
"Yahh... Baru juga selesai makan udah bunyi aja tuh bel. Belum juga perut gue mencerna makanan yang masuk." Celetuk Laura sambil mengelus perutnya yang terasa begah.
"Maka nya makan tuh gak usah banyak - banyak." Sergah Soya seraya beranjak dari kursi yang ia duduki.
"Yuk!" Ajak nya pada mereka untuk segera pergi ke kelas.
Risya mencatat beberapa perkataan penting dari penjelasan guru yang mengajar didepan kelas mereka.
Sambil menikmati angin yang masuk dari jendela di samping kirinya, menerbangkan beberapa helaian rambutnya yang tergerai indah.
Rhaegar yang berada di samping kanan Risya terus memperhatikan gadis itu dengan lekat, penjelasan guru didepan pun tak ia hiraukan. Ia memilih memandangi wajah cantik itu yang membuat jantung nya terus berdebar tak karuan namun nyaman dan begitu candu seolah ada larutan nikotin didalamnya.
Risya yang merasa diperhatikan dua pasang mata itu pun menoleh dengan wajah datar. "Gar, lihatnya kedepan sana. Ngapain sih lihat ke sini? Pelajaran kita gak ada di muka gue." Keluh nya.
"Balikin muka lu ke depan, keburu ditegur guru mampus lu!" Sambung nya. Namun sepertinya perkataan Risya tak masuk ke telinga Rhaegar. Rhae masih diam memandangi masa depannya yang indah itu.
Pak guru yang berada di depan kelas itu mengedarkan pandangan sampai pada seorang murid laki-laki yang tidak memperhatikan penjelasan nya.
"RHAEGAR!"
Yang dipanggil masih saja tak sadar akan keadaan sekitar. Pak guru geleng - geleng kepala, tidak paham lagi kemana murid nya itu menaruh telinga.
"RHAEGAR PAHLEVI!!"
Suara besar milik pak guru itu seketika mengembalikan kesadaran seorang Rhaegar Pahlevi sepenuhnya. Bukan hanya Rhaegar, beberapa anak yang mengantuk bahkan yang tengah tidur di pojok kelas pun tersentak kaget dan langsung duduk tegak dengan tubuh yang kaku menghadap papan tulis.
Rhaegar langsung menengok ke depan. "I-iya kenapa, pak?" Tanya nya terbata sambil nyengir kuda.
Pak guru bertolak pinggang sambil melotot lebar. "Kamu tidak mendengarkan penjelasan saya?!"
Rhaegar seketika gelagapan. Ia dengan cepat meraih bukunya. "Saya dengar kok, pak. Nih saya udah tulis banyak-banyak pak, kalau bapak gak percaya." Sahutnya seraya memperlihatkan catatan di buku.
Pak guru menghela nafas panjang. "Ya sudah! Jangan kebanyakan melamun yang tidak jelas!Perhatian kedepan, yang tidak mau mendengarkan silahkan keluar dari kelas saya!" Tukas nya dan kembali melanjutkan pembelajaran.
Risya terkekeh geli melihat wajah Rhaegar yang tertekuk. "Udah gue bilangin juga masih gak didengerin. Lain kali lihat kedepan kalau ada guru yang menerangkan."
Rhaegar menaikan sebelah alisnya. "Kalau nggak ada guru, boleh dong liatin kamu." Ucapnya seraya memberikan senyuman paling manis yang ia punya.
Wajah Rhaegar menjadi berkali-kali lipat tampannya mana manis pula.
Deg!
Seketika jantung Risya tiba-tiba berdegup kencang. Gadis itu mengerjap cepat, apa ada dengan jantungnya?? Apa ia sakit jantung?? Jantungnya sedang tidak baik - baik saja.
Lelaki disampingnya tertawa kecil. Ia menuliskan sesuatu diatas kertas.
'Ciee, pipinya merah tuh.'
Itu kalimat yang tertulis di kertas yang disodorkan Rhaegar pada Risya. Tak ingin terlihat salah tingkah, langsung saja di detik itu juga Risya mencubit pinggang lelaki itu dengan kesal.
"Aduduh! Sakit, Sya." Keluh Rhae. Ia meringis dan mengusap bekas cubitan luar biasa dari gadis itu.
"Rasain! Siapa suruh ngeselin." Ketus Risya.
"Ngeselin, tapi kan ngangenin." Sahut Rhaegar lagi.
Alby yang jengah dengan celotehan makhluk dibelakangnya menoleh dengan malas. "Oi! Bucin nya skip dulu bisa gak? Ganggu jomblo yang didepan aja lu berdua. Dengerin tuh penjelasan guru! Sekolah yang bener, baru pacaran!" Keluh nya panjang lebar. Yang ditegur hanya cengengesan sok imut agar lelaki didepan mereka tidak marah.
"Egar tuh, Al. Suka banget gangguin gue." Gerutu Risya
"Bukan suka gangguin, sayang. Tapi-." Sebelum Rhaegar menyelesaikan perkataannya, Risya lebih dulu menoyor kepala lelaki itu namun tangannya dengan cepat ditangkap dan di genggam sebelum mengenai objek tersebut.
"Itu yang berisik dibelakang!! Mau bapak keluarkan dari kelas ini?!!"
Gertakan itu membuat Risya dan Rhaegar langsung duduk dengan tegap memandang ke depan tanpa bersuara lagi. Hening, hingga pelajaran kedua selesai.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...tbc...
Selalu dukung karya ini ya🥰 Like, Komentar, Vote, dan Favoritnya. Terimakasih🙏🙏