
Di dalam kelas yang terlihat tenang itu, Rey duduk di salah satu kursi sambil mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh sang guru yang sedang mengajar di dalam kelasnya. Ruangan yang damai itu memang sangat cocok untuk membuat konsentrasi menjadi fokus dan tidak buyar.
Tetapi Rey malah tidak terlalu fokus pada kertas di depannya. Konsentrasinya malah buyar dan sibuk berputar ke arah lain. Berbagai hal seketika terlintas di kepalanya hingga membuatnya terus memikirkannya.
Rizhan yang kebetulan Kebetulan menempati kursi di dekat jendela pun tanpa sengaja menatap ke arah Rey yang duduk di sebelah kanan dan posisinya berseberangan dengan dirinya.
Ia menatap ke arah guru di depan kelas kemudian kembali menatap Rey yang masih melamun saja. "Psstt! Rey!" Panggilnya namun Rey sama sekali tak mendengar desisannya.
Sekarang di kelas mereka tengah mengadakan ulangan mingguan, tempat duduk mereka pun di acak oleh sang guru dan membuat mereka tidak duduk di tempat sebelumnya. Semuanya terpisah-pisah dengan teman sebangku mereka.
Kalau Relvan, ia berada di bangku paling depan tepat di hadapan guru yang mengawasi mereka. Sedangkan Sigra, lelaki itu duduk di bangku belakang barisan keempat, dan Angga duduk di bangku yang dekat dengan pintu kelas.
"Psstt! Oi!"
Rizhan kembali kembali dengan suara pelan. Ia juga memanggil nama lelaki itu namun tidak kunjung didengarkan. Padahal ia ingin bertanya sesuatu tapi dengan cara seperti ini kayaknya tidak akan berhasil.
Apa yang tengah Rey lamunkan menjadikannya tak konsentrasi dengan ulangan. Pikirannya menerawang jauh dan malah tertuju pada Nina yang tadi berlari keluar dari kafetaria. Kenapa di lari, ya?
Rey juga nampak bingung sebenarnya. Kalau dipikir-pikir, jika memang dia tidak salah tak mungkin kan dia bertingkah seperti itu? Kemungkinan besar dia memang salah. Tapi bagiamana? Apa dia memang sengaja tak mau mengakuinya?
Tapi saat mendengar respon dari banyaknya siswa yang ada di tempat dan menyaksikan langsung kejadian itu, Rey jadi sedikit meragu. Namun ia tetap berusaha untuk menyangkal, Nina tak mungkin berkata yang tak sesuai dengan fakta.
Saking asik dengan lamunannya, sebuah gumpalan kertas tiba-tiba mendarat dengan kecepatan sedang dan tepat mengenai dahinya.
"Akh!" Gumpalan kertas tadi kemudian terjatuh di bawah kaki lelaki itu.
Lalu semua yang berada di dalam kelas juga menoleh ke arah sejurus. Guru di depan pun lantas menatap anak muridnya itu.
"Kenapa, Rey?" Tanyanya.
Rey menatap ke arah Guru tersebut. "Ada yang lempar kertas ke arah saya, Pak," adunya seraya mengangkat gumpalan kertas yang baru saja ia ambil di bawah kakinya
Guru itu langsung memandang ke semua muridnya. "Siapa yang main lempar-lemparan kertas seperti itu? Kalian tidak lihat kalau ini sedang ulangan?"
Semuanya nampak terdiam dan tak ada yang mau menyahut perkataan Guru tersebut. "Tidak ada yang mau mengaku?" Tanya Guru itu lagi. Dan nyatanya para muridnya masih nampak tak bergeming juga hingga membuatnya hanya bisa menghela nafas panjang.
Juga karena ia adalah lelaki yang masih memiliki batas kesabaran tinggi jadi ia akan memaafkannya untuk kali ini. Tak perlu marah-marah sebab itu hanya akan membuang-buang tenaganya saja.
Dalam keheningan itu, seseorang tiba-tiba mengangkat satu tangannya dan berkata, "Saya, Pak." Membuat Guru tersebut langsung menatap ke sumber suara dengan alis bertaut.
"Saya yang lempar kertas itu."
Pengakuan dari Rizhan langsung membuat Rey seketika menatapnya dengan sengit tapi sang empu malah tak memperdulikan tatapan dari temannya itu.
Guru di depan kelas lantas menatap ke arah Rizhan. "Apa alasan kamu melakukan hal itu?" Tanyanya.
"Itu pak, Rey dari tadi melamun mulu mana soal yang dia kerjakan masih sedikit padahal waktunya udah hampir habis, makanya saya lempar dia pakai bola kertas biar sadar," terang Rizhan dengan gamblang.
Pak Guru seketika kembali menghela nafas untuk kedua kalinya. "Rizhan, lain kali jangan lagi main lempar-lempar kertas ke teman kamu, bahaya. Semisal itu bisa melukainya, bagaimana? Kali ini saya maafkan dan tidak akan memberikan kamu hukuman."
"Dan kamu juga, Rey," Pak Guru memandang ke arah Rey. "Jangan kebanyakan melamun. Kalau melamun juga ada waktunya tapi bukan saat di jam pembelajaran seperti ini. Paham?"
"Paham, Pak!" Kata Rey seraya melirik Rizhan dengan sinis.
Ia tuh sebenarnya juga tak berniat untuk melamun, namun tadi hanya kebetulan saja ia malah terpikirkan masalah di kafetaria barusan. Jadi ini bukan salah dirinya dan salahkan saja kepalanya.
Pak Guru lalu berkata pada semua murid di kelas itu. "Saya tidak masalah dengan apa yang ingin kalian lakukan, tapi kalian juga harus ingat kalau kalian ini sudah kelas dua belas dan sebentar lagi akan memasuki masa ujian nasional. Jadi saya hanya minta tolong jangan kalian sepelekan ulangan kecil seperti ini."
"Baik, Pak!" Sahut mereka serempak tak terkecuali dengan kedua orang tadi.
***
Di satu sisi lain, ada Risya yang sedari tadi bosan berada di kelasnya. Ia jadi mengantuk saat mendengarkan penjelasan sang Guru yang ada di depan kelas.
Sejarah. Ia tidak suka dengan pembelajaran yang berhubungan dengan masa lalu sebab ia selalu merasa dejavu akan hal itu. Coba ada pembelajaran tentang masa depan, ya, pasti mereka semua akan bersemangat.
Risya termenung sambil menikmati semilir angin sejuk yang masuk ke dalam kelas dengan melewati jendela di sampingnya. Angin itu menyapu lembut wajahnya dan menerbangkan beberapa helai rambut panjangnya. Aduh, ia malah jadi mengantuk dan ingin tidur sekarang!!
"Bu!" Panggil Risya hingga membuat Bu guru yang tengah mengajar itu sontak menoleh ke arahnya. Bahkan teman-temannya pun malah ikutan menatapnya juga.
"Kenapa, Risya?"
"Saya mau izin ke toilet," sahutnya.
Ibu Guru itu lantas menatap jam di pergelangan tangan lalu kembali menatap Risya. Silahkan tapi jangan berlama-lama," katanya.
"Siap!" Seru Risya sembari beranjak dari duduknya.
Alby menolehkan kepalanya memandang Risya. "Mau ditemenin gak, Sya?" Tawarnya sambil tersenyum jahil.
"Sinting lu!" Celetuk Risya dengan nada pelan sambil melotot ke arah Alby. Kurang kerjaan sekali lelaki satu ini!
Ia kemudian berlalu dari hadapan lelaki itu dan membuat sang empu lantas terkekeh kecil sembari menatap Risya yang mulai menjauh dari pandangannya.
Oh, iya. Ngomong-ngomong selama beberapa bulan ini ia berteman dengan Risya, entah mengapa Alby seakan tak bisa bertanya lebih tentang gadis itu walau sebenarnya Risya terkadang sedikit mencurigakan di matanya.
Lalu Rhaegar juga, sepertinya anak itu tengah menyembunyikan sesuatu di antara mereka. Entah itu apa.
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...