Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 93 | Memilih Diam



"Dari mana, Sya?" Tanya Alby kala melihat Risya yang baru memasuki kelas mereka. Tadi ia izin keluar sebentar entah ingin kemana Alby juga tidak tahu, mereka menghormati privasi Risya jadi kalau tak mendapatkan jawaban juga tak apa-apa.


Risya melangkah ke arah tempat duduk nya, mendaratkan bokong nya sambil menyandarkan punggung nya pada tembok kelas. "Dari toilet gue," sahut nya lalu menatap ke arah Rhaegar. "Ngapa lu liatin gue?"


Rhaegar terkekeh kecil, tangan nya menyodorkan susu stroberi dengan kemasan botol ke hadapan Risya. "Nih, buat elu," ucap nya.


Risya mendelik sambil meraih botol tersebut. "Tumben bener lu baik," celetuk nya membuat Rhae mendengus kesal. "Gak elu racunin 'kan ini?"


"Ck. Lu kira gue gak ada kerjaan banget apa?" Wajah Rhaegar langsung berubah muram seolah tak ada semangat yang mengiringi nya, sedangkan Risya sudah tergelak sendiri melihat ekspresi lelaki itu.


Alby hanya geleng-geleng kepala lalu mencondongkan kepala nya ke arah mereka. "Eh, ngemeng-ngemeng--"


Risya sontak menyergah cepat sambil mengernyit, "ngomong-ngomong kali!"


Alby nampak mencebikkan bibir nya, sebenar nya ia sengaja sih hanya ingin mencairkan suasana di antara mereka. "Iye, iye, santai dong!" Tukas nya. Ia menatap serius kedua orang itu. "Menurut lu pada, si Soya bakalan di skorsing gak?"


"Iya."


"Enggak."


Rhaegar dan Risya seketika tersentak saat suara mereka terdengar bersamaan, kedua nya sontak saling pandang dengan wajah tanya.


"Kok enggak, sih?"


"Kok iya, sih?"


Lagi dan lagi, Rhae dan Risya malah berucap bersamaan. Alby yang menonton mereka pun lantas terlihat bingung namun kemudian ia menghela nafas panjang, ia tatap kedua orang itu dengan lekat.


"Apaan sih lu berdua?" Tanya nya seraya menoyor kepala Rhaegar dan menyentil dahi Risya pelan. "Tumben hari ini gak kompak? Biasa nya kompak mulu."


Entah kenapa hari ini dengan kedua nya yang seolah berbeda pendapat, bukan seolah lagi sih ini memang beda. Biasa nya kedua nya selalu punya jawaban yang sama namun kali ini lain agak nya.


Rhaegar menyampingkan tubuh nya menghadap Risya dan memandang gadis itu dengan seksama. "Kenapa elu bisa bilang enggak?" Tanya nya.


Bukan nya apa tapi Rhae hanya merasa aneh saja, beberapa waktu lalu tuduhan Soya sampai terdengar ke ruangan guru bahkan kepala sekolah. Apalagi tuduhan itu sedikit berat, Soya membully Nina sampai seperti itu bisa membuat nya mendapat surat skorsing dari sekolah.


Apakah tidak?


"Ya karena dia gak salah, Gar." Risya juga membalas tatapan Rhaegar.


"Kenapa?" Tanya Rhaegar lagi. "Bukan nya dia udah jadi tersangka paling kuat sebab cuma dia yang ada di sana seorang diri dan gak ada siapa-siapa lagi."


"Tapi Rhae, gue malah setuju sama Risya deh." Rhaegar menolehkan kepala nya ke arah Alby. "Sekarang 'kan belum ada bukti tuh, entah kejadian yang sebenar nya kayak gimana pun kita gak ada yang tau. Terlepas dari Soya bersalah apa enggak, dia emang akan jadi tersangka utama tapi belum memungkinkan itu semua." Alby menghembuskan nafas nya ke udara. "Saat masalah ini belum terbukti, sekolah gak mungkin ngebuat Soya langsung di skorsing begitu aja dan paling cuma diberi surat peringatan pertama. Lain hal lagi kalau mereka punya bukti yang jelas atas tuduhan itu baru deh gue setuju sama elu."


Penjelasan Alby yang panjang kali lebar itu membuat Rhae kalah telak dan tak dapat berkata-kata lagi. "Iya deh gue kalah di sini, dua lawan satu."


Alby sontak tergelak mendengar nya, Risya pun ikut jua dan mereka tergelak bersama. Beberapa saat cukup sudah untuk menertawakan Rhaegar, Alby kembali terdiam dengan wajah serius nya.


"Tapi kira-kira siapa 'ya yang bully tuh cewek sebenar nya?" Tanya nya seraya memandang Rhae dan Risya bergantian. "Sayang banget kagak ada cctv-nya di dalem sana," tambah nya lagi.


Rhaegar langsung menimpuk wajah Alby menggunakan buku tulis nya. "Si dongo! Kalau toilet cewek pakai cctv mah bahaya!" Tukas nya sambil melotot kan mata nya. "Elu bayangin aja dah gimana kalau misal nya Erin yang masuk ke toilet itu?"


Alby terlihat mengetuk-ngetukkan telunjuk ke bagian dagu nya dan berfikir seolah itu pertanyaan susah. "Anjir!" Umpat nya kemudian setelah sempat berfikir sejenak. "Kang cctv-nya bakal menang banyak itu."


"Nah itu otak lu encer juga," celetuk Rhae dengan wajah malas nya. Risya hanya memandang jengah kedua teman nya itu tanpa ingin menimpali obrolan aneh kedua nya.


Angin kecil nampak berhembus melalui jendela yang berada tepat di samping gadis itu, Risya memutar kepala nya menatap ke arah jendela kelas. Ini terasa sejuk saat angin itu menerbangkan beberapa helaian rambut nya.


Ia melongok kan kepala nya memandang ke arah luar dan dapat ia lihat beberapa murid yang tengah bermain futsal di tengah lapangan sana. Saat ia mengedarkan pandangan ke arah lain nya, ia melihat beberapa orang yang tengah berada di bawah pohon di pinggir lapangan.


Seseorang di antara nya terlihat mengacungkan jempol sambil mendongakkan kepala dan menatap ke arah nya. Melihat itu, Risya hanya tersenyum simpul sekelabat lalu kembali memandang ke arah dua teman laki-laki nya.


"Gak ah," tolak Alby. "Takut gue, Sya, takut digorok sama Sigra," lanjut nya sambil terkekeh geli.


***


Nina, perempuan itu duduk di ranjang UKS dengan lilitan selimut yang melekat di tubuh nya. Padahal ia di perbolehkan pihak sekolah untuk pulang namun Nina malah tak mau dan memilih untuk tetap berada di sekolah.


Ia sudah membersihkan seluruh tubuh nya di kamar mandi UKS dan sudah berganti pakaian olahraga juga. Baju ini milik nya bukan milik orang lain ataupun teman dekat nya.


"Pulang aja, ya?" Relvan sudah bertanya dan memastikan nya beberapa kali namun ia hanya mendapatkan jawaban yang sama yaitu; gelengan kepala dari Nina.


Relvan menghela nafas sambil mengusap rambut perempuan itu lembut, Nina terlalu keras kepala untuk hal seperti ini, Relvan hanya takut kalau Nina trauma akan kejadian tadi. Disuruh pulang 'kan juga untuk menenangkan diri tapi malah tak mau.


"Nin, badan lu panas," ucap Relvan setelah memeriksa dahi Nina dengan punggung tangan nya. "Pulang aja ya, entar kalau pingsan gimana?"


Nina tersenyum tipis, "aku baik-baik aja, kak." Ia berkata sedikit pelan hingga membuat Rey juga ikutan bertanya. Wajah Nina memang terlihat pucat, entah itu sebab karena sakit atau karena tak memakai make up (?)


"Serius?" Tanya Rey dan mendapat anggukan kecil dari Nina. Seperti nya memang tak perlu di paksa jika ia memang tak mau. "Biarin lah, Van. Yang penting jangan tinggalin Nina sendirian dulu dan harus ada yang nemenin."


Relvan nampak terdiam beberapa saat kemudian menganggukkan kepala nya. "Oke, biarin gue yang nemenin."


"Ya udah, yuk! Kita balik ke kelas," ajak Rizhan setelah semua nya menyetujui kesepakatan mereka. Satu persatu teman-teman mulai meninggalkan ruangan UKS dan tinggallah dua manusia yang berbeda gender di dalam sana.


Nina menatap ke arah Relvan yang tengah menatap ke arah nya juga. "Kakak gak balik ke kelas?" Tanya nya.


"Gue nemenin lu," sahut lelaki itu.


"Aku udah gak apa-apa, kak. Kakak gak takut apa kalau ketinggalan pelajaran?"


"Gak," sahut Relvan lagi. "Biarin gue nemenin lu di sini, okey?"


Nina akhir nya menyetujui hal itu walau memang senang sih di temani cowok tampan macam Relvan. Namun jujur, sebenar nya ia lagi ingin sendiri namun kalau begini ia tak bisa menolak lagi.


Beberapa saat mereka terdiam akhir nya Relvan membuka suara lagi. "Nin," panggil nya membuat Nina menatap Relvan tanpa menjawab panggilan lelaki itu.


"Elu beneran di bully sama Soya?" Tanya Relvan namun hanya mendapat keheningan dan tak ada jawaban, Nina nampak terdiam dan entah apa yang ia lamun 'kan.


Soya? Nina membatin. Gue gak tau apa-apa setelah dua baji**an gila itu jedukin kepala gue ke dinding. Terus gak lama gue pingsan, jadi selama gue pingsan ada kejadian yang gue lewatkan??


Relvan jadi khawatir melihat Nina seperti itu, apa pertanyaan nya terlalu menganggu, ya?


"Ya udah, Nin. Gak usah terlalu di pikirin, pihak sekolah udah ngurus masalah ini." Nina melirik Relvan kemudian mengangguk saja. "Minum obat lu terus istirahat, entar gue bangunin kalau udah pulang," ucap Relvan seraya menatap ke arah ponsel nya.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...