
Bulan yang telah di telan oleh awan hitam kini tergantikan oleh mentari.
Pagi ini, di salah satu ruangan kelas. Seorang guru tengah berdiri di depan dan menerangkan materi yang ia berikan pada anak murid nya hari ini.
"Kemarin kita telah membahas tentang Fluida Statis, ada yang ingat apa itu Fluida Statis?"
Salah satu murid nampak mengangkat tangan. "Ya?" Tanya Bu guru.
"Fluida Statis atau Hidrostatika adalah fluida yang berada dalam fase tidak bergerak dalam artian diam atau fluida dalam keadaan bergerak tetapi tak ada perbedaan kecepatan antar partikel fluida tersebut." Jawab murid itu.
"Contoh nya?" Tanya ibu guru lagi. "Silahkan murid lain yang menjawab." Sambung nya.
"Air pada gelas yang tidak diberikan gaya maka air tersebut akan diam atau air sungai yang mengalir dengan kecepatan konstan." Sahut murid lain nya.
Ibu guru tersenyum puas kala anak murid nya tak melupakan pelajaran yang telah ia ajarkan Minggu lalu. "Nah sekarang kita akan membahas mengenai Fluida Dinamis yang merupakan kebalikan dari Fluida Statis." Ucap nya.
"Fluida Dinamis merupakan fluida yang bergerak baik berupa zat cair maupun gas. Lalu saat ketika kita menekan air yang mengalir di ujung selang, agar aliran air nya lebih cepat dan jangkauan nya lebih jauh. Itu adalah contoh dari Fluida Dinamis."
"Fluida Dinamis juga memiliki garis arus dan tidak bergolak, arti nya tiap partikel fluida akan melewati titik lintasan yang sama dengan arah yang sama." Terang ibu guru.
"Lalu ada Hukum Kontinuitas dan Hukum Bernoulli yang merupakan hukum huk-"
Tok!
Tok!
Tok!
Ibu guru lantas menoleh ke arah pintu ketika suara ketukan menghentikan perkataan nya. Anak anak di kelas juga menoleh ke arah sejurus.
Ia melangkah dan membukakan pintu. Terlihat lelaki dengan tubuh tinggi berdiri didepan pintu sambil membawa sebuah kertas dan pulpen.
"Pagi, Bu. Maaf mengganggu waktu nya, saya meminta izin ada keperluan dengan salah satu murid ibu." Ucap nya menerangkan maksud kedatangan nya.
Ibu guru mengangguk. "Silahkan." Lelaki itu memasuki kelas seraya menilik tulisan yang tertulis di kertas.
"Soya Aila Aldic, ada disini nggak?"
Seorang perempuan mengangkat tangan nya. "Lu dipanggil ke aula." Lelaki itu mengalihkan pandangan ke ibu guru. "Saya pinjam sebentar ya, Bu." Pinta nya.
Ibu guru mengangguk lagi. "Ibu izinkan, nanti materi yang tertinggal bisa pinjam catatan dengan temanmu."
"Makasih, Bu. Saya permisi dulu."
Soya berjalan keluar mengikuti lelaki tinggi itu melangkah. Kenapa ya ia dipanggil? Ia tak berbuat salah kan? Kalau berbuat salah juga harus nya ke ruang BK bukan ke aula.
"Kak."
Lelaki tinggi itu menoleh menatap gadis disamping nya. "Kenapa?" Tanya nya.
"Kenapa gue dipanggil ke aula ya?"
"Nggak tau, gue cuma di suruh manggilin orang yang tercatat di kertas ini." Ucap lelaki itu seraya memperlihatkan kertas itu pada Soya.
Soya mengernyit ketika melihat nama Relvan tertulis di atas nama nya.
"Lu terusin aja ya ke aula, gue mau ke kelas lain." Soya mengangguk sambil memandang punggung lelaki itu menjauh dan menghilang dari balik tembok.
Ia kembali berjalan, melewati tiap tiap kelas dimana para murid sedang belajar. Soya menghela nafas, perasaan nya mengatakan bahwa dipanggil nya ia juga ada hubungan nya dengan Relvan. Aah.. ia malas sekali. Apa ia harus menghindari lelaki itu??
Sungguh kata kata terakhir Relvan begitu menyakiti perasaan nya, apa ini saat nya ia menyerah? Ia harus menjauh dan tak melibatkan perasaan lagi untuk lelaki itu, ya ia harus melakukan ini.
Tapi tak semudah yang dibayangkan, bagaimana ia bisa move on jika setiap hari ia melihat wajah lelaki itu? Tak mungkin kan harus pindah sekolah hanya karena ingin move on?
Soya berjalan gontai dan sampai lah ia di depan pintu aula. Ia menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nya perlahan. Tangan nya terangkat dan mengetuk pintu tersebut.
Tok!
Tok!
Tok!
Seseorang nampak menyahut dari dalam dan menyerukan kata, "masuk". Soya memutar kenop pintu dan menyembulkan kepala nya duluan. Menilik ke dalam ruangan, woah.. ternyata tak hanya satu orang saja disana.
Soya membawa tubuh nya masuk lalu melangkah ke arah pak Didi yang memanggil nya. Ia lihat ada Relvan juga disana, duh.. jangan sampai terpesona lagi!
Ia mendatarkan wajah, tak ada tanda tanda senyum yang terukir di bibir nya. Setelah mendekat, ia bertanya pada pak Didi, "Ada apa ya, pak?"
Si bapak menoleh seraya mengembangkan senyum. "Kamu pasti sudah mendengar mengenai festival," Soya mengangguk. "Bapak memintamu untuk berkolaborasi bersama nak Relvan di acara nanti. Ini juga suara dari anak anak yang lain, bahwasanya kamu dan nak Relvan mewakili klub musik untuk tampil nanti." Terang nya.
"Tapi saya nggak tau cara mainin alat musik, pak." Sahut Soya.
Soya menatap ke atas sesaat kemudian kembali ke arah pak Didi. "Jadi saya disuruh nyanyi?" Tanya nya.
"Ya."
"Tapi suara saya nggak terlalu bagus, pak. Nanti takut nya ngecewain klub musik, karena saya nggak sesuai harapan mereka." Tukas Soya.
Pak Didi menghela nafas. "Kamu tidak mendengar ya kata kata bapak tadi?" Tanya nya membuat Soya menelengkan kepala.
"Dipilihnya kamu juga menurut suara anak anak musik. Kalau mereka memilihmu artinya mereka percaya padamu dan yakin bahwa kamu bisa." Soya terdiam menatap pak Didi. "Nak Soya, berusaha lah dulu. Kita masih punya waktu untuk mempersiapkan semua nya, jadi jangan menyerah di awal. Kamu masih bisa mencoba nya."
"Jadi bagaimana? Apa kamu masih keberatan?" Tanya pak Didi.
Soya melirik Relvan sekilas, tanpa ia duga ternyata lelaki itu memandangi diri nya juga. "Baik, saya akan mencoba dan saya tidak keberatan, pak. Tapi bagaimana dengan partner saya? Mungkin dia agak keberatan."
Relvan mengernyit namun tak kentara jadi tetap terlihat datar datar saja.
"Kenapa dia ngomong gitu? Biasa nya juga langsung suka kalau bareng gue. Apa dia masih marah perihal gue dorong dia? Apa perlu gue minta maaf? Ah! Ngapain juga sih di pikirin! Bukan urusan gue." Batin nya.
Entah lah pikiran nya jadi tak tenang dan perasaan nya jadi sedikit aneh.
Pak Didi menoleh ke arah Relvan. "Nak Relvan keberatan kah? Bagaimana dengan basket kamu, kalau mengganggu biar bapak cari orang lain saja." Ucap nya.
"Saya nggak keberatan juga, pak. Asal nanti main nya nggak dibarengin aja." Sahut Relvan membuat si bapak mengangguk kan kepala.
"Baik. Karena kalian sudah setuju dan tidak keberatan, kalau begitu bapak tinggal dulu. Kalian bisa atur jadwal latihan sendiri, nanti di bagi aja sama latihan basket kamu." Ucap pak Didi sambil memandangi kedua nya bergantian.
Kemudian si bapak berlalu dari hadapan mereka ketika sudah mendapat anggukan dari Relvan.
Tinggal lah Relvan dan Soya yang masih terdiam ditempat, tanpa suara.
"Ngapain sih dari tadi dia liatin gue? Apa di muka gue ada sesuatu ya? Apa gue kelihatan aneh?" Batin Soya dalam hati.
"Kenapa sih liatin gue?!" Tanya Soya pada akhir nya, karena lelaki itu terus memandang ke arah nya.
Relvan menaikan sebelah alis nya. "Kepedean banget lu. Gue liatin cewek di belakang lu, tuh." Tunjuk nya pakai dagu.
Soya menoleh menatap ke arah belakang, ia merasa kikuk ketika melihat ada beberapa perempuan yang tak jauh dari tempat nya berdiri. Mencoba menetralkan raut wajah, ia kembali menatap Relvan.
"Oh." Kata nya singkat.
"Duh malu banget. Mau di taruh dimana nih muka? Berarti dari tadi dia liatin yang dibelakang dong? Tapi kenapa gue merasa lirikan nya ke arah gue ya? Hufft.. Harus tenang, harus tenang. Jangan tunjukin kalau lu ge'er, jangan baper, jangan salting." Batin Soya.
Relvan merogoh saku celana nya. "Nomor lu. Jadwal gue yang atur." Ucap nya seraya menyodorkan ponsel pada Soya.
Soya tidak protes, ia menerima ponsel tersebut lalu mengetikkan nomor. Setelah nya ia beralih dari hadapan lelaki itu, keluar ruangan dan kembali ke kelas nya.
Namun sebelum itu Relvan lebih dulu menarik tangan nya. Soya tersentak, ia menoleh menatap ke arah tangan yang memegang tangan nya. Dengan cepat pula Soya menyentak genggaman itu.
Ia menatap Relvan tanpa ekspresi. "Kenapa?" Tanya nya.
Relvan juga tak berekspresi, ia memandang gadis didepannya beberapa detik sebelum berkata. "Lu masih marah sama gue?"
"Kenapa? Lu khawatir kalau gue marah?" Tanya Soya.
"Nggak." Soya menautkan alis nya. "Gue cuma minta jangan masukin masalah pribadi dan perasaan lu ke dalam kerjasama kita, kalau lu dalam mood yang buruk, itu bakal berpengaruh terhadap kegiatan yang elu lakuin. Gue ingin tampil sempurna dan jangan lu kacau'in semua nya." Tukas Relvan.
Soya mengepal erat tangan nya. Ternyata itu yang lelaki ini khawatirkan? Kenapa hati nya sakit? rasa nya seperti tertikam ribuan anak panah.
"Oke." Soya berbalik dan menuju ke arah pintu, ia keluar dengan perasaan yang amat menyakitkan.
Relvan yang masih didalam pun memandangi Soya dengan perasaan bingung. Gadis itu berubah, apa itu hanya perasaan nya saja? Kenapa ya ia merasa seperti terabaikan??
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...tbc...