Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 40 | Bertemu



Risya menghubungi nomor Alby, satu kali, dua kali tak kunjung diangkat. Namun saat panggilan ketiga, rupa nya Alby akhir nya menerima telepon dari nya.


[Halo?]


Suara seseorang dari balik telepon menyapu indera pendengaran Risya. Suara ini jelas milik Alby, tak terdengar ketus dari nada bicara nya, berarti Alby sudah tak marah lagi dengan nya, kan??


[Risya.] Sapa Alby lagi, karena tak mendengar suara sahutan dari sang empu.


"Alby, maaf." Sahut Risya pelan.


Alby nampak terkekeh membuat Risya mengerutkan kening. "Kok ketawa sih?!" Protes nya.


[Harus nya gue yang bilang gitu, Sya. Maaf karena gak ngertiin elu, gue udah ngerti sekarang dan lu boleh memilih pilihan lu sendiri. Tapi gue minta satu hal ya. Lu harus hati hati, jangan kecapean, jangan sampai sakit. Harus jaga kesehatan dan jangan dipaksa kalau elu udah nggak kuat.] Ucap Alby panjang kali lebar.


Risya mengernyit masam, ini mah bukan satu hal nama nya tapi banyak hal.


"Iya deh, bawel banget lu kayak emak emak." Keluh Risya seraya mendengus sebal.


Tawa kecil Alby terdengar karena telepon mereka masih tersambung.


[Kenapa telfon? Mau ngomong sesuatu?] Tanya Alby.


"Tau aje lu!" Celetuk Risya. "Lu sibuk nggak? Takut nya ganggu nanti." Sambung nya.


[Free, tenang aja.]


"Masalah malam itu, Al. Gimana? Udah ada kabar belum? Dia ada kirim file atau apa gitu?" Tanya Risya. Ia duduk di balkon kamar sambil memandang langit berwarna orange yang mulai dilahap langit gelap.


[Dia mau nya ketemu langsung sama lu, Sya. Kata nya kali aja lu gak percaya sama dia.] Sahut Alby.


"Ya udah, gimana kalau nanti malem?" Tanya Risya.


[Oke aja sih, nanti gue kabarin dia. Ketemuan di kafe dekat taman kota ya.] Pinta Alby.


[Lu mau gue jemput nggak?] Sambung nya lagi.


"Nggak deh, Al. Gue berangkat sendiri, kita langsung ketemuan di kafe aja." Ucap Risya membuat Alby terpaksa mengiyakan ucapan nya. Setelah itu mereka mengakhiri obrolan dengan mematikan sambungan telepon.


Risya menghela nafas panjang kemudian melangkah dan segera mandi sebelum hari beranjak malam.


**


Alby terdiam setelah beberapa detik panggilan dimatikan oleh Risya. Ia melirik makhluk didepan nya yang nampak ingin tahu apa yang dibicarakan nya dengan gadis itu.


"Nggak usah nanya!" Tukas Alby membuat lelaki yang menilik nya itu mendengus sebal.


"Belum juga gue ngomong!" Keluh nya sambil memainkan Play Station 5.


"Gue dah tau lu gimana. Dari zaman embrio juga lu udah banyak tanya. Kepo-an!" Sahut Alby seraya melempar kulit kacang ke arah Rhaegar.


Rhaegar langsung menjelek jelekan wajah nya mengejek Alby, walau begitu ternyata ia masih terlihat tampan. "Btw, siapa yang mau ketemu sama cewek gue?" Tanya nya.


"Cewek gue apaan! Belum juga jadian, nanti malah kena friendzone mampus lu!" Sergah Alby membuat Rhae menatap nya dengan sinis.


"Nggak mungkin lah. Secara gue ganteng, siapa yang berani nolak." Ucap Rhaegar seraya menyugar rambut depan nya, sok ganteng.


Alby reflek melempar bantal ke wajah sok kegantengan itu, namun sial nya memang ganteng. "Pulang sono lu! Udah malem!"


Rhae mengernyit. "Lah emang kenapa? Lu kira gue anak cewek yang dicariin emak nya di rumah kalau nggak pulang?" Celetuk nya.


Alby mendecakkan lidah. "Gue ada urusan. Lu mau tinggal di apartemen gue sendirian?" Tanya nya.


"Urusan? Kok gue gak diajak?" Protes Rhaegar. "Tega lu sama sepupu sendiri." Sambung nya membuat Alby memutar bola mata malas.


"Ngapain ngajak lu emang? Entar lu banyak tanya disana. Terus berantem mulu sama Risya." Sahut Alby malas.


"Jadi Risya ikut juga?"


"Ya."


"Ikut deh gue kalau gitu." Tukas Rhaegar.


Alby menghela nafas, tak menanggapi perkataan lelaki itu. Ia mengetik sebuah nama dan menekan panggilan, menghubungi nomor seseorang.


[Oi, kenapa Al?] Ucap seseorang diseberang sana.


"Gi, lu ada job gak malam ini?" Tanya Alby. Gio nampak bertanya pada teman nya kemudian kembali berbicara pada Alby.


[Ada sih. Jam 10 nanti gue baru masuk kerja. Emang kenapa bro?] Tanya Gio.


"Cewek yang sama gue waktu itu nyariin data yang dia minta." Sahut Alby.


[Kita ketemuan aja biar enak soal nya udah gue masukin juga ke flashdisk.] Ucap Gio.


"Kafe dekat taman kota ya, jam delapan gue tunggu disana." Kata Alby seraya mematikan sambungan telepon setelah Gio mengiyakan ucapan nya.


"Bisnis banget ya lu bertiga, kok gue gak tau apa apa sih?! Entar disana malah planga plongo kayak orang dongo." Keluh Rhaegar sambil mempoutkan bibir nya.


Alby malah mentertawakan ekspresi Rhae, macam Dugong. "Dah lah, gue mau siap siap. Lu kalau mau ikut cepetan entar gue tinggal kalau lama!" Tukas nya sambil beranjak dari duduk nya.






Alby duduk menunggangi kuda besi nya dan memasang helm full face, begitu juga dengan Rhaegar ia juga melakukan hal yang sama seperti teman nya itu.


Mereka menghidupkan kendaraan masing masing dan memanaskan nya sebentar, sebelum melaju menerobos jalanan yang mulai ramai.


Kurang lebih sepuluh menit waktu yang mereka tempuh, kini mereka telah berada di depan kafe tempat janjian awal. Memarkirkan motor dan melangkah memasuki area kafe.


Kafe 'X nampak ramai, banyak anak muda yang mengunjungi tempat ini. Di jadikan tempat untuk mengerjakan tugas mereka atau sekedar bersenang senang dan berkumpul bersama teman.


Di meja nomor 11, seseorang melambaikan tangan ke arah Alby dan Rhaegar. Mereka mendekat ke sana dan ternyata itu adalah Gio. Mereka bertiga berjabat tangan dan tos ala lelaki, baru ikut duduk dan bergabung bersama.


"Udah lama?" Tanya Alby ketika sudah menempatkan bokong nya diatas kursi.


Gio melirik jam di pergelangan tangan. "Baru aja sih, sekitar dua menit yang lalu." Ucap nya seraya menatap ke arah pintu.


"Gue kira lu belum dateng, Gi."


"Gue malah ngira kalau lu udah dateng, maka nya gue cepet cepet kesini."


"Btw, yang cewek mana?" Tanya Gio lagi.


"Bentar lagi kayak nya, kata nya udah di dekat sini." Sahut Alby sambil menatap ke ponsel dan membaca pesan dari Risya.


Gio mengangguk, ia memanggil waiters dan mereka pun memesan makanan sambil menunggu Risya datang.


Tak berselang lama, pintu masuk berbunyi menandakan bahwa seseorang telah masuk ke dalam sini. Mereka menoleh dan menatap sejurus, melihat seorang gadis mungil memakai celana jeans dan baju oversize serta sebuah topi hitam yang melekat di atas kepala.


Gadis itu nampak menilik seisi kafe sambil sesekali melihat ke arah ponsel. Ia kembali melangkah saat seseorang melambaikan tangan ke arah nya.


"Sorry ya telat, kalian udah lama nunggu?" Tanya nya merasa tak enak.


"Nggak kok. Kita semua juga baru dateng." Sahut Gio.


Rhaegar sedari tadi diam saja dan tak ikut berbicara, namun itu mampu membuat nya ter-notice oleh Risya.


"Lah kok Egar ada disini?" Tanya Risya bingung. Seperti nya ia tak mengundang Rhaegar?


Rhaegar melepaskan topi Risya dan menaruh nya dipangkuan nya. Bukan maksud menjahili, tapi seperti nya Risya merasa seperti itu. Padahal yang sebenar nya adalah Rhaegar ingin melihat wajah cantik Risya malam ini.


Risya mendelik sinis sampai menyipitkan mata. "Balikin gak?! Jahil banget lu ya." Keluh nya, kesal.


Rhaegar hanya terkekeh tapi tak lantas mengembalikan topi tersebut. "Emang kenapa? Bukan kafe lu kan?" Sahut nya santai, namun terasa menyebalkan.


"Maklum ya, Gi. Anak nya emang suka berantem kalau ketemu." Ucap Alby pada Gio.


Gio lantas tertawa kecil. "Jodoh kali." Kata nya gamblang.


Seorang waiters datang membawakan beberapa makanan dan minuman yang sudah mereka pesan. Bahkan Risya juga sudah dipesankan tanpa perintah dari sang empu. Namun Risya tak kecewa karena itu adalah makanan kesukaan nya.


"Ini siapa yang pesen?" Tanya Risya ketika menatap dessert dan jus stroberi di hadapan nya, ia menatap tiga lelaki yang satu meja dengan nya.


"Rhae noh yang pesen." Sahut Alby membuat Rhaegar yang tengah mencicip makanan pun mendongak.


"Kok lu bisa tau kalau gue suka stroberi?" Tanya Risya memicing curiga kalau kalau Rhae ini sebenar nya seorang stalker.


"Natap nya biasa aja dong!" Keluh Rhaegar. "Lu kan sering minum susu rasa stroberi tuh, jadi gue kira lu emang penyuka stroberi." Sambung nya.


"Oh gitu. Kira'in lu stalker." Sahut Risya datar.


Rhae menyentil kening Risya, karena jarak kursi nya tak jauh jadi ia bisa menjangkau kepala gadis itu. "Heh, sembarangan tuh mulut!" Tukas nya sambil melotot.


"Aduuh, udah deh kalian berdua, berisik banget!" Keluh Alby, ia segera beranjak dan bertukar tempat dengan Rhae, menjauhkan kedua anak itu agar tak ribut lagi.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...tbc...