
"Bang!"
Risya memanggil Sigra dengan sedikit mencondongkan kepalanya ke depan agar kakaknya itu bisa mendengar suaranya. Angin yang menempuh dari arah yang berlawanan membuat suaranya tenggelam. Mereka sudah di perjalanan setelah beberapa menit yang lalu berpisah dengan teman-teman.
"Bang!" Untuk yang kedua kalinya Risya memanggil Sigra."Abang, dengerin Caca ngomong gak sih?"
Risya menyeletuk dengan kesal ketika Sigra terlihat seolah berpura-pura tuli tak mendengarkan panggilannya. Dasar Sigra budeg!
Tak tahu saja, laki-laki yang tengah memegang kendali motor itu nampak menarik sudut bibirnya saat melihat wajah kesal sang adik dari balik kaca spion.
"Kenapa?" Balas Sigra pada akhirnya dengan suara yang lumayan bisa didengar oleh Risya.
Mendengar balasan dari Sigra, Risya pun kembali berseru, "Mampir dulu!"
Sigra terlihat mengerutkan keningnya. "Ke mana?" Tanyanya.
"Ck." Risya mendecakkan lidah seraya menggeplak helm yang terpasang di kepala Sigra. Untung saja kakaknya itu tidak apa-apa dan masih bisa menjaga keseimbangannya.
"Abang kan bener nanya, Ca, masa iya masih kena pukul?" Sigra mengeluh sambil sekilas menolehkan kepalanya ke arah Risya. Ia tak marah pada adiknya, malah bertambah ingin menggodanya.
Kini Risya meletakkan kedua tangannya di pundak Sigra, gadis itu kembali mencondongkan sedikit kepalanya ke depan. "Aku kan udah bilang pas di sekolah tadi."
"Yang mana? Kedai es krim?" Tanya Sigra. Tangannya lantas menurunkan tangan Risya dari pundak dan menaruhnya di pinggangnga.
Risya sendiri awalnya bingung tapi tetap membiarkannya saja. Ia nampak termenung sejenak sampai suara dari sang kakak seketika menyadarkannya.
"Ca!"
"Kenapa gak jawab?" Sigra kembali melirik Risya dari kaca spion motornya.
"Ha? E... Jawab apa?" Sahut Risya. Setelahnya, gadis itu menarik sudut bibir membentuk senyuman saat ia merasakan usapan lembut pada punggung tangannya.
Rasanya aneh ya, sedikit canggung juga karena Sigra adalah seorang laki-laki. Walaupun Risya dan Sigra adalah kakak beradik kandung tetapi yang menempati raga sang adik kini bukan Risya yang asli. Ck, bodo amat lah! Yang terpenting ia tidak boleh melibatkan sebuah rasa yang bisa menyusahkan dirinya untuk ke depannya.
"Beneran jadi mampir gak? Kalau nggak biar langsung pulang ke rumah aja."
"Jadi!"
Risya langsung menyahut dengan cepat dan dengan mata yang berbinar pula. Ya sudahlah, kali ini Sigra akan menurutinya. Sigra pun singgah ke tempat itu dan memarkirkan motor mereka di tempat yang sudah disediakan di sana.
"Lepas dulu helm-nya, sayang." Sigra lantas menarik tangan Risya sebelum adik perempuannya itu menjauh dari hadapannya. "Kamu mau masuk pakai helm? Di dalam gak ada razia lho."
Pipi Risya memerah seketika, itu karena malu sebab Sigra nampak menertawakannya. Ia tidak sabar untuk masuk ke dalam kedai makanya ia sampai lupa.
"Ih, jangan ketawa!" Risya mendengus seraya memukul lengan Sigra dengan sedikit kencang. "Aku kan manusia jadi wajar aja lupa!"
Sigra mendengus tawa. "Iya, iya, maap." Laki-laki itu menyambut helm milik sang adik dan sempat-sempatnya ia juga mengacak-acak rambut Risya hingga membuat sang empu mendelik dengan kesal.
Setelah menaruh helm, Sigra mengajak sang adik untuk masuk ke dalam. "Ayo!" Sigra menarik lembut tangan Risya, menggandeng gadis itu ke arah kedai. Risya nampak menggembungkan pipinya tapi tetap melangkahkan kaki mengikuti Sigra.
"Kamu mau rasa apa?"
Risya melirik ke arah Sigra sebentar sambil melihat-lihat menu yang ada di sana. "Strawberry aja, yang jumbo."
"Cup kecil." Sigra seketika menyela hingga membuat Risya sepenuhnya menatap ke arahnya.
"Ck, jumbo lah!" Sahut Risya yang tak mau kalah dengan sang kakak.
"Kecil aja."
"Gak mau!" Tukas Risya yang masih bersikeras dengan keinginannya di awal.
"Kecil atau gak jadi?"
Wajah Risya nampak cemberut. Si penjaga toko juga nampak senyum-senyum saat melihat interaksi dari dua orang di depannya itu.
"Gak apa-apa, mas. Nanti pacarnya ngambek kalau gak diturutin," ujarnya menimpali hingga membuat perhatian Sigra dan Risya seketika beralih padanya.
Pacar? What?!!
"Ih saya bukan pacar dia, kak!" Sahut Risya sembari mendelik ke arah Sigra dengan sinis.
Sigra mati-matian menahan bibirnya untuk tidak menarik lekuk senyum. "Dia emang gitu, suka malu kalau ngakuin."
Jawaban Sigra sontak membuat penjaga kedai mengulas senyuman lebar. Anak-anak jaman sekarang ini memang ya, gengsinya tinggi sekali untuk sekedar mengakui. Ck-ck-ck!
Risya tak segan-segan mencubit pinggang Sigra lantaran kesal terhadap kakak laki-lakinya itu. Gadis itu langsung melongos dari hadapan mereka dan mencari tempat untuk duduk dan menunggu Sigra di sana.
Sigra hanya bisa menghela nafas panjang sambil geleng-geleng kepala. Ia memutar kepalanya menatap penjaga toko seraya berkata, "es krim yang stroberi 1, cup nya yang besar aja."
"Ditunggu, mas."
Sigra sebentar menunggu sampai es krim tersebut diterimanya. Laki-laki itu kemudian berjalan ke arah sang adik yang tengah menatap ke arah jalanan yang terlihat pengendara nampak melintas dan berlalu lalang di sekitar kedai dan jalan.
"Nih." Sigra meletakkan es krim tersebut di atas meja sembari mendaratkan bokongnya di atas kursi. "Mau cup yang gede, kan? Udah, jangan ngambek lagi," ujarnya sambil tersenyum hangat.
Risya menolehkan kepala menatap Sigra sambil mengerucutkan bibirnya. "Aku tuh gak ngambek, cuma pundung aja."
Ya apa bedanya? Hanya bahasanya saja yang tak sama. Ya sudahlah, biarkan saja. Perempuan memang selalu benar. Risya meraih es krim itu dan mencicipi rasa stroberi yang dingin meleleh di dalam mulutnya.
"Ngomong-ngomong kamu beneran mau jalan bareng hari ini?" Tanya Sigra. Ia menatap hangat pada sang adik yang terlihat bersemangat.
Sigra sedikit merasa heran, hanya karena es krim seperti itu kenapa Risya sudah terlihat senang?
Risya melirik sebentar lalu menganggukkan kepalanya. "Kalau sempat, sih. Kalau gak ya udah, kan. Lagian belum ditentuin jamnya jadi juga belum pasti pergi atau enggaknya."
Sigra nampak menganggukkan kepalanya sekali. "Ada tempat yang mau kamu kunjungin, ya?" Tanyanya lagi. Padahal bukan ini yang mau jadi pembahasan, tapi Sigra malah lupa tadi mau bertanya apa.
Risya berpikir sejenak. "Kayaknya ada, tapi aku belum bisa nentuin. Masih bingung takut kalian gak suka kalau semisal ke sana."
Sigra langsung mengernyit. "Emang mau ke mana?"
"Em... Pantai (?)"
Sigra lantas terdiam hingga membuat Risya merasa gugup saat memandang sang kakak yang tak menyahut. "Gimana?"
"Nice. Tempat yang cocok buat healing." Sigra menyahut kemudian.
"Tapi harusnya weekend gak sih? Biar rame gitu, banyak orang." Risya berujar dan menunggu pendapat dari Sigra.
"Gak apa-apa, ke sana juga gak harus weekend. Lagian banyak orang itu berisik."
Jawabannya sontak membuat Risya terkekeh, ternyata ada kesamaan juga antara dirinya dan juga Sigra. Walau secara ilmiah tidak sedarah tapi tidak apa-apa, ini oke juga. Jiwa yang kini menempati raga Risya pun sebenarnya tidak suka dengan sesuatu yang berisik, tidak suka keramaian tapi anehnya ia bisa bersosialisasi dengan baik.
Ck, manusia yang aneh.
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...