
Setelah mendengar perkataan Lila, beberapa orang yang terlihat berkumpul di toilet putri pun nampak saling berbisik - bisik seolah memang menyudutkan Soya dan mencaci maki diri nya di dalam hati.
Soya menatap mereka semua dengan perasaan kalut, apalagi saat menatap teman - teman nya yang terdiam menatap nya. Dialihkannya pandangan tersebut ke arah Relvan yang terlihat kilatan kebencian di mata lelaki itu.
"Van?" Panggil Soya, berharap kalau lelaki itu percaya pada nya. Setelah ini ia bisa menebak kalau Relvan akan membenci nya secara penuh dan enggan memaafkan diri nya.
Relvan bersitatap sejenak sebelum berucap, "lu..., gue gak ternyata lu bisa sejahat ini," ucap nya namun Soya menggeleng dengan cepat seolah menyangkal perkataan nya. "Gue pikir lu udah sadar dan ngerasa bersalah atas tindakan lu selama ini, gue pikir elu emang berubah tapi kenyataan nya lu sama kayak yang dulu. Cewek jahat yang gak ngerti perasaan orang."
Relvan berjalan meninggalkan Soya yang terlihat menahan air mata di kelopak mata. Tak perduli dengan gadis itu, Relvan dan teman - teman nya memapah Nina keluar dan membawa nya ke Unit Kesehatan Sekolah.
Siswa lain pun mulai memisahkan diri sambil bergosip ria tentang Soya, sedangkan Sigra malah terpisah dari teman - teman nya, lelaki itu seolah menunggu Risya seraya mengusap puncuk kepala nya. "Ayo!" Ajak nya pada Risya dan mendahulukan diri keluar dari sana.
Risya hanya mengangguk sekali merespon Abang nya, gadis ini masih menatap lekat Soya dan tak mengalihkan pandangan nya ke arah lain. Melihat Risya yang terdiam di tempat, Soya memberanikan diri untuk memanggil nya.
"Sya," panggil Soya pelan. "Lu percaya 'kan sama gue kalau bukan gue pelaku nya? Bukan gue yang bully Nina, Sya, bukan--"
"Diem," potong Risya.
Soya seketika berhenti berbicara dan bingung menatap gadis di depan nya. Apakah Risya mempercayai ucapan nya atau Risya mempercayai ucapan mereka? Namun Risya hanya diam saja seperti tak berniat merespon apa - apa hingga membuat Soya cemas.
"Sya, hiks... Apa lu percaya juga sama kayak mereka?" Soya menyapu air mata nya. "Sya?" Panggil nya lagi. "Risya, kenapa lu diem aja? Lu bikin gue takut."
"Diem, Soya."
"Kenapa?"
"Gue bilang diem ya diem," celetuk Risya sambil melangkah mendekati Soya. Soya tak berani menatap Risya dan memilih menundukkan kepala.
Soya tersentak kaget dan memecahkan tangis nya di pelukan Risya saat gadis itu memeluk nya. "Gue minta elu diem jadi jangan ngomong apa - apa lagi, okey? Semua bakal baik - baik aja." Risya menepuk - nepuk kecil punggung Soya lalu melepaskan pelukan mereka lalu tersenyum menatap Soya.
"Elu percaya sama gue?" Tanya Soya di sela - sela tangis nya. Risya mengangguk dan ikut mengusap air mata Soya. "Percaya kalau itu semua bukan kesalahan gue?" Kali ini Risya mengangguk lagi membuat Soya menghamburkan peluk nya dan terisak dengan pilu.
***
Di taman belakang yang terlihat sepi itu terdapat tiga orang anak muda tengah berbincang sesuatu yang tidak di ketahui apa itu. Namun salah satu nya terlihat menyerahkan sesuatu serupa amplop dan berkata, "nih, bayaran buat kalian berdua."
Re dan Mo adalah dua orang di antara nya, satu orang lagi biar lah menjadi rahasia. Re, menerima amplop itu dan mengintip isi dalam nya, ia kemudian tersenyum miring lalu menatap orang di depan nya.
"Gimana?" Tanya orang itu.
Re menganggukkan kepala. "Oke, ini lebih dari cukup," sahut nya.
Orang itu mengangguk sekali sambil melipat tangan ke dada. "Tapi lain kali kendaliin emosi kalian saat bully dia." Ia menatap ke arah Re. "Lu bisa aja bikin dia geger otak kalau sedikit aja lu kerasin saat benturin kepala dia ke dinding."
Re, terkesiap mendengar perkataan orang itu. Apakah ia mengetahui kejadian tadi detail nya seperti apa??
Namun Re terlihat tak bersalah sama sekali atau menyesali perbuatan nya. "Sorry, abis nya muka tuh jal*** ngeselin banget minta di bunuh," celetuk nya gamblang.
Mo nampak memutar bola mata nya saat mendengar jawaban Re, memang sinting tuh anak padahal Re bukan psikopat. Mo menatap orang yang memberi mereka imbalan, "kita berdua bakal aman, kan?" Tanya nya. "Lu yakin bisa ngelindungin identitas kita?"
Orang itu mendenguskan nafas nya. "Elu ngeremehin gue?" Tanya nya balik.
"B-bukan gitu, cuma--"
"Oke," potong orang itu. "Gak apa - apa kalau kalian masih ragu, tapi asal kalian tau, gue bisa berbuat sesuka gue dan gue bisa ngendaliin semua nya kalau gue mau juga." Orang itu tersenyum miring hingga membuat Re dan Mo seketika merinding.
***
Kalau dilihat dari masalah nya, ini cukup berat dan mungkin saja ia bisa di skorsing beberapa hari atau sampai satu bulan. Namun apalah daya, tak ada yang bisa mempercayai nya kecuali Risya.
"Soya Aila Aldic," panggil Pak kepala sekolah.
Soya lantas mengangkat kepala nya ketika nama nya di panggil, ia menatap ke arah kepala sekolah yang terlihat memegang sebuah kertas.
"Ini surat peringatan untukmu, karena kamu juga berdalih kalau itu bukan kesalahan kamu dan belum ada bukti mengenai hal ini jadi Bapak meringankan semua itu. Kamu cuma diberi surat peringatan dan beberapa point tetap akan pihak sekolah kurangi, tapi jika sewaktu - waktu kejadian seperti ini terulang kembali maka dengan berat hati surat orang tua sekaligus skorsing akan kami keluarkan," terang kepala sekolah panjang lebar. "Nama kamu juga sudah tercatat pada peringatan pertama jadi tolong jangan diulangi lagi."
Soya mengangguk sekali lalu mengambil surat peringatan tersebut dan menyimpan nya ke dalam saku almamater milik nya. "Makasih, Pak," ucap nya sebelum berlalu dan keluar dari ruangan itu.
Soya menghela nafas berat, gila memang padahal ia tidak salah apa - apa tapi malah berakhir seperti ini. Suatu kebetulan yang buruk hari ini, ke toilet hanya untuk buang air kecil tapi malah berakhir jadi tersangka utama.
Memang susah kalau mengelak sedangkan rata - rata dari mereka asli nya tak menyukai diri nya, mau membantah pun percuma kalau sudah di nilai buruk ya tetap akan buruk di mata mereka.
Orang - orang mana perduli dengan yang benar atau salah jika yang bersalah memang si cantik mereka tetap akan membela tanpa perduli kalau itu akan merusak citra mereka.
Tidak apa, Soya benar - benar tidak apa - apa. Ia yakin semua akan cepat berlalu dan baik - baik saja. Percayalah... She's okay...
Soya menghentikan lamunan nya, tangan nya baru saja menutup pintu ruangan kepala sekolah tersebut Laura langsung menghadang di depan pintu dan langsung memeluk nya hingga membuat Soya tersentak kaget dengan kehadiran nya.
"Soya, lu gimana? Apa elu di skorsing? Lu gak di skorsing, kan? Soya, bilang sama gue."
Laura menangkup wajah Soya menggunakan kedua tangan nya dan menatap kedua mata Soya dengan lekat. Detik berikut nya Soya nampak mengulas senyuman tipis sambil menyingkirkan tangan Laura dari wajah nya.
"Ishh, kenapa elu malah senyum sih?" Keluh Laura. "Berarti beneran baik - baik aja, kan? Enggak di skorsing?" Soya menganggukkan kepala nya membuat Laura lantas memeluk erat teman terbaik nya itu. "Gue kira kita gak bakal ketemu dalam beberapa hari berikut nya," bisik nya lirih.
Soya terkekeh dan menepuk kepala Laura sebanyak dua kali. "Udah ah, kita masih bisa ketemu, kok. Lagian kalau gue di skorsing juga masih bisa ketemu di luar sekolah, gak usah sok melow lu!" Celetuk nya.
Soya melepaskan pelukan mereka dan melangkahkan kaki nya menuju kelas mereka, Laura mendecakkan lidah nya pelan lalu ikut melangkah dan menyamakan langkah nya dengan Soya.
"Gue tau lu sedih, tapi gak perlu khawatir dan pikirin masalah itu, tenang aja gue masih selalu ada di samping elu, Risya juga masih ada, kan? Dia masih percaya sama lu," ucap Laura yang bermaksud untuk menyemangati Soya sambil merangkul pundak gadis itu.
Soya mengangguk kecil, benar dia masih punya mereka, masih ada orang yang percaya pada nya. Lebih baik ia punya teman sedikit daripada banyak tapi munafik.
"Makasih, Lau." Soya tersenyum memandang Laura dan dibalas dengan senyuman pula.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...