
Rizhan memakan ice cream miliknya seraya menatap ke arah Risya. "Lu bukan sengaja ngarahin gue ke sini, kan, buat ngeliat kejadian tadi?" Tanyanya sambil memicingkan mata curiga.
"Curigaan banget lu jadi cowok!" Gerutu Risya sambil mendengus. Ia kemudian kembali berkata, "gue tuh cuma gak sengaja aja denger Soya mau lewat jalan sini, makanya gue penasaran dia mau pergi ke mana. Kan bukannya kalau lewat depan sana lebih cepet sampai, ya?"
Usai mendengar jawaban dari Risya yang tak sesuai dengan ekspektasi lelaki itu, Rizhan kini hanya memilih memandang gadis itu tanpa ingin bertanya-tanya dengan pertanyaan yang sama lagi.
Risya menelan ice cream yang berada di dalam mulutnya sebelum kembali bertanya. "Btw, lu pada punya musuh apa gimana? Atau Rey sendiri yang punya musuh? Kok bisa dia sendiri yang kena gebuk?"
Rizhan mencerna pertanyaan Risya sesaat, mungkin gadis itu tengah menyinggung tentang pengeroyokan tadi, kan?
"Gak ada sih setau gue," sahutnya kemudian. "Tapi ada aja anak-anak lain yang sengaja nyari masalah sama kita di beberapa kali kesempatan. Dan mungkin juga mereka itu yang kemarin bikin Relvan kecelakaan."
Risya terlihat sedikit tertarik dengan pembicaraan ini, ia bahkan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Rizhan yang duduk di depannya. "Oh, ya?" Katanya. Rizhan nampak menganggukkan kepalanya.
"Jadi Relvan itu pernah kecelakaan?"
"Pernah, waktu balapan."
"Parah gak?" Tanya Risya lagi.
"Gak juga sih tapi sempet masuk rumah sakit buat perawatan," sahutnya enteng.
Risya langsung mendelik sinis seketika. "Itu mah berarti parah, dodol! Gimana sih lu?!" Sentaknya hingga membuat Rizhan tertawa kecil.
Kalau diingat-ingat, adegan itu sepertinya ada juga di dalam novel. Tapi ia sedikit lupa kapan waktu kejadian itu terjadi. Berarti sudah kejadian, ya? Kenapa ia tidak ada mendengar kabar itu ataupun menyaksikannya?
"...sya."
"Risya."
Rizhan melambaikan tangannya di depan wajah gadis itu, sebab sudah beberapa kali ia memanggil juga tak disahutinya. Risya terlihat melamun hingga membuat Rizhan khawatir terhadapnya.
"Hei, kenapa?" Tanyanya setelah Risya sudah tersadar dan kembali menatap ke arahnya.
"Ah, gak apa-apa. Sorry," ucap Risya dengan perasaan tak enak hati pada Rizhan.
"Iya, Risya, lu gak perlu minta maaf kayak gitu," celetuk Rizhan dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
Risya nampak mengangguk dengan paham. Ia terdiam sejenak lalu kembali berbicara. "Zhan, lu percaya gak sih kalau ada dunia lain selain dunia kita ini?"
Rizhan yang sedari tadi tak mengalihkan pandangannya dari Risya pun nampak berpikir setelah mendengar pertanyaan keduanya. Gadis itu tak menatap ke arahnya dan malah menatap ke arah lain. Memandang para pengendara motor dan mobil yang masih berlalu lalang di jalan ini.
"Percaya," katanya hingga membuat Risya sontak melirik ke arahnya dengan kondisi jantung yang berdegup-degup saat mendengarnya.
Ia menjeda kalimatnya lalu ikut menatap ke arah mana gadis itu memandang. "Kalau kita mati, kan, udah pasti pindah alam tuh. Alam dunia yang bakal kerasa berbeda sama alam dunia kita."
Dan hanya helaan nafas yang terdengar dari Risya kala mendengar jawabannya sangat bisa diterima oleh akal dan pikiran manusia. Memang yang dia bilang itu juga tak salah sih tapi di satu sisi itu juga jawaban yang salah.
"Oh, iya juga," gumamnya pelan.
"Kenapa emang, Sya?" Tanya Rizhan.
"Gak, kok, gue cuma nanya doang," ujar Rizhan tak menanggapinya dengan perkataan ataupun anggukan kepala. Lelaki itu memilih menatap Risya dengan lekat dalam beberapa saat.
Rizhan jadi teringat dengan sesuatu setelahnya. Ia pun langsung mengalihkan pandangan ke arah ponsel yang tengah ia pegang.
"Sekarang aja, yuk, Sya! Kita udah lupa waktu di sini, pasti tuh Abang lu udah ngomel-ngomel di rumah," ajak Rizhan seraya memandang Risya sembari terkekeh kecil.
Jauh di dalam lubuk hati, sebenarnya ia masih ingin berlama-lama untuk menghabiskan waktu bersama, namun mengingat Risya adalah perempuan dan ia juga belum meminta izin secara resmi untuk membawanya. Rizhan jadi kepikiran dan tidak tenang jika seperti ini.
"Udah, ayok!" Serunya sambil tersenyum lebar.
Rizhan nampak menahan tawanya kala melihat Risya yang sudah bersiap untuk pulang. Ia beranjak dari tempat duduk dan melangkah mendekat ke arah gadis itu.
"Sya," panggilnya saat ia sudah berada tepat di samping sang empu. Risya otomatis langsung menengokan kepala.
"Apa?"
"Lu kalo makan ice cream bener-bener kayak bocah, ya," tukas Rizhan seraya mengulurkan tangan agar bisa mengusap sudut bibir Risya yang terdapat sedikit jejak ice cream yang telah gadis itu makan.
Risya terkesiap dan sontak terdiam kaku. Ia mengerjap pelan sambil berceletuk dalam hati, "buset! Udah kayak adegan drakor aja!"
Setelah itu ia pun langsung tersadar dan reflek menjauh satu langkah dari lelaki itu. "Ah, thanks, Zhan," katanya sambil tertawa dengan canggung.
Rizhan nampak tersenyum melihatnya. Risya kalau salah tingkah benar-benar bertambah imut, ya? Katanya dalam hati. Ia lalu kemudian melangkahkan kakinya berjalan ke arah motor dan diikuti oleh Risya.
Motor mereka pun melaju dengan santai dan tak tergesa-gesa. Hampir menghabiskan waktu lima belas menit lamanya, akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah mewah dengan pagar yang bewarna abu-abu gelap. Tadinya mereka juga sudah mampir ke toko kue sesuai dengan yang dikehendaki oleh Risya sebelumnya.
Pak satpam yang berada di dalam pun langsung bergegas membukakan pagar rumah majikannya. Namun nyatanya Rizhan memilih tak masuk dan mengantar gadis itu sampai ke dalam. Ia hanya berhenti di depan pagar saja. Ditawarin masuk juga Rizhan langsung menolaknya dengan halus sampai Risya sendiri bingung dan hendak memastikannya sekali lagi.
"Serius nih gak mau masuk dulu?" Tanya Risya yang sudah beberapa detik lalu turun dari atas motor Rizhan. Ia juga sudah melepas helm di kepalanya.
Rizhan mnggeleng kecil. "Iya, lu gak apa-apa, kan, kalau gue gak nganter sampe dalem?"
Risya mengangguk sekali. "Gak apa-apa, kok, sans aja," ujarnya sembari tersenyum kecil. "Tapi kenapa lu gak mau mampir? Singgah bentar lah, minum."
Rizhan sejujurnya tak enak dengan Risya, tapi ia harus meminta maaf dan menolak ajakannya. Ada sesuatu yang mengharuskan ia untuk cepat pulang.
Ia lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut kepala Risya. "Maaf, ya," ucapnya. "Ntar kapan-kapan dah gue main. Bukan sama anak-anak yang lain tapi gue pribadi yang ke sini."
Ia seolah meyakinkan Risya dan gadis itu pun tak lagi memaksakan yang bukan kehendaknya. "Ya udah deh kalau lu mau nya gitu," sahut Risya dengan senyuman tipis yang terlihat di bibirnya.
"Lu gak marah, kan?" Tanya Rizhan hingga membuat Risya sontak mnggelengkan kepala.
"Enggak, ngapain marah coba? Gue gak bisa memaksa kehendak orang lain."
Rizhan nampak merasa lega setelah itu. "Gue balik dulu, ya, Sya. Titip salam juga buat bokap sama nyokap lu, bilang dari calon mantu gitu." Risya seketika langsung mendelik ke arahnya dan membuat Rizhan tergelak karenanya.
"Dih! Apa sih lu?" Dengus Risya sembari hendak menggeplak helm yang masih terpasang di kepala Rizhan. Tapi sebelum mengenainya, lelaki itu malah menghentikan tangan Risya terlebih dulu.
"Jangan mukul helm, Sya, ntar malah tangan lu yang sakit," ucapnya dengan nada lembut seraya menatap ke dalam mata Risya.
Posisi mereka memang saling berhadapan dengan jarak yang tidak terlalu jauh dan tangan Risya pun masih berada di genggaman lelaki itu. Mereka saling pandang hingga membuat Risya tertegun sejenak memandang ke arah Rizhan dengan dalam.
Kalau Rizhan bersikap lebih mendominasi seperti ini, dia sungguh seperti lelaki gentle dan juga tampannya lebih terlihat dari ia yang biasanya. Tatapannya seolah mengunci pandangan Risya hingga membuatnya tak bisa mengalihkannya ke arah lain. Kalau begini, Risya malah jadi gugup seketika dibuatnya.
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...