Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 26 | Hilangnya Risya



Kediaman Serville 📍


Sigra melangkah menuju kamar Risya setelah selesai makan malam. Tadinya ia kira akan makan bersama adiknya, tapi sepertinya Risya tak ingin makan malam dengan Sigra karena sedari tadi Risya tidak turun dari kamarnya. Sigra pun tidak melihat adiknya sehabis pulang sekolah tadi.


Sigra menaiki tangga sambil membawa nampan berisi makanan di atasnya, satu gelas susu dan satu air putih untuk minumannya. Ia takut Risya belum makan jadi ia berinisiatif membawakan ini untuknya.


Tok! Tok! Tok!


"Caa! ini Abang."


Tak terdengar sahutan dari dalam. Sigra mengernyit, mencoba mengetuk pintu Risya sekali lagi. Sama seperti sebelumnya, tak ada suara apapun yang terdengar. Sigra mengetuk berkali-kali sampai ia berteriak pun tetap tak ada sahutan.


Apa nggak ada orangnya?


Ceklek!


Saat Sigra memegang gagang pintu dan memutarnya kebawah, pintu tersebut ternyata bisa di buka dan tak di kunci dari dalam. Sigra berdecak, kalau tahu begini kenapa tak ia lakukan sedari tadi. Ia malah mengetuknya berkali-kali sampai teriak-teriak pula.


Aroma vanilla menguar menyapu indera penciumannya kala membuka pintu ruangan ini. Gelap, itu menggambarkan kondisi kamar Risya sekarang, tak ada juga lampu tidur yang dinyalakan sekedar untuk penerangan.


Saat pertama kali Sigra masuk ke kamar adiknya pun keadaan kamarnya juga begini. Apa Risya memang suka gelap-gelapan?? Kalau Sigra sendiri ia tak bisa berada di ruangan gelap seperti ini, ia akan merasa susah bernafas jika tak ada cahaya didalamnya.


Sigra menekan saklar, terlihat lah sesuatu yang sedang bergelung dengan selimut di atas ranjang. Sigra mendekat dan meletakkan nampan di atas meja dekat ranjang.


"Ca, bangun dulu. Ayo makan sebentar."


Sigra duduk di pinggir kasur sambil menatap Risya yang tak membalikkan tubuhnya ke arahnya. Sigra terdiam beberapa detik.


Oh iya, Risya kan tidur emang kebo banget. Mana susah lagi kalau di bangunin.


Sigra menepuk bahu Risya di balik selimut. "Bangun Ca!"


Sigra menepuknya lagi dan sedikit mendorongnya, emm... Sepertinya ada yang aneh disini. Sigra mencoba menekan pundak Risya yang terasa empuk. Tangan Sigra nampak tenggelam di selimut. Kenapa tubuh adiknya jadi empuk seperti kapas tanpa tulang??


Sigra membuka selimut Risya dengan sekali tarikan, wajahnya seketika dingin kala melihat sebuah boneka di balik selimut. Ia menatap sekeliling, Risya tak ada di kamarnya?? Lalu kemana dia?


Sigra memeriksa kamar mandi, adiknya juga tak ada di dalam. Sigra kemudian bergegas turun ke bawah dan bertanya pada bibi apa kah ada yang melihat Risya. Dari semua yang ada di rumah ini ternyata tak ada dari mereka yang melihat Risya keluar dari rumah. Risya sama sekali tidak meminta izin kepada siapapun.


****!! Jadi kemana gadis itu?


Para asisten rumah tangga dan pekerja lainnya di kumpulkan di ruang tamu, mereka semua menunduk tak berani menatap tuan mudanya yang terlihat menahan amarah.


"Cari sampai dapat, kalau perlu periksa sampai ke sudut rumah sekalipun!!"


Semuanya bubar dan berpencar di sekeliling rumah, perpustakaan rumah sampai taman belakang di periksa oleh mereka.


Sigra mengacak rambutnya frustasi, arghhh!!! Ia sebenarnya tak ingin marah, tapi bagaimana mana bisa orang rumah hilang mereka tidak tahu sama sekali bahkan tak ada yang melihat.


Sigra pergi ke ruang cctv dan memeriksanya, dan pada akhirnya ia menghentikan para pekerja untuk mencari keberadaan Risya di sekitar rumah, tak bakal ketemu juga kalau orangnya saja tak berada disini.


Sigra mengecek ponsel, menelpon bahkan mengirim pesan pada Risya tapi tak di balas dan tak di angkat oleh adiknya. Nomor Risya aktif berarti ponselnya tidak dimatikan, besar kemungkinan Risya bukan berniat kabur dari rumah tapi hanya pergi ke luar. Tapi kenapa Risya tak mengabari Sigra??


Malam semakin larut, Sigra duduk di atas ranjang Risya untuk menunggu kedatangan gadis itu. Lampunya sengaja ia matikan dan hanya menyalakan lampu tidur saja. Ia terdiam sambil mengotak-atik ponselnya kalau-kalau ada balasan dari adiknya.


Sigra menghela nafas kala menyadari bahwa adiknya pergi keluar melewati balkon kamar. Tak mungkin Risya bisa melewati pintu rumah tanpa ketahuan yang lain, jadi lewat balkon adalah jalan satu-satunya. Pintar juga dia, sudah yakin tak di perbolehkan keluar rumah tapi masih nekat mencoba.


Tapi apa memang Risya bisa melompati balkon setinggi itu, walaupun tak tinggi-tinggi amat, sih. Tapi kan Risya itu seperti perempuan feminim, masa sekarang bisa jadi se bar-bar itu??


Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu. Adiknya tak kunjung datang juga, perasaannya menjadi tak tenang. Memangnya pergi kemana dia kenapa sudah jam segini tak kunjung pulang?


Sigra keluar dari kamar Risya berniat untuk mencari adiknya itu, namun saat di pertengahan tangga ia melihat mang Asep tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah. Tak mengerti kenapa, tapi saat mang Asep berhenti di dekat tangga sepertinya Sigra tahu kalau mang Asep sedang mencari dirinya.


"Ada apa mang?" Tanya Sigra melangkah santai menghampiri mang Asep.


"Itu Den, Non Caca ada di depan."


Hah!? Risya ada di depan? Kenapa tidak langsung masuk saja?? Sebentar, Risya pergi lewat balkon tapi kenapa pulangnya lewat pintu ya terus menunggu di luar lagi?? Bukannya apa, tapi rasanya aneh saja.


"Kenapa dia nggak langsung masuk rumah mang?"


"Anu... Ada anak laki-laki y-"


Seketika langkah Sigra menjadi cepat dan ia sedikit berlari menuju pintu. Melewati mang Asep dan tak mendengarkan perkataan pria paruh baya itu sampai selesai.


Laki-laki?? Apa maksudnya Risya pulang dengan laki-laki? Pacarnya? Temannya? Tapi setahu Sigra, adiknya tak pernah punya teman lelaki. Jangan kan lelaki, teman perempuan saja Risya tak punya. Kecuali anak yang bersama Risya di kafetaria waktu itu...


Sigra berhenti di depan pintu. Benar, ternyata dugaannya benar. Memang lelaki yang waktu itu, tapi...


Matanya terbelalak lebar kala menyadari adiknya berada di gendongan lelaki itu, Sigra lupa namanya. Sigra menatapnya tajam dengan raut wajah dingin.


"Lu-"


Alby meletakan telunjuknya di depan bibirnya sebelum Sigra menyelesaikan ucapannya. "Sstt... Risya tidur, lu jangan teriak." ucapnya setengah berbisik.


Sigra mendekat dan mengambil alih Risya dengan pelan, takut membangunkan nya. Alby membiarkan Sigra mengambilnya, tapi ia juga bertanya-tanya kenapa lelaki ini ada di rumah Risya, apa hubungan mereka? Ah, lebih baik ia tanya itu nanti, sekarang ia harus pulang dulu.


Alby memberikan boneka Risya padanya lalu berbalik dan melangkah ke arah mobil tapi baru satu langkah kakinya terhenti kala mendengar perkataan lelaki yang mengambil alih Risya itu.


"Tunggu di ruang tamu, gue mau ngomong."


Alby memutar tubuhnya menghadap Sigra. "Gue?" Tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.


Sigra tak menyahut tapi ia mengangguk sekali lalu melangkah masuk ke dalam rumah dan mengantar Risya ke dalam kamar.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...tbc...