
"Van."
Panggilan dari Angga membuat Relvan mengangkat pandangan nya yang tengah menatap buku.
"Kenapa?" Tanya nya, menatap lelaki yang duduk didepannya dengan alis yang terangkat sebelah.
Angga memutar tubuh nya sepenuh nya menghadap Relvan, Rizhan yang duduk disamping Angga juga melakukan hal serupa.
"Gra, sini gabung!" Ujar Rey kepada Sigra.
"Gak." Sahut Sigra tanpa menoleh karena sibuk dengan buku.
"Ya elah tuh anak, diajakin ngegosip pasti gak mau."
Celetukan Rey membuat Rizhan menautkan alis. "Bagus kan kalau dia gak mau, dosa kata orang kalau ngegosip." Ucap nya.
"Dosa, dosa, tapi lu sendiri malah ikutan." Keluh Angga. Rizhan hanya memasang raut imut dan tak menanggapi perkataan Angga.
"Elu mau ngomongin apa, nyet?" Tanya Rey. Karena yang memulai pembicaraan awal ini adalah lelaki itu.
"Oh iya, Van. Gue lihat-lihat Soya gak lagi deketin elu, kenapa tuh cewek?" Tanya Angga.
Relvan terdiam, ia juga merasa begitu. Sejak pertengkaran Minggu lalu, Soya tak lagi menatap dirinya. Gadis itu bahkan terlihat acuh tak acuh. Perasaan kepala Soya tak terbentur apapun waktu itu tapi tiba-tiba dia terlihat berubah, perubahannya hampir 80% dari dirinya yang dulu.
Soya seakan tak perduli lagi dengan kehadiran Relvan. Relvan tidak tahu, gadis itu benar-benar berubah atau hanya untuk menarik perhatian nya saja.
"Nggak tau." Sahut Relvan singkat.
"Bagus deh. Gak digangguin lagi lu sama mak lampir." Sergah Rey.
"Tapi mak lampir nya cantik, Rey. Masih gadis lagi, berarti bukan mak lampir dong tapi tante lampir."
Angga dan Rey sontak terbahak mendengar perkataan Rizhan. Bisa - bisa nya anak itu berfikir begitu.
"Ahahhaha.. tante lampir. Bisa - bisa nya lu mikir sampai situ Zhan." Kekeh Rey.
Rizhan mempoutkan bibir nya. "Emang gitu kan? Soya itu masih muda bukan emak - emak." Sahut nya.
Angga pun terkekeh melihat Rizhan yang terlihat begitu lucu. Tanpa disadari mereka juga, Relvan ikut tersenyum. Namun sangat - sangat tipis sampai tak ada yang menyadari.
"Serah lu dah, bocah." Kata Angga. Kemudian ia menatap ke arah Relvan. "Tapi lu seneng kan udah bebas dari Soya? Semoga aja dia keterusan kayak gitu dan gak balik lagi suka sama elu." Sambung nya.
Rizhan langsung bergidik, ia mendekatkan kepala nya ke arah Angga. "Angga kenapa ngomong gitu?" Tanya nya hingga membuat si Angga mengernyit.
"Lah kan bener, pasti Relvan seneng juga kalau Soya gak dekat lagi sama dia." Bisik Angga juga.
"Angga coba lihat kedepan. Muka Relv udah kayak masa lalu, suram."
Angga sontak memandang Relvan. Aura dingin bercampur suram menguar disekitar cowok didepannya itu. "Ah ahahaha... maksud gue itu semoga tuh cewek gak gangguin elu lagi, kan berisik banget mulut nya dia."
Ia nyengir sambil menatap ke arah lain, mencoba menghindari tatapan tajam yang dilayangkan Relvan padanya.
Akhirnya ia menghela nafas panjang. "Sorry, gue emang gak suka kalau dia dekat sama elu. Bukan cemburu, cuman kasihan aja. Tapi ini ada baik nya juga kan buat lu kalau dia gak dekat lagi? Penghalang lu sama Nina gak ada lagi."
Relvan hanya menatap Angga datar, ia tak bisa membantah perkataan itu. Ini memang lebih baik, tapi di satu sisi ia merasa ini tidak baik, setidak nya untuk hatinya.
"Ya menurut gue ini emang lebih baik. Daripada jadi duri kayak yang udah lalu. Mending juga kalau saling menyakiti, lah ini cuma satu pihak aja yang tersakiti diantara kalian." Sambung Angga.
Rizhan pun juga ikut berbicara. "Sebenar nya bukan hanya salah pihak cewek disini, pihak cowok nya pun salah juga. Soya udah ngejar - ngejar Relv dari lama, harus nya kalau Relv nggak suka, jangan kasih dia jalan buat ngejar kamu sampai sejauh ini." Ucap nya.
"Bukan nya Relvan udah kasih penolakan? Soya nya aja yang kegatelan." Sergah Rey.
"Tapi apa Rey gak lihat? Kayak nya Rey nggak merhatiin mereka benar - benar. Relvan cuman kasih penolakan fisik, tapi apa cukup cuma kayak gitu? Harus nya Relvan tegasin pakai kata - kata juga, sesuatu yang keluar dari mulut kamu perlahan bisa buat dia sadar akan kenyataan." Ujar Rizhan.
"Walau kemarin sedikit terlambat tapi ternyata berefek juga, kan? Soya jadi berhenti ngejar kamu karena kamu sendiri yang suruh dia buat berhenti sampai disini." Lanjut nya.
Rey menepuk pundak Relvan yang hanya diam saja. "Udah deh bersyukur aja, Van. Permintaan lu dikabulin Tuhan." Ucap nya.
"Elu beneran gak punya rasa sama Soya apa?" Tanya Angga tiba - tiba.
Perkataan Rizhan ada juga benar nya, sejauh ini Relvan hanya memberikan penolakan fisik terhadap cewek itu tapi tak pernah menegaskan nya dengan perkataan.
Relvan tak menanggapi membuat Angga bertanya lagi. "Kalau sama Nina?" Tanya nya.
Angga mendecakkan lidah ketika yang ditanya hanya terdiam saja dan tak mengatakan apa - apa. "Ngomong elah, Van. Kagak ngerti gue kalau elu diem aja." Keluh nya.
Ting!
Sebuah notifikasi pesan terdengar dari ponsel Relvan, cowok itu pun mengecek isi pesan tersebut. Kemudian tiba-tiba beranjak dari tempat duduk nya.
"Kemana, Van?" Tanya Rey. Mereka bertiga menatap Relvan bingung.
"Urusan." Ucap Relvan dan melenggang pergi meninggalkan kelas.
Angga memandangi punggung Relvan yang mulai menjauh dan hilang di balik tembok. "Dia bukan menghindar dari pertanyaan kita, kan?"
Rey melirik ke arah Angga. "Kayaknya bukan. Beberapa hari ini dia sering keluar sendiri saat istirahat kedua, lu juga lihat, kan? Mungkin benar dia punya urusan."
Angga mengangguk kan kepala. "Bener juga." Gumamnya.
Relvan menyusuri selasar kelas sampai berhenti didepan pintu sebuah ruangan. Ia menggenggam gagang pintu dan memutar ke bawah hingga pintu terbuka.
Seorang perempuan cantik tengah duduk di salah satu kursi di dalam ruangan itu, kegiatannya sungguh dipandang lekat oleh Relvan yang baru saja memasuki ruangan.
"Lama." Kata cewek itu. Wajah nya datar namun perkataan nya terdengar seperti keluhan.
"Sorry." Hanya satu kata yang keluar dari mulut Relvan. Ia mengambil posisi duduk yang bersebelahan dengan cewek itu. Cewek yang beberapa hari ini nampak berubah.
"Gue ngambil dokumentasi ya, kalian fokus ke latihan aja." Ucap salah satu siswa dari klub fotografer yang berada di dalam ruangan itu juga.
Soya memberikan jempol seraya tersenyum manis. Ia menyuruh Relvan membunyikan nada sebelum ia memulai suara.
"Lagu yang kemarin lu setuju kan , Van?" Tanya Soya. Relvan mengangguk kan kepala sekali dan mulai menyentuh senar gitar dengan jari - jarinya.
Latihan pun berlangsung sampai selesai. Soya beranjak mengambil dua botol air mineral, untuknya dan untuk Relvan.
"Nih." Ucap nya. Relvan menyambut minuman itu dan menenggaknya, menyisakan seperempat air didalam botol tersebut.
"Mau satu lagi gak airnya?" Tawar Soya karena ia lihat Relvan masih nampak haus.
"Udah, ini aja." Sahut lelaki itu. "Bunda gimana kabar nya, La?" Sambung Relvan.
Soya melirik sekilas. "Bunda baik-baik aja, Van. Lu kalau kangen sama bunda ke rumah aja, sering - sering kalau bisa kata bunda." Ucap nya. Ia tidak berbohong, bunda memang berkata seperti itu.
"Enggak apa - apa?"
Soya mengernyit. "Emang siapa yang ngelarang? Dulu aja lu sering main ke rumah." Tukas nya.
Relvan tersenyum tipis. "Iya ya. Sekarang sedikit sibuk karena terkadang bantuin papa ngurus perusahaan, rumah kita juga jauh makanya agak susah." Ujar nya menerangkan.
Soya mengangguk. Dulu sebelum Relvan pindah rumah, rumah mereka dulu berdekatan bahkan tetanggaan. Itu pas saat mereka baru memasuki bangku sekolah menengah pertama.
"Terus papa lu gimana kabar nya?" Tanya Soya.
Relvan menghela nafas. "Papa baik, La. Kalau mama... Mama juga baik." Ujar nya lirih.
Tangan Soya terangkat menepuk pelan kepala Relvan. "Nggak apa - apa, semua pasti baik - baik aja." Ucap nya diakhiri dengan usapan lembut di kepala lelaki itu.
•
•
•
•
"Tinggal aja lu berdua." Ujar Risya. Alby dan Rhaegar malah menggeleng ribut.
"Nggak." Ucap nya bersamaan.
"Gue udah kayak induk ayam yang bawa anak nya kemana - mana. Cuman mau latihan basket sama mereka, kalian mau ikut juga?" Tanya Risya.
"Mau ikut nonton, nanti gue beliin susu stroberi."
"Deal! Satu kardus." Risya langsung menjabat tangan Rhaegar sebagai tanda terima kesepakatan.
"Buset dah banyak amat, neng!" Celetuk Alby.
"Satu kardus doang, Al. Gak sampai rumah Rhaegar ke jual juga, kan?" Sahut Risya gamblang.
Rhaegar menepuk - nepuk puncak kepala Risya. "Iya, gue beliin." Ucap Rhae membuat gadis itu senang bukan main.
Sejujur nya satu kardus itu tidak cukup bagi makhluk penyuka susu seperti Risya, seharusnya ia minta beberapa kardus tadi.
Tak perlu waktu lama, Risya kini berada di lapangan basket dan bergabung bersama yang lain. Beberapa hari ia tak ikut latihan bersama mereka karena suatu hal itu, namun karena ia sudah pernah bermain bahkan menjadi kapten jadi ia tak terlalu mengkhawatirkan hal ini.
"Udah sembuh total?" Tanya Fara. Ia memberikan sebotol air pada Risya yang terlihat berkeringat.
Risya mengangguk kan kepala. "Udah kak. Lu tenang aja, gue bisa temenin kalian sampai pertandingan selesai." Sahut nya.
Fara menepuk pundak Risya. "Oke, jangan bikin tim kecewa. Jaga kesehatan lu sampai pertandingan tiba." Ujar nya dan berlalu ke pinggir lapangan karena latihan mereka telah selesai.
Risya melangkah ke arah dua teman nya. Ia menerima handuk kecil dari Alby lalu mengelap keringat nya.
"Lu yakin ikut tanding?" Tanya Rhaegar seraya memandang ke arah Risya.
"Kenapa?" Tanya cewek itu.
"Sigra bolehin?"
Risya mengangguk kemudian berjalan menuju kelas diikuti oleh mereka. Sejujurnya ia ikut juga tanpa sepengetahuan Sigra, sungguh malas jika berdebat dengan cowok itu. Biar Sigra nanti tahu sendiri, toh ia tak bisa melarang juga nanti.
"Gue mau ganti baju, kalian duluan aja ke kelas."
Alby dan Rhaegar mengangguk dan mereka pun berpisah di persimpangan selasar kelas dan melangkah ke tempat tujuan masing - masing.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...tbc...