Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 55 | Anjing Penurut



Soya sesekali melirik Relvan ketika menyanyikan bait pertama. Lagu ini memang untuk nya saat ia masih menyukai nya.


Ketika waktu mendatangkan cinta


Aku putuskan memilih dirimu


Setitik rasa itu menetes


Dan semakin parah...


Bisa ku rasa getar jantungmu


Mencintaiku apa lagi aku


Jadikanlah diriku


Pilihan terakhir hatimu


Namun apa Relvan tahu ia selalu jadi tempat untuk Soya bersandar tanpa berpikir panjang telah memilih tempat yang ternyata penuh dengan luka. Hingga perasaan itu terus muncul dan bertambah seiring dengan waktu yang membuat nya terbiasa.


Tapi sayang nya Soya juga tak merasakan getaran jantung lelaki itu, Relvan tak mencintai nya apalagi sampai menjadikan nya sebagai pilihan terakhir. Mungkin itu hanya akan menjadi mimpi terindah bagi Soya. Dan jika bisa ia akan memilih tidur untuk selamanya.


Butterfly terbanglah tinggi


Setinggi anganku untuk meraihmu


Memeluk batinmu yang sama kacau


Karena merindu


Butterfly fly away so high


As high as hopes I pray


To come and reach for you


Rescuing your soul


The precious messed up thoughts of me and you


Bukan batin Relvan, melainkan hanya batin Soya lah yang telah kacau karena rindu walau sering bertemu.


Soya selalu berdoa agar Relvan bisa bersama nya, tinggi nya harapan nya tak menghentikan ia untuk memperjuangkan lelaki itu. Dan bagi gadis itu semua tentang nya sangat berharga.


Jalan ini jauh


Namun kita tempuh


Bagai bumi ini


Hanya milik berdua


Biar ku berlebihan


Mendekatimu namun ku tunggu


Perjalanan Soya juga jauh, sejauh harapan nya yang terus bermimpi meraih sesuatu yang mustahil ia dapat. Ia memang berlebihan untuk sekedar menarik perhatian namun tak bisakah Relvan melihat nya walau sebentar??


Butterfly terbanglah tinggi


Setinggi anganku untuk meraihmu


Memeluk batinmu yang sama kacau


Karena merindu


Butterfly fly away so high


As high as hopes I pray


To come and reach for you


Rescuing your soul


The precious messed up thoughts of me and you


Kalimat nya akan tetap sama, dan semakin kacau jika Relvan terus berada di dekat nya.


Mungkin ini saat nya ia menyerah, doa nya kini juga berubah. Bukan lagi ingin meraih nya melainkan terus mendoakan nya agar lelaki itu tak merasakan se kacau apa Soya yang pernah memberikan cinta kepada orang yang tak pernah menghargai nya.


My one hope for you, I hope you are still happy even though I am not near you. Learn to smile and give it to someone who will fill the recesses of your heart. Always be happy, Relvano.


Mereka tersenyum usai lagu selesai dinyanyikan bersamaan dengan petikan terakhir gitar. Tepukan riuh para penonton membuat lekuk bibir Soya semakin lebar.


Soya melihat Risya dan Laura yang melambaikan tangan ke arah nya, ia tak bisa membalas lambaian mereka dan hanya bisa tersenyum saja.


Relvan dan Soya beranjak dari kursi, berpegangan tangan dan membungkuk kan tubuh sesaat ke arah penonton, sebagai tanda terimakasih dari mereka. Setelah itu acara di dalam sini selesai dan berlanjut diluar ruangan.






Risya berjalan ke arah loker, mengambil baju yang digunakan untuk bermain nanti. Setelah itu baru pergi keruang ganti perempuan.


Beberapa siswi yang berjalan berselisihan dengan nya nampak memandang sinis ke arah Risya.


Ia tak perduli dan tak perlu buang - buang tenaga untuk menanggapi omong kosong mereka. Jadi biarkan saja, nanti akan diam sendiri.


Namun setelah berganti baju ia malah ingin pergi ke toilet untuk buang air kecil.


"Sialan! Malah kebelet lagi!"


Soya bergegas pergi dan segera masuk ke salah satu bilik toilet. Melepaskan air seni yang sudah ia tahan selepas beganti baju tadi.


Ia melangkah ke arah wastafel, mencuci tangan nya menggunakan sabun.


"Bisu ya lu?" Tanya nya. Perempuan itu bersama dengan tiga teman nya, seperti nya mereka hanya berani keroyokan.


Risya masih diam dan entah kenapa ia seolah memperlambat gerakan tangan nya agar tak cepat selesai. Seperti nya tubuh nya menginginkan ia untuk menanggapi mereka.


"Cover nya doang pendiem tapi ternyata pemain juga." Ucap salah satu perempuan itu.


"Juga?" Mereka semua menatap ke arah Risya, Risya tak berbalik dan hanya memandang mereka dari pantulan cermin. "Berarti lu sama dong pemain. Pantes muka nya gak jauh beda sama sifat nya." Lanjut nya, nada bicara nya terdengar meremeh hingga membuat mereka panas.


Wajah mereka terlihat memerah karena menahan amarah.


"Ja**** kok teriak ja****!"


"Lah terus situ apa? Mau gue ulangin juga kata yang lu sebutin?" Tanya Risya santai. "Iri ya karena gue bisa bareng orang yang lu lu pada puja?"


"Gak usah kegeeran! Siapa juga yang iri, kita malah jijik liat lu disini! Bikin sekolah jelek aja!"


Risya sedikit mengerutkan dahi. "Jijik tapi diajak ngomong. Mana lama lagi." Gumam nya.


"Emang gue kenapa sampai bikin sekolah jadi jelek, hah? Gue lagi keciduk ciuman sama Pak Vino? Gue berhubungan intim didepan siswa dan para guru, gitu? Ngomong yang jelas dong, otak nya juga di pakai." Celetuk Risya.


"Lu yang sopan dong sama kakak kelas! Gak diajarin sopan santun ya lu sama orang tua lu?!" Tanya mereka, nampak sekali mengalihkan pembicaraan.


"Mungkin orang tua nya juga ja**** maka nya anak nya juga kayak gitu!!"


PRAANGG...


Seketika suasana mendadak hening. Mereka terkesiap ketika Risya memukul kaca yang berada di hadapan nya hingga pecah.


Tak perduli dengan darah yang merembes keluar dari buku - buku tangan nya, ia menoleh menatap mereka dengan tajam.


Keadaan memang sangat memihak Risya karena tak ada cctv didalam sini.


"Lu bilang apa?" Geram nya. Mereka masih berani menatap Risya walau tubuh mereka terlihat gemetar.


Risya melangkah mendekat ke arah para siswi itu hingga membuat mereka memundurkan langkah sampai mentok pada dinding.


"Lu jangan macem - macem!!" Pekik satu cewek diantara mereka. Mungkin agak takut karena darah Risya terus menetes ke lantai di sepanjang jalan Risya melangkah.


Dua cewek yang bersama mereka seperti nya tak tahan dengan darah, wajah nya sampai pucat pasi bahkan satu nya sudah muntah tak tahan dengan bau amis ini.


"Macem - macem? Bukan nya kalian ya yang mau macem - macem sama gue?" Tanya Risya. "Tadi kalian bilang apa? Bokap nyokap gue ja***** dan pantes aja anak nya kayak gini, gitu?" Lanjut nya.


"Emang kalian tau siapa orang tua gue? Kalau kalian tau juga mungkin udah gemetaran sampai berlutut minta ampun di bawah kaki gue."


Bukan bermaksud ingin menyombongkan diri, tapi mau bagaimana lagi. Mereka yang bermulut besar ini minta diberi pelajaran supaya mulut nya diam.


"Hm?" Mereka nampak terdiam seolah mulut nya sudah terkunci.


"Kenapa diem? Bisu ya?" Ini adalah kata yang mereka lontarkan diawal tadi. Bagaimana rasa nya saat Risya balikan kata tersebut pada mereka??


Risya mendekat ke arah seorang cewek yang seperti nya ketua mereka. Mengusap pipi si cewek lembut dengan tangan kanan Risya yang berlumuran berdarah.


"Kulit lu bagus." Kata Risya. "Lebih bagus lagi gak sih kalau gue ukir sesuatu disini pake kaca yang gue pecahin itu? Lebih cantik."


"N-nggak." Sahut nya.


"Oh, mau?" Tanya Risya.


Seseorang dari mereka nampak ingin kabur namun terhenti ketika Risya menyadari pergerakan nya. Ingin kabur? Enak saja!


"Bergerak satu langkah lagi, teman lu bakal tamat disini."


Ia terhenti, tubuhnya nampak menegang ditempat. Risya terkekeh saat menyadari ketakutan mereka.


"Bercanda." Ucap nya. Seperti nya mereka bisa bernafas lega namun kembali kaku ketika Risya melanjutkan ucapan nya. "Tapi boleh deh, itung - itung sebagai penebus dosa kalian."


"Kalian ingat ini ya. Manusia itu bisa jadi baik, bisa juga jadi jahat tergantung bagaimana lawannya menanggapi. Jangan dikira gue diem kalian bisa seenak nya kayak gini."


Risya tersenyum lebar seraya melukis di wajah mereka satu persatu dengan darah. Sudah mirip pembully, tapi sayang nya ia bukan manusia seperti itu. Kasihan sih melihat mereka ada yang ingin menangis.


"Cantik banget kalian." Tukas Risya sambil tertawa kecil. "Tapi cantik lagi kalau gue bunuh terus gue kubur di taman belakang sekolah." Sambung nya dengan senyum menyeringai.


"P-pliss, jangan macem - macem sama kita." Ujar mereka, sangat ketakutan tapi terlihat begitu lucu.


Risya menelengkan kepala, mengedip lucu sambil mengetuk dagu seolah berfikir. "Hm? Oke deh!" Ujar nya menyetujui.


Risya lantas mencengkeram rahang ketua mereka. "Lu berfikir gue bakal bilang gitu kan? Tapi sayang nya gue gak main - main loh soal mau bunuh kalian tadi." Bisik Risya padanya.


"Turutin kata - kata gue, kalau kalian..." Mereka pun mengangguk cepat sebelum Risya selesai dengan ucapan nya.


Risya tersenyum miring seraya membisikan sesuatu ditelinga mereka satu persatu. Lalu setelah itu ia menatap mereka yang nampak ketakutan.


"Ya terserah sih kalau mau khianatin gue, gue gak akan tanggung jawab kalau terjadi sesuatu kedepan nya."


"Oke - oke. Kita bakal turutin perkataan lu tapi pliss jangan lakuin itu."


Akhir nya Risya pun menyuruh mereka untuk mencuci muka dan memerintah salah satu mengambil P3K.


Hari ini terasa melelahkan, Risya ingin beristirahat saja.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...