Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 62 | Diam-diam Cemburu



Di samping tak jauh dari tempat duduk Relvan dan kawan - kawan, ada Angkasa yang tengah menatap Soya yang tertawa kecil di samping seorang lelaki berparas tampan.


Alis nya bertaut seolah tak mengerti akan sesuatu. "Gue denger dia gak mau lagi deketin Relvan, tapi kenapa dia.."


Pluk!


Ia terkesiap ketika seseorang menepuk pelan pundak nya. Ia menoleh ke samping, ternyata ada seseorang yang duduk disebelah nya.


"Sejak kapan lu ada disini?!" Tanya nya terkejut.


Teman Angkasa itu nampak menghela nafas panjang. "Sejak lu ngelamun, bego!" Celetuk nya.


Tadi teman Angkasa pergi ke toilet sebentar makanya Angkasa duduk sendiri saja di mejanya.


"Kenapa gak ngomong sih kalau sejak tadi ada disini?"


"Ya gimana mau ngomong, elu nya aja masih bengong!"


Angkasa tak menggubris perkataan nya, ia malah kembali menatap kedepan. Teman nya tadi pun ikut menatap ke arah sejurus.


"Eh, itu Soya anak IPA-2, kan?" Tanya nya membuat Angkasa mengernyitkan dahi.


"Lu kenal dia?"


Si teman nya kini mengernyit juga. "Hampir semua siswa GIBS juga kenal sama dia. Jadi wajar kan kalau gue kenal dia juga?"


"Iya juga sih." Angkasa bergumam sendiri.


"Sa, kemarin ada anak yang pingsan saat pertandingan basket." Kata teman Angkasa.


"Anak pingsan?" Tanya lelaki itu.


Si teman nya tadi mengangguk dengan serius. "Iya, karena mimisan terus pingsan. Dan lu tau yang heboh nya lagi dia digendong sama anak kelas 12 dan bikin sekolah gempar." Ujar nya.


"Siapa?" Tanya Angkasa.


"Apanya nih? Yang pingsan apa yang gendong?" Bingung teman nya.


"Dua - duanya."


Teman nya mengangguk sekali. "Oh. Yang gendong Sigra, terus yang pingsan Risya." Sahut nya.


"Risya anak kelas 11 IPS-1?"


Teman Angkasa terkesiap kaget, kenapa Angkasa bisa tahu?? Eh, tetapi wajar sih ya karena dia ketua osis. Jadi mungkin siswa GIBS yang tidak terlalu terkenal, bisa dikenali oleh Angkasa.


Tapi katanya Risya itu anak populer juga ya, kenapa dia bisa tidak kenal? Apa dia kurang bersosial media atau kurang menjelajahi setiap kelas di sekolah??


Ia pun hanya mendengar dari beberapa murid kalau gadis itu seangkatan dengan nya tapi tidak tahu yang mana orang nya.


"Ha? Kok lu tau?" Tanya nya.


"Ya, tau aja." Jawab Angkasa.


Teman Angkasa mengangguk sekali. "Gue juga baru tau kemarin kalau Risya anak kelas 11 juga, gue kira adik kelas kita." Kata nya


Mereka kembali terdiam, dan Angkasa kini mengalihkan pandangan ke arah depan.


Deg!


Netra nya seketika bersitatap dengan seorang gadis yang tak terlalu jauh dari meja nya. Hanya beberapa detik. Setelah itu, ia pun mengalihkan pandangan ke arah lain. Dan sial nya kenapa jantung nya malah berdebar kencang??


Kini beralih ke meja Soya, gadis itu juga terdiam setelah bertatapan dengan seorang lelaki. Terlihat melamun hingga menarik perhatian Laura.


Laura menatap Soya dan ternyata Relvan juga melirik Soya dari ekor mata nya. Karena posisi nya juga bersebelahan, jadi ia mudah saja untuk memperhatikan gadis itu.


"Soy." Laura menepuk pundak Soya hingga membuat gadis itu tersentak kaget.


"Ngelamun?" Tanya nya.


"Ha?" Soya nampak gelagapan sendiri dan dengan cepat menyergah perkataan Laura. "Gue gak melamun kok."


Laura mencebikkan bibir nya, apa Soya kira ia tak punya mata?


"Lu kira gue buta?!" Tukas Laura. Rizhan yang duduk di sebelah kanan Relvan pun terkekeh mendengar nya.


"Soya ngeliatin Angkasa tadi."


Perkataan bocah itu membuat Soya membulat mata nya, ia dengan cepat juga membantah perkataan nya.


"Ih, enggak kok. Rizhan jangan ngomong yang aneh - aneh deh." Keluh nya.


"Ha? Yang bener Zhan?" Laura malah menanggapi perkataan Rizhan. Bocah itu mengangguk dengan polos nya.


"Iya kan, Le?" Sekarang ia malah meminta pendapat pada Angga yang duduk didepannya.


"Hooh lah, lu ketemu pandang sama tu cowok kan?" Padahal ia hanya menebak asal, namun ternyata Soya nampak melotot ke arah nya. Berarti tebakan nya benar, kan??


"Enggak!! Apa sih kalian tuh?!" Gerutu Soya.


Tak!


Seketika satu meja pun terdiam ketika Relvan meletakan gelas sampai menimbulkan bunyi.


Mereka langsung menatap ke arah Relvan dengan tatapan tanya.


"Berisik! Kalau mau gosip pindah meja sana!" Mereka seketika tersenyum canggung ke arah lelaki itu.


"Jangan lah, entar lu kesepian kalau gak ada ki-- Aduh!!"


"Kenapa, Le?" Tanya Rey saat melihat Angga meringis kesakitan padahal perkataan nya saja belum selesai.


Angga menggelengkan kepala sambil sesekali melirik orang yang telah menendang tulang kering nya.


Di samping relvan, si bocah Rizhan malah tertawa kecil karena tahu siapa yang membuat Angga seperti itu. Sedangkan Soya dan Laura hanya memandang mereka dengan tatapan bingung.


**


Di dalam sebuah tempat luas yang penuh dengan buku, terlihat dua orang pemuda tengah mencari sesuatu.


Mereka mencari referensi dari buku yang ada di perpustakaan. Sebab materi yang diberikan guru nya terlalu susah hingga membuat mereka berdua terdampar ditempat ini.


"Ketemu gak?" Tanya Rhaegar dengan wajah lesu nya.


"Belum, disini banyak banget buku nya."


Rhaegar memutar bola mata. "Nama nya juga perpustakaan!" Kata nya sedetik kemudian ia malah mengeluh lagi. "Tuh guru kayak nya gak bener deh, masa susah bener ngasih soal ke anak murid nya?"


Alby yang sibuk mencari buku pun melirik lelaki itu sebentar. "Otak lu yang gak bener!" Celetuk nya.


"Salah lu juga ngapain pindah kesini?"


"Lupa ya lu gue bilang apaan sebelum pindah kesini?" Sambung Rhaegar.


Alby tak menggubris pertanyaan Rhae, ia kembali dengan kegiatan nya.


"Belum ketemu juga, Al?"


Alby mendecakkan lidah nya. "Ck. Gimana mau cepet ketemu coba, lu nya aja gak bantuin gue!!" Keluh nya.


"Capek gue. Mana lemes banget belum makan."


"Tadi gue ngajakin ke Kafetaria, lu malah ngajak ke sini, udah disini lu malah mau makan. Gak bener nih otak lu!" Alby mengomel. Untung tidak keras suara nya, kalau tidak bisa - bisa mereka diusir dari perpustakaan karena berisik.


"Mana gue tau. Tadi mood gue lagi bagus pengen ke perpustakaan, setelah disini gue malah ngantuk mana laper lagi."


Alby mendelik sekilas. "Lu baru aja tidur dikelas, nyet!"


"Ya mau gimana? Gue kalau liat buku - buku kayak gini bawaan nya ngantuk. Pengen tidur. Apalagi buku nya banyak, ah pengen terlelap aja udah ke alam mimpi." Kata Rhaegar namun tak ditanggapi lagi oleh Alby.


Lelaki itu kini telah mendapatkan satu buku, ia beralih dan ikut duduk disebelah Rhaegar.


"Lu mau tau gak alasan gue gak semangat kenapa?" Rhaegar mengajak Alby berbicara lagi. Alby menghela nafas lelah.


"Gak usah lu kasih tau juga gue udah tau!!" Ucap Alby ketus.


Rhaegar tersenyum simpul lalu termenung menatap seisi perpustakaan.


"Risya kapan sekolah ya?" Tanya Alby


Rhaegar menopang dagu nya dengan satu tangan. "Dia aja belum sadar, gimana mau sekolah?" Sahut nya dalam hati dengan mata yang sendu.


"Gak tau gue." Rhaegar menaruh kepala nya diatas meja dengan bertumpu pada tangan yang dilipat.


"Sepi banget kelas walau kemarin - kemarin juga sepi sih, tapi kayak ada yang kurang gitu kan?" Rhaegar mengangguk setuju tapi masih dalam posisi yang sama.


Dua pemuda itu kembali terdiam, Rhaegar sibuk dengan pikirannya, Alby sibuk dengan buku didepannya.


"Oh iya, Rhae."


"Apaan?" Sahut Rhaegar.


"Tentang cewek itu." Kata Alby.


"Oh, si--"


"Iye itu." Alby memotong cepat. "Lu udah nyari tau sesuatu gak?" Tanya nya, lagi.


"Hmm." Gumam Rhaegar.


"Ketemu apa?"


Rhaegar kini menegakkan tubuh nya dan membenarkan posisi duduknya. Ia menatap lelaki yang duduk bersebelahan dengan nya.


"Gue ketemu..."


**


"Nina selamat ya. Katanya tim lu menang olimpiade kemarin ya?"


Beberapa murid di dalam kelas itu berkumpul dimeja Nina. Nina tersenyum manis menatap mereka.


"Iya, kan berkat doa kalian juga." Kata nya.


Seorang perempuan dikelas itu memeluk Nina dengan gemas. "Emang deh lu kebanggaan sekolah." Ucap nya.


Nina tertawa kecil mendengar pujian tersebut. "Bisa aja deh kalian."


Seorang lelaki memberikan sebuah buket Silver Queen pada nya. "Hadiah kesuksesan dari kita buat elu." Ucap nya membuat sebagian kecil siswi dikelas itu nampak tak suka pada perempuan itu.


"Wah.. makasih ya." Nina menerima nya dengan senang hati.


"Btw kak Relvan gak ada ngasih elu sesuatu?" Tanya salah seorang perempuan didekat nya.


Nina tersenyum canggung pada nya. "Emm.. aku belum ketemu sama dia."


Mereka seketika ber-oh ria mendengar itu. Salah satu nya malah berbicara lagi.


"Eh tapi lu tau gak kemarin gue liat kak Relvan ngasih sesuatu ke Soya."


Nina nampak terlihat bingung. "Ngasih apa?" Tanya nya, padahal ia pun tahu juga tentang masalah itu dari seseorang.


Si cewek yang berbicara tadi nampak berfikir. "Gak tau sih, kayak nya kado." Sahut nya.


"Soya ulang tahun ya?" Tanya Nina.


"Mungkin sih, bisa jadi."


Nina mengangguk - anggukkan kepala. "Nanti aku ngasih kado juga deh." Celetuk nya.


"Ngapain lu ngasih dia, Nin?"


"Iya, lu tuh terlalu baik tau buat manusia kayak Soya."


"Hehe.. gak apa - apa kok, yang penting kan aku udah berusaha baik buat dia." Nina menampilkan senyum simpul nya pada mereka.


"Aduuh lo tuh ya, kebaikan banget jadi orang."


"Emang kak Relvan cocoknya sama elu deh bukan sama nenek lampir kayak Soya."


**


Masih dengan Soya yang berada di kafetaria, gadis itu tersedak makanan nya padahal baru saja memasukkan ke dalam mulut nya.


Ohok - ohok- ohok!!


Karena Relvan berada disebelahnya pun dengan sigap menyodorkan air untuk gadis itu. Karena darurat pun Soya juga reflek menerima dan meminum air itu hingga tandas.


"Makanya pelan - pelan aja makan nya, Soy." Laura terlihat khawatir, ia memberikan tisu pada Soya dan sambut juga oleh sang empu. Wajah Soya sedikit memerah akibat tersedak tadi.


"Sialan! Kayaknya ada yang ngomongin gue."


Rizhan menatap interaksi mereka dengan mata bulat nya. "Eh itukan minum bekas Relvan, berarti kalian..."


Bocah itu memuncungkan tangan kiri dan kanan lalu menyatukan ujung kedua tangan nya. Mereka terkesiap kaget melihat itu.


"What?!" Pekik Soya seketika hingga membuat keseluruhan kafetaria melihat ke arah nya.


"Anjir dah." Gumam Laura sambil geleng - geleng kepala.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...