Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 96 | DNLM



Tok! Tok! Tok!


Ceklek!


"Kenapa, Bang?" Tanya Soya yang baru saja membukakan pintu kamarnya untuk Elio.


Elio memperhatikan sang adik dengan lekat, mata Soya terlihat sembab seperti habis menangis saja, apa dia memang habis menangis, ya?? Suaranya pun terdengar sedikit serak.


"Lu abis nangis?" Elio tak bisa menahan rasa penasarannya saat ini, apalagi kalau ini bersangkutan dengan adik perempuannya. Ia tahu hasil akhirnya, namun kali ini ia akan mencoba untuk memaksa.


Soya mengerjap dengan cepat sambil menggeleng kecil. "Enggak," sahutnya yang kemudian membuat Elio semakin memandangnya dengan lekat.


"Gak usah boong lu!" Sentak Elio. Lelaki itu menerobos masuk ke kamar milik Soya tanpa memperdulikan pemiliknya, toh itu juga adiknya. Ia meletakkan nampan di atas meja dan duduk di atas ranjang Soya.


"Ck. Ngapain sih ke sini? Ganggu orang aja!"


Soya memutar bola matanya dengan malas sambil menatap ke arah Elio. Elio dengan kesal pun lantas menyentil jidat sang adik saat ia sudah mendekat ke arahnya


"Ngapain, ngapain, ya nganterin makanan elu, ege! Bunda khawatir noh liat anak gadisnya belum makan dari tadi." Soya mengerucutkan bibirnya dan sempat mengumpat dalam hati saat merasakan jidatnya yang terasa nyut-nyutan.


"Cepetan tuh makan! keburu dingin entar."


"Ya."


Soya mengambil makanan yang dibawa oleh Elio dan membawanya ke atas kasur, kemudian ia pun memakannya dengan tenang.


"Ngapain sih liat-liat mulu?!" Keluh gadis itu.


Entah apa yang dilihat Elio, namun tatapan lelaki itu sangat membebaninya hingga membuatnya susah untuk menghabiskan makanan ini dengan cepat. Elio benar tak mengalihkan pandangannya ke arah lain, seolah di wajahnya seperti ada sesuatu yang begitu menarik perhatian lelaki itu.


Elio terlihat menyipitkan kedua matanya. "Jujur sama gue, elu abis nangis kan?" Tanyanya dengan tatapan curiga.


"Enggak."


Soya menjawab pertanyaan kakak laki-lakinya dengan mulut yang masih penuh dengan makanan. Apa Elio sedang tidak punya pembahasan lain, selain masalah yang membosankan itu??


"Gue bilangin bunda nih, ya, kalau elu abis nangisin cowok!" Seketika Soya langsung melotot ke arah Elio. Gila nih cowok! Bisa-bisa nya ia berkata seperti itu!


Elio bersiap untuk membuka mulutnya dan berteriak, "Bunda!! Il--aduh!" Suaranya lantas terhenti dan berubah menjadi ringisan kecil kala Soya dengan teganya menendang dirinya hingga terjungkal dari atas kasur.


Elio meringis memegang bokongnya yang menghantam lantai, sakit, itu yang ia rasakan saat ini. Walau tak sakit-sakit amat sih, tapi ini juga lumayan, woi!


Lelaki itu terlihat melotot ke arah Soya. "Sakit ege!" Keluhnya. "Durhaka banget lu sama Abang sendiri!" Soya mengejek Elio dengan menjulurkan lidahnya. Siapa suruh sih ingin bicara yang tidak-tidak.


"Maka nya gak usah cepu!" Tukasnya membuat Elio seketika memandangnya dengan jengah.


"Jujur ngapa sih, Elu abis nangisin apaan?" Soya menelan makanan yang dikunyahnya seraya melirik Elio sepintas.


"Drakor," sahutnya singkat namun tak membuat Elio langsung percaya begitu saja padanya. Lelaki itu terus saja membantah dan semakin mendesaknya untuk berkata jujur.


"Bohong!"


Soya sontak memasang wajah jeleknya. "Dih! Dibilangin juga malah gak percaya!"


"Gimana gue mau percaya coba, muka lu aja keliatan banget boongnya!" Sarkas Elio.


"Ck." Soya nampak mendecakkan lidahnya.


Karena merasa diabaikan oleh sang adik, Elio memilih diam sejenak sambil memikirkan cara yang lain. Ia mengeluarkan ponsel boba miliknya dari saku celana.


"Gue hubungin Vano aja dah." Elio bergumam namun dengan sengaja sedikit mengeraskan suaranya. Sengaja? Untuk apa? Untuk melihat respon adiknya.


Soya yang mendengar gumaman itu pun tersentak dan sontak merebut ponsel tersebut, kemudian menyembunyikannya di belakang tubuhnya. Reflek saja.


Melihat hal itu, Elio diam-diam tersenyum miring tanpa Soya ketahui. Ah, pasti 'kan ini ada hubungannya dengan Relvan? Sudah ia duga, entah apa yang dibuat anak itu.


Elio mengubah mimik wajahnya seolah tengah kesal dengan perlakuan Soya. "Handphone gue, La!" Ujar lelaki itu.


"Gak!" Soya melempar ponsel Elio ke bawah ranjang. Dasar adik durjana memang!


"Lu mau ngapain hubungin Vano?"


"La?" Tak mendapat sahutan tapi perlahan Soya mulai membalas tatapan Elio. "Kenapa?" Elio bertanya sekali lagi, kali ini hanya di jawab Soya dengan gelengan kepala saja.


Elio menghembuskan nafasnya sedikit kasar, punggungnya ia sandarkan pada headboard kasur seraya menatap sang adik dengan sedikit mengintimidasi. Apa sesulit itu berkata jujur? Kalau ia tak bisa memberikan solusi terbaik, setidaknya ia bisa menjadi pendengar yang baik untuknya.


Apakah tidak bisa juga?


Jadikan lah ia tempat bercerita, tempat kamu bersandar juga tak apa, agar kamu bisa merasa lebih lega setidaknya sedikit saja. Apa itu sulit??


"Lu berantem sama Vano?"


Kalimat yang keluar dari mulut Elio seketika membuat Soya jadi mendengus kesal. "Apaan? Ila gak jago berantem!" Sahutnya ketus.


Elio menghela nafas lelah. "Bukan gitu maksud gue, La," katanya.


"Terus?"


"Elu lagi marahan sama Vano?"


"Gak," sahut soya nampak cuek.


Greget! Elio sangat ingin melemparkan adiknya ke dalam kandang buaya jika tidak memandang hubungan sedarah mereka. Lelah sudah dia, adiknya masih saja tak mau berkata jujur. Kenapa sih?


Apa ada yang Soya sembunyikan darinya??


Apa ada?


"Ada yang lu sembunyiin dari gue, ya?" Elio memberikan tatatap yang tajam pada sang adik. Soya nampak menelan makanannya dengan susah payah saat diberikan tatapan seperti itu, rasanya ia seperti ingin dimakan dan ditelan hidup-hidup.


"Gak ada, kok," cicitnya pelan.


"Tatap gue." Soya melirik Elio dari sudut matanya. "Ngomongnya sambil tatap mata gue, La." Elio memejamkan matanya sesaat, sedari tadi ia lihat Soya terus berusaha mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.


Kentara sekali gugupnya, Sepertinya anak ini memang sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Entah apa itu.


Soya sepertinya tak ingin membuka suara, memilih tak perduli dan abai, ia dengan cepat menyelesaikan acara makannya dan keluar dari ruangan ini. Mengantar piring kotor ini ke dapur, itu hanya alasannya saja agar Elio berhenti bertanya tentang hal pribadinya, ia akan bercerita, asal itu dengan bunda. Tapi jika ia mau juga.


Sepeninggalan Soya di sana, Elio terdiam seorang diri di kamar itu, dengan pikiran yang kini nampak membingungkannya. Entah kenapa sedari tadi Soya terus-terusan menghindar saat ia terus mencoba menyudutkan. Sebenarnya reaksinya juga tak berlebihan dan tak ada yang aneh, namun saat ia ingin menghubungi Relvan, tanpa ia tahu alasannya Soya malah langsung bereaksi seperti itu.


Elio kemudian beranjak dari duduknya, entah mengapa ini seolah benar-benar menganggu pikirannya. Lelaki itu melangkah ke arah meja belajar milik Soya, matanya awas menilik sekitar meja tersebut bahkan tangannya pun tak tinggal diam untuk memeriksa laci-laci di sana. Sekitar satu menit sudah berlalu dengan sia-sia, ia tak menemukan apa-apa di sana.


Pandangannya lalu bergulir ke arah lain, sampai pada tas sekolah Soya yang tergantung di dekat lemari. Itu terlihat menarik perhatian, jadi ia berjalan ke arah sana dan meraih tas tersebut dan fengan cepat pula ia memeriksa isinya sampai ke sudut terkecilnya.


Sial! Ia sudah seperti penjahat yang berusaha mencari dan ujung-ujungnya mencuri barang milik orang lain. Elio menggelengkan kepalanya pelan, apa sih yang ia pikirkan?? Ini 'kan milik adiknya, lagian ia juga tidak berniat untuk mencurinya. Ia tak tertarik.


Elio menghela nafas saat tak menemukan hal lain dalam isinya, apa perlu juga ia memeriksa ponsel Soya sebelum sang empunya kembali ke kamar ini??


Harus kah?


Seperti nya tidak..., kan?


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...