Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 114



Soya, Laura, Risya dan juga Alby sedang berjalan beriringan menuju kafetaria sekolah. Jam istirahat telah tiba, jadi ini waktunya untuk mengisi energi yang terkuras saat pembelajaran tadi.


Mereka terlihat tengah asik berbincang satu sama lain. Alby hanya sesekali ikut menimpali percakapan ketiga perempuan itu karena ia juga tak terlalu mengerti apa yang tengah menjadi topik.


"Ih, masa sih? Lu gak usah boong ye!" Celetuk Soya dengan wajah cemberut.


"Dih! Gak percayaan banget lu! Coba deh tanya Risya," sahut Laura sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat.


Risya nampak terkekeh melihat raut wajah Soya. Soya kemudian menatap ke arah Risya dan Alby. Sepertinya ia juga ingin meminta pendapat kedua orang itu.


"Emang beneran, ya, gue gendutan?" Tanyanya. Risya terlihat mengangguk dengan ringan sedangkan Alby hanya tersenyum saja karena takut untuk mengiyakan pertanyaannya.


"Pasti gue keliatan jelek dah kalau gendut." Soya nampak mengerucutkan bibirnya sambil melirik ke arah tubuhnya. "Gue harus diet, nih," lanjutnya dengan gumaman.


Alby yang tak sengaja mendengar pun lantas menepuk lembut kepala Soya sambil mengulas senyuman ke arah gadis itu. "Gak usah diet, Soy," katanya membuat Soya seketika mendongakan kepala dan menatap ke arahnya. "Yang kayak gini aja lu udah cantik, kok. Lu gak perlu ngelakuin sesuatu yang bisa nyakitin diri lu sendiri," tambahnya sambil tersenyum manis.


Soya terdiam sejenak lalu menganggukan kepalanya dengan lesu. Benar, ya, sepatutnya ia harus bisa mencintai dirinya sendiri. Mau bagaimana pun bentuknya, mencintai diri sendiri itu yang paling utama. Tidak perlu mengeluh dengan kondisi sekarang, pendapat orang lain itu juga urusan belakangan.


Soya sedikit tersentuh mendengar perkataan Alby saat ia berkata "gak perlu ngelakuin sesuatu yang bisa nyakitin diri lu sendiri".


"Al, lu cowok yang pengertian, dan gue tiba-tiba ngerasa sungkan Nerima perhatian kecil dari lu." Batinnya sambil terus melangkahkan kakinya.


Sesampainya di kafetaria, Alby langsung menyuruh Risya dan yang lainnya untuk mencari tempat duduk buat mereka. Sedangkan dirinya sendiri pergi memesankan makanan untuk para gadis yang tengah bersamanya itu.


Alby memang contoh lelaki yang sangat pengertian, ia juga selalu meratukan seseorang bernama perempuan. Kecuali dengan beberapa orang.


Di meja paling pojok kafetaria, mereka memilih tempat duduk di sana. Laura yang duduk di sebelah Soya pun terlihat menatap lekat ke arah Risya yang duduk di hadapannya.


"Emm... Sya," panggilnya sedikit ragu juga.


Risya langsung membalas tatapan mata perempuan di depannya. "Kenapa?"


"Rhaegar kok gak keliatan, ya? Dia ke mana?"


Setelah mendengar pertanyaan dari Laura, Risya kemudian memutuskan pandangannya lalu menatap ke arah ponsel yang berada di genggaman tangan. "Oh, tuh anak ada urusan katanya," sahutnya seperti itu.


"Emang ada urusan apaan?" Tanya Soya yang ikut menimpali obrolan mereka. Ia terlihat penasaran begitupun dengan Laura.


Risya melirik mereka sekilas. "Dia lagi jengukin neneknya, Soy, Lau. Katanya neneknya lagi sakit."


"Oh ya? Si nenek sakit apa? Parah apa enggak?" Tanya Laura lagi.


Risya mengendikan bahunya karena ia juga tidak terlalu tahu. "Kalau masalah itu sih gue gak tau, ya, Alby cuman ngasih tau infonya sampai situ doang. Gue juga gak nanya-nanya lebih sama dia," sahutnya. "Ntar kalian tanya Alby aja dah," sambungnya lagi.


Keduanya hanya mengangguk-anggukan kepala paham akan jawaban Risya. Tak berselang lama dari itu, Alby datang ke meja mereka. Lelaki itu datang bersama dengan seorang pelayan yang ada di sana.


"Makasih, mas," katanya.


Pelayan tersebut pun mengangguk seraya berkata, "sama-sama." Lalu kemudian ia berlalu dari hadapan mereka.


"Nah, silahkan, ya, dinikmati tuan-tuan putri," gurau Alby seraya duduk di salah satu kursi. Ia duduk di sebelah Risya dan di depannya ada Soya.


Risya mendengus ketika mendengar perkataan Alby. Tuan putri Mbah lu! Celetuknya dalam hati.


Ia lalu menatap ke arah makanan yang berada di hadapannya, nampak berpikir seperti ada yang kurang sesuatu untuk dirinya. "Hmm... Kayaknya gue perlu beli susu kotak dah yang rasa stroberi." Ia terdengar bergumam kecil.


"Mau beli?" Tanya Alby yang mendengar gumamannya itu.


Risya sontak menoleh ke arah Alby. "Mau!" Sahutnya cepat dengan mata yang terlihat berbinar. "Lu mau beliin gue?"


"Gak!" Sahut Alby cuek. Sedikit melirik Risya dari ekor mata sambil menyuap makanan ke mulutnya.


"F*ck!" Umpat Risya seketika membuat Alby langsung mencubit pipi tembem gadis itu.


"Mulut lu, ye, bener-bener!" Katanya.


Soya terkekeh melihat interaksi mereka. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Sini dah biar gue yang beliin," ucapnya. "Gue sekalian mau beli air mineral juga, nih."


"Gapapa?" Tanya Risya dan direspon Soya dengan anggukan kepala.


Soya juga menatap ke arah Laura. "Lu ada yang mau dibeli lagi gak?" Tanyanya pada temannya itu.


"Gak ada, Soy."


Soya kembali mengangguk sekali. "Kalau gitu gue ke sana dulu," pamitnya dan berlalu pergi.


Sebelum Soya benar-benar menjauh dari meja, Alby sempat berkata padanya, "Soy, Risya jangan dibeliin yang dingin, ya, beliin dia yang biasa aja. Nih bocah lagi sakit." Dan Soya langsung mengacungkan jari jempolnya.


Saat mendengar perkataan itu, Risya langsung mendelik ke arah Alby dengan bibir yang mengerucut lucu. "Ih tapi yang dingin, kan, lebih enak, Al," tukasnya namun tak ditanggapi oleh sang empu.


Di sisi lain, Soya berjalan dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Hari ini terlihat cerah, secerah hati dan perasaanya. Dengan tekat hati, hari ini dan seterusnya, ia akan berusaha untuk tidak perduli lagi dan tak menaruh hati lagi. Biarlah semesta yang menjawab semuanya di kemudian hari.


Soya melangkah kembali karena ia juga sudah membeli apa yang ingin dia beli dan juga pesanan punya Risya.


Bruk!


"Aduh!"


Seketika suara-suara di dalam kafetaria menjadi hening seketika. Soya mengaduh ketika bokongnya mendarat dengan sempurna di lantai. Seseorang nampaknya dengan sengaja menabrak dirinya dan menumpahkan jus buah naga di seragamnya. Padahal ia sudah melangkah dengan benar, di pinggir, bahkan ia tidak menghalagi jalan juga.


Ah sial! Ini sangat kotor.


Rasanya Soya ingin menangis saja ditempat, mana bokongnya juga terasa sakit, bajunya kotor pula. D*mn!


"Astaga, Soya! Ya ampun, a-aku gak sengaja." Nina berkata dengan panik, lalu setelah itu ia mengulurkan tangannya bermaksud ingin membantu Soya.


Soya lantas menghela nafas untuk meredakan amarahnya yang timbul seketika. Ia menatap Nina dengan tatapan sengit. "Najis! Gak usah sok-sok-an deh mau ngebantu gue!"


Soya menepis uluran tangan tersebut sambil beranjak sendiri. Padahal ia hanya menepis bukan mendorongnya, tapi Nina malah terjatuh ke lantai dengan sendirinya.


"Aw!"


Aduh~ Kenapa lagi, sih?! Soya tak habis pikir dengan akal perempuan di hadapannya. Ada-ada saja masalah yang terus ia hadapi untuk hari ini. Tolong deh... ia sudah tidak menganggu Relvan lagi.


Dari ekor mata, Soya melihat para pawangnya Nina terlihat melangkah ke arah mereka. Ia pun menghela nafas dengan lelah. "Pasti gue bakal disalahin lagi," gumamnya kecil sambil sedikit membersihkan bajunya yang terlihat kotor.


"Soya!"


Suara Rey membuat Soya memejamkan matanya sejenak. Berusaha sabar untuk kejadian selanjutnya dan omongan gila yang keluar dari mulut mereka.


"Lu ngapain Nina lagi, sih?!" Sentaknya sambil membantu Nina untuk berdiri.


"Ck. Gue tuh gak ngelakuin apa-apa sama tuan putri kalian. Dia aja tuh yang gak liat jalan! Lu gak liat apa baju gue kotor nih gara-gara dia!" Ucap Soya seraya menunjuk ke arah Nina.


Nina hanya menundukkan kepalanya. "Hiks... A-aku gak sengaja nabrak dia, t-tapi Soya malah ngedorong aku pas aku mau nolong dia."


Soya langsung mengernyit dengan sangat. Apa yang dia bicarakan? Memang kapan ia mendorong Nina?


"Heh, lu gak usah ngefitnah gue dong!" Sergah Soya.


Tubuh Nina mengerut kala mendengar bentakannya. "T-tapi, kan, itu bener," katanya lagi.


"Lu tuh gak tau diri banget ya, Soy!" Timpal Rey. "Bukannya bersyukur dibantuin, lu-nya malah kayak gitu!"


"Dih!"


"Udah lah gak usah mengelak lagi lu!"


"Kapan emang gue dorong lu, hah?" Tanya Soya sambil menatap Nina. "Coba lu tanya tuh sama yang lain!"


Rizhan yang berada di sana pun langsung menatap ke arah murid lain. "Soya bener ngedorong Nina?" Tanyanya. Mereka nampak terdiam dan saling pandang saja sampai ada salah satu di antara mereka yang menyahut pertanyaannya.


"Gak, kok," sahutnya. "Gue liat si Nina yang sengaja nabrakin dirinya ke Soya sampai numpahin jus yang ada di tangannya juga. Soya itu cuma nepis tangan dia, bukan ngedorong. Nina nya aja yang jatuh sendiri!"


"Denger gak tuh telinga lu, bangsat!" Ucap Soya setelahnya. Sudah tak perduli lagi ia dengan mulutnya yang berkata kasar seperti itu. Lelah sangat dia tuh.


"Woo!! Playing victim lu, anj**g!"


"Woo!!"


Sorakan di sekitar seketika memenuhi sekeliling mereka. Nina meremat tangannya dan sontak berlari sambil terisak, karena amarah dan juga akibat dipermalukan mereka. Rey tersentak dan langsung saja mengejar Nina keluar.


Ia menepuk bahu Relvan dan seolah berkata, "biar ia saja yang mengurus Nina. Lu urus yang di sini."


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...