
Rhaegar langsung menatap tajam ke arah Alby. Temannya ini langsung membuat perhatian kelas jadi terarah pada mereka, tapi Rhae juga mengakui ia yang salah dalam hal ini. Bayangkan saja, kan, siapa juga yang tidak terkejut saat mendengar perkataanya?
Sang empu seketika langsung menutup mulutnya sendiri sembari menyengir konyol. Lalu Alby lantas mengalihkan pandangan ke arah anak-anak kelas yang menatap penuh ke arah mereka.
"Huss, huss! Udah, jangan nengok ke sini, oi! Gue tadi cuma salah ngomong," katanya.
Teman sekelasnya itu nampak tak percaya sebenarnya dengan perkataan Alby barusan, tapi ya sudah lah, mungkin saja mereka memang salah dengar atau Alby hanya berbicara sembarangan.
Setelah semua anak di kelas mengalihkan pandangan mereka ke arah lain dan melanjutkan kegiatan masing-masing, Alby kembali menatap Rhae dengan wajah serius.
"Eh, nyet! Omongan lu tadi itu beneran?" Tanyanya kepada Rhae.
"Omongan apa?" Tanya Rhaegar seolah tengah berpura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan temannya itu.
Alby seketika berdecak kesal. "Obat perangsang," ujarnya dengan nada berbisik. "Itu beneran?" Kini suaranya kembali normal.
Rhaegar menganggukkan kepalanya sekali. "Tapi itu cuma tebakan gue, sih. Sedangkan gue sendiri juga gak terlalu yakin sama hal itu."
"Eh, bentar-bentar, gue bingung dah." Rhaegar nampak mengerutkan keningnya.
"Bingung kenapa?" Tanyanya.
"Lu itu ngomong kayak gitu tuh tau dari mana coba? Maksud gue, elu udah nyoba air di botol ini, atau ada orang lain yang udah minum ini?" Alby bertanya seperti itu karena yang ia lihat air di dalam botol itu sudah tersisa setengah.
"Bukan gue, tapi Risya," sahut Rhaegar dan sontak membuat Alby terbelalak kaget.
"Yang bener aja lu!" Sergapnya kemudian.
"Emang muka gue keliatan boong?" Rhaegar menyela seraya menghela nafas panjang.
Alby seolah tak bisa lagi menyangkal, wajah Rhae memang terlihat bersungguh-sungguh, tak ada raut kebohongan yang ia lihat tercetak di wajah laki-laki itu. Yang artinya, apa yang barusan Rhaegar katakan itu benar adanya.
"Y-ya, nggak ada sih." Alby menggaruk kepalanya yang terasa gatal. Ia lalu menurunkan tangannya dan memeluk sandaran kursi. "Terus Risya nya gimana?" Tanyanya lagi.
Rhaegar mengernyit. "Gimana apanya maksud lu?" Tanyanya juga.
Alby merengut sebal pada temannya itu. "Rhae, lu mau gue tabok atau gue hajar?"
Pertanyaannya lantas membuat Rhaegar menggelengkan kepala. "Gak dua-duanya," ujarnya menyahut.
Alby berdecak dan memandang jengah kepada Rhaegar. "Yang bener elah!" Ia sudah lelah bertanya bolak balik tapi selalu saja dibalas dengan basa basi yang sangat basi.
Rhaegar langsung mendengus. "Ya elu nya juga gak jelas banget nanyanya!" Gerutunya.
Alby benar-benar ingin menabok kepala Rhaegar dengan kencang, sampai kepalanya lepas juga tidak apa. Kesal sekali dirinya!
"Apaan? Elu aja tuh yang gak paham! Dongo!"
"Monyet lu!" Balas Rhaegar yang tak kalah kesalnya.
Lalu keduanya malah saling mengejek satu sama lain dan tak lagi melanjutkan obrolan seperti sebelumnya. Obrolan yang tadi sempat membuat salah satunya diliputi oleh rasa penasaran.
KRINGG!!
Bersamaan dengan berbunyinya bel yang terdengar memenuhi penjuru sekolah, Rhaegar langsung berdiri dari duduknya.
"Sekarang, Rhae?" Tanya Alby yang juga ikut berdiri dan berjalan di samping Rhaegar.
"Nggak, tuh tahun depan!" Balas Rhae sambil mendengus.
Kata Rhaegar, Risya sudah meminum air mineral di dalam botol tadi. Yang berarti secara otomatis, gadis itu pasti terpengaruh oleh obat yang terlarut di dalamnya. Lalu Rhaegar juga bilang padanya di awal, kalau Risya sedang berada di UKS dalam keadaan pingsan.
Alby memutar kepalanya ke arah Rhaegar, menatap temannya itu dengan lekat. "Rhae, lu yang bawa Risya ke UKS, ya?" Tanyanya.
Rhaegar langsung melirik, namun hanya sekilas seraya menganggukkan kepala. Ia lalu kembali menatap lurus kedepan setelah itu.
"Lu gak macem-macem, kan, sama Risya?" Alby menodongkan pertanyaan sembari memicingkan mata curiga.
Rhaegar mencebik. "Gila lu! Gue masih mikirin masa depan juga kali!" Katanya dengan nada yang terdengar sedikit ketus.
Alby menghembuskan nafas ke udara beberapa kali. "Ya, kan, siapa tau gitu. Namanya juga cowok, pasti kalo disuguhin hal yang kayak gitu pun langsung terobos aja lah tanpa berpikir panjang," tuturnya. Rhaegar hanya mendecakkan lidah tanpa menanggapi obrolan itu lagi.
Dan sesampainya di depan pintu UKS, Alby yang berada di depan Rhaegar pun langsung mengetuk pintu tersebut yang nampak tertutup rapat. Lalu kemudian ia memutar kenop pintu dan bergegas masuk kedalam, disusul oleh Rhaegar.
Alby lihat, Risya tengah tertidur pulas di atas bed UKS. Ia lalu mendekat dan duduk di kursi yang berada di dekat ranjang yang ditiduri oleh gadis itu. Sedangkan Rhaegar, laki-laki itu langsung berjalan ke arah ruangan Dokter Jim untuk memberikan botol yang ia bawa dari kelas tadi.
Walaupun tanpa diberitahukan oleh Risya ia meminta botol itu untuk apa, namun Rhaegar tahu pasti kalau sang dokter yang meminta Risya untuk membawakannya ke sini.
Masih ditempat yang sama, Alby menarik kursi tersebut agar dekat dengan ranjang dan agar tangannya bisa bertumpu juga di sisi ranjang. Laki-laki itu menatap lekat ke arah Risya, wajah cantiknya sangat damai saat tertidur.
Alby menataonya lekat-lekat, kalau begini, ia jadi betah semisal berlama-lama memandangi wajah Risya ini. Saking fokusnya dengan objek yang ada di depannya, Alby jadi tidak sadar kalau tadi ia datang bersama Rhaegar.
Dan ternyata, temannya itu sudah berdiri di dekatnya, entah sejak kapan, Alby sampai tidak menyadari kehadirannya. Rhae melipat tangannya ke depan dada, menatap tak suka Alby yang fokus menatap Risya. Rhaegar cemburu. Bagaimana bisa, laki-laki lain terang-terangan menatap gadisnya langsung di depan mata sekalipun itu adalah sepupunya?
Rhae mengurut pangkal hidungnya sejenak, ia tak boleh egois dan hendak memiliki Risya seorang diri. Tapi bukan juga berarti ia hendak berbagi dengan yang lain. Lagipula, Risya pun belum tentu menjatuhkan pilihan pada dirinya dan bisa saja pada akhirnya Rhaegar hanya menjaga bukan memilikinya.
Rhaegar menghela nafas panjang dan lantas menabok kepala Alby seraya mendesis kepada laki-laki itu. "Mata lu dijaga! Bisa, kan?" Katanya.
Alby mendelik dengan sorot mata sinis, hampir saja ia mengaduh serta mengumpat dengan suara keras. Untungnya tidak jadi karena ia masih ingat kalau Risya tengah tidur lelap di sini.
"Anjing lu!" Umpatnya dengan nada suara berbisik.
Rhaegar yang mendengar itupun sontak memukul pelan bibir Alby hingga membuat sang empu langsung melotot seketika.
"Gak sopan banget lu sama yang lebih tua!" Seloroh Alby sembari menutup mulutnya agar Rhaegar tidak bisa memukulnya lagi.
Rhae nampak mencebikkan bibirnya. "Sok banget lu bilang tua! Cuma beda dua bulan doang sama gue!" Tukasnya kemudian.
Alby lantas memberikan tatapan mengejek. "Yang penting, kan, gue yang lebih dulu liat dunia daripada elu!"
"Tapi, kan-"
"Tapi apa?" Potong Alby terlebih dahulu.
Kemudian pertengkaran mereka berlanjut dan kemudian terhenti kala mendengar suara lenguhan seseorang yang nampaknya sudah terganggu karena hal kecil yang mereka buat.
"Erin, lu udah bangun?" Sambut Rhaegar dengan senyuman hangat yang mengembang di bibirnya.
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...