Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 142



"Psstt!" Alby mendesis pada Rhaegar dan kembali berkata, " dijawab dongo!"


Rhaegar mendelik dengan sinis. "Sabar elah! Ini juga mau ngejawab, nyet!" Balas Rhaegar dengan berbisik.


Rhaegar berdehem sebelum mmebuka suaranya. "Iye deh gue maafin," ujarnya kemudian seraya menatap ke arah Relvan. Nada bicaranya sedikit terdengar ketus karena masih dendam perihal tonjok menonjok tadi.


"Tapi gue masih dendam sama elu ye karena nonjok gue!"


Perkataanya lantas membuat Relvan bergeming. Laki-laki itu pun terlihat menatap Rhae dengan datar. "Lu mau gue bayarin biaya berobat?" Tanyanya. Ia bermaksud baik, kok. Siapa tahu kan Rhaegar memang perlu diobati atau dilarikan ke rumah sakit?


Hih! Ingin sekali Rhaegar menyeleding kepalanya si Relvan itu. Tak sampai hati betul, dia kira Rhaegar itu lemah apa ya ditonjok dua kali doang sampai masuk ruangan sakit?


Rhaegar nampak mendengus setelahnya. "Gue gak butuh duit lu!" Tolaknya.


Tak ada reaksi darinya, dan masih dengan tatapan yang sama saat Relvan memandang Rhaegar sebelumnya. Laki-laki itu tak menyahut dan hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sekolahnya.


Rizhan langsung membuyarkan suasana yang begitu terasa canggung. "Nah, udah-udah. Sekarang kan udah lurus tuh permasalahannya jadi gak perlu ada yang saling berkelahi lagi," katanya yang langsung membuat keenam temannya itu seketika menatapnya.


Risya sendiri yang tak memperhatikan Rizhan, ia hanya terfokus untuk memperhatikan Soya. "Dikompres aja biar gak bengkak," ucapnya.


Soya balas menatap perempuan yang berbicara padanya. Lalu detik berikutnya, ia pun menganggukkan kepala. "Ntar lah, nunggu bel pulang."


Risya sontak menautkan alisnya karena bingung. "Kenapa harus nunggu pulang? Kenapa gak sekarang?" Tanyanya beruntun.


Soya menghela nafas panjang. "Malas gue, Sya," sahutnya sambil mengerucutkan bibir. "Lagian ini cuma memar kecil, ketutup rambut gue juga gak bakalan keliatan."


"Ck." Mendengar Risya berdecak, Soya hanya bisa menyengir saja. Gadis itu sedikit berkata agar Risya juga tak terlalu khawatir padanya.


KRINGG!!


Tak terasa, jam demi jam terlah berlalu dengan cepat. Bunyi bel tersebut terdengar dengan nyaring dipenjuru seluruh sekolah. Itu bel pertanda pembelajaran hari ini sudah berakhir dan akan dilanjutkan keesokan harinya lagi. Anak-anak pun mulai berhamburan keluar dari kelas dan bergegas pulang ke rumah masing-masing. Mereka butuh istirahat, karena hari ini terlalu banyak menguras energi.


Tak ada bedanya dengan Risya yang terlihat tengah membereskan peralatan tulis miliknya dan memasukkannya ke dalam tas.


"Sya, mau jalan gak?"


Risya memalingkan kepalanya menatap ke arah sumber suara. "Jalan?" Ia menatap dengan bingung. Rhaegar, laki-laki yang bertanya padanya itu nampak menganggukkan kepala.


"Gak ah," tolaknya kemudian hingga membuat Alby yang mendengar pembicaraan mereka pun lantas tergelak.


"Mampus ditolak!" Seru laki-laki itu.


Rhaegar langsung melempar Alby dengan gumpalan kertas yang baru saja diremasnya. "Apaan sih lu, monyet! Mulut lu bau, mending diem deh!" Tukasnya sambil mendengus pada temannya itu.


Risya terkekeh seraya beranjak dan menggendong tas sekolahnya. Ia berjalan ke arah pintu keluar, dan diikuti oleh kedua temannya yang gila itu.


"Beneran gak mau jalan?" Rhaegar kembali bertanya sekaligus kembali memastikan jawaban Risya. Siapa tahu goyah dan berakhir menyetujuinya. Ia beranjak juga dan berjalan beriringan dengan Risya dan juga Alby.


"Ini kan udah jalan," ujar Risya gamblang. Benar kan? Ini aja mereka sudah berjalan bersama, bukan hanya berdua. Ini bahkan bertiga.


"Naik motor sama gue, kita keliling kota." Rhaegar kembali menjelaskan dengan sabar.


"Gue maunya keliling dunia."


"Boleh." Risya membulatkan matanya saat Rhaegar langsung menyetujui perkataannya tanpa harus berpikir panjang.


Tangannya dengan ringan langsung menggeplak Rhaegar. "Tapi gue mau keliling univers lain."


"Univers yang bahkan kalian gak tau dan percaya kalau tempat itu ada."


Rhaegar menegang seketika ketika mendengar ucapan Risya. Gadis itu sempat melihatnya namun hanya sekejap saja. Rhaegar kenapa?


"Ya udah kalau gak mau jalan berdua. Kalau jalan bareng aja, sekalian kita traktir lu, gimana?" ujar Rhaegar kemudian seraya menaik-turunkan alisnya.


Ho iya, ya! Mereka kan sudah berjanji mau nraktir dirinya. Asik~! Mau makan sepuasnya. "Boleh deh," katanya Risya menyetujui.


"Ayo! Kapan?" Alby terlihat antusias sedangkan Rhaegar wajahnya hanya bisa pasrah saja. Toh, Risya juga tak mau berjalan berdua.


"Emm... Ntar bilang ke Sigra dulu deh, kan nanti sekalian juga bareng mereka." Risya berucap sambil memandang lurus ke depan dan sesekali melihat ke sekeliling tempat mereka berjalan. Sekolah sudah lumayan beranjak sepi, sebab anak-anak GIBS sudah meninggalkan area ini.


Diujung sana, dekat tangga yang menurun ke lantai dasar, Sigra sudah menunggu sang adik bersama keempat orang temannya. "Ayo pulang!" Sigra langsung mengajak sang adik pulang, tangannya terulur mengusap rambut Risya dengan pelan.


"Mampir bentar ke kedai eskrim, boleh?" Risya memohon dengan mata yang berbinar-binar, menjadikan Sigra merasa sangat terbebani melihat wajah sang adik.


"Gak usah, ya? Ntar kamu malah sakit."


"Cih! Sakit palalu peyang!" sahut Risya dengan kesal di dalam hati. Risya langsung cemberut, menggembungkan pipinya dan tak mau melihat ke arah Sigra.


Rhaegar yang berada di samping Risya lantas menarik pipi gadis itu dengan gemas, "sini sama gue aja biar gue yang beliin." Ia merayu Risya sambil terkekeh, tangannya langsung ditepis


"Kayak om-om pedo lu anjir!" Celetuk Alby sambil bergidik ngeri.


"Jangan mau, Sya, ntar lu diculik sama dia." Rizhan ikut menimpali sambil tergelak tawa.


Rhaegar memasang wajah masam. Ia memandang mereka dengan jengah dan memutar bola matanya dengan malas. "Apa sih lu pada ikut-ikutan aja!"


Rey melirik ke arah teman-temannya. "Kenapa kita semua gak jalan aja gitu, sekalian nraktir Risya? Gimana?"


Risya melirik ke arah Rey yang berbicara lalu kemudian menatap Sigra. "Gimana?"


Laki-laki itu balik menatap sang adik. "Terserah kamu aja," ujarnya dengan senyuman tipis.


Risya nampak terlihat bingung sambil mengalihkan atensi menatap ke arah mereka semua. "Kalian mau kapan? Gue mah ngikut aja."


"Elu yang jadi tokoh utamanya, Sya. Jadi tentuin aja." Relvan ikut menimpali.


"Betul tuh!" Sambung Alby. "Tentuin waktu yang bisa kita kumpul semua."


"Ih susah bener!" Risya mengeluh sambil mengerucutkan bibirnya. "Hari ini aja gimana?" Risya menawar sekaligus punya maksud lain dibalik itu. Lagian kalau hari-hari lain ada yang tidak bisa atau ia yang bisa malas seketika.


"Jam?" Relvan kembali bertanya pada gadis itu.


Risya melipat satu tangannya ke depan dada, sedangkan tangannya yang lain nampak mengetuk dagunya sambil berpikir. "Gue bingung, tapi ntar gue kabarin deh. Kita istirahat bentar dulu sebentar di rumah masing-masing, kasian kalau kecapekan nanti." Risya mengulas senyumannya dengan lebar. Teman-temannya itu lantas menganggukkan kepalanya dan menunggu saja kabar dari Risya selanjutnya.


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...