
Beberapa orang duduk di meja makan untuk memulai sarapan pagi ini, Mommy Aliya tengah menata nasi ke piring suami dan anaknya secara bergilir.
Tapi anak perempuan nya memilih menuang sendiri dengan alasan sudah terbiasa. Mommy nya tak mendebatkan, karena dari dulu anaknya itu selalu begitu seolah tak ingin merepotkan orang lain.
"Daddy kok ganteng banget pagi ini? Rapi juga." Daddy Vino menatap ke arah Risya dengan tertawaan kecil.
"Daddy kan emang ganteng, Ca. Kok kamu baru sadar?" Ia nampak tak terima ketika anak bungsunya baru menyadari ketampanan nya itu.
Risya memang kurang memperhatikan wajah Daddy Vino namun tak perlu ia perhatikan juga Daddy nya itu memang dari sana nya sudah tampan.
Gadis itu nyengir kuda seraya mengambil lauk dan menaruh ke piring nya. "Enggak gitu. Maksud Caca, hari ini ganteng nya Daddy nambah tiga kali lipat dari biasa nya." ucapnya membuat hidung Daddy bertambah mancung karena dipuji.
"Emang mau kemana, Dad? Ke kantor?"
Risya berdoa dulu sebelum menyuap nasi ke dalam mulut. Merasakan rasa enak dari masakan bibi yang terasa lidah nya.
"Ke-"
"Makan dulu sayang, nanti aja ngobrol nya." Mommy menyela ucapan anaknya dan juga suaminya.
Sigra terkekeh seraya mengusap kepala Risya. "Makan dulu, baby." Ujar nya kemudian ia kembali fokus pada makanan didepannya.
Risya terdiam kaku seraya mengerjap pelan menatap piring.
Ngapain dia manggil gue baby?? Bikin salting aja!!
"Ca, ayo di makan lagi." Risya mengangkat kepala menatap Mommy. "Kenapa sayang? Kamu nggak suka ya sama makanan nya? Masakan nya nggak enak?" Mommy nampak khawatir hingga membuat Risya merasa tak nyaman pada nya.
"Enak kok, Mom. Caca suka, Ini juga Caca mau makan lagi." Sahut Risya sambil menyuap nasi.
Beberapa menit mereka semua telah menyelesaikan sarapan pagi. Risya meneguk segelas susu hangat sebagai penutup.
"Caca bareng sama Daddy, ya?" Ia tersedak dan terkesiap ketika mendengar perkataan Daddy.
"Pelan-pelan aja, Ca." Tegur Sigra.
Gadis itu langsung merinding kala Sigra mengelus tengkuk belakang kepala nya. Sigra terkesiap ketika Risya reflek menyingkirkan tangan nya.
"Sekolah Caca kan nggak searah sama kantor Daddy." Sahut Risya menatap sang Daddy.
Sigra nampak mengerutkan dahi. "Kamu kenapa, Ca? Lupa ya kalau hari ini hari apa?" Tanya nya.
Mata Risya langsung membola, seketika ia mengingat sesuatu. Hari ini kan festival sekolah, kenapa ia bisa melupakan itu??
"Oh iya, Caca lupa. Tapi kenapa Caca harus berangkat bareng Daddy?" Risya beranjak dari kursi dan mendekat ke arah Mommy.
"Daddy nggak bolehin kamu berangkat bareng supir." Tukas sang Daddy.
Ia mengernyit sambil mencium pipi Mommy untuk berpamitan. "Caca bareng temen, Dad." Tutur nya.
"Temen? Kamu punya temen?" Mommy memandangi Risya dan juga melirik ke arah Sigra.
Risya mengerucutkan bibir mendengar pertanyaan Mommy. Memang nya terlihat aneh ya kalau ia punya teman??
"Ih Mommy! Caca itu punya temen loh. Bukan cuma satu tapi empat." Ucap nya bangga sambil menunjukkan empat jari ke depan Mommy.
"Bener, Gra?" Tanya Daddy yang memandang ke arah Sigra.
Dengan malas Sigra pun mengangguk kan kepala. "Tapi Sigra cuma tau dua orang." Ia menatap ke arah Risya. "Dua nya siapa?" Tanya nya mengintimidasi.
"Itu anak yang Daddy tolongin waktu Caca diculik." Sahut Risya.
Sigra nampak terkesiap mendengar ucapan adiknya. "Soya? Terus yang satu nya Laura?" Terka nya.
Risya mengangguk sekali karena tebakan Abang nya tak meleset. "Ngapain kamu temenan sama mereka?" Sambung Sigra, seperti tidak suka kalau adiknya berteman dengan mereka.
"Kenapa, Gra? Mereka bukan anak baik - baik ya?" Tanya Mommy. Mungkin ia juga takut kalau anak perempuan nya salah pergaulan.
"Mereka anak baik-baik kok, Mom." Sergah Risya cepat. "Abang aja yang gak bisa menilai orang dengan baik." Sambung nya.
Risya mendongak menatap Sigra dengan sinis, cowok itu meringis ketika tangan Risya mencubit pinggang belakang nya.
Mommy beranjak dari tempat duduk, tangan nya terulur mengusap kepala Risya. "Sayang, Mommy sama Daddy nggak masalah kalau kamu punya teman, malahan senang kalau anak Mommy udah bisa berinteraksi dengan orang lain. Namun kamu juga harus bisa menilai mereka dengan baik, lihat mereka benar-benar, Mommy cuman nggak mau kalau kamu sampai salah pergaulan." Tutur nya lembut.
Risya tersenyum manis dan menganggukkan kepala. "Mommy tenang aja, Caca masih bisa bedain mana yang baik dan enggak."
"Ya sudah, sini Daddy yang bicara sama teman kamu. Kamu tetap berangkat bareng Daddy."
Risya menghela nafas kala Daddy masih kekeuh ingin berangkat dengannya. Ia merogoh ponsel di saku. "Nama kontak nya Alby, Dad." Ucap nya seraya menyerahkan ponsel ke Daddy.
Daddy mengernyit menatap Risya. "Laki - laki?" Tanya nya nampak heran.
"Iya, cowok." Sahut Risya, sedetik kemudian ia tersadar ketika sang Mommy terkesiap kala tahu kalau teman anaknya adalah laki - laki. Buru-buru ia menjelaskan kalau temannya itu tidak pernah aneh - aneh dengannya, mereka anak yang baik. Mommy percaya padanya namun mungkin ada sedikit keraguan dalam hatinya.
Daddy menyambut ponsel tersebut dan mencari nama yang disebut Risya. Tak memakan waktu lama, ia pun menekan tombol panggil seraya mendekat kan ponsel ke telinga.
[Oi, Sya. Kenapa?" Gue sama Rhae udah otw nih.] Kata seseorang ketika telepon itu tersambung.
"Risya berangkat sama saya." Sahut Daddy. Yang disana nampak terdiam sesaat.
[Ini...]
"Saya Daddy nya Risya." Ucap Daddy seolah mengerti apa yang ingin ditanyakan oleh orang itu. "Kalian langsung saja ke sekolah, tidak perlu jemput anak saya." Lanjut nya.
Risya terdiam dengan hati yang berdebar seakan gugup. Tak mendengar percakapan mereka membuat diri nya resah, namun dari jawaban Daddy seperti nya masih aman - aman saja.
[Oh, halo Om! Saya temen nya Risya. Jadi kami gak perlu jemput dia ya, Om? Ya udah, kalau gitu kami langsung berangkat ke sekolah ya, Om.]
"Ya." Daddy mematikan telepon lalu menyerahkan ponsel Risya kembali. "Daddy udah bicara sama mereka. Sekarang ayo kita berangkat." Ajak Daddy seraya mendekat ke arah Mommy, mencium istrinya itu dan berpamitan pergi.
"Soya!"
Soya terkesiap ketika seseorang tiba - tiba memeluk nya dari belakang. Namun saat mendengar suara nya ia sangat kenal itu siapa. Ia yang tengah berdiri di sisi pembatas teras, beruntung tidak terjungkal ke bawah.
"Laura, lu ngagetin gue tau!" Keluh nya, sedikit kesal. Laura menatap Soya sambil nyengir tak bersalah.
"Lebay lu!" Celetuk nya. Ia berdiri di sebelah Soya dan ikut menatap ke bawah tepat nya ke arah lapangan. "Rame bener ya, pasti kakak kelas terdahulu iri lihat suasana yang kayak gini." Ucap Laura.
Soya mengangguk kan kepala. Benar, suasana seperti ini pasti sangat diinginkan oleh mereka. Karena sudah beberapa angkatan tak pernah lagi merasakan seperti ini.
"Iya, semoga tahun depan bisa kayak gini lagi." Gumam nya.
Ia menoleh menatap ke arah Laura. "Lau, anak TB udah dateng belum?" Tanya nya.
"Kenapa?"
"Lihat Relvan gak?" Laura melotot ke arah Soya, tak tahu kenapa. Tapi apa pertanyaan nya salah??
"Gimana sih lu? Kata nya mau move on dari tuh cowok, kok masih aja nyariin?" Keluh Laura pada Soya.
Soya merotasikan mata melihatnya. "Laura ogeb, gue nyariin dia bukan berarti gagal move on dari tuh cowok dan mau balik lagi. Gue cuman ada urusan sama dia, dia kan partner gue tampil nanti." Tukas nya.
"Oh, iya juga ya." Gumam Laura. Ia melirikkan mata ke atas sesaat. "Gue gak ada liat mereka. Alby, Risya sama Rhae juga belum dateng." Ucap nya.
Soya menelengkan kepala menatap Laura. "Ini bukan kita yang terlalu pagi kan dateng nya?"
Laura terkekeh seraya memandang lurus ke depan. "Bukan. Mungkin karena acara dimulai jam sembilan, jadi mereka mau santai aja dari rumah." Sahut nya.
"Soy, menurut lu cowok yang namanya Rhaegar itu gimana?"
Soya mengernyit mendengar pertanyaan Laura. "Emang kenapa?" Tanya nya, lalu sedetik kemudian Soya membelalakkan mata nya. "Lau, jangan bilang kalau lu suka sam-"
Perkataan Soya lantas terhenti ketika mendengar suara ribut di lapangan. Mereka serentak menoleh ke arah sejurus melihat kerumunan orang - orang.
"Eh kenapa tuh?" Tanya Laura.
Soya yang tidak tahu pun tak menanggapi pertanyaan Laura. Ia menoleh ke arah belakang, pas sekali ada murid yang ingin masuk kelas mereka.
"Oi!" Panggil Soya. Murid itu menoleh ke arah Soya dengan raut bingung.
"Gue?" Tanya nya, mungkin takut kalau bukan dia yang Soya panggil tadi. Jadi ia memastikan lagi.
Soya mengangguk. "Itu kenapa tuh ribut banget dibawah?" Tanya nya.
"Oh itu, ayah nya kak Sigra dateng. Lu juga tau kan anak pemilik yayasan ini gantengnya paripurna walau umurnya udah gak muda." Sahut murid itu.
Soya ber-oh ria, ya siapa yang tidak tahu dengan ayah nya Sigra. Lelaki tampan dan kaya raya, kekayaannya diatas keluarga Relvan pula, punya perusahaan terbesar dan cabang dimana-mana. Siapa yang tidak menginginkan pria itu walau jadi duda sekalipun.
Dan juga orang yang sudah menolong Soya ketika ia diculik bersama Risya.
"Oh, thanks." Ucap Soya, murid itu mengangguk dan berlalu masuk ke dalam kelas.
"Ayah nya Sigra katanya." Ujar nya. Laura mendengus seraya menatap Soya malas.
"Gue udah denger tau!" Tukas nya, kesal.
Soya tertawa kecil. "Gue kira lu gak denger." Laura mencebikkan bibir dan memandang ke arah keramaian, Soya pun ikut memandang ke keramaian.
Dalam diam mereka, Siya mendengar bisik - bisik tak mengenakan dari para siswi. Ia langsung menajamkan telinga ketika tak sengaja mendengar mereka menyebutkan nama orang yang ia kenal.
"Ih kegatelan banget kali tu cewek, jangan - jangan simpenan Om - om ya? Pasti bangga banget tuh bisa masuk mobil Pak Vino." Ujar salah satu siswi.
"Siapa sih namanya?"
"Risya kalau gak salah."
"Kata nya dia anak pendiam ya? Ternyata agresif juga ya bisa rayu Pak Vino."
"Pakai pelet kali, tapi kok kak Sigra biasa aja sih?"
"Mungkin dia juga udah dikasih sama tuh cewek."
Soya mengeratkan gigi dan menggenggam kuat tangan nya, tak merasa sakit ketika kuku nya menancap di kulit. Ia seolah tak terima dengan omongan mereka, telinga nya terasa panas mendengar mereka mengatakan yang tidak - tidak tentang Risya.
Soya percaya Risya perempuan baik-baik. Apa ia harus memberikan pelajaran untuk para penggosip itu??
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...