Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 56 | Insiden



Priiitt!!


Permainan dimulai. Risya mendribling bola dan menghindari lawan nya. Ia men-shoot bola dari jarak jauh


Dan


Woooohhhh...


Teriakan riuh para penonton disertai dengan tepuk tangan yang menggema memenuhi sisi lapangan saat Risya berhasil memasukan bola ke dalam ring, lagi.


Ini suatu hal yang mengejutkan bagi para siswa dan guru di GIBS. Mereka menatap takjub, tak disangka seorang murid yang seperti Risya ternyata memiliki bakat terpendam yang sama sekali tidak diketahui kebanyakan orang.


Ini pencapaian terbaik di tahun ini sekaligus fakta yang mengejutkan bagi mereka. Dan sekarang permainan semakin memanas karena tim lawan sibuk kejar mengejar point untuk bisa mengimbangi point tim Fara.


Selisih point saat ini sangat jauh dan tentu itu membuat tim lawan kewalahan. Dan sudah bisa dilihat siapa pemenangnya, tinggal beberapa kali memasukan bola ke dalam ring lagi tentu akan jadi kemenangan untuk SMA GIBS.


Suara sorak sorai penonton semakin histeris kala Risya berhasil memasukan bola ke dalam ring untuk mengakhiri permainan hari ini. Kali ini sungguh menjadi suatu kebanggaan karena tim basket putri kali ini tidak mengecewakan.


Seorang perempuan berdecih pelan, memandang iri ke arah Risya yang lebih banyak dipuji banyak orang. Ia yang sudah bertahan lama disini belum pernah mendapatkan pujian seperti itu, lantas kenapa Risya yang notebene nya adalah pemain baru mendapat perlakuan seistimewa itu??


Dipinggir lapangan terdapat dua orang pemuda sedang duduk menonton Risya dengan serius.


"Mingkem Rhae." Tukas Alby yang melihat Rhaegar menganga lebar memandang Risya yang terlihat begitu cantik ditengah lapangan dengan senyum yang terukir manis dibibir hingga membuat pipinya mengembang dengan sempurna. Siapa yang tidak terpesona dengan gadis itu??


Rhaegar langsung kicep dan menggeplak kepala Alby. "Gak bisa banget lu liat temen seneng." Keluh nya.


"Lah gue kan udah baik tuh supaya laler gak ke dalem masuk mulut lu. Kurang baik apa coba gue jadi temen?"


Rhaegar tak menjawab lagi, ia lebih fokus menatap Risya dari kejauhan.


Di samping itu, beberapa pemuda juga tengah menonton Risya dengan tatapan kagum. Apalagi Sigra, ia menatap sang adik dengan rasa bangga yang tak kalah hebat nya dari para guru atau penonton di sekeliling nya.


Tak menyangka sehebat itu Risya dalam bermain, padahal Sigra tak pernah melihat Risya berlatih selain pas waktu mereka kecil dulu. Kalau pun berlatih sebelum festival juga tak mungkin bisa sehebat itu karena waktu nya juga singkat.


Lain hal dengan dia yang sudah berlatih beberapa tahun ini, ia sudah mengikuti ekskul basket dari sejak menginjak bangku sekolah menengah pertama. Bahkan sudah menjadi hobi nya sejak SD. Jadi tak ada yang aneh jika dia diakui pemain terhandal di tim basket putra, dan lagi ia terpilih sebagai kapten basket disini.


Tadi mereka juga sudah bermain, dan pemenang pertama jelas tim mereka. Selisih dengan tim lawan hanya satu angka.


Tapi tim basket putri sangat mencengangkan kali ini. Gila! Bagaimana bisa selisih angka nya sangat jauh berbeda?!


"Gila sih astaga!! Keren banget tuh cewek!" Puji Rey. Ia sampai menganga juga menatap perempuan itu.


"Tapi kayak sebanding gak sih sama Sigra?" Tanya Angga. Relvan melirik laki - laki itu sekilas.


"Apaan?" Tanya nya.


"Cara main nya mungkin. Tapi Risya lebih lincah nggak sih?" Sahut Rizhan seolah mewakili Angga menjawab pertanyaan Relvan.


Rey mengangguk setuju dengan pernyataan Rizhan. Dalam hati pun Sigra membenarkan hal itu, walau jiwa pemain terhandal nya sedikit tersaingi namun kalau itu Risya sih tidak masalah.


"Bisa direkrut gak Gra tuh cewek masuk tim kita?" Sigra mendengus menatap Rey dengan malas.


"Terus lu mau dia ganti kelamin biar diterima?"


Rey lantas menyengir menatap Sigra. Tak jelas memang, ia malah menoyor kepala Angga.


"Oi lah! Ngapa kepala gue yang kena?!" Keluh Angga seraya menoyor balik kepala Rey. Stres memang mereka ini.


"Udah ah, berisik kalian tuh!" Keluh Rizhan. Ia memandang sejurus kedepan, alis nya seketika berkerut membuat Sigra yang berada disampingnya ikut menatap ke arah sejurus.


Suasana mendadak hening, tak ada satu pun suara yang terdengar dari sisi lapangan maupun tengah lapangan.


Sigra mengernyit dan entah kenapa jantung nya berdetak lebih kencang dari biasa nya, seolah ada perasaan cemas yang tiba - tiba menjalar di dalam dada.


Ditengah lapangan Risya terdiam menatap sorakan bangga para penonton yang menyaksikan pertandingan ini.


Harus nya ia merasa senang, namun yang ia rasakan sekarang adalah rasa sakit akibat suara bising dari mereka. Telinga nya terasa berdengung dan kepala nya terasa pening.


Fara yang berada tak jauh dari Risya nampak menatap cewek itu dengan lekat, sedetik kemudian ia terkesiap bersamaan dengan para pemain lain yang juga menatap sejurus ke arah Risya.


Mata mereka terbelalak lebar, tak tahu kenapa tapi suara penonton juga hening seketika. Sesuatu yang terasa hangat mengalir sampai menyentuh bibir atas Risya, ia terkesiap dan reflek mengusapnya dengan telapak tangan.


Risya menilik lekat telapak tangan nya yang ia gunakan untuk mengusap tadi, ada sesuatu yang menempel di sana nampak berwarna merah dan sedikit cair.


Eh?!


"Dia mimisan anjir!"


Tes..


...Tes.....


Tes..


Darah terus menetes dari hidung Risya. Ia sendiri tak paham apa yang sedang terjadi, suasana terasa melambat dan bahkan suara gaduh disekitar tak terlalu jelas terdengar di telinga nya.


Ia lihat orang - orang disekitar nampak berbayang - bayang, teriakan mereka terdengar samar - samar. Sungguh ia tidak tahan lagi, kepala nya terasa sakit. Perlahan mata nya meredup dan tertutup dan seketika semua nya menjadi gelap.


Bruk!


Mereka terkesiap dan reflek hendak menyambut namun terhenti saat Sigra lebih dulu menangkap tubuh Risya sebelum gadis itu jatuh ke lantai. Mereka tersentak karena mungkin tak percaya melihat seorang yang seperti Sigra mau menolong gadis manis ini.


Saat pekikan seseorang di lapangan tadi, Sigra langsung berlari tanpa perduli lagi dengan yang lain, ia tergesa - gesa bahkan sampai menabrak siapa saja yang menghalangi jalannya.


Kini netra Sigra menatap Risya yang berada dalam pelukan nya, dapat ia rasakan tubuh kecil itu begitu lemah seolah benda yang jika ia salah memegang nya maka akan langsung rapuh.


"Bawa langsung ke rumah sakit, Gra. Bisa bahaya kalau darah dari hidung nya gak berhenti." Ucap Relvan.


Sigra menoleh menatap ke arah sumber suara, ternyata teman temannya juga menyusul ke lapangan tanpa ia sadari. Sigra tak menjawab tapi segera menggendong Risya ala bridal style. Dan ia bawa pergi Risya meninggalkan area lapangan.


Mereka diam menatap punggung Sigra yang mulai menjauh dari pandangan.


Sepeninggal Sigra, lapangan masih saja riuh dan gaduh. Apalagi tentang Sigra yang sigap menggendong seorang gadis. Sungguh, hari ini terdapat beberapa kejadian yang bisa membuat manusia salah paham.


Sebagian besar dari mereka khawatir sekaligus kasihan melihat gadis tadi, sebagian kecil nya juga merasa iri karena gadis itu digendong oleh pangeran sekolah. Mereka kan juga ingin, apa perlu pingsan juga biar bisa diangkat begitu??


Rey menoleh menatap Fara yang membeku ditempat. "Oi!" Panggil nya. Fara melirik tanpa menjawab panggilan itu.


"Tuh bocah bukan kalian lempar pake bola basket, kan?" Tanya Rey, yang mengira kalau penyebab hidung Risya berdarah adalah karena bola.


Fara mengernyit dalam. "Lu buta ya? Jelas - jelas permainan udah berhenti dan gak ada yang megang bola!" Sergah nya.


"Lu gimana sih jadi kapten?! Bukan nya diperiksa dulu anggota lu sehat atau enggak nya?!" Ujar Angga hingga membuat Fara nampak mengeraskan rahang dan menatap Angga dengan tajam.


"Lu ngajak ribut sama gue?!! Gue udah periksa semua nya dan dia juga baik - baik aja!" Tegas cewek itu.


"Terus kenapa lu diem aja waktu dia mimisan?! Kalau dia kehabisan darah gimana anjir?!"


Fara lantas mencengkeram kerah baju Angga. "Lu kalau emang nyari masalah sama gue bilang l!! Gak usah lu salah - salah in gue disini! Kita semua juga kaget liat dia kayak gitu bangsat!!" Teriak nya didepan wajah Angga. Ia melepaskan cengkeraman nya dengan kasar dan sedikit mendorong lelaki itu.


Fara menghela nafas kasar kemudian melangkah pergi meninggalkan lapangan. Ia tahu ia juga salah karena tak lekas bertindak, namun kejadian tadi membuat sekitar jadi membeku, bukan hanya dirinya namun yang lain pun tak kalah kagetnya. Mereka juga loading melihat kejadian didepan mata. Sekarang ia hanya bisa menunggu kabar dari anak itu karena ia juga tidak tahu kemana Sigra membawa Risya.


"Udah Le, biarin aja." Ucap Rey sambil menepuk pelan pundak Angga. "Nyalahin dia juga gak bakal bikin keadaan membaik."


Angga mengatur nafas nya, hampir saja ia emosi dan menghajar cewek itu. Bukan tanpa alasan ia begini, ia hanya takut kejadian seperti paman nya dulu terjadi lagi didepan mata nya. Akibat orang - orang yang hanya diam ditempat dan tak langsung bertindak dapat menghilangkan nyawa orang lain yang berharga.


Relvan menatap jam di pergelangan tangannya. "Sekarang kita susulin Sigra. Dia pasti bawa cewek itu ke rumah sakit keluarganya." Mereka mengangguk dan segera menyusul Sigra.


Acara hari ini sedikit kacau, namun tak menuntut acara diberhentikan. Ini masih berjalan pada semestinya karena hanya beberapa orang saja yang meninggalkan sekolahan.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...