Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 66 | Ternyata Adik Angkasa



Soya menatap Ita yang berlari ke arah seorang pemuda yang nampak nya seumuran dengan nya. Ia tidak tahu itu siapa namun setelah diperhatikan benar - benar, seperti nya ia mengenali siapa pemuda itu.


Dia kan..


"Abang!!" Ita melompat ke pelukan pemuda itu dan,


Hap!


Bocah itu berhasil ditangkap dengan baik. "Maaf ya Abang lama. Tadi Abang ada urusan sebentar." Tutur pemuda itu. Bocah itu mengangguk lalu memeluk leher pemuda itu dengan erat.


"Kamu habis nangis?" Tanya pemuda itu pada bocah yang berada di pelukan nya.


Ita nampak mengerjap lucu sambil menatap pemuda itu. "Masih kelihatan kah kalau Ita abis nangis?"


Pemuda yang mengaku sebagai Abang dari bocah itu terkekeh geli. "Maaf ya?" Kata nya lagi.


"Angkasa?"


Pemuda itu menengok ke arah perempuan yang memanggil nama nya. "Eh? Soya?" Cengo nya. Soya tersenyum tipis menatap Angkasa.


"Abang turunin Ita." Angkasa menurunkan Ita dari gendongan nya.


"Abang kenal kakak cantik ini?" Tanya Ita membuat Angkasa menaikan sebelah alis nya.


"Kakak cantik?"


"Kakak ini tadi yang nemenin Ita nunggu bang Aksa." Ucap Ita seraya menunjuk Soya.


Angkasa tersenyum menatap Soya. "Makasih ya, udah nemenin adek gue."


Soya pun menganggukkan kepala, sebenar nya ini bukan apa - apa sih kan hanya kebetulan saja saat melihat bocah itu menangis.


"Jadi ini adek lu ya?" Tanya gadis itu.


Angkasa mengangguk sekali. "Tega banget lu ninggalin nih bocah sendirian, tadi adek lu nangis tau!" Tukas Soya ketus.


"Marahin aja kakak cantik. Bang Aksa emang suka dimarahin." Ita nampak membela Soya dan membuat Angkasa terkekeh melihat nya. Lagi pun ia memang salah jadi memang pantas menerima omelan.


"Gue beli minum tadi, terus nolongin seseorang disana." Kata lelaki itu seraya menunjuk ke seberang taman.


"Lain kali bawa aja adek lu, entar kalau dia ilang gimana?"


Angkasa yersenyum tulus, ia berjongkok dan mensejajarkan tinggi nya dengan Ita. "Maafin Abang, ya. Janji nanti Abang gak ngulangin lagi."


"Okey." Sahut Ita.


Anak itu tiba - tiba menarik tangan angkasa dan Soya, entah ingin membawa mereka kemana.


"Eh?!" Kaget kedua nya bersamaan.


"Ayok duduk. Ita mau duduk disana." Anak itu menunjuk ke arah tanah yang ditumbuhi rerumputan hijau. Disitu juga ramai dengan manusia yang tengah duduk bersama.


Angkasa dan Soya hanya pasrah dan mengikuti saja. Mereka duduk di atas rerumputan itu tanpa alas apa pun. Lagipula rumput nya tidak menyebabkan gatal - gatal dan disini juga bersih jadi tidak apa - apa.


Angkasa duduk disisi kanan Ita dan ada Soya yang duduk disisi kanan bocah itu. Ita terus berceloteh, sesekali bertanya dan sesekali juga mereka menimpali nya.


"Bang Aksa, coba lihat awan disana! bentuk nya kayak ikan." Ita menunjuk ke arah langit. Angkasa dan Soya ikut memandang juga.


"Terus yang di sana gajah."


"Di sana juga mirip beruang." Celetuk Soya menimpali celotehan Ita.


Ita mengikuti arah telunjuk Soya. Ia mengangguk dengan mata berbinar. "Wahh..." Takjub nya.


Angkasa terkekeh, adik nya itu terlihat sangat menggemaskan. Ia jadi berpikir, kalau tadi adik nya beneran diculik orang bagaimana ya??


"Jadi kakak cantik ini temen nya bang Aksa ya?"


"Iya." Sahut Angkasa sambil mengusap kepala bocah itu.


Ita menoleh. "Bang Aksa! Ajak kakak cantik ke rumah dong."


Soya mengerjapkan mata nya sedangkan Angkasa nampak melirik ke arah gadis itu. Melihat Abang nya dan si kakak cantik terdiam, ia pun menatap ke arah Soya penuh harap.


"Kakak cantik mau kan main ke rumah Ita." Ia memohon kepada Soya dengan mata yang bulat dan ekspresi yang begitu menggemaskan.


Soya rasa nya tak bisa menolak namun ia harus meminta persetujuan dari kakak bocah ini dulu. Soya melirik Angkasa dan lelaki itu pun menganggukkan kepala.


"Iya, nanti kapan - kapan kakak main ke rumah Ita, ya."


"Asiik!! Tapi emang nya gak bisa sekarang? Hmm?" Tanya Ita dengan wajah yang tak bisa membuat orang menolak permintaan nya.


Soya tersenyum lembut menatap Ita. "Kakak gak bisa sekarang. Nanti kalau kakak bisa, kakak bakal kabarin ke Abang kamu."


"Okey. Tapi harus janji."


Ita mengacungkan jari kelingking nya ke hadapan Soya. Gadis itu mengangguk lalu menautkan jari kelingking nya ke jari kecil milik bocah itu.


"Yeyyy!! Ita mau kenalin kakak cantik sama Binoo."


"Binoo?" Tanya Soya bingung. Bocah itu nampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan nya.


"Eum, kelinci putih peliharaan Ita." Sahut nya.


"Huum. Binoo gemesin kayak Ita, kakak harus tau itu."


Soya terkekeh kecil, tapi seperti nya bocah ini yang paling menggemaskan ketimbang kelinci itu.


"Binoo nya umur berapa emang?" Tanya Soya.


Karena Ita juga tidak terlalu tahu dengan umur hewan pun menatap Abang nya dengan sangat. "Berapa bang Aksa?" Tanya nya.


"Delapan bulan." Sahut lelaki itu.


Ita menganggukkan kepala lalu kembali menatap Soya. "Delapan bulan kakak cantik. Eum.. dulu Ita juga punya satu yang mirip Binoo, nama nya Anis tapi dia udah gak ada."


"Kenapa? Anis nya diambil orang?" Tanya Soya menebak pembicaraan anak itu.


Bocah itu menggeleng hingga membuat Soya mengernyit heran. "Bukan diambil orang tapi Anis nya udah diambil Tuhan."


Soya nampak iba melihat Ita yang nampak bersedih. "Hei, kenapa Ita sedih? Ita gak boleh sedih tau, nanti Anis juga sedih disana." Hibur nya.


"Iya, kah?" Tanya Ita polos sambil mengerjap lucu.


Soya mengangguk sekali. Ia mengusap pipi bocah itu yang terlihat gembul. "Maka nya Ita jangan sedih ya?"


Ita reflek mengangguk cepat. Dan detik berikut nya bocah itu nampak kembali mengalihkan pembicaraan mereka.


"Kakak cantik cocok sama bang Aksa."


Soya terkesiap kaget. Kenapa bocah ini tiba - tiba berbicara seperti itu?? Mana membuat suasana nya tidak enak, lagi!


Angkasa berdehem karena merasa canggung dengan situasi ini. "Jangan didengerin, Soy. Anak kecil emang suka ngomong aneh." Ucap nya. Soya pun mengangguk dengan canggung.


Entah kenapa perkataan Angkasa membuat bocah itu jadi merasa kesal, ia pun menggigit lengan Abang nya itu sedikit keras hingga membuat Angkasa mengaduh kesakitan.


"Aduh Ta! Kok kamu gigit tangan Abang sih?" Keluh Angkasa seraya mengusap bekas gigitan Ita.


Ita melipat tangan ke dada, menggembungkan pipi sambil membuang pandangan ke arah lain. "Hmmp! Yang aneh itu Abang, bukan Ita!" Tukas nya.


"Ngambek nih sekarang?" Tanya Angkasa, jahil.


"Hmmp!"


Soya tertawa kecil melihat tingkah kakak beradik itu. Soya melirik jam di pergelangan tangan nya, sekarang sudah jam setengah delapan.


Ia mulai beranjak membuat atensi kakak beradik itu beralih kepada nya. "Gue balik dulu ya, Sa." Ucap Soya.


"Kakak cantik mau pulang?" Tanya Ita. Dan Soya mengangguk kan kepala seraya tersenyum.


"Lu mau balik sekarang?" Tanya Angkasa ikut beranjak juga.


"Iya nih, entar gue malah dicariin sama nyokap gue." Sahut Soya. Ia kini menatap ke arah Ita lalu menarik pipi gembul itu pelan.


"Kakak pulang dulu, ya. Nanti kapan - kapan kita bakal ketemu lagi." Sambung nya seraya menjauhkan tangan nya dari pipi bocah itu.


Ita mengangguk lucu. "Kakak cantik jangan lupa juga buat main ke rumah Ita."


"Iya, nanti kakak bakal main."


Soya melambaikan tangan ke arah mereka dan dibalas juga oleh Ita, sedangkan Angkasa hanya tersenyum menatap gadis itu.


"Ita tunggu loh!" Pekik bocah itu sebelum Soya menghilang dari pandangan mereka.


Kakak beradik itu masih saja menatap punggung Soya walaupun sudah tidak terlihat lagi.


"Ita suka sama kakak itu ya?" Tanya Angkasa pada sang adik.


Ita menatap Angkasa dengan kepala yang ia miringkan, nampak bingung seperti nya.


"Kenapa? Abang gak suka kah sama kakak cantik?"


Angkasa tak menggubris perkataan sang adik, ia malah menggandeng tangan mungil itu dan melangkahkan kaki nya.


"Ayok kita pulang juga." Ajak nya dan berlalu menjauh dari taman.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...


LIKE SETIAP BAB YA READERS TERSAYANG🥰🙏