Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
DNLM 16



"Kalian berdua kenapa sih? Dari tadi natap handphone mulu." Kata Bella sambil memakan udang goreng nya.


"Mereka udah gak jomblo lagi Bel." Ucap Salsa menanggapi.


"Lo bisa aja sal. Mami gue nelpon nih, nitip beliin barang." Kata Sarah sembari memasuk kan ponsel nya kedalam tas.


" Kok gue gak yakin ya sama lo?" ucap Salsa membuat Sarah dan Denia deg-deg an.


"Lo lagi gak nyembunyiin sesuatu kan Sar?" tanya Bella memicing kan matanya menatap Sarah.


Sarah mendengus sebal menatap teman-teman nya.


" Lo semua pada gak percaya banget sih sama gue." ucap Sarah pura-pura ngambek.


" Bukan gitu Sar, lo kalau bohong ketahuan banget tau nggak." ucap Olive menimpali.


"Habis ini kita pulang atau gimana?" Tanya Salsa memecah kan keheningan.


" Gue sih mau nya jalan aja lagi, soal nya gue bosen banget dirumah." ucap Deniaa.


"Sama Dee, gue jugak Bosan." kata Salsa.


" kita ke cafe gue aja yuk, udah lama kita nggak kesana." kata Salsa lagi memberikan ide.


"hayuk lah.." kata Sarah.


" Enggak deh, gue mau pulang aja. Banyak tugas kuliah gue, kalau nggak dikerjain nanti gak bakalan siap." kata Olive nggak setuju.


" Yhaa.. elo mah nggak Asik Liv" ucap Salsa. Sedangkan Olive melanjut kan makan nya.


"Cieee Olive... dia kangen tuh sama mas Aiden." Ucap Bella menggoda Olive. Sarah dan Denia saling berpandangan. Sedangkan Olive tersenyum malu-malu.


"Ada yang blushing nih.." kata Salsa memanas kan suasana.


Olive yang tak tahan mendengar godaan yang dilontar kan teman nya mengalihkan pandangan nya kearah lain. Sesaat kemudian Olive tertegun melihat pemandangan yang sangat menyiksanya.


Salsa dan Bella yang menyadari perubahan raut wajah Olive, mengikuti arah pandang Olive. Mereka bingung menatap kearah sepasang kekasih yang sedang suap-suapan itu.


"Ngapain sih Liv nengokin orang pacaran? Pingin yaa?" Tanya Salsa yang belum menyadari orang yang dia maksud. Karena Salsa belum mengenal Aiden dan posisi Salsa tidak dapat melihat wajah wanita itu. Perkataan Salsa membuat Olive semakin down. Bahkan Salsa pun melihat mereka seperti sepasang kekasih, pikirnya.


Sarah dan Denia langsung membei tahu Salsa dan Bella, kalau orang yang ditatap Olive adalah Viona dan Aiden. Mengetahui hal itu membuat Salsa merasa bersalah pada Olive.


Olive langsung beranjak dari tempat duduk nya dan bergegas keluar dari restoran yang menjadi saksi kesedihan nya hari ini.


Salsa, Denia dan Bella ikut mengejar Olive. Sedangkan Sarah langsung menghampiri meja yang ditempati oleh Aiden dan Viona.


"Viona!.." ucap Sarah sedikit keras membuat Viona dan Aiden menoleh kearah nya.


"Lo itu nggak tau malu ya. Dulu lo dekati Daniel, kemarin lo dekati Daren dan sekarang lo jalan sama cowok teman gue!? Mau lo tuh apasih?" Kata Sarah membuat Viona tersentak kaget.


"Maksud anda apa? Siapa teman yang kau maksud?" Tanya Aiden bingung menatap seorang gadis yang melabrak Viona membawa-bawa namanya.


"Hah! Maksudku? Maksudku adalah kau sangat bodoh tuan Aiden. Kau menyia-nyiakan berlian hanya demi batu kerikil sepertinya." Ucap Sarah menunjuk Viona.


"Kau menyia-nyiakan Olive hanya demi perempuan gak berguna kayak dia." Sambung Sarah membuat Viona dan Aiden terkejut. Kemudian Sarah pergi meninggal kan Aiden dan Viona yang masih termenung.


'Jadi.. sedari tadi Olive ada disini? Olive melihat ku menyuapi Viona..' Batin Aiden.


'Aku jadi semakin bersalah denganmu kak, aku sudah menghancurkan kebahagiaan Olive. Dan sekarang aku juga menghancurkan kebahagiaanmu. Benar kata Sarah, aku adalah wanita yang tak berguna' batin Viona menunduk lesu.


Flashback on


"Vionaa.." panggil Aiden membuat Viona yang menunduk langsung mendongak menatap Aiden.


"Bisakah aku menganggapmu sebagai adik ku?" Tanya Aiden membuat Viona tertegun. Viona melihat ketulusan dimata Aiden saat mengatakan hal itu.


Viona menitik kan air matanya.


"Kenapa kau menangis? Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa." Ucap Aiden membuat Viona mengusap air matanya.


"Mengapa kau mau menganggapku sebagai seorang adik. Aku adalah wanita yang buruk. Bahkan aku salah satu penyebab Olive menderita. Bukan kah kau mencintai nya, trus kenapa kau menganggap musuhnya sebagai adik mu.." kata Viona meminta penjelasan.


"Dulu punya seorang adik perempuan. Ketika Papa dan mama ku berpisah, Adik ku dibawa oleh Papa ku. Sampai sekarang aku tidak menemukan nya. Dia sangat sulit dicari. Dan ketika aku melihat mu, aku merasakan kalau adik ku ada didalam dirimu." Kata Aiden membuat Viona termangu. Aiden ikut menangis saat mengingat adik nya. Viona yang melihat Aiden menangis ikut merasakan kesedihan Aiden.


"Baiklah. Aku mau menjadi adik mu." Ucap Viona membuat Aiden tersenyum.


Makanan yang dipesan Aiden dan Viona sudah datang, mereka menikmati makan siang nya.


"Kak, kau cobalah ini. Sangat enak." Ucap Viona memanggil Aiden dengan sebutan kakak. Aiden langsung memakan suapan Viona. Aiden merasa bahagia ketika Viona mau menjadi Adik nya.


"Dan kau, cobalah ini.." ucap Aiden menyodorkan udang goreng.


"Ah.. aku tak bisa memakan nya. Aku alergi udang kak." Ucap Viona membuat Aiden mengernyit.


'Mengapa kau semakin mirip dengan adik ku?' Batin Aiden bertanya.


"Kalau begitu, cobalah ini." Ucap Aiden menyodorkan brokoli yang langsung disambut oleh Viona.


Flashback Off


Kini Olive berada dikamar Denia, Olive tidak mau pulang kerumah Aiden. Olive meminta untuk menginap dirumah Denia. Denia yang merasa Olive butuh waktu, mengizinkan Olive untuk tinggal dirumahnya.


Dan disini lah Olive berada, ia menangis di kamar Denia mengingat kejadian di restoran siang tadi. Ia sudah menyerah dengan Aiden. Kejadian tadi sudah cukup untuk membuatnya sadar kalau Aiden dan Viona saling mencintai. Olive tidak mau menjadi orang ketiga, Olive akan merencanakan sesuatu agar dia bisa terlepas dari Aiden.


'Selamat Viona, Ibumu berhasil menghancur kan keluargaku. Dan kau berhasil menghancur kan perasaanku.' Batin Olive.