
Niuw niuw niuw...
Ambulance itu segera melaju ke salah satu rumah sakit ternama di kota X. Dibelakang mobil itu, ada dua buah sepeda motor yang melaju mengikuti nya.
Salah satu motor dari ketiga pemuda itu dibiarkan tertinggal di jalan Permata Raya tadi. Salah satu nya tak bisa membawa karena ia menemani Relvan di dalam ambulance.
Sesampai nya di sebuah rumah sakit ternama bernama Hospital Serv'RG. Mereka segera disambut beberapa perawat yang bertugas disana. Bergegas membawa masuk pasien ke dalam dan melakukan penanganan segera dalam Unit Gawat Darurat.
Entah sengaja atau tidak, Rizhan malah melarikan Relvan ke rumah sakit itu yang sangat kebetulan dimana Sigra tengah berada disana juga.
"Biar gue yang urus administrasi nya." Angga menoleh menatap ke arah sumber suara dimana Rey yang tengah berbicara pada nya. "Lu pada tunggu Relvan sebentar."
Rey bergegas pergi meninggalkan teman - teman nya menuju tempat administrasi. Angga mengangguk saja walau Rey sudah tak terlihat lagi di hadapan nya.
Angga dan Rizhan serta beberapa anggota Tiger Black menunggu di kursi tunggu depan ruang UGD.
"Lu nangis?" Tanya Angga pada Rizhan. Ia menilik anak itu dengan seksama seraya mengusap lembut rambut nya.
Rizhan nampak mengernyit sebal mendengar pertanyaan nya. Walau benar sih tadi kan ia sempat menangis tapi sekarang kan sudah tidak lagi.
"Ck. Siapa yang nangis?" Tanya nya balik sambil menepis tangan Angga yang berada di kepala nya.
"Heh, lu kira gue gak tau apa kalau dijalan tadi elu nangis, kan?" Angga terkekeh geli membuat Rizhan ingin sekali menonjok wajah laki - laki itu.
"Sok tau lu!" Ketus Rizhan sambil mengalihkan pandangan nya dari laki - laki itu.
Angga tersenyum tipis sambil menatap lantai rumah sakit. Ia jadi merasa asing kala Rizhan mengubah bahasa keseharian nya. Pasti karena kejadian hari itu, karena tak mau dibilang manja maka ia mengubah semua nya.
Sebenar nya bukan seperti itu yang ia mau. Dewasa yang ia sebutkan bukan soal penampilan, gaya bahasa atau semacam nya. Tapi dewasa dari pola pikir anak itu.
"Kenapa gaya bahasa nya diganti? Padahal imutan yang kemarin." Celetuk Angga namun tak menatap ke arah pemuda disamping nya.
Rizhan hanya melirik Angga dari ekor mata nya dan tak berniat menjawab pertanyaan lelaki itu. Ia terdiam dan kalut dengan pikiran nya sendiri.
"Lu masih marah sama gue?" Tanya Angga.
"Enggak." Sahut Rizhan singkat.
"Kalau ngomong lihat orang nya." Kata Angga, lagi.
Rizhan mengerucutkan bibir kecil nya lalu balik menatap Angga, raut wajah nya seketika berubah menjadi datar. "Enggak, gue gak marah."
"Serius? Lu berubah bukan karena gue kan?" Tanya laki - laki itu dan ikut menatap Rizhan.
Rizhan menaikan sebelah alis nya lalu berbalik menghadap pintu UGD. "Bukan." Sahut nya.
"Eh, Zhan." Panggil Angga, lagi.
"Apa?"
"Kenapa lu malah milih rumah sakit ini?" Rizhan merotasikan mata nya lalu menatap ke dalam mata Angga.
"Kita gak punya pilihan lain." Kata nya membuat Angga mengerutkan dahi. Tak punya pilihan apa maksud nya??
"Dan siapa tau ketemu Sigra disini." Gumam Rizhan pelan sambil berdoa untuk keselamatan orang yang berada didalam ruangan yang ada didepan mereka.
Rey menghampiri pengurus administrasi untuk Relvan. Ia juga tak masalah jika harus mengeluarkan banyak biaya untuk pengobatan teman nya itu.
"Sebentar ya, kak." Kata petugas administrasi seraya mengecek sesuatu.
"Administrasi pasien atas nama Relvano Hyperion sudah dibayar lunas bersamaan dengan keseluruhan biaya penanganan berikut nya." Petugas administrasi menatap ke arah Rey yang tengah mengernyit dengan sangat.
"Siapa yang bayar ya? Apa ada orang lain yang tahu kalau Relvan masuk rumah sakit?" Celetuk nya dalam hati seraya menatap ke sekeliling tempat nya berdiri.
Tidak ada se siapapun orang yang ia kenali disini, jadi siapa sebenar nya yang sudah membayar semua biaya pengobatan???
"Siapa ya kalau boleh tau?"
"Maaf ya, kak. Kami tak bisa memberitahu Anda." Ucap petugas administrasi sambil tersenyum. Rey terdiam sesaat sebelum menganggukkan kepala nya.
"Terimakasih." Ucap nya lalu berbalik meninggalkan tempat. Tak mau lagi ia membahas masalah biaya, nanti bisa ia pikirkan lagi setelah nya.
Laki-laki itu berhenti melangkah kala melihat siluet seseorang yang begitu ia kenal tengah berjalan di lorong rumah sakit ini.
"Gra!!" Panggil nya. Namun orang itu seperti nya tak mendengar dan terus melangkah menjauh dari pandangan nya.
Ia berlari menghampiri orang itu karena yakin dengan siapa yang ia lihat. Itu Sigra. Apakah hanya kebetulan dia berada disini?
"Sigra!"
"Tunggu gue woi!" Rey mengejar nya sampai loby rumah sakit. Ia berlari tertatih dengan nafas tak beraturan, ia sampai ngos-ngosan.
Sigra terkesiap kaget ketika ada yang memanggil nama nya, dan suara itu ia sangat mengenali nya.
Sigra berbalik dan menatap laki-laki yang berdiri didepan nya sambil memegang lutut, mungkin sedang mengatur nafas nya yang tersengal - sengal.
"Rey?"
"Hahhh.. lu mau bikin gue pingsan disini apa, karena ngejar lu tadi." Rey masih lemas karena belum menerima asupan makanan malah disuruh berlari lagi. Kalau tadi pingsan bagaimana ya??
Sigra tidak paham dengan keluhan laki-laki didepan nya itu. Kenapa juga harus pingsan? Kan hanya berlari sebentar. Apa ia mengejar Sigra dari ujung dunia sampai kesini???
"Lu ngapain disini malem - malem?" Tanya Sigra kepada Rey.
"Ngapelin suster ngesot!" Ketus nya. "Elu juga ngapain disini?" Tanya Rey, balik.
Sigra hanya memandang datar ke arah nya, lalu kembali melangkah ke depan. Ia tadi ingin membeli makan malah tertunda gara - gara Rey yang menghampiri nya. Lagian sedang apa Rey di rumah sakit?? Bukan kah mereka mau balapan?
"Ada urusan." Sahut Sigra, diikuti Rey yang ikut melangkah sejajar dengan nya walau tak tahu tujuan Sigra ingin kemana.
Sigra tidak menjawab pertanyaan nya membuat Rey mendecakkan lidah nya kesal karena diabaikan.
"Lu ngapain disini?" Tanya Sigra, lagi. Ia menatap sekitar kalau - kalau ada teman - teman nya yang lain juga.
"Gra, Relvan kecelakaan."
Sigra menghentikan langkah nya, ia terkesiap kala mendengar perkataan Rey. "Kecelakaan?" Gumam nya, kemudian ia kembali menatap Rey yang ikut berhenti.
"Kapan?"
"Barusan, barusan kita nganterin dia ke sini." Tukas Rey.
"Berarti lu lagi sama anak - anak yang lain juga?" Terka Sigra.
"Lu tau?" Sigra mengangguk sekali.
"Kalian bilang mau balapan, kan?" Rey tak langsung menyahut dan hanya menatap ke arah Sigra. "Jadi Relvan kecelakaan karena balapan?" Tanya nya membuat Rey menganggukkan kepala.
"Kita gak tau ini rencana si blasteran itu atau bukan. Tapi jujur kita juga curiga sama dia, kenapa ngajak balapan nya di jalanan bukan di sirkuit." Sahut Rey.
"Terus kenapa gak kalian tolak aja dari awal?" Tanya Sigra seraya menaikan sebelah alis nya.
"Kita mana tau, udah sampai disana baru sadar sama tujuan mereka buat hancurin kita. Gue gak tau Relvan sadar atau enggak karena dia juga gak banyak bicara masalah ini. Tapi dia gak ada cegah kita semua buat mundur." Rey membuang nafas kasar dan menjeda kalimat nya.
"Sebelum kecelakaan itu, dia sempet bilang sama gue kalau dia kenapa - kenapa kita boleh kasih tindakan selanjut nya mau dibantai atau enggak." Lanjut nya. Sigra tak memberikan tanggapan lebih, ia terdiam sambil mendengarkan penuturan Rey.
"Lu tau? Rizhan juga sempat jadi incaran dia buat balapan malam ini."
"Kenapa jadi Rizhan?" Sahut Sigra cepat. Apakah bocah itu ikut dengan mereka?
Rey menggelengkan kepala seraya menatap jalanan ramai. "Maka nya Relvan yang gantiin. Terus mobil yang nabrak Relvan malah kabur gak tau kemana, kita gak sempat ngejar."
"Terus yang nantangin gimana?" Tanya Sigra penasaran.
"Udah gue hajar sampai babak belur. Emang sengaja cari masalah kayak nya mereka tuh!" Rey ngedumel seraya berkacak pinggang.
"Rizhan nya gimana?"
"Dia baik-baik aja." Sigra mengangguk sekali, seperti nya semua nya baik - baik saja kecuali si Relvan.
"Gue mau nyari makan sebentar. Kalian mau nitip makanan gak? Sekalian nanti gue jengukin Relvan." Tawar Sigra.
"Gue ikut dah." Kebetulan juga Rey ingin mengisi perut nya. Sigra mengangguk lalu mereka bergegas menuju penjual makanan.
"Gra." Panggil Rey ketika mereka sudah sampai disana. Sigra berdehem saja sebagai jawaban.
"Lu beneran baru tau kalau Relvan masuk rumah sakit?"
Sigra mengernyit mendengar nya. Dia kan memang baru tahu, lagipula jika ia tidak bertemu dengan Rey mungkin ia juga tidak akan tahu kejadian nya.
"Ya, kan lu baru bilang." Sahut nya seraya memesan beberapa makanan pada penjual disana.
"Kalau bukan elu, terus siapa ya?" Rey nampak bergumam membuat Sigra menatap ke arah nya sekilas.
"Kenapa?"
Rey membuang nafas berat lalu duduk disalah satu kursi disana. "Ada yang bayar biaya administrasi Relvan."
"Siapa?" Tanya Sigra sesekali menatap laki - laki itu.
"Nah itu, gue juga gak tau. Semua nya udah lunas, gue sempet ngira kalau itu elu karena lu yang punya rumah sakit."
"Bukan gue." Sergah Sigra. Mana mungkin ia yang membayar, sedangkan ia saja baru tahu berita itu.
"Gue gak liat ada orang lain di area balap tadi selain anggota kita sama mereka."
Rey memandang ke arah rumah sakit yang berada diseberang jalan. Sigra mengangkat bahu nya lalu mengambil tempat di sebelah Rey.
"Emang lu gak kepikiran?"
Rey mengalihkan pandangan nya dengan raut bingung. "Kepikiran apa?" Tanya nya memandang Sigra.
"Kalau yang ngurus semua itu Papa nya Relvan?" Sambung Sigra kemudian beranjak membayar pesanan mereka. Padahal ia baru saja duduk disana.
Rey membelalakkan mata nya, ia mengerjap dan lekas berpikir cepat. "Benar juga, kenapa gue gak kepikiran ya?" Ia memandang lurus ke arah jalanan seraya mengetuk - ngetuk jari nya ke paha.
"Tapi sejak kapan Papa Relvan mantau kita semua? Gue gak ngerasa ada seseorang yang selama ini ngikutin kita." Gumam nya lagi bersamaan dengan Sigra yang mengajak nya kembali menuju rumah sakit.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...