
Di depan pintu UGD, Rizhan, Angga dan beberapa pemuda lain nya masih setia menunggu. Ada yang selonjoran dilantai, ada yang rebahan di paha teman, chating an, main game, dan hal random lain nya.
Salah satu dari mereka mulai beranjak hingga membuat atensi yang lain beralih pada nya. "Ngga, gue balik duluan ya. Sori gak bisa nemenin." Ia mendekatkan diri dan membisikan sesuatu ke telinga Angga. "Takut emak gue ngamuk." Sambung nya dan reflek membuat Angga terkekeh. Rizhan hanya menatap kedua nya secara bergantian.
"Yoi, gak apa." Angga menepuk punggung pemuda itu lalu menatap beberapa orang teman nya yang berada disana. "Lu pada kalau mau balik juga boleh."
"Beneran gak apa-apa nih?" Tanya seorang pemuda seraya menilik jam di ponsel nya.
Sekarang jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah dua belas malam. Tapi jalanan diluar masih terasa ramai oleh pengendara yang berlalu lalang.
Angga mengangguk yakin. "Disini masih ada gue sama Rizhan yang bakal jagain Relvan. Dan Rey juga ada." Sahut nya.
Mereka menganggukkan kepala. "Kalau gitu kita balik juga ye. Kasih kabar, nanti kita kunjungin lagi."
Angga memberikan jempol pada mereka yang mulai bubar satu persatu hingga tinggal tersisa Rizhan dan Angga saja. Keheningan mulai menyapa kedua nya sampai Rizhan membuka suara.
"Lama banget." Keluh nya lalu menatap Angga seakan bertanya, "dokter nya ngapain sih dalem?"
"Sabar ngapa, dokter juga butuh waktu." Rizhan mendelik memandang Angga yang sedang menyandarkan punggung nya ke dinding.
"Rey kok belum balik juga ya?" Tanya Rizhan yang menatap lorong rumah sakit. Angga memandang ke arah sejurus mengikuti pandangan Rizhan.
"Padahal ngurus itu juga gak selama ini." Celetuk Angga membuat Rizhan jadi beranggapan lebih.
"Jangan - jangan dia malah ninggalin kita lagi." Rizhan menatap Angga yang juga sedang menatap nya. Lelaki itu terdiam karena tidak tahu ingin menjawab apa.
Pintu UGD terbuka bersamaan dengan seorang Dokter keluar dari dalam ruangan itu. Atensi mereka kembali teralihkan, mereka menatap ke arah sejurus.
"Keluarga pasien?"
"Saya, Dok." Sahut Angga seraya beranjak dari duduk nya dan menghampiri Dokter tersebut.
"Kondisi pasien tidak begitu parah, hanya penanganan pada luka bekas bergesekan dengan aspal dan kepala yang terbentur juga tidak parah. Tidak sampai membuat kami harus menjahit luka nya." Angga dan Rizhan bernafas lega mendengar penuturan Pak Dokter.
"Pasien sudah kami tangani dengan baik, dia hanya perlu beristirahat beberapa hari disini. Kami akan segera memindahkan nya ke ruangan VVIP." Sambung Dokter lagi.
"Terimakasih, Dok. Apa kami boleh membesuk dia sebentar disini?"
Pak dokter nampak memandang ke arah Angga lalu ke arah Rizhan. "Silahkan, tapi harus bergantian."
"Baik, Dok." Jawab Angga dan Rizhan cepat.
"Saya permisi dulu." Angga mengangguk ramah sedangkan Rizhan melambaikan tangan ke arah Dokter yang mulai menghilang dari pandangan mereka.
Angga hendak melangkah masuk namun terhenti karena ditarik Rizhan. "Mau kemana?" Tanya nya.
Angga mengernyit dengan sangat. Memang nya Rizhan tak melihat kalau ia ingin masuk ke dalam? Kenapa masih bertanya??
"Ya masuk lah." Sahut lelaki itu ketus.
"Gue duluan." Rizhan hendak melangkah ke arah pintu tapi tertahan karena Angga lebih dulu menarik kerah baju belakang nya.
"Eehhh!! Gue dulu." Protes Angga sambil berebut masuk dengan Rizhan.
"Rizhan dulu!" Rizhan hendak masuk lagi tapi Angga melakukan hal yang sama lagi. Begitu pun sebalik nya ketika Angga ingin mendahului nya.
"Gue!"
"Gak!"
"Gue!"
"Rizhan!"
"Gue!"
"Riz-"
"Eehh, Kalian ngapain ribut didepan pintu UGD?" Tanya Rey seraya memisahkan kedua pemuda itu. Tidak habis pikir dia, apa sedari tadi mereka sudah berkelahi??
Mereka menatap serentak ke arah Rey dan seseorang yang sedang bersama nya.
"Rey?"
"Sigra?" Ucap kedua nya hampir bersamaan.
Angga berdehem lalu melirik Rizhan sambil merengut sebal. "Rizhan nih, Gra. Bandel banget." Adu nya membuat Rizhan menyergah tak terima.
"Mana ada, Gra. Lele nih, Zhan mau masuk tapi gak dibolehin." Bantah nya pada Sigra yang terdiam menatap kedua nya.
"Bukan gak boleh tapi gantian, Bocil! Ngalah sama yang lebih tua." Sarkas Angga seraya menarik pipi Rizhan saat sang empu lengah.
Ia menabok lengan Angga lalu setelah itu ia menatap lelaki itu dengan sinis. "Yang ada ngalah sama yang lebih muda!"
"Gak bisa dong!"
"Bisa kok."
"Heh udah woi! Jangan ribut ini rumah sakit!" Omel Rey sambil mengurut pusing pelipis nya.
Rizhan dan Angga sama - sama membuang pandangan ke arah lain hingga membuat Sigra menghela nafas panjang. Kemarin Angga yang terus berdebat dengan Rey, kenapa sekarang malah lari nya ke Rizhan? Pusing juga ya kalau punya anak macam mereka ini.
Sigra menyerahkan dua bungkus makanan pada Rizhan dan Angga. Ia tahu pasti mereka juga kelaparan walau tidak lapar - lapar amat sih.
Tadi saat didepan, mereka sudah bertemu dengan anggota Tiger Black yang ingin pulang. Jadi makanan yang mereka beli untuk mereka tadi mereka bagikan ke anggota nya satu persatu.
"Nih! Kalian makan dulu, biar gue yang duluan jengukin Relvan." Kata Sigra.
"K-kok dia duluan?" Cengo Rizhan.
Rey mengangkat bahu nya acuh sambil melangkah untuk duduk di kursi tunggu. "Mending makan dulu dah. Biarin aja Sigra yang ketemu Relvan lebih dulu."
Kedua pemuda yang berebut masuk tadi pun mengalah dan pasrah, mereka ikut duduk dan mengambil tempat di dekat Rey. Lalu mengisi perut mereka.
"Ketemu Sigra dimana Rey?" Celetuk Angga seraya menyuap sesendok nasi ke dalam mulut nya.
Rey melirik Angga lalu menelan nasi yang sedang ia kunyah. "Ketemu didepan." Sahut nya lalu kembali makan.
"Boong. Pasti Rey udah ketemu Sigra dari dalam rumah sakit."
Rey terkesiap dan tersedak makanan nya, dengan cepat ia menenggak air mineral kemudian menatap ke arah Rizhan yang tengah santai memakan makanan nya.
"Kata siapa lu?"
Rizhan menatap sambil mengedip lucu. "Kata gue tadi, lu kan denger." Ucap nya gamblang.
Rey terdiam namun dalam hati ia nampak bernafas lega. "Enggak sih, gue emang ketemu dia didepan." Jawab nya membuat Rizhan mengangguk - anggukan kepala.
"Serius?" Kini giliran Angga yang memandang ke arah Rey. "Ngapain dia malem - malem didepan rumah sakit?"
Rey menoyor kepala Angga pelan. "Gue gak ada bilang didepan rumah sakit, ogeb!" Tukas nya ketus. Semoga tidak dibahas lagi dengan rasa penasaran teman - teman nya.
Angga mencebikkan bibir nya tapi masih memasang raut bingung dan tak mengerti dengan omongan Rey. Memang nya kalau bukan di depan rumah sakit, lalu mereka bertemu dimana??
"Eh! Kenapa tuh?" Tunjuk Rizhan kala melihat beberapa perawat yang gaduh tak tahu apa penyebab nya. Rey dan Angga juga ikut celingak - celinguk macam kuda saking kepo nya.
Sedangkan di dalam ruangan UGD, keadaan hening melanda kedua pemuda yang sama - sama tak banyak bicara.
"Van."
"Gra."
Mereka tersentak saat memanggil secara bersamaan. Sekarang suasana nya malah bertambah canggung saja.
"Ehm. Lu duluan." Kata Relvan yang dimana pemuda itu tengah duduk di ranjang pasien sambil menyandarkan punggung nya ke headboard ranjang.
"Kondisi lu gimana?" Tanya Sigra yang tengah membuka topik pembicaraan, ia menanyakan kondisi lelaki itu lebih dulu.
Bagaimana pun juga Relvan adalah teman dekat nya walau kecanggungan itu masih ada ketika mereka ditinggal berdua saja.
"Ya kayak yang lu liat." Sahut Relvan seadanya.
"Sorry, harus nya gue yang ikut balapan tadi." Ujar Sigra seolah merasa tak enak hati dengan kejadian malam ini.
Kalau ia adalah orang yang selalu tak enakan terhadap orang lain mungkin saat ini ia akan terus menyalahkan diri nya sendiri karena kecelakaan teman nya itu.
"It's okay, lu juga punya urusan kan tadi?" Sigra mengangguk sekali. "Lu tau dari siapa gue masuk rumah sakit?" Sambung Relvan.
"Gue ketemu Rey didepan."
"Di depan?" Relvan bergumam dalam hati. "Ngapain Sigra didepan rumah sakit?"
Drttt... Drttt
Sigra merogoh ponsel nya yang terasa bergetar di dalam saku Hoodie. Digeser nya tombol hijau untuk menghubungkan panggilan tersebut.
"Ya?"
[....]
"Apa?!!" Relvan terperanjat kaget kala Sigra berteriak didekat nya. Gila! bisa berdengung telinga nya. Apa sih yang dikatakan penelpon itu hingga membuat Sigra bereaksi seperti tadi??
Sigra segera beranjak dari duduk nya. "Gue cabut dulu, Van." Pamit nya lalu terburu - buru keluar ruangan tanpa mendengarkan jawaban dari Relvan.
Relvan bingung sampai tak bisa menjawab, lagipula mau menjawab apa kalau orang nya saja sudah tak ada didepan nya.
Tiga pemuda yang berada di luar kaget melihat Sigra yang berlari terburu-buru entah kemana. "Kenapa tuh Sigra?" Tanya Rizhan seraya menatap bingung ke arah kedua teman nya.
Rey menggelengkan kepala, ia melihat dan menatap ke arah pintu UGD. Mereka seketika serentak ingin berebut masuk ke dalam sana dan pada akhir nya tak ada yang mau mengalah untuk tinggal diluar. Mereka masuk semua.
"Sigra kenapa, Van?" Tanya Angga yang duduk dekat ranjang yang ditempati Relvan. Rizhan berdiri diujung kaki Relvan sedangkan Rey berdiri disamping Angga.
"Gak tau gue." Sahut Relvan sekenanya. Karena ia juga tidak tahu penyebab Sigra seperti itu kenapa. Ketiga pemuda yang berada didekat nya pun nampak terdiam dan hanya saling pandang.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...