Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 110 | DNLM



"Ya sih, apa yang lu bilang barusan emang bener deh," sahut Rizhan.


"Kalau gitu alasan terkuatnya apaan, ya?" Rey kembali bertanya pada teman-temannya hingga membuat mereka terus mengungkapkan asumsi masing-masing seraya menunggu hujan mereda.


Dari keempat orang lelaki itu, hanya Relvan yang sedari tadi tak ikut menimpali. Ia nampak terdiam tapi bukan berarti pikirannya juga terdiam. Relvan sendiri pun juga memikirkan sambil mendengarkan pendapat teman-temannya tentang dua manusia yang masih berada di dalam kelas itu.


Sebenarnya akan lebih baik mendengar penjelasan dari orangnya langsung saja daripada berasumsi yang tidak-tidak. Relvan mengerti... Pasti Risya dan Sigra punya alasan tersendiri untuk hal itu.


Relvan menghembuskan nafasnya ke udara berkali-kali kemudian ia menendang ke arah teman-temannya. "Coba kalian perhatiin Risya-nya," katanya tiba-tiba membuat mereka sontak mengalihkan pandangannya ke arah lelaki itu.


"Perhatiin apanya, Van?" Tanya Rey yang nampak bingung dan tak mengerti dengan ucapan temannya itu.


"Ya coba aja perhatiin dari sudut pandang dia," kata Relvan lagi.


"Hmm?" Rizhan terdengar bergumam. "Kayaknya bener juga kata Relvan barusan, coba kita perhatiin dari sudut pandang Risya sendiri. Kalian tau 'kan kalau sebelumnya dia itu orang yang lumayan pendiam."


"Ini mah bukan lumayan pendiam lagi, Zhan, udah pakai banget malahan." Angga langsung menyergah. "Katanya dia gak pernah ngomong sama temen sekelasnya, kalau ngomong juga palingan cuma satu atau dua kata. Vibe-nya itu kayak ngeri banget lah di mata temen-temennya, sampai mereka jadi takut buat ngajak ngomong dia."


"Iya, iya, tapi bukan itu yang mau kita bahas." Rizhan menjeda kalimatnya. "Dia 'kan emang pendiem tuh, orangnya juga introvert dan selalu menghindar dari publik. Di saat orang lain pengen jadi pusat perhatian, Risya malah menghindar dan menyembunyikan dirinya dari semua orang."


"Kita juga tau kalau keluarga Sigra tuh gak pernah luput dari kamera serta media, dan selama ini semua orang cuma tau kalau Serville cuma punya satu orang putra dan itu tunggal, gak ada sanak saudara yang mengikutinya."


"Tapi kok bisa ya Risya gak kesorot sama publik? Dia tinggal di rumah Sigra juga, kan?" Angga nampak terheran-heran.


"Menurut gue dia juga tinggal di sana tapi entah bagaimana ceritanya bisa unpublic begitu." Rizhan menatap ketiga temannya. "Jadi menurut kalian gimana kesimpulan semuanya?"


"Kata gue sih, Risya sendiri yang sengaja nyembunyiin identitas dia dari publik bahkan sama temen-temen sekelasnya," sahut Rey.


"Betul tuh," ucap Angga. "Gue tebak juga Risya emang gak suka sama keramaian dan bisingnya dunia luar."


"Tapi kok gue kayak ngerasa ada yang janggal, ya?" Rizhan berbicara dengan dirinya sendiri tapi sepertinya itu terdengar di telinga Rey.


"Janggal apa, Zhan?" Tanyanya.


Bocah itu langsung memandang sang empu seraya menggelengkan kepalanya. "Nggak, nggak ada apa-apa. Gue salah ngomong tadi," ucapnya membuat Rey lantas mengangguk paham.


"Kalau pendapat lu gimana, Van?" Tanya Angga kepada Relvan.


"Gue sependapat sama Rey," sahutnya seperti itu.


Tak ada lagi pembahasan yang menjadi topik perbincangan, asumsi yang tidak ada ujungnya menjadikan tenaga dan pikiran terkuras seketika.


Langit masih terlihat menghitam serta air hujan masih saja turun membasahi permukaan. Cuacanya sungguh tidak mendukung mereka untuk pulang dan menikmati hangatnya rumah bersama keluarga.


Rizhan memandang lurus ke depan, bola matanya bergulir menatap hujan yang mengalir turun melewati atap. Suara gemericik air hujan mulai berkurang pertanda langit akan segera meredakan tangisnya.


"Kayaknya nih hujan mau berhenti," gumam Rizhan sambil melangkahkan kakinya menuju pembatas teras.


Anginnya masih terasa kencang dan dinginnya pun masih menusuk ke tulang. Rizhan menatap ke arah bawah, menatap lapangan yang tergenang air hujan.


Angga menatap Rizhan dengan seksama dan tak lama ia pun mendekat ke arah lelaki itu lalu menarik tangannya tiba-tiba.


"Eh, lu mau narik gue ke mana?" Rizhan nampak terkejut sedikit tapi tetap mengikuti ke mana Angga membawanya.


"Lu gak bawa jaket, kan?" Tanyanya.


Rizhan menggelengkan kepala. "Enggak, gue lupa. Lagian mana tau juga kalau hari ini cuacanya bakal kayak gini, biasanya 'kan panas mulu," celetuknya.


"Ya udah lah, kita ke loker gue, ada hoodie di sana." Angga menatap Rizhan sekilas. "Ganti seragam lu pakai itu. Pakaian lembab bisa bikin lu sakit," ucapnya sambil melirik ke seragam Rizhan yang setengah basah akibat hujan.


"Oke deh!" Sahut Rizhan dengan kekehan kecil.


"Abang gak akan ninggalin Caca, kan? Jangan tinggalin Caca kalau hujannya belum reda."


"Iya, kayaknya hujannya emang udah mau berhenti. Kamu mau pulang sekarang?" Sigra memandang ke arah sang adik.


"Mau. Tapi nanti kalau di jalan diguyur hujan gimana?" Tanya Risya.


"Ya neduh, sayang," gemas Sigra. Kalau bisa neduh 'kan untuk apa pakai nekat menerobos hujan segala?


"Neduh di mana?" Tanya Risya lagi.


"Di mana aja, selagi tempat itu bisa ngelindungin kita dari derasnya hujan," sahut Sigra. "Udah jangan tanya lagi itu di mana, sekarang kamu udah mendingan, kan? Udah bisa ke luar ruangan?" Risya menganggukkan kepala.


"Gendong, ya, aku lemes banget gara-gara petir tadi." Risya memeluk erat leher Sigra kala lelaki itu mulai beranjak dari tempatnya.


"Kamu berat banget, Ca, pasti karena kebanyakan ngemil," kata Sigra setelahnya.


"Seriusan? Padahal badan aku gak gemuk-gemuk loh tapi masa beratnya nambah?" Ucap Risya. "Kalau gitu nanti aku ngemil banyak-banyak lagi deh," tambahnya sambil terkekeh.


"Aneh, ya, bukannya dikurangin ini malah mau ditambahin," sergah Sigra sambil mendengus.


"Hehe, tapi kalau beneran berat aku jalan aja deh gak jadi minta gendong."


"Gak usah," tolak Sigra sambil melangkah ke luar kelas Risya.


"Aku ngantuk..." Gumam Risya kecil.


Sigra sontak mengusap punggung sang adik seolah mendukungnya untuk tidur di saat seperti ini. Lelaki itu juga sempat berpikir, apakah ia harus menghubungi bodyguard Daddy agar menjemput mereka di sekolah?


Ia menatap teman-temannya yang menunggu di luar ruangan, padahal cuacanya dingin seperti ini tapi kenapa mereka malah memilih berdiam diri di luar? Kalau tetap memilih duduk di dalam tadi juga sebetulnya tidak masalah.


Relvan yang melihat Sigra keluar pun langsung menolehkan kepalanya. "Dia udah baikan, Gra?" Tanyanya seperti tengah mengkhawatirkan Risya.


Sigra pun lantas menganggukkan kepalanya. "Yang lain pada ke mana?" Tanyanya sebab ia tak melihat Rizhan dan Angga di sini.


"Noh!" Rey menyahut seraya menunjuk Angga dan Rizhan yang melangkah kemari menggunakan dagunya.


Relvan memandang Risya yang nampaknya begitu nyaman di gendongan Sigra. Apa gadis itu tengah tertidur, ya? Karena ia tak mendengar suaranya sama sekali.


"Dia tidur, Gra?"


"Kayaknya iya, tadi dia bilang ngantuk," sahut Sigra.


"Bawa aja gih ke apartemen si Rey," timpal Rizhan membuat Rey langsung menatap ke arahnya. "Itu tempat tinggal yang paling deket di antara kita, lagian hujannya kayaknya bakal awet, kalau lu pulang ke rumah, lu bisa-bisa diguyur sama hujan sebelum sampai tujuan."


"Setuju deh gue," kata Angga juga. "Sekalian kita ngumpul bareng, ntar kabarin aja sama bokap nyokap lu kalau dia juga sama kita."


"Gimana, Rey?" Tanya Relvan.


Rey kemudian menganggukkan kepalanya. "Oke, gue gak masalah. Dan elu, Gra, lu masih ngutang penjelasan sama kita semua," ucapnya sambil memandang sang empu yang tengah menatap ke arahnya. Setelah itu, mereka langsung saja pergi dan meninggalkan sekolah yang mulai sepi.


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...