
Soya lantas berjalan mendekat agar lebih dekat dengan lelaki yang tergeletak di atas kasarnya aspal jalanan. Ia juga nampak mengedarkan pandangan ke sekitar, menilik lekat jika ada orang yang lewat. Namun nyatanya yang diharapkan ternyata tak sesuai kenyataan.
Rey yang mendengar pekikan seseorang itu pun tak membuatnya menyahut sama sekali, dada lelaki itu terlihat naik turun pertanda bahwa ia masih bisa bernafas dengan baik dalam keadaan yang seperti ini. Badannya terasa remuk dan sulit baginya untuk beranjak. Jangankan beranjak, ketika bergerak sedikit saja sudah membuatnya meringis kesakitan.
Sialan! Lihat saja para baj**gan itu! Akan ia balas dengan hal serupa juga!
Saat tepat di sampingnya, Soya menundukkan pandangan agar dapat menatap Rey yang berada di dekat kakinya. Sangat menyedihkan, wajah lelaki itu nampak lebam di beberapa bagian dan terlihat darah di sudut bibirnya.
Lalu tanpa ragu-ragu pula, ia langsung saja berjongkok di dekat Rey seraya bertanya pada lelaki itu. "Rey, lu okey?" Katanya. Padahal ia melihat sendiri kalau Rey sedang tidak baik-baik saja sekarang ini namun entah mengapa mulutnya masih saja ingin bertanya padanya. Mungkin hendak memastikan saja.
Melihat Rey yang tak kunjung bergeming, Soya sontak menaruh telunjuknya di depan hidung lelaki itu, memeriksa apakah nafasnya masih ada atau tidaknya.
"Masih nafas nih, berarti belum mati, kan, ya?"
"Sial! Lu nyumpahin gue mati?!" Sergahnya seraya terbatuk-batuk dan meringis kecil.
Soya lantas melebarkan matanya. Gila! Di saat seperti ini pun lelaki ini masih bisa berbicara ketus pada orang lain. Kalau semisalnya Soya orangnya pendendam, mungkin saja ia bisa membunuh Rey di saat lelaki itu sedang tak berdaya seperti sekarang ini. Namun Soya terlihat memandangnya dengan lekat saja, dan kemudian beranjak dan kembali ke arah mobilnya.
Rey sendiri sudah tahu kalau yang menghampirinya ini adalah Soya. Ia mengenali suara perempuan itu. Setelah ucapannya tadi selesai, Rey tak lagi mendengar suara sahutan dari sang empu. Apa gadis itu meninggalkannya? Ah, untuk apa ia perduli padanya!
Rey meringis sembari mengatur nafasnya yang sedikit sesak. Beruntung cuaca hari ini terasa sejuk dan tidak menyengat, kalau tidak ia pasti akan merasa terbakar ketika kulitnya menyentuh aspal.
"Oi, lu bisa bangun gak?"
Suaranya kembali terdengar di telinga Rey. Ia masih di sini? Rey pikir sudah Soya pergi meninggalkannya sendiri. Dan tanpa Rey duga, rupanya Soya hanya ingin mengambil sebuah kotak P3K dan sebotol air mineral di dalam mobilnya lalu kemudian ia kembali menghampiri lelaki itu lagi.
"Ya lu pikir aja sendiri!" Dengus Rey.
Hanya helaan nafas yang bisa Soya hembuskan dengar kelapangan dada. Jika ia tega, bisa saja ia meninggalkan Rey sendirian di sini dan membiarkannya sekarat sampai nanti ada orang lain yang dapat membantunya. Tapi nalurinya tiba-tiba berkata lain, ia harus membantu dan menolong lelaki itu.
"Maaf, ya."
Soya berucap seraya mengulurkan tangannya membantu tubuh Rey untuk beranjak dan membawanya agar bisa duduk. Gadis itu juga masih menahan tubuh Rey agar ia tak limbung.
"Muka lu jelek banget buset!" Pungkasnya saat ia menatap wajah Rey. "Nih minum dulu," katanya sambil menyodorkan air mineral yang ia bawa.
Rey menatap ke arah botol tersebut dan tak langsung mengambilnya. "Lu tuh gak usah sok baik sama gue! Gak usah sok ngambil perhatian gue!" Tukasnya masih dengan nada yang sama seperti sebelumnya.
Soya nampak mengernyitkan dahinya. "Dih! Siapa juga sih yang mau ngambil perhatian lu?" Sahutnya. "Gue tuh ngebantu cuma karena kasihan sama cowok kayak lu! Untung 'kan lu gak mati di sini?!"
"Udah nih cepetan diminum. Gak usah cerewet!" Tambahnya seraya membukakan tutup air mineral tersebut. Rey mendecakkan lidahnya sembari meraih botol air mineral itu dengan terpaksa pula.
Soya kembali bergumam kecil, "ini kalau gue gak nahan tubuh dia, dia bakalan jatoh gak, ya?"
Tanpa sengaja Rey mendengar gumamannya, seketika ia malah merasa tak enak pada Soya. "Jauhin tangan lu dari tubuh gue!" Kata Rey yang sontak membuat Soya mendelik ke arahnya.
"Ya. Gak perlu marah-marah juga kali!" Dengusnya sambil menjauhkan dirinya dari lelaki itu. Hanya menjauh sedikit saja sebab ia masih setia berjongkok di dekat Rey dan memandangnya dengan seksama.
Rey tak menghiraukan dan langsung meneguk sebotol air mineral. Rasa dinginnya sekejap melewati tenggorokannya yang terasa kering. "Nape lu liatin gue?" Tanyanya. Ia tak nyaman dengan tatapan Soya yang nampak mengiba.
Soya hanya menggelengkan kepala dan dalam benaknya ia berkata, "buset dah! Itu jakun bikin gagal fokus aja!"
Rey tanpa disadari, ternyata ia diam-diam juga mengamati pergerakan Soya sedari awal. Soya lalu menatap ke arah Rey dengan kapas dan obat merah yang sudah berada di genggamannya.
"Lu bisa ngobatin sendiri gak?" Tanyanya sambil menyodorkan kapas yg sudah di beri obat merah kepada lelaki itu.
Rey terlihat memandang ke arah kapas yang ada di tangan Soya, lalu kemudian matanya melirik sikunya yang lecet terkena gesekan aspal. Rey tak munafik, seluruh badannya sekarang sakit. Namun karena egonya yang terlalu tinggi jadi ia harus menolak pertolongan itu.
Tapi apa benar ia bisa mengobatinya sendiri? Atau ia harus menurunkan sedikit egonya dan meminta bantuan dari Soya?
"Ya. Gue bisa sendiri!" Ucapnya ketus sembari merebut kapas tersebut.
Soya tak akan memaksa kehendaknya. Jika mau mengobati sendiri ya sudah, ia jadi tak perlu repot-repot turun tangan. Soya hanya diam tak menyahuti perkataan Rey lagi. Ia juga mengamati pergerakan Rey dengan seksama.
"Shhh... perih banget," ucap Rey pelan namun masih terdengar di telinga Soya. Dan detik itu juga, Soya lantas merebut kapas tersebut.
"Eh!" Rey nampak terkesiap kaget dan langsung memandang ke arah sang empu.
"Biar gue bantu dah. Dan lu gak usah sok jual mahal banget!" Ujar Soya dengan nada ketus.
Rey hanya pasrah ketika Soya mengobati lukanya dengan hati-hati tanpa membuatnya merasa kesakitan. Sebab Soya tahu bagaimana sakitnya luka itu dan dulu ia sudah pernah mengalaminya.
Rey mengamati wajah Soya lekat-lekat. Ini pertama kalinya baginya bisa menatap Soya sedekat ini. Jujur, ia mengakui bahwa Soya itu cantik, Soya juga pintar dan termasuk perempuan yang mandiri. Tapi... satu hal yang tak ia suka dari Soya.
Soya... suka membully Nina.
Sembari sibuk membatin, netranya seketika tak sengaja melirik tangan kiri Soya yang berbalut perban. Itu kenapa? Apa karena di kafetaria tadi?
"Apa tangan lu itu sakit?" Secara spontan kalimat itu keluar dari mulut Rey hingga membuat Soya sedikit terkejut.
Soya mengikuti arah pandang Rey lalu kembali menatap lelaki di depannya ini. "Udah nggak sih," katanya. "Tapi kalo kena air mungkin perih." Ia kemudian terkekeh kecil.
Rey meringis mendengar perkataanya. "Kalau kayak gitu jangan sampai kena air," ucapnya lagi.
Soya lantas tertawa geli. "Lu lagi ngekhawatirin gue nih ceritanya?" Tanyanya.
Rey langsung mendengus kesal. "Gak usah kepedean lu!" Tukasnya. Dan setelah itu ia malah menarik sudut bibirnya saat melihat Soya tertawa lepas kala bersamanya.
Entah mengapa, Soya jadi terlihat sangat berbeda dari ia yang biasanya. Tidak seperti Soya si nenek lampir yang suka membully orang atau ia yang sering Rey lihat juga.
Ini.. apakah ini adalah sosok Soya yang sesungguhnya? pikirnya dengan perasaan yang nampak berkecamuk.
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...