Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
DNLM 24



Hari sudah menjelang malam, tapi Olive belum pulang juga. Hal itu membuat Aiden sangat khawatir. Sepulang dari kantor ia mendapat kabar kalau Olive pergi keluar rumah, tapi tujuannya nggak tau kemana.


Saat ini kepanikan mengusai Aiden, ia sangat cemas. Berkali-kali ia menelpon nomor Olive, tapi nomornya sama sekali tidak aktif.


Viona melihat kakak nya yang gelisah. Viona merasa bersalah telah membuat kakak nya panik. Ia berpikir Olive pergi karena dirinya ada dirumah.


"Maafin aku kak, sekali lagi aku penyebab kakak jadi panik dan sedih kayak gini. Seharusnya Viona pergi jauh saja. Viona hanya membawa masalag untuk kakak." Gumam Viona.


Tanpa sadar ada seseorang yang mendengar Viona berbicara.


'Gue yakin kalau Viona udah berubah, meakipun aku sama sekali nggak tau kejahatan nya dahulu. Tapi saat melihatnya seperti ini, aku yakin dia sudah berubah. Olive, lo harus bisa maafin Viona. Kali ini dia benar-benar tulus. Mungkin aku sama sekali nggak tahu rasa sakit yang lo rasain akibat perbuatan dari Viona. Tapi gue berharap lo bisa maafin Viona. Bagaimanapun juga, sekarang aku adalah keluarga dari Viona dan Aiden. Aku ingin membuat merek bahagia.' Batin Indira yang melihat Viona dari belakang.


" Vie, ini bukan salah lo. Ini taldir yang harus lo hadapi dan jalani. Gue yakin lo kuat dengan cobaan ini. Allah sayang sama lo Vie. Allah gak bakalan kasih elo cobaan ini melampaui batas kemampuan lo. Percaya sama gue." Kata Indira berusaha menasehati dan menghibur Viona.


Tanpa sadar, kata-kata yang disampaikan Indira membuat Viona termangu. Pasal nya, Viona selama ini sama sekali tidak menjalankan ibadahnya. Bahkan membaca Alquran pun ia tak paham..


'Ya Allah, apa mungkin ini teguran untukku. Selama ini aku sudah banyak berbuat dosa, tanpa memikirkan perasaan saudara hamba. Inikah teguran mu." Batin Viona.


"Makasih kak, kakak udah nasehatin aku. Kakak udah menyemangati ku. Mulai saat ini aku akan berusaha menjadi yang lebih baik lagi. Aku akan membuat Olive bisa memaafkan ku. Aku sayang padanya kak... hiks." Kata Viona yakin dan menitik kan air mata nya. Ia memeluk Indira erat.


***


Olive berbaring di ranjang Denia sambil menonton tv, ia juga memakan snack yang ada dikamar Denia setelah diizinkan oleh sang empunya kamar.


"Liv, ini udah jam 10. Elo gak pulang?" tanya Denia yang jengah dengan tingkah temannya itu. Ia khawatir akan terjadi sesuatu pada Olive jika gadis itu tidak pulang malam ini.


"Lo ngusir gue?" Denia ternganga mendengar Olive berbicara ketus seperti itu. Karena maksud Denia mengatakan hal itu bukan untuk mengusir sahabatnya. Melainkan bentuk rasa khawatir nya.


"Eh, enggak gitu Liv. Gue gadak maksud buat ngusir lo. Gue cuma khawatir aja sama lo. Apa nanti reaksi Aiden kalau lo nggak pulang, lo bakalan dimarahin." kata Denia mencoba menasehati sahabatnya.


"Gue tau Liv, gue tau lo sakit hati ngeliat Viona kembali kerumah Aiden. Tapi lo nggak boleh keliatan lemah Liv, lo harus menangkan hati Aiden sehingga Viona pergi dari sana." kata Denia membujuk Olive.


Mendengar hal itu membuat Olive kembali lunak.


"Lo bener Dee. Gue harus perjuangin Aiden meskipun saat ini gue bukan siapa-siapa untuk nya." kata Olive menjeda kalimat nya. Mendengar itu membuat Drnia tersenyum.


" Tapi, nggak sekarang." Denia kesal mendengar kelanjutan kalimat Olive.


"Gue mau tenangkan pikiran malam ini dirumah lo. Gue janji, besok gue bakalan balik kesana." kata Olive menggenggam tangan Denia agar gadis ity menyetujui permintaannya.


Denia yang melihat itu pun hanya pasrah dengan keputusan Olive.


"Oke, gue pegang omongan lo. Yaudah lo tidur gih." kata Denia membuat Olive tersenyum puas.


" Gue masih nonton, lo tidur duluan aja kalau ngantuk Dee. nnti gue matiin tv nya." kata Olive yang kemudian terfokus menatap tv yang menyala.


"Oke, gue tidur dulu ya." kata Denia yang mendapat anggukan kecil dari Olive.