Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 58 | Happy Birthday To You



"Al, Rhae! Risya kenapa?"


Soya berlari terengah - engah menghampiri Rhaegar dan Alby yang berada didalam kelas. Ia tadi mendengar kabar dari anak - anak lain kalau Risya pingsan dan telah dibawa entah kemana.


Ia tak menyaksikan langsung insiden itu karena saat permainan dibabak terakhir ia malah kebelet buang air kecil makanya tertinggal kabar.


Kalau Laura sedang tidak bersamanya. Laura juga sempat menonton Risya tadi dan hanya sebentar, setelah itu ia meminta izin kepada guru yang bersangkutan karena ada urusan mendadak diluar sekolah.


"Duduk dulu, Soy." Ucap Alby seraya menyodorkan sebotol air minum kepadanya.


Soya menarik sebuah kursi di dekat Alby, sedikit menjauh dan memberi jarak dengan lelaki itu. Ia mengatur nafas kemudian menatap kedua lelaki di depannya.


"Bekas lu ege! Ngapa dikasih ke gue?!"


Soya langsung menyemprot Alby dengan keluhan nya, pasalnya minuman yang diberikan lelaki itu sudah tinggal setengah. Masa ia meminum air bekas Alby?!


"Eh, enggak gitu." Alby gelagapan sendiri, ia benar menenggak air itu tapi sungguh mulutnya tak mengenai pinggiran botolnya.


"Lu tenang aja Soy, pinggiran botol nya gak kena mulut Alby, kok." Jelas Rhaegar seraya terkekeh melihat ekspresi kedua orang ini. Pasti Soya takut kalau disangka ciuman tak langsung dengan Alby.


Mendengar itu Soya lantas mengambil botol itu lantaran tenggorokannya juga kering dan meminum nya tanpa menyentuh sisi botol. Ditenggak nya hingga airnya tersisa seperempat dari botol.


"Jadi gimana?" Tanya Soya ketika sudah selesai menuntaskan rasa hausnya. Ia menatap kedua lelaki itu bergantian.


"Risya mimisan terus pingsan."


Soya sedikit mengernyit. Perasaan Risya terlihat baik - baik saja, anaknya terlihat aktif juga. Kenapa tiba - tiba begitu?


"Kena bola?" Tanyanya.


Alby menghela nafas panjang. "Bukan kena bola." Sahutnya.


"Terus kenapa bisa? Risya tadi masih baik - baik aja kan sama kita? Dia juga gak kelihatan sakit." Ujar Soya.


"Nah itu masalah nya, dia dalam kondisi sehat tapi tiba - tiba aja kayak gitu." Sambung Rhaegar.


"Apa dia sakit ya tapi pura - pura sehat?"


Seketika kedua lelaki itu terdiam dan saling melirik. Mereka tak tahu, tapi tadi juga sempat terlintas pikiran seperti itu.


"Sekarang Risya dirawat dimana? Kalian gak jengukin dia?"


"Nggak." Sahut Rhaegar. Bukannya apa, tapi Ia hanya tak ingin mengganggu waktu istirahat Risya jika mereka menjenguknya sekarang.


"Lah kenapa? Bukannya elu suka sama Risya ya?"


Pertanyaan Soya membuat Rhaegar tersedak ludah nya sendiri. Dari mana Soya tahu? Apa terlihat kentara sekali??


Alby sendiri terlihat biasa saja seolah tak kaget lagi jika ada orang yang mengatakan kalimat seperti itu.


"Emang apa hubungannya jengukin Risya sama gue suka?" Tanya Rhaegar sedikit sinis.


"Ya ada lah! Biasanya nih ya, kalau kita suka sama seseorang, dan apalagi seseorang yang kita suka itu lagi sakit. Pasti kita itu bakal khawatir terus mau cepet-cepet jengukin dia. Gak perduli lagi sama apapun, dipikiran kita cuma maunya ketemu dia. Lah elu kok santai aja disini? Malah nongki lagi!"


Alby langsung menyambar ucapan Soya. "Nongki kepala lu peyang!! Ini masih jam sekolah kali!" Tukasnya membuat Soya mencebikkan bibir dan menatap Alby dengan malas.


"Kata siapa sih lu? Tau dari mana?" Tanya Rhaegar.


"Dari muka lu, bego!"


"Emang kentara?"


"Ah elah! Orang buta aja kali yang gak bisa lihat kalau elu suka sama dia." Ujar Soya membuat Rhaegar menatap ke arah Alby.


Alby yang merasa ditatap pun mengernyit heran. "Apa sih? Kenapa liatin gue?"


"Emang iya?"


"Apaan?" Tanya Alby bingung.


Rhaegar langsung mendengus kesal, apa Alby sedari tadi tak mendengar mereka berbicara?


"Dasar budeg!" Keluh Rhaegar.


Soya menepuk meja sedikit keras hingga membuat kedua lelaki itu terdiam. "Tapi ngomong - ngomong, emang nya Risya mau sama elu?" Tanyanya pada Rhaegar.


"Kenapa mesti gak mau?"


"Terus kenapa mesti mau?" Tanya Soya balik. "Elu kan burik." Sambungnya membuat hidung Rhaegar kembang kempis.


"Heh! Ganteng gini dibilang burik, monyet noh yang burik!" Celetuknya.


Alby mendengus sambil menggeplak kepala Rhae. "Ngomong monyet nya gak usah liat ke gue bisa gak?!" Keluh lelaki itu ketika Rhaegar nampak melirik ke arahnya.


"Berantem aja deh kalian ditengah lapangan sana!" Ujar Soya seraya menghabiskan sisa air di botol tadi. "Berisik banget!" Lanjutnya, lagi.


"Elu juga sama, berisik!" Seru Alby dan Rhaegar hampir bersamaan.


Soya menyengir lebar menatap kedua nya dengan raut polos. Ia melirik ke atas seraya mengusap dagu dengan jari telunjuk dan jempolnya.


"Tadi kalian belum jawab pertanyaan gue. Risya nya dirawat dimana?"


"Di rumah sakit." Sahut Alby.


"Ya di rumah sakit mana?" Tanya Soya, lagi.


"Lu tau rumah sakit keluarganya Sigra?"


Soya seketika membulatkan matanya. "Jadi Risya dibawa ke sana?" Terkanya dan Alby pun mengangguk kan kepala.


Alby pun tahu karena diberitahu oleh Rhaegar. Tapi tak mengerti Rhaegar sendiri tahu dari mana.


Soya melongo seolah tak percaya. Padahal bisa ditangani di klinik sekolah karena disana juga lengkap fasilitasnya. Tapi ini langsung dibawa ke rumah sakit itu?? Oleh Sigra lagi?


"Pulang dari acara ini kita kesana, yuk!" Ajak Soya. "Gue mau tau kabar dia." Lanjutnya lagi.


**


Tak terasa acara hari ini telah selesai, pengumuman pemenang dan pembagian hadiah juga telah dilaksanakan.


Soya mengira acara ini akan selesai cepat seperti tahun kemarin. Ternyata ini menghabiskan waktu sampai sore hari bahkan hampir menjelang malam.


"Nggak apa-apa. Lagian lu juga capek kan karena acara ini? Jadi lebih baik istirahat dulu di rumah. Kita masih bisa buat jengukin Risya besok hari, gak perlu dipaksain harus hari ini."


Soya menoleh menatap Alby yang tersenyum tipis ke arahnya. Ia pun mengangguk lemah.


"Benar, besok masih ada waktu. Jadi lu gak perlu khawatir Soya."


Alby menyentil kening Soya pelan kala gadis itu terlihat melamun. Soya meringis karena ini lumayan sakit bagi nya. Ia menatap lelaki itu dengan sinis.


"Apa sih?!" Keluhnya.


"Sialan! Nyumpahin gue mati, lu?!" Ujar Soya, kesal.


"Bukan gue ya yang bilang." Sahut Alby dengan santai.


Rhaegar menepuk pelan pundak lelaki itu. Yang ditepuk menoleh kan kepala dan menampilkan raut bingung.


"Pulang, monyet! Keburu malem." Ucapnya, ia menatap ke arah Soya lagi. "Lu pulang naik apa? Mau bareng kita gak?"


Soya menggelengkan kepala. "Gue naik mobil, kok. Kalian duluan aja." Katanya seraya menilik jam di pergelangan tangan.


Rhaegar mengangguk kan kepala. "Kalau gitu kita duluan ya. Lu hati - hati." Ucapnya sebelum ia dan Alby meninggalkan Soya seorang diri.


Soya berbalik dan hendak pergi ke arah mobil nya. Namun tiba - tiba ia mendengar seseorang memanggil namanya.


"Ila." Ujarnya.


Soya tak menoleh dan terdiam sejenak takut salah dengar, ia lirikkan matanya kedepan sekilas. Agak sepi disini dan sekarang juga sudah mau menjelang malam. Kalau diparkiran motor sih masih rame karena banyak yang memilih memakai kendaraan roda dua itu.


Soya menghela nafas dan melangkahkan kaki lagi. Namun kali ini ia benar - benar terhenti kala seseorang menarik lengannya.


Ia lantas menoleh menatap genggamannya kemudian beralih menatap orang yang menarik nya.


Soya mengerjap cepat menatap siapa yang berdiri di depannya. Dan lantas menarik cepat lengannya.


"Eh, Van? Elu yang manggil gue?" Tanyanya.


Jadi tadi bukan suara hantu? Ia kira yang memanggil dia tadi si makhluk yang tak bisa manusia lihat dengan mata telan**ng. Ternyata bukan toh, tak mungkin juga sih ada hantu disini.


Ia lihat teman - teman lelaki itu pun berada dibelakangnya. Tadi mereka tak jadi menyusul Sigra karena ada sesuatu hal yang tidak bisa mereka tinggalkan.


Relvan tak langsung menjawab dan hanya menatap Soya sejenak. Lalu meraih tangan gadis itu lagi, ia menaruh sebuah kotak yang tak terlalu kecil dan juga tak terlalu besar dengan pita berwarna cream yang melintang cantik diatas nya.


"Buat lu." Ujarnya seraya berlalu pergi dari hadapan Soya.


Soya sendiri tak sempat bertanya apalagi berterimakasih padanya. Hanya bisa melongo ditempat sambil menatap kotak yang berada di tangannya. Angga juga sempat menepuk pelan kepalanya sambil tersenyum manis.


Tidak tahu deh kenapa, tetapi ini apa ya??


Ia menatap lekat sebentar kemudian membawanya masuk ke dalam mobil. Setidaknya ia tak seperti lelaki itu yang tak pernah menghargai pemberian orang. Jika ia mau, ia juga bisa membuang ini tanpa perlu membukanya.


Selang beberapa menit, ia pun tiba di perkarangan rumah.


Soya pulang dalam keadaan tubuh yang letih dan mata yang sayu karena lelah. Ia berjalan gontai memasuki rumah setelah memasukkan mobilnya ke dalam garasi.


Benar kata Alby, ia pasti lelah karena acara ini dan tak memungkinkan jika menjenguk Risya sekarang.


Ternyata orang lain lebih bisa mengerti dia ketimbang dirinya sendiri. Ia malah ingin memaksakan diri.


Soya melangkah pelan, bahkan terkesan sangat lamban namun tak selamban pergerakan Kukang.


Tok! Tok! Tok!


"Bunda, Ila pulang!" Pekiknya dari luar.


Tak terdengar sahutan dari dalam membuat Soya dengan lekas memutar gagang pintu. Klek! Oh, ternyata tidak terkunci.


Ia masukan kepalanya dulu kedalam rumah baru tubuhnya. Soya mengernyit menatap seisi rumah yang terlihat gelap, ia tengok lagi ke luar rumah yang terlihat terang karena lampu. Berarti tak mati lampu? Lalu ini kenapa?


Soya menutup pintu dengan rapat, setelah itu ia tatap sejurus kedepan.


"Bunda, Ila pulang!" Ucapnya sekali lagi. Rumah ini seperti tidak ada orang, memangnya Bunda kemana? Abang juga kemana?


Entah kenapa Soya tak berniat melangkah ke arah saklar lampu malah melangkah ke arah ruang tamu.


Saat baru tiba disana ia dikejutkan dengan lampu yang tiba - tiba menyala dan suara letupan dari party popper yang membuat isi nya berhamburan di atas kepalanya.


"Happy birthday!!"


Soya terkesiap dan hampir saja terjungkal jika Elio tidak menahan tubuhnya dengan benar.


"Kenapa lu kaget? Kayak abis liat setan aja." Ujarnya membuat Soya lantas menginjak kakinya karena kesal.


"Elu setannya!" Ucap Soya.


Ia menatap Bunda dengan bibir yang mengerucut. "Bunda, ih! Bikin Ila kaget tau. Hampir aja jantungan." Keluhnya.


"Lebay! Begitu aja udah jantungan." Soya mendecakkan lidah sambil memandang Elio dengan malas. Ikutan saja! Kau tidak diajak!!


Soya mengalihkan pandangan ke arah bunda yang terkekeh menatap mereka. "Bunda, ini apa?" Tanyanya seraya menatap kue yang berada ditangan Bunda.


"Kamu lupa? Ini kan hari ulang tahun kamu, sayang."


Pupil mata Soya seketika membesar. Yang benar ia ulang tahun? Memang nya ini tanggal berapa? Dan kenapa ia sendiri bisa lupa?


Bukan ingin kepedean, tapi jangan - jangan kotak yang diberikan Relvan tadi adalah hadiah untuk ulang tahunnya?? Benarkah??


Soya masih saja melongo hingga membuat Bunda tertawa kecil. Ia menyalakan lilin seraya berucap, "Happy birthday, sayang."


"Happy birthday, Ila." Ujar Elio juga seraya mencium kepala ku lembut.


Sebelum sempat meniup lilin, Soya lebih dulu menitikkan air mata dan menangis haru di pelukan Elio. Sungguh, ini momen terindah yang pernah ia miliki bersama dengan dua orang yang paling ia cintai ini.


Semoga doanya selalu bisa menyertai mereka dan juga orang - orang yang di sayanginya.


"Sehat selalu untuk kalian semua."


Fyuh!!


Lilin tersebut mati, bersamaan dengan tepukan tangan meriah dari Bunda dan Elio yang terlihat bahagia menatap sang anak sekaligus adik dari Elio yang tengah menangis haru.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...