
Olive sedang menunggu Salsa dan Denia sambil menonton tv, dia sudah bersiap-siap untuk dinner. Ponselnya berdering menandakan whatsapp masuk.
Salsa comel
Liv, lo udah siap-siap belum? Gue sama Denia udah mau nyampe rumah lo nih.
Olivia
Alah, lo mah dari tadi ngomong gitu mulu. Udah jamuran nih gue nunggu, lo sama Denia dimana sih?
Salsa comel
Dih, ngambekan. Mendingan lo turun, kita udah didepan rumah lo. Cepetan!
Olivia langsung turun dari kamarnya dan keuar rumah. Belum sempat membuka pintu, Olivia dihadang oleh Viona.
"Mau kemana lo?" ucap Viona memandang sinis Olive.
"Bukan urusan lo, minggir! " ucap Olive tak kalah sinis.
"Lo mau mangkal ya hahaa." Olive melihat Viona yang tertawa dengan santai.
"Kalau iya kenapa? Lo takut bersaing sama gue?" ucap Olivia santai.
"Gue? Takut bersaing sama lo? Lo bukan saingan gue. Lo gak pantas saingan sama gue." ucap Viona membanggakan dirinya.
"Iya bener banget, gue gak pantes emang saingan sama lo." Viona menatap rendah Olive
"Lo kan sampah!" sambung Olive membuat Viona sangat kesal.
"Minggir! Ganggu aja lo." ucap Olive mendorong Viona dari depan pintu dan berhasil keluar dari rumah.
Olive melihat mobil Denia di seberang rumahnya. Olive menghampiri mereka. Dan masuk kedalam mobil itu.
"Lama banget sih Liv, jamuran nih gue." ucap Salsa meniru gaya bicara Olove di telpon tadi.
"Dih, jamuran mana sama gue." Olive menatap sinis Salsa. Membuat Salsa tertawa melihat kekesalan Olive.
"Iya Liv, kok lama banget sih? " tanya Denia
"Tadi ada mak lampir cegat gue depan pintu." jawab Olive tenang.
"Si ****** Viona nih pasti." kata Salsa
"Iyalah, siapa lagi maklampir yang suka cari gara-gara sama gue pas malem." ucap Olive membuat Salsa dan Denia tertawa lagi.
"Ngomong-ngomong tentang Viona, kemarin gue lihat dia di hotel x sama cowok loh Liv, kayaknya Viona jatuh cinta banget sama tuh cowok." ucap Denia membuat Olive melupakan kekesalannya.
"Nah, beneran ****** kan. Bisa aja dia di sewa tuh." ucap Salsa menanggapi.
"Tapi Sal, cowoknya tuh ganteng banget. Orang konglomerat deh kayaknya." lanjut Denia menjelaskan.
"Gue gak peduli Dee." ucap Olive ketus.
"Eh eh.. tunggu dulu Liv, bukannya lo harus peduli ya." ucap Salsa semangat sambil menyetir.
"Maksud lo?" tanya Olive heran.
Salsa menghentikan mobilnya didepan cafe z
"Gini Liv, bukannya maklampir kayak jatuh cinta banget sama tuh cowok. Kalau beneran maklampir jatuh cinta, kenapa nggak lo deketin aja cowoknya. Biar si ****** Viona kebakaran jenggot." ucap Salsa yang mendapat anggukan dari Denia.
"Bener juga ide lo. Jangan biarin hidup mereka tenang Liv." ucap Salsa semangat.
"Kita bakal bantu elo Liv." ucap Denia.
"Iya Dee, kita bakalan bantu Olive untuk nyingkirin parasit nggak berguna itu." ucap Salsa.
"Yaudah yuk, kita masuk ke cafe. Atau mau disini aja." ucap Olive menyadarkan kedua sahabatnya.
"Ya keluarlah." ucap mereka berdua.
Seaampainya didalam Cafe, Olive dan Denia disambut hangat oleh pelayan Cafe. Cafe z ini milik Salsa. Sejak mereka bertiga kenal, mereka selelu nongkrong dicafe ini. Jadi tak heran jika semua pelayan disini mengenal Denia dan Olive.
"Kalian berdua mau pesan apa? Disini ada menu baru loh, mau coba gak?" ucap Salsa menaik turunkan alisnya.
"Resep siapa tuh Sal?" Tanya Olive.
"Resep Mami Liv hehee. Enak banget loh." ucap Salsa meyakinkan.
"Oke Dee, lo pesan apa Liv?" tanya Salsa pada Olive.
"Gue juga deh, sama yang biasa gue pesen." kata Olive.
"Oke deh, gue kebelakang dulu." Salsa meninggalkan mereka berdua dan berlalu ke arah dapur.
"Liv, lo mau kuliah dimana? Bentar lagi kan kita tamat." ucap Denia mencairkan suasana hening.
"Gue mau disini aja Dee, gimana pun juga gue harus tetap disamping Bokap." ucap Olivia sendu.
"Yaudah, gapapa Liv. Gue tau sebenarnya lo pingin ke USA kan.. mungkin bukan takdir lo Liv, semangat terus dong." Ucap Denia menyemangati Olive.
"Iya Dee, Kalau lo dimana Dee?" tanya Olive.
"Gue mau ke Malaysia Liv, gue mah sekolah bisnis. Mau ngelanjutin perusahaan bonyok yang ada disana." jawab Denia.
"Yah kita bakalan jauh dong." ucap Salsa yang tiba-tiba datang.
"Emang lo mau lanjut dimana Sal? " tanya Denia.
"Gue di Jerman, tempat Grandpa gue. Kalian tau sendiri kalau gue sering ditinggal ortu untuk urusan bisnis. Jadi mereka khawatir sama gue, dan mereka sepakat buat kuliahin gue di Jerman." ucap Salsa dengan nada Sendu.
"Gapapa, yang penting kita jangan misc komunikasi aja." ucap Olivia
"Pasti dong." kata Salsa.
"Permisi mbak, ini pesanannya." ucap salah satu karyawati di Cafe Salsa.
"Iya letakkan aja disitu." ucap Salsa.
"Yaudah yuk, makan dulu. Ntar kita lanjut ngobrol lagi."
ucap Denia yang sudah keroncong.
🐨
Olive pulang kerumahnya hampir jam dua belas malam. Ferdi menunggu Olive diruang tamu dengan perasaan kuatir. Hal itu membuat Dewi dan Viona senang bukan main, pasalnya Olivia akan dimarahi habis-habisan oleh Ferdi.
"Mah, aku gak sabar lihat Olive dimarahin sama papah. Pasti sangat seru melihatnya menangis." ucap Viona berbisik pada ibunya.
"Iya, biar tau rasa tuh anak." jawab Dewi menyeringai.
Tak lama, pintu utama terbuka menampilkan Olive yang baru masuk.
"Olive! Apa pantas anak perempuan keluar jam segini!?" ucap Ferdi yang berusaha menahan amarahnya. Namun, ucapan Ferdi tersebut dianggap angin lalu oleh Olivia yang berjalan cuek menuju tangga.
"OLIVE!!!" Ferdi berteriak membuat Olive menghentikan langkahnya.
"Apa sih? Jangan marah-marah dong. Ntar kalau dah tua, tante cari yang baru lagi." ucap Olivia melirik sinis Dewi dan Viona di samping tangga.
"Kamu bisa sopan dikit gak Olive? Kasian papah nungguin kamu, papah kuwatir sama kamu." ucap Viona lembut membuat Olive mual.
"Aduh, perut gue mual deh kayaknya. Gara-gara dengar suara lo sih!" Ucap Olivia sambil menunjuk Viona di akhir kalimatnya.
Hal itu membuat Ferdi semakin marah membuatnya menampar Olivia.
"Keterlaluan kamu Olive, apa ini yang diajarkan disekolahan mu? Kenapa sekarang kau tumbuh jadi anak yang membangkang." Ucap Ferdi.
"Heh! Lo yang buat gue kayak gini. Andai aja lo nggak nikah sama perempuan ****** itu, gue gak bakalan kek gini. Ini semua gara-gara lo tau gak!" ucap Olive menyalahkan Ferdi.
Viona pun tercengang melihat keberanian Olive terhadap Ferdi. Sama halnya dengan Dewi.
"Pergi kamu dari sini Olive! Anakku gak punya sikap seperti ini. Atau jangan-jangan kau bukan darah dagingku, mungkin kamu anak bundamu dengan selingkuhannya!" ucap Ferdi membuat Olive kecewa.
Olive tak menyangka Ferdi akan berkata seperti itu padanya. Namun, kesedihan itu tidak ditunjukkannya.
"Iya! Dan lo juga bukan Ayah gue lagi. Atau emang benar gue bukan anak lo. Karna lo gak pernah ngertiin perasaan gue." ucap Olive membuat Ferdi semakin marah.
"OLIVE!! kam..."
"Dan gue gak akan pernah pergi dari sini, karena ini rumah bunda. Perusahaan juga punya bunda. Jadi ahli warisnya sudah dipastikan adalah gue, anaknya bunda. Bukan Viona anak si ******." ucap Olive sambil menunjuk Viona dan Dewi.
"Dan elo, mendingan lo aja yang pergi dari sini. Lo gak malu? Setelah ngehina bunda gue, lo malah nikmatin harta yang ditinggalkan bunda? Hah!. Mendingan lo pergi sekalian bawa dua ****** lo ini!" ucap Olive mengalihkan pandangannya dari Ferdi dan berlari kekamar.
Olive sungguh sangat jijik melihat wajah Ferdi, satu-satunya orang yang dia harapkan ternyata mengkhianatinya.
"kenapa Ayah berubah setelah Bunda pergi? Olive kangen Bunda dan Ayah yang dulu." ucap Olive lirih. Olive terus menangis sambil memeluk foto keluarganya. Sampai akhirnya Olive tertidur.