Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 134



"Eunghh, sshh.."


Risya meringis kecil sembari mengurut pelipis kepalanya yang terasa sangat pusing. Bersamaan dengan itu, ia juga membuka mata dengan perlahan, mengerjap dan menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih.


Ini, di mana?


"Sudah sadar, Risya?"


Suara seorang pria langsung mengalihkan perhatiannya. Risya menengok menatap ke arah seorang dokter yang tersenyum hangat. Dokter? Apa ia berada di rumah sakit? Tidak, sepertinya bukan.


Matanya seketika langsung bergulir mengamati seluruh isi ruangan, ruangan yang lumayan ia kenali. Ini UKS GIBS.


Dokter tersebut tersenyum kecil menatap murid yang terbaring itu. Tangannya meraih segelas air teh di atas meja. " minum ini dulu, kamu masih kayak orang linglung," ucapnya.


Risya menatap dokter yang menyodorkan segelas teh kepadanya, sepertinya itu teh hangat. Ia kemudian mencoba beranjak untuk duduk. mengambil minuman tersebut dan meneguknya sedikit.


Dokter kembali menyambut gelas tersebut dan menaruhnya kembali setelah Risya sudah meminumnya. Dokter itu lalu mendudukan diri di kursi yang ada di dekat ranjang.


"Kamu udah ngerasa baikan? Atau ada sesuatu yang ingin kamu keluhkan?"


Melihat Risya menganggukkan kepala, dokter pun tersenyum lega. Tadi Rhaegar membawanya dalam keadaan yang sangat tidak memungkinkan, pengaruh obat membuat Risya nampak tidak berdaya.


"Syukurlah kalau kamu memang sudah lumayan baikan."


Risya lantas mengulas senyuman tipis. "Om Dokter, tadi saya-"


Perkataanya langsung terpotong karena ucapan dokter. "Iya, kamu tadi dalam pengaruh obat. Apa kamu ada minum sesuatu sebelumnya?"


Dokter bertanya hingga membuat Risya terdiam, ia terdiam sembari mencoba mengingat satu hal yang telah dilupakannya. Minum sesuatu, ya? Ia ingat sebelumnya, ia ada meminum air mineral yang diberikan oleh Soya.


Eh? Risya mengernyit seketika. Benar, ia meminum itu sebelum masuk ke kelas. Setelah itu, awalnya ia tak merasakan apa-apa tapi lama-kelamaan ia merasakan panas pada tubuhnya.


Ia menatap sang dokter di depannya. "Saya tadi ada minum air," sahutnya.


"Air apa?"


"Air mineral biasa, Dok."


Alis dokter langsung bertaut. "Kamu membelinya sendiri atau diberi oleh seseorang?" Tanyanya.


Risya tak langsung menjawab pertanyaannya hingga membuat dokter terdengar menghela nafas. "Apa masih ada sisa air yang kamu minum?" Tanya dokter sambil menatap Risya.


Risya melirikkan matanya ke atas sesaat. "Ada, botolnya juga masih ada di bawah laci meja."


"Nanti bisa bawa ke sini, bisa? Saya hanya mau memastikannya, sepertinya ada campuran obat Aprodisiac di dalamnya," tutur sang dokter.


Aprodisiac? Itu, kan, sejenis obat perangsang, tapi benarkah Soya setega itu dengannya? Namun ia tak yakin benar kalau Soya melakukan hal itu.


"Oh iya, Dokter, ngomong-ngomong yang bawa saya ke sini siapa, ya?" Risya menyengir karena tak bisa mengingat itu siapa, wajahnya hanya terlihat samar diingatannya.


"Teman kamu," ujar dokter.


"Temen saya bukan cuma satu, dok." Risya terkekeh setelah itu.


"Rhaegar," kata sang dokter.


Mata Risya langsung membulat, jantungnya tiba-tiba saja berdegup dengan kencang. Ia tadi tak berbuat kesalahan, kan, pada laki-laki itu? Ataukah Rhaegar bakal ilfil padanya?


"Tidak usah memikirkan yang macam-macam, Rhaegar tidak berbuat yang aneh-aneh padamu."


Risya meliriknya dengan kaku, lalu mengangguk sambil tersenyum kecut. "Apa sih dok, saya juga gak mikir macam, kok!" Ujar Risya sembari mendengus.


Dokter hanya tertawa kecil mendengar ucapannya. "Istirahatkan tubuhmu, saya tinggal dulu sebentar. Nanti semisal kamu merasakan sesuatu yang aneh lagi, kamu bisa berbicara pada saya."


"Oke!" Seru Risya.


Dokter tersenyum lalu mengusap kepala Risya sebelum ia meninggalkannya. Sedangkan Risya sendiri nampak terdiam setelah itu dan merenung sejenak. Dokter pun sudah berlalu dari hadapannya dan meninggalkan dirinya seorang diri.


Ia menatap lurus kedepan dengan pikiran yang merajalela kemana-kemana. Risya lalu mengernyit sembari menjangkau ponselnya yang ia lihat tergeletak di atas meja di dekat gelas teh. Jarinya lalu bergulir mencari kontak seseorang dan mengirimkan sebuah pesan pada nomor tersebut.


Drrtt... Drrtt..


Risya terkesiap kaget kala melihat Rhaegar langsung menghubunginya, padahal Risya baru saja mengirimkan pesan pada laki-laki itu tapi malah langsung di telepon. Tak perlu berlama-lama, tombol hijau itu langsung digesernya hingga panggilan tersebut tersambung satu sama lain.


[...]


"Iya, lu gak usah khawatir, Gar. Dan makasih udah bantu nganterin gue ke sini."


[...]


"Lu mau ke sini? Bareng Alby?"


[...]


"Oh bagus deh," gumam Risya dan mungkin itu masih bisa didengar oleh si penelpon. "Eh, Gar, lu bisa bawain air mineral yang ada kolong meja gue gak?" Ia kembali bertanya.


[...]


"Gak apa-apa, sih. Bawain aja, bisa gak?"


[...]


"Oke, kalau gitu gue matiin, ya?"


Setelah itu, sambungan telepon pun terputus seketika. Risya memandang ponselnya sambil menghela nafas panjang. Kepalanya menunduk menatap baju seragamnya yang terlihat rapi tanpa ada yang terbuka.


Ia menggigit bibir bawahnya, beruntung ia tidak melakukan sesuatu yang bisa merugikan dirinya sendiri atau orang lain. Hal yang bisa merusak masa depannya atau semacamnya. Saking pusingnya memikirkan hal itu, Risya kemudian merebahkan diri sambil memejamkan matanya, ponsel sudah ia taruh kembali di atas meja. Badannya terasa begitu lelah, sepertinya ia membutuhkan istirahat yang banyak untuk saat ini.


***


Sedangkan di dalam ruangan kelas, Rhaegar menatap layar ponselnya yang berwarna hitam alias layarnya tidak dihidupkan. Beberapa detik yang lalu sambungan telepon antara dirinya dan Risya sudah terputus.


Alby yang tengah bermain game pun melirik ke arah Rhaegar sekilas. "Risya udah sadar, Rhae?" Tanyanya. Kenapa Alby tahu? Karena walaupun matanya fokus pada ponsel tetapi telinganya masih bisa mendengar obrolan yang dilakukan oleh temannya itu.


Rhaegar balas menatap Alby yang duduk di depan. Ia mengangguk sekali dan menjawab, "udah, Al."


"Bagus deh kalo gitu," sahutnya.


Keheningan kembali tercipta di antara kedua pemuda itu. Setelah guru yang mengajar tadi keluar, tak ada guru yang masuk lagi setelahnya. Mungkin para guru juga sedang sibuk hingga menelantarkan anak muridnya seperti sekarang ini.


Alby lalu kembali fokus pada ponsel di tangannya. Sebentar lagi jam istirahat kedua tiba, mungkin sekitar sepuluh menit kemudian baru lonceng istirahat berbunyi.


Rhaegar terlihat membungkukkan tubuhnya, memiringkan kepalanya agar bisa menilik laci meja milik Risya. Pergerakannya itu lantas menyita perhatian Alby. Hingga membuat laki-laki itu langsung bertanya padanya.


"Nyari apa, Rhae?"


"Botol," ujar Rhae singkat.


"Hah?" Alby langsung menatap penuh ke arahnya. "Buat apaan?" Tanyanya bingung. Dengan wajah bingungnya, Alby memandang Rhaegar yang meletakan sebuah botol di atas meja.


"Gue rasa ada sesuatu yang salah sama air ini." Rhaegar menyeletuk sembari menilik lekat botol tersebut.


"Salah? Kenapa lu bisa ngomong gitu?" Alby lalu mematikan ponselnya dan menyimpannya di dalam saku celana. Ia juga ikutan menilik lekat botol air mineral yang ditatap oleh Rhaegar.


Rhae tak menjawab, laki-laki itu malah membuka tutup botol tersebut dan mendekatkan hidungnya pada pinggiran botol.


"Ada bau aneh gak?" Alby kembali bertanya dan menatap Rhaegar dengan seksama.


"Kalau obat perangsang larut di dalam air kayaknya gak bakal tercium bau apa-apa dah."


"Obat perangsang?" Alby bergumam dengan wajah cengo. Lalu ia membelalakkan matanya setelah saat dengan perkataan Rhaegar. "Gila! Yang bener aja lu, ada obat perangsang di dalam situ?!"


Celetukannya seketika membuat satu kelas menatap penuh ke arah pemuda itu. A-apa yang barusan mereka dengar? Obat perangsang? Ucap mereka dalam hati.


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...