Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 78 | Mengunjungi Relvan



Jam pulang sekolah tak terasa sudah berdentang. Kebetulan Sigra, Rizhan, Angga dan Rey berjalan beriringan dengan Nina yang hendak pulang.


"Kita nanti mau jengukin Relvan, lu mau ikut gak?" Nina menatap Rey lalu melirik - lirik ke arah tiga orang teman cowok itu.


"Emang boleh?" Tanya nya, nampak ragu.


"Boleh kok, gak ada yang larang juga." Rey lantas menyikut lengan Angga pelan. "Iya, kan?" Tanya nya seolah memaksa Angga untuk menyahut perkataan nya.


Angga memutar bola mata nya lalu mengangguk dengan malas. "Ya," sahut nya membuat Rey nyengir kuda ke arah Nina.


Nina seketika merekah kan senyum di bibir nya. "Ya udah, kalau gitu kita ketemu di rumah sakit aja ya kak. Nanti aku yang ke sana."


"Naik apa?"


"Naik taksi."


"Ikut kit-mmph!" Angga lantas menutup mulut Rey sambil tertawa canggung. "Ahaha, kalau gitu lu hati - hati ya. Nanti kita sharelock tempat nya."


Ia menarik Rey pergi menjauh dari perempuan itu. Rizhan tak ayal juga melambaikan tangan tanda perpisahan ke arah Nina. Nina jadi sedikit bingung dengan mereka, mereka kenapa sih? Batin nya dalam hati.


**


"Risya masih gak ada perkembangan nya ya Rhae?"


Rhaegar yang ditanya pun menoleh sekilas menatap Soya. "Gak ada. Tapi kemarin dia tiba -tiba aja langsung drop."


"Drop?" Soya menatap Rhae dengan kernyitan. Rhaegar mengangguk membenarkan.


"Detak jantung nya melemah," sahut cowok itu.


"Terus keadaan nya sekarang gimana? Kalian ada jengukin dia?" Soya semakin khawatir akan keadaan Risya, sudah belum diberikan kesadaran sekarang malah ditambah lagi cobaan nya.


"Kita belum ada jengukin," sahut Rhaegar sambil terus melangkah kedepan.


"Jadi lu tau dari mana Rhae?"


"Dapet informasi doang," sahut cowok itu, lagi. Soya hendak mengatakan sesuatu namun tertahan karena perkataan Alby.


"Kita gak bisa leluasa buat jengukin dia, Soy," ujar Alby seolah tahu apa yang terpikirkan oleh Soya. Gadis itu menatap Alby dengan raut tanya.


Rhaegar menghembuskan nafas ke udara. "Lu perlu minta izin buat jengukin dia." Sambung nya membuat perhatian Soya kini teralih kepada nya.


"Kemana?" Tanya Soya.


"Ke Daddy nya." Rhaegar memasukan satu tangan ke saku celana. "Yang boleh jengukin dia sebenar nya cuma anggota keluarga aja. Misal orang yang gak berkepentingan kayak kita ini mana boleh leluasa ke sana."


"Kenapa gitu?" Tanya Soya. Apa benar perkataan Rhae itu? Tapi kenapa ya? Kayak orang penting aja. Eh!? Apa jangan - jangan Risya itu anak...


Rhaegar mengangkat bahu nya lalu berbelok ke arah parkiran kendaraan, sedangkan Soya ke arah parkiran mobil. Dan berpisah lah mereka diantara kedua jalan.


"Karena Risya adalah orang terpenting di kehidupan mereka, juga di kehidupan gue," gumam Rhae seraya menaiki motor nya.






Di dalam ruang rawat inap VVIP itu terdapat seorang pemuda yang duduk sambil menyandarkan punggung nya pada headboard ranjang pasien.


Ia memainkan ponsel dan seketika menoleh ke arah pintu yang terbuka, melihat sang Papa nya datang menghampiri nya.


Pria dengan umur sudah lewat kepala tiga itu melangkah sambil tersenyum mendekat ke arah putra nya. Ia menatap putra nya dengan tatapan teduh.


"Gimana keadaan kamu?" Tanya nya dengan suara serak khas pria dewasa.


Putra nya nampak terdiam hingga membuat nya khawatir. "Relvan." Pria itu menyentuh dahi Relvan dan membuat sang putra tersentak.


"Kamu kenapa?" Relvan menggeleng pelan. Ia menatap sang Papa dengan sangat.


"Papa tau Relvan disini?" Tanya nya. Papa Relvan menganggukkan kepala.


"Papa yang bayarin biaya rumah sakit?" Terka nya namun sang Papa nampak nya ingin mengelak tebakan nya.


"Kata siapa?"


Relvan mendengus lalu menatap ke arah lain. "Rey bilang biaya rumah sakit udah dibayar, tapi gak tau sama siapa. Pasti papa kan?"


Papa Relvan tersenyum tipis. "Mau siapa yang bayar biaya rumah sakit itu gak penting, jadi jangan terlalu dipikirkan. Kamu tidak perlu risau, yang penting sekarang kamu baik - baik aja dan kembali sehat kayak biasa," tutur nya lembut.


Relvan mengedip pelan berusaha menahan tangisan. Papa memang yang terbaik dan akan selalu jadi yang terbaik untuk Relvan. Sering-seringlah beri Relvan perhatian, Relvan merindukan itu.


Papa Relvan menoleh menatap makanan yang disediakan oleh rumah sakit masih terlihat utuh diatas meja seperti belum tersentuh.


"Belum kamu makan?" Relvan yang paham maksud Papa nya pun menggelengkan kepala nya.


"Gak enak. Relvan mau masakan rumah," rengek nya. Sungguh benar - benar tak enak, rasa nya hambar.


"Makan dulu, lalu minum obat nya," desak sang Papa.


"Relvan udah sehat, Pah. Lagian cuma kebentur doang sama lecet dikit." Ia memperlihatkan luka nya ke hadapan Papa.


"Itu sama aja, nama nya kamu belum sehat," sahut Papa Relvan kala melihat luka putra nya belum sepenuh nya pulih.


Relvan menghela nafas panjang. "Rumah sakit sepi, teman - teman Relvan pada sekolah semua. Kenapa Relvan gak di rawat di rumah aja? Kan rame juga." Ia memelas tapi sang Papa malah menatap nya dengan datar.


"Papa sangat tau kalau kamu dirawat di rumah, kamu pasti bakal kabur dan nekat datang ke sekolah." Relvan tercekat mendengar penuturan Papa nya.


"Gak kok." Ia langsung berdalih atas fakta itu. Terkurung itu rasa nya tak nyaman, ia ingin bebas tanpa harus terus berada didalam sangkar.


Papa Relvan menaikan sebelah alis, wajah nya sangat meragukan jawaban putra nya. "Lagian kalau di rumah sakit, emang papa yakin kalau Relvan gak kabur juga?"


Papa Relvan meraih semangkuk bubur di atas meja. "Cepetan makan. Mau papa suapin?" Tanya nya pada sang putra.


Relvan terlihat pasrah, ia mengambil alih mangkuk itu dari tangan Papa. "Gak. Relvan bisa sendiri," sahut nya seraya menyuap sesendok bubur ke dalam mulut nya.


"Kalau Relvan mau muntah gara - gara makan bubur ini gimana?" Relvan menatap polos sang Papa. Wajah nya itu terlihat lugu hingga membuat Papa Relvan ingin tertawa.


Tidak jadi, jadi ia ganti dengan mengernyit saja. "Ya tinggal kamu muntahin. Memang nya susah?" Tanya Papa Relvan. Bingung dengan anak nya sendiri.


Baru satu suapan yang masuk ke dalam mulut Relvan tiba - tiba ada seorang tamu yang masuk ke dalam ruangan.


"Yes! Gak jadi makan bubur." Relvan bersorak dalam hati tapi tak sampai satu detik kebahagiaan nya seketika luntur mendengar perintah sang Papa.


"Abisin." Papa Relvan menatap putra nya sehingga Relvan terpaksa mengurungkan niat nya.


"Kak Relvan, aku bawain buah tangan." Nina trsenyum menghampiri relvan, ia juga menatap ke arah Papa Relvan seolah meminta penjelasan siapa pria itu.


"Papa gue, Nin," ucap Relvan menjawab tatapan bingung Nina.


"Ah, halo om!" Sapa nya ramah.


Papa Relvan menganggukkan kepala. "Pacar kamu, Van?" Ia menatap Relvan. Pertanyaan nya membuat pipi Nina mengeluarkan semburat merah jambu, uh! Pipi nya terasa panas.


"Buk-"


Brak!


Relvan tersentak melihat tiga manusia yang menerobos masuk tanpa tahu tata krama. Tidak sopan sekali mereka, untung teman ya, kalau tidak sudah ia bogem satu persatu.


"Relvan!! Eh, ada O'om." Rey nyengir kaku. Kenapa Relvan tidak bilang kalau Papa nya datang ke sini?!


"Siang, Om!" Sapa Angga juga. Papa Relvan mengangguk sambil tersenyum ke arah mereka. Ia beranjak dari duduk nya seolah memberikan waktu luang untuk Relvan bersama teman - teman nya.


"Papa tinggal dulu. Habiskan makanan mu, lalu minum obat." Pria itu mengusap kepala Relvan. Putra nya sendiri malu di perlakukan seperti bocah di depan teman - teman nya.


"Rey, awasin Relvan. Kalau dia gak mau minum obat laporin ke Om." Papa Relvan menepuk pundak Rey membuat Rey langsung membentuk gaya hormat pada nya.


"Siap, Om!" Sahut nya lalu melambaikan tangan ke arah Papa Relvan yang menghilang dari pandangan.


Rey berbalik menyeringai menatap Relvan dan reflek saja Relvan melemparkan bantal ke wajah lelaki itu hingga tepat sasaran.


"Jelek banget muka lu kayak gitu!" Ketus Relvan.


Angga dan Rizhan nampak cekikikan membuat Relvan menatap heran kedua nya. "Ngapa lu berdua ketawa?!" Tanya nya ngegas. Pasti sedang menertawakan diri nya.


Merek tak menanggapi malah asik tertawa saja. Relvan mendengus lalu menoleh ke arah perempuan yang masih berdiri di dekat nya. Ia baru tersadar kalau masih ada Nina di dalam ruangan ini.


"Eh, sorry Nin. Gue jadi lupa lu ada disini," ucap Relvan tak enak. Nina tersenyum manis lalu duduk di sebuah kursi dekat ranjang pasien.


"Gak apa - apa, kak," sahut Nina. "Kakak gimana keadaan nya?"


"Gue baik-baik aja, Nin," ucap Relvan seraya tersenyum tipis, sangat - sangat tipis.


"Biar aku yang suapin ya."


Nina beranjak lalu mengambil alih mangkok ditangan Relvan, ia ikut duduk nyempil di pinggir bed hospital.


Relvan tak menolak saat Nina memasukan satu sendok bubur ke dalam mulut nya, ia malah menerima saja suapan demi suapan itu.


"Sigra gak ikut kesini?" Tanya Relvan sesudah menelan bubur yang berada dalam mulut nya. Ia menatap ke arah teman - teman nya yang duduk di sofa tak jauh dari mereka.


"Gak. Kata nya duluan aja entar dia nyusul," sahut Rey tanpa mengalihkan pandangan nya dari ponsel.


Relvan mengangguk - anggukkan kepala seraya membuka mulut dan menerima suapan terakhir dari Nina.


"Selesai." Nina tersenyum senang melihat Relvan menghabiskan makanan nya. "Sekarang minum obat." Ia hendak meraih beberapa obat di atas meja tapi Relvan tiba - tiba menghentikan nya.


Nina jadi mengerjap bingung karena nya. "Nanti aja, ya. Gue mau buah." Lelaki itu melirik buah yang ada di atas meja.


Oh ternyata begitu. Nina tertawa kecil melihat lelaki itu, kenapa kalau sedang sakit Relvan terlihat imut ya?? Padahal nyata nya Relvan hanya menunda waktu nya minum obat bukan ingin bertingkah imut atau yang lain nya. Tapi kalau yang ini ia tak bisa mengelak lagi, ia memang sangat manja jika sedang sakit.


"Oke, aku kupasin dulu." Nina mengupas sebuah apel dengan hati - hati. Selesai dibersihkan kulit nya, ia menyuapkan satu potong buah tersebut ke mulut Relvan.


Yang bertiga duduk di sofa sana nampak kepanasan melihat adegan di depan mereka. Bukan, lebih tepat nya hanya berdua saja.


"Manja kali dia ges ya," cibir Rey tanpa memandang orang nya. Tapi orang yang dicibir justru merasa.


"Panas juga disini, gerah gue," celetuk Angga sambil menatap sinis ke arah Relvan.


Rizhan hanya bisa cekikikan karena ia tak mengerti dengan apa yang teman - teman nya keluhkan. Mending ia sibuk main game saja, tak usah ikutan.


"Sirik aja lu pada!" Sarkas Relvan. Nina hanya menarik lekuk bibir nya sambil terus menyuapkan buah ke dalam mulut lelaki itu.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...