
"Eh ini pada mau pesen apa?" Tanya Rizhan yang sepertinya mencoba mencairkan suasana di antara mereka. "Keburu waktu istirahat abis nanti kalau cuma diem-dieman kayak gini." Ia nyengir setelahnya.
"Iya, ya," timpal Angga. Lelaki itu menatap teman-temannya bergantian. "Pesen yang kayak biasa aja, kan? Atau mau makan yang lain?"
"Gue kayak biasa aja dah," sahut Rey. "Relvan gimana?" Lanjutnya seraya menatap sang empu.
"Samain aja," kata Relvan.
"Sigra?" Angga bertanya pada Sigra, yang ditanya hanya meresponnya dengan anggukan kepala.
Sigra lalu menatap ke arah Risya. "Kamu udah makan, Ca?" Tanyanya.
Ca?
Nina melirik ke arah Sigra dan juga Risya. Ia dengar dari yang lain pun kalau Sigra memang memperlakukan perempuan itu orang yang begitu spesial dalam hidupnya. Jadi "Ca" itu juga termasuk nama spesial yang diberikan oleh lelaki itu? Untuknya?
Berarti Nina sudah kalah start? Ah sialan!
Risya balas memandang Sigra. "Udah," sahutnya.
"Ben--"
"Iya bener, aku udah makan." Risya memotong ucapan Sigra dengan cepat sambil memicingkan matanya ke arah lelaki itu. "Jangan banyak tanya" itu arti dari dari tatapan matanya.
Sigra mengulas senyuman tipis, mengapa adiknya bisa bertingkah menggemaskan begini? Bukankah ini terasa tak adil jika ia tak bisa memeluk adiknya di sini?
Ya ampun, rasanya ia ingin menyuruh mereka untuk meninggalkan kafetaria secepat mungkin.
Lelaki itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan lalu mengulurkan tangannya untuk mengacak-acak rambut Risya pelan.
"Ih! Sigra jangan diberantakin!" Keluh Risya nampak kesal sambil menepis tangan sang Kakak dari kepalanya. Sigra hanya terkekeh sambil membenarkan posisi duduknya kembali.
Kekehan kecilnya itu sontak membuat teman-teman lelaki itu melongo seketika terutama Rizhan, Rey, dan Angga. Bahkan orang-orang yang duduk di dekat meja mereka pun mengeluarkan ekspresi wajah yang sama.
Gila. Ternyata Sigra berkali-kali lipat tampannya saat lelaki itu tertawa.
"Mingkem, Rey," celetuk Rizhan sambil terkekeh geli. "Entar dimasukin laler baru tau rasa."
Suara Rizhan langsung menyadarkan mereka semua namun menolak untuk berpaling muka dari Sigra. Yang masih ditatap lantas mendatarkan wajahnya, hawa dingin dan tatapan tajam itu segera membuat mereka semua reflek mengalihkan pandangan secepat kilat.
Tetapi masih diiringi dengan bisikan-bisikan kecil dan pipi yang nampak memerah untuk yang perempuannya.
"Sana, Le, pesen. Gak jadi makan kalau kita kayak gini mulu."
"Eh, kok gue sih?" Protes Angga pada Rizhan. Bocah itu memang minta digetok kepalanya biar tidak durhaka pada yang lebih tua.
"Udah sana, sama Rey," lerai Relvan. Mendengar itu, wajah Rey terlihat pasrah atas perintahnya. "Penesin Nina sekalian yang kayak biasa dia makan," tambahnya lagi.
Kedua pipi Nina nampak terlihat merona seketika, ternyata Relvan selama ini juga memperhatikan dirinya sampai hafal apa yang ia pesan ketika makan bersama mereka.
Relvan memang idaman, tapi ia juga mau dengan Sigra yang perhatian. Bisakah ia memiliki keduanya? Kalau Sigra sendiri juga tidak apa.
Usai kedua orang itu pergi meninggalkan meja, mereka yang tersisa hanya saling terdiam kecuali Risya dan Soya yang sedari tadi sibuk berbincang.
"Em, Soya..."
Soya menghentikan pembicaraannya dengan Risya dan langsung menolehkan kepala dengan kernyitan.
"Why?"
Nina memutar tubuhnya menghadap Soya, karena mereka juga bersebelahan jadi mudah saja baginya. Ia menggigit bibir bawahnya seraya melirik ke arah Relvan, lelaki itu menganggukkan kepala tanda ia juga menyetujui apa yang akan dilakukan Nina.
"Em, a-aku minta maaf sama kamu soal yang kemarin," ucap Nina. "Gara-gara kejadian itu, sekolah jadi mengeluarkan surat peringatan buat kamu. Bahkan mungkin kemarin kamu juga bisa diskorsing, kamu jadi perbincangan anak-anak GIBS."
Ternyata di sekeliling mereka ada yang mendengar percakapan itu dan langsung menyahut, "gak usah dimaafin deh, Soy. Orang kayak begitu tuh bakal ngulangin kesalahan yang sama dan bikin orang-orang terjerumus karena dia!"
"Biasalah jabl** kurang belaian!"
"Kurang kasih sayang!"
Tertawaan mengejek yang dilontarkan mereka membuat Nina seketika menjatuhkan air matanya, ia menunduk sambil meremas roknya dengan erat.
Entah karena malu atau karena menahan amarah yang membuncah di dada. Nina tak berani mengangkat pandangannya.
"Kalian bisa diem gak?" Tanya Relvan dengan nada dingin, membuat mereka yang barusan mengejek Nina menghentikan tertawaannya. "Gak usah ikut campur sama sesuatu yang bukan urusan kalian."
"Cih!"
"Bangga banget tuh di belain sama cowoknya," gumam mereka sambil mengalihkan pandangan tapi sempat melemparkan tatapan sinis.
"Soya," panggil Relvan.
Soya tak langsung menyahut, sebab ia masih mengunyah bakso di dalam mulutnya dengan perlahan. Tak ada kata yang keluar dari mulut gadis itu hingga membuat Relvan, Rizhan, dan Nina dengan harap-harap cemas menunggu jawabannya.
"Ya." Jawaban Soya singkat dan padat, tak ada kata selanjutnya yang ia keluarkan untuk tambahan pada jawaban sebelumnya.
Nina menghela nafas lega kala mendengar kata maafnya diterima, entah berpura-pura lega atau memang lega dari hatinya. Yang jelas ia kini berani mengangkat kepalanya dan memandang Soya dengan mata berbinar.
"Beneran?" Tanya Nina memastikan.
Soya melirik sekilas. "Gue gak akan ngulangin kata-kata gue untuk kedua kalinya."
Nina langsung memeluk Soya dari samping hingga membuat sang empu tersentak kaget. "Makasih, kamu baik banget deh," ucapnya.
"Lebih baik lagi kalau kamu juga menjauh dari Relvan sepenuhnya."
"Ya, tapi bisa gak, gak usah pakai peluk-peluk gue segala?" Ucap Soya ketus.
Nina lantas melepaskan pelukannya dengan gelagapan. "Maaf," ucapnya pelan hingga membuat Soya nampak mendengus.
Rizhan terlihat sumringah. "Nah, karena kalian udah maaf-maafan, jadi sekarang ayo saling jabat tangan biar resmi maafannya."
Soya menatap Rizhan dengan malas. "Emang harus gitu?" Tanyanya. "Gue udah jawab iya juga syukur."
"Soya, lu kenapa sih?" Sergah Relvan. "Gue tau lu benci sama Nina tapi bisa gak hargain dia? Dia udah bela-belain buat minta maaf sama lu, lu malah beri respon kayak gitu? Lu gak bener-bener maafin dia?"
"Heh Relvano Hyperion!" Soya memutar bola matanya. "Lu tadi bilang 'jangan ikut campur yang bukan urusan kalian', tapi lu sendiri malah ikut campur urusan gue sama dia," tukasnya sambil melirik Nina sebentar. "Terus kenapa kalau respon gue kayak gitu? Salah gitu di mata lu?"
"Memaafkan orang itu gak semudah yang lu kira, Van. Apalagi salah dia itu bukan cuma sekali, tapi berkali-kali."
Perkataannya seketika menampar keras fakta yang sebenarnya terjadi, Relvan terdiam dengan pikiran yang tidak jelas arah tujuan. Ia tahu, tapi ia berpura-pura untuk tidak tahu.
Berpura-pura untuk tidak mendengar dan berpura-pura untuk tidak melihat, fakta bukan sekedar kata tapi ini adalah bukti yang nyata.
Demi orang yang pernah mengisi relung hatinya, sedikit saja. Setidaknya untuk saat ini ia masih bisa melindunginya.
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...