Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 37 | Rumor



Dalam perdebatan Risya dan Rhaegar, Alby sendiri membuka tas sekolah nya mencari sesuatu untuk menutup mulut berisik Risya.


"Mau sandwich?"


Risya dengan cepat menoleh dan menjawab. "Mauu!" Ia melupakan Rhae dan menyambut pemberian Alby dengan mata besar yang berbinar.


Rhaegar melongo, dengan mudahnya Risya melupakan dirinya karena sebuah makanan? Ish.. ish.. ish.. dunia ini tak adil untuk Rhae. Dunia manusia itu kejam. Rhae ingin jadi duyung saja lah.


"Heh. Lu harus hati hati Rin." Risya melirik dari balik bulu matanya kala mendengar ucapan Rhaegar yang tiba tiba. Alby pun memandang Rhae dengan raut bingung.


"Emangnya kenapa?"


"Di negara ini, gue denger banyak terjadi penculikan anak anak. Lu kudu ati ati, kalau ada yang kasih permen atau makanan jangan di ambil." Ucap Rhaegar dengan wajah seram yang dibuat buat agar menakuti Risya namun nampaknya itu tak membuat gadis nya takut. Sia sia sudah ekspresi nya.


Risya langsung mendelik sinis. "Gue kan bukan anak anak!" Protes nya.


"Tapi lu anak anak." Sahut Rhaegar gamblang.


Risya menatap sengit Rhae. "Dari segi apa?" Tanya nya seraya melotot. "Tinggi badan? Gue tinggi kok! Gue juga udh kelas sebelas, jadi bukan anak anak!" Imbuh nya.


"Tap-"


"No kecot no bacot!" Potong Risya cepat sebelum Rhaegar menyelesaikan kata kata menyebalkan nya itu.


"Lagian Alby juga bukan orang asing, jadi nggak apa apa dong. Iyakan, Al?" Ucap Risya lagi sambil memakan sandwich tersebut. Dan Alby jelas mengiyakan.


Rhaegar mencebikkan bibir lalu memandang Alby sambil menadahkan satu tangan di hadapan nya. Alby menautkan alis hingga kerutan halus tergurat di dahi.


"Apaan?" Tanya nya.


Rhaegar mendecak kan lidah, masa si Alby begitu saja tidak mengerti. "Punya gue mana? Mau juga." Pinta Rhae pada Alby.


Risya mendengus tawa dan hampir saja menyemburkan makanan di mulut nya kala Rhae bertingkah seperti itu.


"Ffftt.. nggak cocok sama muka lu ege!" Komentar gadis itu hingga membuat Rhae mendengus.


"Gak ada punya lu, bikin sendiri sana!" Ketus Alby menjawab pertanyaan Rhaegar.


"Pilih kasih lu sama gue! Fine! Kita selesai sampai di sini!"


"Apa si?! Geli banget gue denger nya." Ucap Alby sambil melotot seraya melempar pulpen ke arah Rhae.


"Oh iya Al, tentang diberhentikan nya undangan ke sekolah lain waktu itu, memang nya nggak ada yang tahu penyebab nya apa?" Tanya Risya membuat dua lelaki itu berhenti melempar pulpen.


"Kalau yang sebenarnya sih gue nggak tau." Sahut Alby sambil membenarkan posisi duduk. "Tapi kalau menurut kisah dari mulut ke mulut, mereka bilang kalau pada saat itu setelah acara festival di GIBS selesai, ada kecelakaan yang terjadi letak nya nggak jauh dari sekolah. Salah satu anak dari SMA Garuda menabrak sebuah mobil dalam kecepatan maksimal."


"Dan kalian tahu? Didalam mobil itu ada tiga orang anak yang menjadi korban. Dua diantara nya dinyatakan koma sedangkan satu nya pingsan. Dan mereka bertiga dilarikan ke rumah sakit terdekat." Sambung nya. Tapi seketika dahi Alby berkerut.


"Lu kenapa, Sya?" Tanya Alby menatap Risya yang tengah mengurut pangkal hidung.


"Nggak apa apa." Jawab Risya parau. "Lanjutin aja." Imbuh nya.


"Kepala lu sakit kah?" Tanya Rhaegar dengan raut khawatir di wajah nya. "Gak usah di paksa kalau nggak kuat."


Risya mendadak menghentikan kegiatan mengurut dahi, ia memandang Rhae dengan kernyitan begitu pula dengan Alby.


"Maksud nya?" Tanya Risya sekaligus mewakili kebingungan Alby.


"Hah? E.. maksud gue nggak usah lu paksa kalau gak kuat dengerin celotehan ni kunyuk satu." Rhaegar menunjuk tepat di depan wajah Alby. Dan Alby langsung menampik tangan nya.


"Apaan sih? Kok gue yang kena?" Keluh Alby.


"Nggak jelas banget Egar. Udah lanjutin aja cerita yang tadi Al." Pinta Risya seraya menarik lekuk bibir nya dan bersiap mendengarkan.


Alby mengangguk kala Risya sudah terlihat baik baik saja. "Semua orang dibuat gempar saat yang turun tangan langsung pada saat itu adalah pemilik sekolah ini. Jadi, sejak peristiwa waktu itu GIBS tak pernah lagi mengundang sekolah lain."


"Banyak dari warga sekolah yang ingin protes tentang hal itu tapi sayang nya mereka hanya bisa protes di dalam hati karena yang berbicara pada saat itu adalah pemilik sekolah langsung. Tak ada yang berani membuka suara, apalagi membantah ucapan pemilik sekolah. Mereka hanya bisa mengangguk pasrah dan menyetujui pernyataan tersebut." Terang nya panjang lebar.


"Nasib supir tadi gimana?" Tanya Rhaegar. Mungkin ia hanya penasaran akan hal itu, karena yang jadi perbincangan hanya ketiga anak tadi.


"Kenapa malah nanya supir?" Tanya Alby balik.


"Terus gue harus nanya tiga tuyul tadi gitu? Kan udah tau keadaan mereka tadi kayak gimana."


"Tuyul? Berarti botak dong?" Celetuk Risya. Mata bulat nya membesar, ia mengedip pelan. "Kembar tiga ya? Kayak Ipin Ipin aja." Sambung nya.


"Ipin Ipin kan kembar dua bukan tiga." Protes Rhaegar.


"Emang gue ada bilang Ipin Ipin kembar tiga?!"


"Itu lu bilang."


"Serah lu berdua aja dah." Pasrah Alby. "Pusing gue. Mau Ipin Ipin kembar lima, kembar sepuluh, kembar seratus juga peduli amat." Lanjut nya.


"Bukan." Singkat Alby.


"Kok bisa sih cuma karena itu efek nya besar banget buat sekolah? Sampai kayak gitu berarti tiga anak tadi bisa jadi anak tersayang pemilik sekolah." Tebak Risya. Dan seperti nya tebakan nya benar mengenai anak tersayang, tapi kenapa ya sekilas ia melihat bola mata Rhae nampak bergetar?


"Kayak nya sih iya." Sahut Alby. "Yang gue denger juga begitu. Dan pada hari itu desas desus tentang kecelakaan mulai menyebar hingga ke pelosok negara, wartawan beserta kamera nya berdatangan menyoroti pemilik sekolah. Mereka juga sampai berdesakan ingin tahu info akurat dari pemilik nya langsung, ada juga yang sampai nekat menyoroti ke rumah sakit tempat tiga anak tadi dilarikan. Tapi beruntung penjagaan nya ketat jadi mereka gak dapet info apa apa dari pihak rumah sakit." Terang Alby.


"Yang jadi pertanyaan nya, tiga anak itu kemana? Karena sampai sekarang nggak ada yang tahu kemana pergi nya mereka. Ada yang bilang mereka dipindahkan ke negara lain, ada juga yang bilang masih disini tapi disembunyikan pihak keluarga."


"Hmm... Mereka bisa jadi tinggal di negara lain. Karena itu adalah kejadian 8 tahun yang lalu jadi menurut gue, sekarang mereka udah gede sih. Udah SMA mungkin." Sergah Risya, setelah nya ia terkesiap sendiri. " Eh, emang anak nya umur berapa?" Sambung nya.


"Sekitar 8 tahun atau 9 tahun-an gitu." Ucap Alby.


"Bener aja kalau mereka udah SMA."


"Tapi kita nggak tau kan dua anak yang koma itu masih bernafas atau enggak." Sahut Rhaegar.


"Iya juga s-"


Ucapan Risya terhenti ketika anak di kelas tergesa gesa duduk di bangku masing masing. Risya, Alby dan Rhaegar melongo menatap teman teman sekelas nya dengan bingung. Mereka kenapa ya? Tanya ketiga nya dalam hati.


Kelas yang mendadak hening itu membuat suara gagang pintu yang di putar putar ke bawah terdengar. Setelah semua anak di kelas rapi dan berpura pura sibuk dengan tugas, ketua kelas pun melangkah ke arah pintu dan membuka nya.


"Eh, bapak! Ada apa ya, pak?" Tanya nya ramah ketika mendapati seorang guru dengan perut buncit dan kumis tebal yang melintang di atas bibir berdiri di depan pintu.


Bapak tersebut mengamati murid didepan nya, mengamati dari atas ke bawah sambil mengusap kumis nya dengan ibu jari dan telunjuk.


Setelah mengamati, ia malah menilik ke dalam kelas dimana terlihat para murid yang tengah belajar dengan tenang. Kenapa tadi ia mendengar keributan ya? Apa bukan dari kelas ini?


"Kita lagi belajar kelompok, pak. Bu Yuni tadi ninggalin tugas karena beliau ikut rapat." Terang si ketua kelas.


Bapak tadi mengalihkan pandangan nya menatap ketua kelas lagi dan mengangguk sekali. "Lanjutkan. Jangan ribut."


"Baik, pak." Sahut ketua kelas. Bapak kumis berlalu dan ketua kelas harus memastikan bapak itu menjauh lebih dulu baru menutup pintu.


Ia bersandar di dinding pintu dalam seraya mengusap dada, pintu sudah sepenuh nya tertutup, ini terasa menegangkan. Tapi tak berselang lama dan baru berjalan dua langkah, pintu kembali di ketuk.


Ketua kelas menghela nafas lelah, ngapain sih si bapak itu balik lagi?


"Ada apa lagi ya pa-. Eh, kak Fara." Bukan bapak kumis melainkan seorang siswi yang didapatinya. Dan itu adalah kakak kelas mereka.


"Cari siapa kak?" Tanya ketua kelas seraya menatap kedua manik cokelat milik perempuan di depannya.


Fara mendongak dulu menilik papan kelas yang tertera di pojok kanan atas pintu. Lalu kembali menatap lelaki di depan. "Ada Risya nggak didalem?"


Ketua kelas mengernyit sesaat kemudian menjawab, "Ada. Biar gue panggilin."


Fara mengangguk lalu ia mengernyit kala pintu tersebut malah ditutup. Kok ia merasa aneh ya, masa tamu di biarkan di luar dengan pintu yang ditutup lagi?


Ketua kelas melangkah ke meja kelompok Risya. "Sya, ada yang nyariin noh." Ucap nya to the point.


"Cewek apa cowok?" Tanya Rhaegar cepat bahkan Risya saja belum membuka suara.


"Cewek. Ah elah! Cemburuan amat lu." Ledek ketua kelas.


Risya beranjak dari duduk nya tak lupa berterima kasih pada ketua kelas karena sudah memberitahukan nya.


"Ada apa ya kak?" Tanya Risya ketika sudah berhadapan dengan orang yang mencari nya.


"Masih inget gak?" Tanya Fara seraya menunjuk diri sendiri.


"Kakak yang tawarin gue masuk basket kan?"


"Inget juga lu." Fara terkekeh. "Lu bisa keluar kelas nggak? Ada sesuatu yang mau gue omongin.."


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...tbc...