Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 68 | Kacau



Nina tengah berkutat di depan cermin rias, ia berdandan tipis karena ingin bepergian hari ini bersama seseorang.


Seseorang tiba - tiba saja masuk ke dalam kamar nya dan memeluk perempuan itu dari belakang seraya menaruh dagu nya di pundak orang yang dipeluk nya.


"Kamu mau kemana? Kenapa dandan?" Tanya nya dengan suara khas pria dewasa.


Nina tak menoleh dan hanya menatap pria itu dari pantulan kaca. "Ara mau pergi sama temen dulu, Dad."


"Temen kamu?" Tanya nya, Nina mengangguk membenarkan.


"Cowok?"


Usai merias diri, ia berbalik menghadap pria dewasa itu lalu mengalungkan tangan nya ke leher orang yang ia sebut dengan sebagai Daddy.


"Ara berangkat dulu, udah dijemput." Mengecup bibir Daddy itu sekilas lalu keluar dari kamar dan meninggalkan pria dewasa yang masih tak beranjak ditempat.


Pria dewasa hanya menatap punggung Nina tanpa berniat mencegah, ia melangkah ke dekat jendela dan menyibak tirai yang menutupi kaca.


Pria itu menilik ke luar jendela. Dahi nya lantas mengernyit kala melihat seorang pemuda yang tengah menunggu didepan mobil mewah di depan pagar rumah ini.


Cukup lama ia terdiam memandang lekat-lekat pemuda tersebut. Entah kenapa seperti nya ia mengenal pemuda itu.


Nina menghampiri pemuda yang telah menunggu dirinya didepan rumah nya. "Kak Relvan, maaf ya udah bikin nunggu."


Relvan mengusap kepala Nina sambil tersenyum tipis. "Gak apa - apa, kok. Gue yang seharus nya minta maaf karena baru sekarang bisa nemenin elu."


Perempuan itu menganggukkan kepala sambil tersenyum manis. "Gak apa - apa. Yuk! Sekarang aja, kak." Ajak nya.


Relvan membukakan pintu mobil. "Silahkan tuan putri." Kata nya hingga membuat pipi Nina jadi merona.


Nina tersenyum dan masuk ke dalam mobil, Relvan pun juga ikut masuk setelah memastikan Nina benar - benar masuk ke dalam. Setelah itu mobil mewah itu pergi meninggalkan perkarangan rumah.


Sosok pria dewasa itu masih menatap mereka dari lantai dua, dari awal Nina menghampiri pemuda itu sampai mobil yang mereka tumpangi pergi meninggalkan rumah.


"Seperti nya aku tidak bisa membiarkan dia dekat dengan pemuda itu lebih lama lagi." Gumam nya seraya menutup kembali tirai penutup jendela kamar Nina.


Ditengah ramai nya jalanan kota, dua orang berbeda gender itu nampak saling diam dan sesekali melirik satu sama lain dari sudut mata.


Entah apa yang dipikirkan kedua nya sehingga menciptakan keheningan yang ada.


"Kita mau pergi kemana dulu?" Tanya Relvan membuyarkan keheningan diantara mereka.


Nina terlihat berfikir sejenak. "Mampir ke toko buku dulu boleh gak, kak?"


Relvan melirik perempuan itu seraya tersenyum tipis. "Boleh." Ucap nya.


"Kak Relvan." Panggil Nina.


"Ya?" Relvan tak menatap Nina karena fokus pada jalanan di depan nya.


"Kakak kenapa akhir - akhir ini selalu gak ada waktu buat nemenin aku?"


Lelaki itu menaikan sebelah alis nya. "Gue ada urusan, Nin. Maaf dan lu harus ngerti, gak semua hal pribadi harus kita kasih tau ke orang lain."


Agak nya Relvan ini tengah menyinggung Nina yang hendak bertanya lagi, namun mau bagaimana ya?? Relvan itu tidak terlalu suka dengan keingintahuan seseorang yang terlalu berlebihan.


Nina seketika menundukkan kepala nya tak berani menatap lelaki disampingnya. "M-maaf, kak."


Di usapnya puncuk kepala Nina sebentar. "Gak apa - apa." Ujar nya membuat Nina merasa sedikit lega takut Relvan marah pada nya.


Mobil berhenti di toko buku terkenal di negara X. Relvan yang melihat Nina nampak terlihat tak nyaman pun seketika bertanya.


"Kenapa?" Tanya nya membuat Nina menatap ke arah nya.


"Em, kenapa mampir ke sini, kak? Kita cari toko yang murah aja, yuk!"


Relvan terdiam dan nampak nya ia juga tak menghiraukan perkataan perempuan itu. "Udah mending kita masuk aja. Nanti biar gue yang bayar." Ajak nya seraya keluar dari mobil mewah itu.


Sekilas, hanya sekilas. Nina nampak tersenyum mendengar perkataan Relvan. "Beneran gak apa-apa, kak?" Tanya perempuan itu, lagi.


"Iya."


Setelah Relvan membukakan pintu untuk Nina, ia meraih tangan perempuan itu dan membawa nya masuk ke dalam toko buku.


Cukup lama mereka berputar - putar di dalam sana, akhir nya mereka pun keluar dengan beberapa barang belanjaan.


"Nanti aku bakal ganti uang kakak."


"Gak usah, Nin. Hari ini biar gue yang traktir lu sekalian sebagai ucapan selamat buat lu karena menang olimpiade kemarin." Ucap Relvan seraya melirik perempuan yang berjalan disampingnya.


"Maaf, aku selalu ngerepotin kakak."


Lelaki itu menaikan sebelah alis nya. "Udah, mending sekarang kita jalan lagi. Lagian ini juga gak seberapa kok." Kata nya dengan senyuman tipis yang menghiasi bibir nya.


Nina mengangguk saja kemudian mereka pun masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan lagi.


Mobil mereka berhenti di sebuah mall terbesar di negara X. Mereka masuk dan nampak melihat-lihat barang di dalam sana.


Nina melirik Relvan dari ekor mata nya, kenapa Relvan tak lagi menggenggam tangan nya ketika di mall ini?? Huh! Bikin dia pundung saja!


"Ada yang mau elu beli?"


Nina menggelengkan kepala nya pelan. "Aku mau lihat - lihat dulu."


Relvan mengangguk dan segera menemani perempuan itu lalu membeli beberapa belanjaan di sana.


"Kita cari makan dulu." Kata Relvan usai mereka berkeliling mall.


Nina pun mengikuti kemana lelaki itu melangkah. Memilih meja dan duduk bersama. Kedua remaja itu nampak menilik menu yang ada di sini.


"Waiters!"


Waiters itu menghampiri meja Relvan dan Nina dan menyapa mereka dengan ramah.


"Mau pesan apa, mas?" Tanya nya.


"Fish fingers & chips sama ice tea." Waiters itu mengangguk sambil mencatat pesanan lelaki itu.


"Eum.." Nina masih melihat - lihat menu. "Fish fingers & chips sama vanilla milkshake." Ucap nya.


"Baik." Waiters itu membaca sesuatu yang ditulisnya tadi. "Fish fingers & chips 2, ice the 1, dan vanilla milkshake 1. Ada lagi, mas mba?" Tanya nya.


Relvan menatap Nina, perempuan itu mengerti arti dari tatapan pun menganggukkan kepala.


"Itu aja." Sahut Relvan pada waiters. Waiters itu pun mengangguk dan berlalu dari hadapan mereka.


"Kak." Panggil Nina membuat Relvan menatap nya.


"Hm?" Relvan mengalihkan perhatian nya dari ponsel yang ia genggam.


"Kakak suka Nina?" Perempuan itu memberanikan diri bertanya pada lelaki didepannya walau rasa takut serta ragu dihatinya. Ia menundukkan kepala karena malu menatap Relvan


"Suka?" Relvan mengernyit mendengar nya. Ia lihat perempuan didepannya itu nampak menundukkan kepala dan tak menyahut lagi.


Tak tahu saja pipi Nina sudah memerah mendengar perkataan Relvan, padahal lelaki itu bertanya maksud pertanyaan Nina bukan menjawab nya.


"Ini pesanan nya." Kedua remaja itu mengalihkan pandangan mereka ke arah waiters yang datang menghampiri dan meletakan pesanan mereka diatas meja.


"Silahkan dinikmati." Setelah itu waiters pun berlalu pergi.


"Makan." Kata Relvan seraya menatap Nina. Nina menganggukkan kepala dan mereka pun segera menyelesaikan makanan mereka.


"Mau kemana lagi?" Nina menatap Relvan sejenak lalu menunjuk ke arah antrian di sebelah sana.


"Mau itu." Ujar nya. "Boleh?" Tanya nya, lagi.


"Boleh." Relvan menarik tangan Nina, memilih film yang akan mereka tonton lalu membeli tiket nya.


Mereka duduk di kursi bagian tengah. Di sana terlihat lumayan banyak manusia tapi tak terlalu mengganggu kedua remaja itu.


Selang beberapa menit menonton film yang Nina suka, tiba- tiba ponsel Relvan bergetar hingga mengalihkan atensi kedua nya.


Nina melirik ke ponsel yang tengah digenggam lelaki itu namun tak sempat melihat nama yang tertera dilayar pipih nya.


"Kenapa?" Tanya Relvan kala sambungan telepon sudah tersambung.


Nina mengernyitkan dahi saat mendengar suara perempuan dari balik telepon. Siapa yang tengah menganggu waktu berduaan mereka? Apakah Soya lagi??


[Hiks, Van. Rizhan jatuh dari motor.]


"Lele dimana?" Tanya Relvan.


Lele? Bukan kah Lele itu nama panggilan Angga? Nina nampak berpikir sesekali melirik ke arah Relvan. Ia tahu kalau Angga dekat dengan Soya, tapi apa benar yang menghubungi Relvan itu Soya?


[Enggak tau.]


"Dia gak sama lu?" Tanya Relvan, lagi.


[Enggak, Zhan sendirian. Lele gak bisa dihubungi.]


"Lu dimana?"


[Dijalan x dekat persimpangan.]


"Oke. Lu tetap ditempat, jangan kemana - mana."


Usai berkata, sambungan telepon pun terputus. Relvan terdiam sejenak sambil menggenggam erat ponsel ditangan nya.


Ia tiba-tiba beranjak dari duduk nya hingga membuat Nina yang sedang melamun pun terkesiap kaget.


"Mau kemana, kak?" Tanya Nina seraya menarik tangan Relvan.


Relvan menatap Nina raut datar. Ia baru ingat kalau masih ada Nina bersama nya, entah kenapa tadi seketika kehadiran perempuan itu terlupakan.


"Oh, sorry Nin. Gue ada urusan, urgent." Relvan melepaskan tangan Nina lembut. Nina nampak terdiam tapi masih saja menatap ke arah Relvan.


"Lu gak apa - apa kan gue tinggal sendirian?" Tanya lelaki itu, lagi.


"Penting banget ya kak?"


Relvan sebenarnya merasa tak tega namun sekarang ia tak bisa, dan segera menepis perasaan itu.


"Iya." Sahut nya. "Lu bisa kan pulang naik taksi?" Relvan memberikan selembar uang merah pada Nina dan meletakan nya ke tangan perempuan itu.


Nina tak bisa berkata-kata lagi, ia hanya tersenyum kecut menatap lelaki tersebut. "Ya udah kak, aku bisa kok pulang naik taksi." Ucap nya.


Relvan sempat mengusap kepala Nina sebelum berlalu. "Hati - hati. Nanti kabarin gue kalau elu pulang. Gue pergi dulu."


Nina mengangguk saja dan menatap punggung Relvan yang menghilang dari balik pintu. Ia meremas uang yang berada digenggaman nya.


"Sialan!" Umpat nya pelan.


Apa elu yang hancurin rencana gue lagi??


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...