
Risya berlari menuju toilet, seraya tersenyum tipis ia mengingat tentang pertemuan mereka tadi.
Ternyata Soya itu asli nya ramah ya, tak seperti di novel yang nampak menyeramkan macam ibu tiri. Soya juga nampak baik hati dan tidak sombong kepada orang lain.
Risya masuk ke dalam bilik toilet. Setelah selesai buang air kecil, ia pun ingin keluar dari bilik tersebut namun diurungkan ketika mendengar suara seseorang dari luar.
"Oi, beneran disini?" Tanya seseorang pada teman nya.
"Udah lah nggak apa - apa, ini juga bukan toilet kita."
"Kalau ada yang masuk gimana?"
"Mereka gak bakal berani ngomong."
Ctak. Ctak.
"Nih pada mau nggak?" Tawar nya.
Risya mengintip dari celah di bawah pintu menggunakan ponsel yang ia hidupkan kamera video. Terlihat lah 4 orang perempuan, satu diantaranya memegang sebuah pemantik dan sekotak rokok.
Ia membagikan itu pada teman - teman nya, setelah rokok menyala mereka mulai menghisap dan menghembuskan asap nya ke udara.
"Ah sial! Bakal bau asap rokok baju gue. Kalau keluar sekarang nggak apa - apa kali ya, kalau nanti - nanti mereka malah curiga lagi."
Risya bergumam pelan seraya memikirkan cara ia keluar. Ia melirik ke atas seolah mencari jawaban, siapa tahu ketemu di dinding, langit - langit toilet atau pintu toilet.
"Pura - pura ke kunci kali ya?"
Risya mematikan video nya dan memotret beberapa kali. Setelah itu ponsel ia simpan di saku almamater.
Duk!
Duk!
Duk!
"Toloong!!" Pekik nya.
Empat orang tadi tersentak seraya menatap sekeliling. Mereka dengan cepat mematikan rokok lalu membuang nya ke dalam kloset.
"Lu denger gak ada yang minta tolong?" Tanya salah satu dari mereka. Teman - teman nya mengangguk serentak.
Duk!
Duk!
Duk!
Suara itu terdengar lagi membuat mereka semua merapatkan tubuh satu sama lain.
"Ih! Kok jadi serem?"
"Jangan - jangan nih toilet ada penunggu nya lagi?"
"Huss.." mereka mendesis seraya menilik lekat sekitar.
"Bukan arwah anak yang kecelakaan beberapa tahun lalu kan?" Tanya salah seorang lagi.
"Tolong saya.."
Mereka semua terdiam, hingga sebuah nyanyian membuat mereka lari tunggang langgang meninggal kan toilet.
I can see you from behind (Aku bisa melihatmu dari belakang)
You can hear me in your mind (Kau bisa mendengarku di pikiranmu)
Run so fast as you can go (Larilah dengan cepat sebisamu)
Time will catch you before you know (Waktu akan menangkapmu sebelum kau tahu)
"Aakhhh!!!"
Risya yang didalam bilik toilet pun tekejut dibuat nya, ia merogoh ponsel nya yang terasa bergetar. Dan menilik layar pipih itu, ternyata ada sebuah panggilan masuk bertuliskan "Alby Monyet".
Risya menghela nafas dan menolak panggilan itu lalu menekan mode silence di ponsel nya. Ia membuka pintu sambil celingak - celinguk, seperti nya mereka sudah tak ada.
"Mereka udah pergi ya? Bagus deh, jadi gue gak perlu buang - buang waktu berhadapan sama mereka."
Ia melangkah keluar menuju wastafel dan mencuci tangan. Indera penciuman nya mengendus sekitar, tak ada bau asap rokok lagi. Dan seperti nya juga mereka hanya sempat menghisap nya sedikit tak sampai habis.
**
"Lama banget lu! Ngapain aja di toilet?"
"Kata nya sebentar?"
"Kok nggak angkat telepon gue?"
Rhaegar dan Alby seperti polisi yang tengah menginterogasi penjahat. Berbagai pertanyaan mereka lontarkan hingga membuat Risya pusing dan bingung menanggapi nya.
"Nanya nya satu - satu dong! Gimana gue mau jawab kalau beruntun kayak gitu." Keluh Risya.
Alby menghela nafas panjang. "Lu tadi beneran ke toilet?" Risya menganggukkan kepala.
"Kenapa lama banget?" Kini giliran Rhaegar yang bertanya.
"Tadi ada kadal di toilet."
"Hah?" Kedua lelaki itu saling pandang dengan wajah cengo.
"Kadal di toilet?" Ucap mereka dalam hati.
"Kok bisa? Peliharaan siapa tuh masuk toilet?" Tanya Rhaegar.
"Peliharaan monyet! Udah ah, kalian tuh banyak tanya." Risya mengerucutkan bibir seraya membuang pandangan ke arah lain.
Alby menghela nafas kemudian bertanya pada mereka. "Oh iya, entar kerja kelompok nya di rumah siapa nih?"
"Di rumah Erin." Sahut Rhaegar cepat.
Risya melotot ke arah nya. "Eh gak bisa! Rumah elu aja lah." Sergah Risya.
"Kok rumah gue?" Tanya Rhae.
"Terus kenapa rumah gue?" Tanya Risya balik.
"Udah oi!" Lerai Alby. "Berantem mulu gue kawinin juga lu berdua!"
Risya dan Rhaegar langsung berekspresi muntah. "Ogah!" Ucap kedua nya bersamaan.
"Jodoh entar tau rasa." Gumam Alby. "Di apartemen gue aja gimana?" Tawar nya.
"Rhae gimana?"
Rhaegar mengangkat jari membentuk O. "Oke - oke." Kata nya.
**
Kriiingg...
Bel pulang berbunyi, para siswa membereskan alat tulis nya dan pulang meninggalkan sekolah.
"Gue tunggu ya di apartemen." Ucap Alby seraya memasang helm dan menaiki motor nya.
Rhaegar dan Risya mengangguk, karena Risya tak di perbolehkan keluar malam oleh Sigra jadi mereka sepakat sehabis pulang sekolah saja.
"Erin, mau bareng gue?"
Risya menggeleng cepat. "Gue dijemput, Gar. Kalian pulang sana. Kita ketemu di apartemen Alby."
"Lu hati - hati pulang nya." Ucap Rhaegar lalu Alby mengangguk juga.
Risya tersenyum tipis. "Iya, kalian juga." Ia melambaikan tangan ketika kedua lelaki itu berlalu dari hadapan nya.
Ia berjalan keluar gerbang, sekolah sudah lumayan sepi dan nampak nya mang Asep belum juga datang.
Risya menilik jam di pergelangan tangan. "Tumben mang Asep telat jemput?" Gumam nya. Ia menoleh ke arah gerbang, Sigra juga belum keluar dari sekolah. Tadi ia melihat motor nya masih terparkir disana.
Tanpa Risya sadari, sebuah mobil berhenti tak jauh dari nya berdiri. Seseorang keluar dan membekap mulut Risya dari belakang.
Ia sempat meronta sebelum kesadaran nya hilang sepenuh nya.
•
•
•
•
Mang Asep menjalankan mobil untuk menjemput anak majikan nya di sekolah. Ia terlambat karena tadi tuan serta nyonya rumah datang mendadak dan meminta ia menjemput ke bandara.
Mobil berhenti di depan gerbang sekolah yang sudah terlihat sepi. Ia keluar dan mendekat ke arah gerbang. Menilik ke kiri dan kanan hingga sebuah tepukan membaut nya tersentak.
"Cari apa, pak?" Tanya seseorang yang menepuk pundak nya.
Mang Asep menoleh menatap pria yang nampak seumuran dengan nya atau lebih tua sedikit. Dan pria itu memakai seragam satpam.
"Saya mau jemput seseorang. Anak perempuan, badan nya agak pendek, pakai tas warna silver dan ada gantungan stroberi di tas nya. Bapak ada lihat?"
Satpam bernama pak Tono itu mengerutkan kening. "Saya gak ada lihat, pak. Anak - anak disini sudah pulang sedari tadi. Sekolahan juga sudah sepi, tinggal siswa yang mengikuti ekstrakurikuler. Apa anak bapak juga ikut ekskul?"
Mang Asep menggeleng, setahu dia nona nya tak ada mengikuti ekskul apapun. Ia tahu karena ia yang mengantar jemput nona nya setiap hari dari awal masuk SMA.
"Mungkin saja anak bapak sudah pulang?"
"Ya sudah, kalau begitu terimakasih ya pak. Mungkin memang benar dia sudah pulang." Ujar mang Asep berpikir positif.
Mang Asep kembali ke mobil dan melajukan mobil tersebut menuju rumah. Sesampai nya di rumah, ia tergesa - gesa masuk untuk mengecek apakah nona nya benar sudah pulang atau belum.
"Iyem." Panggil mang Asep.
BI Iyem mendekat pada suami nya itu. "Ada apa toh?" Tanya nya.
"Non Caca sudah pulang?"
Pertanyaan nya membuat bi Iyem mengernyit. "Kamu yang jemput non Caca loh malah nanya aku."
"Jadi non Caca belum pulang? Tapi dia nggak ada di sekolah Yem."
PRAANGG!!
BI Iyem serta mang Asep tersentak, mereka serentak menoleh ke arah sejurus.
"Apa? Caca nggak ada di sekolah?!"
**
Di sekolah, Sigra bersama teman - teman nya menyusuri selasar kelas. Mereka sekalian latihan sebentar maka nya pulang terlambat.
"Sepi banget ya?" Celetuk Rizhan sambil melihat sekeliling.
"Yang lain kan udah pada pulang maka nya sepi." Sahut Angga.
Drrtt... Drrtt...
Rey mendelik ketika mendengar getaran ponsel, namun yang punya ponsel nampak nya tak merasa kalau ponsel nya bergetar.
"Gra, ponsel lu getar tuh." Ucap nya.
Sigra yang sibuk memperhatikan sekitar kini menengok ke arah Rey. "Ponsel gue?" Tanya nya nampak bingung.
Rey mengangguk. Sigra merogoh saku celana nya dan benar ternyata ada panggilan masuk dari sang Mommy.
"Halo mom?" Ia menyapa setelah panggilan itu tersambung. Namun ia mengernyit ketika mendengar isak tangis sang Mommy.
"Mommy kenapa?" Ia berhenti melangkah dan teman - teman nya pun melakukan hal serupa.
[Sigra, kamu pulang dulu ke rumah.]
Suara berat khas pria dewasa memasuki pendengaran Sigra, ini suara milik Daddy. Hingga perkataan Daddy selanjut nya membuat mata nya terbelalak lebar.
[Adik kamu hilang, Gra...]
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...tbc...