
"Gak apa-apa, lu gak perlu gengsi kayak gitu, Rey. Kalau lu khawatir artinya lu masih punya hati buat kasihan sama cewek jahat kayak gue."
Rey terdiam dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan, bahkan ia sendiri pun tak mengerti dengan apa yang terjadi. Ia benci tapi seolah ia juga tidak bisa membencinya secara keseluruhan. Perasaan bersalah seketika muncul ketika mendengar Soya berkata seperti itu sambil tersenyum.
"Rey, kenapa ngelamun?" Tanya Soya yang melihat lelaki itu terdiam saja.
"Gak," sahut Rey singkat.
Soya nampak mengangguk-anggukan kepala dan kembali berkata, "btw perkataan lu itu mirip banget bokap gue kalo gue lagi luka. Kan jadi kangen..." Ia tersenyum hambar sembari meraih obat merah dan kembali menitikkan beberapa tetes pada kapas baru.
"Kangen? Bukannya itu artinya Soya gak ketemu sama bokap dia, ya?" Rey tak langsung menyahuti perkataannya dan hanya bertanya pada batinnya saja. Lelaki itu nampak membiarkan Soya saat perempuan itu mengambil tangannya untuk segera diobati.
Soya menekan pelan di setiap lukanya, berhati-hati karena takut orang yang tengah ia obati merasa sakit dan tak nyaman karenanya. Usai semua itu selesai, ia kemudian membereskan peralatannya seraya ikut duduk di samping lelaki itu.
Mereka sama-sama saling terdiam, membiarkan angin yang berhembus lembut menerpa kulit wajah dan menggoyangkan dedaunan di sekitarnya. Suasana di sini nampak sepi sebab jalan ini memang jarang dilewati oleh orang. Walau begitu, di sini masih termasuk wilayah aman karena tak ada begal atau semacamnya yang berkeliaran.
Rey menatap sekilas ke arah Soya. Hari ini ia tak terbawa emosi serta tak ingin memaki-maki. "Kalau boleh tau emang bokap lu ke mana?" Tanyanya kemudian.
Soya menghela nafas sambil tersenyum lembut. "Ada, kok, cuman jauh," ujarnya seraya mendongak menatap ke arah langit yang mulai memancarkan warna keemasannya.
Rey lantas mengerutkan keningnya. "Bokap lu kerja diluar negri?" Katanya dengan nada menebak.
Soya menolehkan kepala menatap ke arah lelaki yang sejak tadi sudah menatapnya juga. Ia kalau menggelengkan kepalanya dan berkata, "bokap gue udah di surga." Ia tersenyum setelahnya.
Rey menatap ke dalam mata berwarna coklat terang itu. Ada rasa sedih dan rindu yang melebur jadi satu, rasa yang sungguh tak bisa dijelaskan dengan perkataan saja. Ngomong-ngomong tentang hal itu membuatnya jadi teringat dengan sosok wanita yang meninggalkannya tiga tahun yang lalu.
"Gak apa-apa, kangen itu rasa yang wajar saat kita punya orang yang spesial, " ucap Rey dan tanpa sadar reflek menepuk pelan puncuk kepala perempuan yang duduk di sampingnya. "Semua orang bakal meninggalkan dan ditinggalkan. Lu termasuk wanita yang kuat, jadi kalau bisa jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan lu sendiri. Lu tau, dunia gak akan mau ngerayain kesedihan penghuninya. Dia bakalan tetap baik -baik aja dan berjalan dengan semestinya."
"Ya, gue tau itu," sahut Soya dalam hati seraya membalas perlakuan Rey dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
Di sisi lain, tepat dibalik semak-semak yang tak jauh dari mereka berbincang, terdapat dua manusia yang nampak mengintip dari celah sana.
"Kok mereka bisa adem ayem gitu? Gak berantem kayak biasanya? Baku hantam kek misalnya," gerutu salah satunya. Padahal jauh dalam hati ia menyukai moment mereka ini.
Yang satunya langsung menoleh sambil mengernyit dengan sangat. "Ya 'kan itu bakal jadi kabar bagus kalau mereka berdua gak berantem," sahutnya.
"Setidaknya baku hantam lah."
"Baku hantam pala lu peyang!" Sahutnya dengan tatapan frustasi.
"Biar rame gitu," celetuknya lagi dengan suara pelan.
***
Di tempat lain, terlihat seorang lelaki yang melangkahkan kakinya menuruni satu persatu anak tangga. Ia berjalan ke arah dapur dan menghampiri seorang wanita yang sedang asik memasak di sana.
"Bun, Ila ke mana, ya? Kok dari tadi El gak ada liat?" Tanyanya seraya menilik sekeliling tempat sang Bunda berdiri. Karena biasanya kalau ada Bunda pasti ada adiknya juga ngintilin di dekatnya.
"Lah adek kamu 'kan belum pulang, Bang," kata Bunda.
"Kok bisa belum pulang, Bun?" Herannya. "Bukannya jam pulang sekolahnya udah selesai? Dan setahu El, adek nggak ada kelas tambahan, kan? Sekarang malah udah hampir jam enam."
Bunda Seya langsung menengokkan kepala melirik ke arah jam dinding yang ada di dekat dapur. Dan benar saja yang diucapkan oleh anak sulungnya itu. Seketika perasaannya menjadi cemas, kalau ada apa-apa, anak perempuannya pasti akan menghubunginya terlebih dahulu. Semisal ada tugas kelompok atau sebagainya. Tapi ini sepertinya tidak ada.
"Kalau nomor temannya, El gak punya, Bun."
"Nomor Laura."
"Gak ada, kalau semisal gak bisa dihubungin ntar El tanya ke Vano aja," ucapnya seraya berlalu dari hadapan Bunda.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.
"Ck." Elio berdecak saat ponsel Soya tak bisa dihubunginya. "Ke mana coba tuh anak?" Gerutunya.
"Gimana, Bang?"
Elio sontak menoleh, menatap sang Bunda yang mendekat ke arahnya. "Nggak aktif, Bun. El udah hubungin Vano juga tapi gak diangkat," ujarnya.
"Terus gimana? Apa Adekmu gak apa-apa?" Melihat raut cemas dari wajah sang bunda, Elio langsung merangkulkan tangannya ke pundak bunda seraya mengajaknya untuk duduk di sofa.
"Bunda, tenang, ya. El bakal susulin Adek ke sekolah," katanya lalu kemudian beranjak meninggalkan sang bunda dan menuju ke arah kamarnya.
Setelah mengambil jaket dan kunci motor, Elio kembali menghampiri Bunda dan berpamitan padanya. "Bunda, El keluar dulu. Bunda tunggu di rumah aja, ya."
"Kalau ketemu, kabarin Bunda langsung saat itu juga."
"Iy-" Elio langsung menoleh ke arah sejurus kala suara bel rumahnya terdengar tiba-tiba bahkan sebelum ia menyelesaikan kata-katanya.
Ding dong! Ding dong!
"Kayaknya itu Ila, El," kata Bunda dengan harapan yang memancar di wajahnya. Seketika di detik itu juga, Elio langsung berjalan ke arah sana dan membuka pintunya.
Ceklek!
"Ila, Abang udah bilang, kan, kal--" ucapanya lantas terhenti ketika melihat ternyata bukan orang yang mereka tunggu yang berdiri di balik pintu.
"Relvan? Lu sendirian?" Matanya menatap awas ke sekeliling, kalau-kalau adiknya tengah bersama lelaki itu. Namun nihil, yang ada ternyata hanya Relvan seorang diri.
"Gue, kan, emang sering sendiri kalau ke sini. Emang lagi nyari apaan, Bang?" Ucapnya ketika menatap Elio seperti tengah mencari-cari sesuatu.
Elio tak menyahut tapi ia langsung menatap ke arah Relvan. "Van, masuk aja ke dalem. Bunda ada, kok, di ruang tamu." Relvan pun seketika menganggukkan kepala.
"Terus lu mau ke mana, Bang?" Tanya Relvan yang melihat Elio memakai jaket serta terlihat sebuah kunci motor di tangan lelaki itu.
"Mau nyari Ila, Van. Dari tadi dia belum juga pulang," ujarnya hingga membuat Relvan mengernyit dalam.
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...