Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
DNLM 3



Olivia sampai ditempat yang sudah dijanjikan teman-temannya untuk bertemu. Disana dia melihat Salsa dan langsung menghampirinya.


"Hay Sal, Denia mana?" Tanya Olive pada Salsa


"Ntar lagi juga nyampe Liv" ucap Salsa


"Oh ya Liv, gimana tadi? Berhasil nggak? Denia ceria sama gue." tanya Salsa kepo.


"Salah sasaran, kak Daniel itu sepupu gue dari nyokap. Viona naksir sama kak Dave, sepupu gue satunya. Gue gak terlalu kuwatir Sal, soalnya mereka juga jijik sama tuh maklampir." ucap Olive menjelaskan.


"Lah, berarti sepupu lo ganteng-ganteng dong" ucap Salsa. Denia baru sampai dan langsung duduk mendengarkan.


"Ya iyalah, gue juga cantik kan" ucap Olive dengan pd nya membuat Salsa dan Denia mendelik.


"Gue udah daftar kuliah di Jerman, lo berdua udah belum?" Tanya Salsa mengalihkan pembicaraan.


"Gue besok daftar, nnti gue minta ditemanin sama kak Daniel." ucap Olive.


"Gue sih biarin abang gue yang urusin hahaa" ucap Deniaa senang, karena ia hanya akan tinggal masuk kampus tanpa harus repot-repot.


Ponsel Olive berdering membuat percakapan mereka terhenti, Olive menjawab panggilan tersebut. Tiba-tiba ia langsung menangis.


"Lo kenapa Liv? Ada apa Liv?" Tanya Salsa kuwatir.


"Lo cerita sama kita dong Liv." ucap Denia.


"Ayah gue.. Ayah gue kecelakaan..." ucap Olive sambil menangis sesegukan.


"Dirumah sakit mana Liv? Biar kita antar lo kesana sekarang" ucap Denia.


"Citra Kasih " ucap Olive.


Mereka pun langsung pergi menuju rumah sakit Citra Kasih menggunakan mobil Deniaa.


"Mbak, atas nama Ferdi Wijaya" ucap Salsa pada resepsionis. Sedangkan Olive sudah lemas mendengar Ayahnya kecelakaan. Olive takut kejadian yang dialami Bunda nya dua tahun yang lalu terulang kembali.


"Ferdi Wijaya sedang ditangani oleh Dokter di ruangan ICU mbak, ruangannya ada disebelah sana" ucap resepsionis tersebut sambil menunjukkan ruangannya.


"Oke mbak, terimakasih" ucap Salsa dan berlalu meninggalkan resepsionis menuju Olive dan Denia


"Liv, Om Ferdi masih diruangan ICU, yuk kita kesana." ucap Salsa mengajak Olive dibantu oleh Denia.


Sesampainya didepan ICU, Olive melihat Dewi dan Viona sudah ada disana. Hal itu membuatnya buru-buru mengecek hp nya. Sesaat kemudian Olive berjalan kearah mereka berusaha menahan amarahnya.


"Lo berdua tuh bener-bener ya!" ucap Olive.


Dewi dan Viona terkejut melihat kedatangan Olive yang tiba-tiba itu.


"Lo berdua itu gak punya hati tau gak!" ucap Olive sambil menangis.


Dewi dan Viona terkejut melihat Olive yang tiba-tiba menangis. Selama ini mereka tidak pernah melihat Olive menangis dan terlihat lemah seperti ini. Olive yang mereka kenal selalu terlihat tangguh dan berani. Tapi sekarang, Olive menjadi gadis yang lemah.


"Kenapa! Kenapa kalian gak ngasih tau gue kalau Ayah kecelakaan hah!? Kenapa!" Olive terus menangis meraung-raung.


"Gue tau lo berdua benci sama gue. Tapi gue ini anak Ayah, gue berhak tau kondisi Ayah gue! " ucap Olive yang masih menangis.


"Lo! Lo tau rasanya nggak punya sosok Ayah kan? Lalu kenapa lo tega sama gue? Kenapa lo mau gue kehilangan Ayah!? Gue benci sama lo Viona" ucap Olive menunjuk Viona dengan perasaan kecewa.


Viona dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Olive. 'Benar yang Olive katakan, tak seharusnya gue benci sama dia. Gue masih punya mamah yang sayang sama gue. Sedangkan Olive, dia kehilangan mamah nya dua tahun lalu. Seharusnya gue berusaha baik sama dia' batin Viona.


Dewi pun sangat iba melihat keadaan Olive. Bagaimanapun juga, Olive itu anaknya. Meskipun hanya sebatas anak tiri. Tapi di hati Dewi, ia sudah menyimpan rasa sayang pada Olive.


Olive terduduk dilantai rumah sakit sambil menangis tersedu-sedu. Olive tidak sanggup untuk kehilangan yang kedua kalinya.


Salsa dan Denia sedih melihat Olive seperti ini.


"Liv, lo gak boleh sedih kayak gini. Om Ferdi sama tante Riska pasti gak suka lihat lo nangis kek gini." ucap Salsa berusaha menenangkan.


"Iya Liv, gue yakin kok om Ferdi bisa bertahan demi lo. Om Ferdi kan kuat Liv, jadi lo tenang aja ya." ucap Denia menyemangati.


Dewi dan Viona merasa bersalah pada Olive, selama ini mereka selalu menyalahkan Olive didepan Ferdi membuat Olive selalu kena marah. Namun, Olive tetap menyayangi Ferdi.


Beberapa perawat keluar dari ruangan ICU terburu-buru. Membuat Olive ikut panik.


"Suster, ada apa dengan Ayah saya!!" ucap Olive yang masih diabaikan. Viona yang melihatnya pun muak dengan tingkah perawat itu.


"Kenapa dengan Papah gue!?" tanya Viona dengan nada mengancam mencekram lengan perawat itu.


"Maaf, pak Ferdi sedang kritis. Kami akan berusaha menyelamatkan pak Ferdi." ucap perawat dan berlalu dari hadapan mereka. Hal itu membuat Olivia menangis.


"Hiks.. Ayah... Olive mohon bertahan demi Olive" ucap Olive lemah dan merosot ke lantai. Melihat hal itu membuat Viona mendekati Olive.


"Oh jadi ini, Olivia yang selama ini sok kuat itu? Kenapa sih lo jadi lemah gini, mana Olive yang selalu bertengkar sama gue? Mana Olive yang suka marah-marah sama gue?..." sesaat mereka terdiam mendengar ucapan Viona. Termasuk Olive yang menatap Viona.


"Apa maksud lo?" ucap Olive yang masih sesegukan.


"Gue lebih suka lo yang pemberani dan sok kuat. Gue gamau lo jadi cengeng dan lemah kek gini. Ntar gue gak punya teman berantem lagi." ucap Viona memeluk Olive.


"Maafin gue Liv, gue sempat benci sama lo. Gue sadar, sebenarnya lo orang yang baik. Maafin gue Liv.."


ucap Viona menangis dipelukan Olive.


"Gue gabisa maafin lo saat ini. Gue masih bingung sama apa yang terjadi. Jadi gue harap lo bisa paham situasi." ucap Olive yang benar-benar bingung. Belum selesai berita tentang kecelakaan sang Ayah, Viona yang berstatus musuhnya malah tiba-tiba memeluknya dan minta maaf. Olive perlu mencerna semua ini terlebih dahulu.


"Oke, sekarang yang lebih penting itu keselamatan Papah, gue gak bakal maksa lo buat jawab sekarang Liv." ucap Viona pada Olive.


🐨


'Sudah empat puluh menit, dokter berada diruangan ICU. Entah apa yang dilakukannya pada Ayah' batin Olive.


Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan ICU. Olive dan yang lainnya langsung menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan Papah saya dok?" ucap Viona mendahului Olive.


"Kami mohon maaf, tapi Pak Ferdi tidak dapat kami selamatkan. Jantungnya tidak dapat bekerja dengan stabil membuatnya kehilangan nyawanya." ucapan dokter tersebut membuat Olive seperti terkena sambaran petir. Olive tak mampu berkata-kata lagi. Orang yang disayanginya satu persatu mulai meninggalkannya.


Olive berlari masuk kedalam ruangan itu, dan dia melihat Ayahnya terbaring pucat.


"Yah.. Ayah bangun.. Olive gak mau disini sendirian. Ayah pernah janji sama bunda untuk jagain Olive kan, trus kenapa sekarang Ayah ninggalin Olive? Ayah gak sayang lagi sama Olive.. bangun Yahh" ucap Olive terus menangis sambil mengguncang tubuh Ayahnya yang sudah tak bernyawa.


Viona, Dewi dan teman-teman Olive yang tiba-tiba masuk ikut menangis merasakan betapa sedihnya Olive. Ini sudah kedua kalinya Olive merasakan kehilangan orang yang paling disayanginya.


"Ayah.. Olive bakalan ikut Ayah.. Llive bakal susulin Ayah sama Bunda.. Olive gak mau sendirian Ayah.." perkataan Olive membuat semua orang terkejut. Deniaa langsung menghampiri Olive..


"Heh! Lo gila yaa.. lo mau bunuh diri gitu!?" ucap Denia penuh emosi. Baru kali ini dia melihat Olive begitu putus asa sampai memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.


"Apa lagi yang bisa gue lakuin Dee? Orang yang gue sayang satu persatu udah pergi ninggalin gue. Lo sama Salsa juga akan pergi kan? Trus sama siapa gue disini?" Ucap Olive sedih. Dewi yang mendengar hal itu pun merasa kalau dirinya tidak berguna sebagai Ibu untuk Olive. Viona yang melihat Ibu nya, menghampiri Olive.


"Liv, kita masih ada kok. Gue sama mamah sayang kok sama Lo." ucap Viona sambil menangis menyesali apa yang mereka buat. Hal itu membuat Olive terkekeh.


"Omong kosong tau gak! Gue gak percaya sama lo berdua. Lo senang kan sekarang!?" ucap Olive pergi keluar ruangan.


Denia dan Salsa ikut mengejar Olive. Sedangkan Dewi menghampiri anaknya sambil tersenyum.


"Akting kamu luar biasa sayang.. mamah kagum sama kamu." ucap Dewi yang langsung disambut seringaian oleh Viona.


"Iya dong mah, pokoknya kita harus buat dia percaya sama kita. Sehingga kita akan mudah menguasai hartanya." ucap Viona semangat dan beralih menatap Papah nya yang sudah meninggal.


"Pah, maafin Viona ya.. emang ini tujuan kita untuk ngehancurin Olive. Selamat beristirahat Papah, muahh" ucap Viona sambil terkekeh pelan.


"Mas, ini yang aku tunggu selama ini. Kecelakaan dua tahun yang lalu tidak membuatmu mati. Tapi kecelakaan sekarang membuatmu mati. Hanya Olive yang perlu kami singkirkan sekarang." ucap Dewi mengelus kepala suaminya yang terbaring tak bernyawa.


Sedangkan dilain sisi. Salsa dan Denia melihat OLive yang menangis di taman rumah sakit. Mereka menghampiri Olive.


"Liv, lo harus kuat. Ayah sama Bunda lo udah tenang disana. Lo jangan nangis, itu bisa buat mereka sedih Liv." Olive pun langsung menuruti ucapan Denia. Dia nggak mau Bunda dan Ayahnya sedih. Dia harus kuat.


"Liv, sekarang ayo kita urus jenazah bokap lo. Biar dia bisa istirahat dengan tenang." ucap Salsa.


Mereka beranjak pergi untuk mengurus jenazah Ayah Olive.


🐨


Olive menatap pusara sang Ayah.


'Olive sayang sama Ayah, maafin Olive yang selalu melawan sama Ayah. Olive rindu Ayah sama Bunda. Olive janji akan jadi anak yang baik, Olive akan banggain Ayah dan Bunda' batin Olive.