
Di sisi lain, ada Risya, Sigra dan teman-teman lelaki itu juga berjalan menuju ke arah parkiran. Risya menengok ke sisi kiri dan kanan, menilik ke sekitar parkiran.
"Bang, aku pulang bareng Rizhan, ya." Ucapannya sontak membuat para lelaki itu menoleh seketika kecuali Rizhan sendiri.
"Ngapain?" Tanya Sigra dengan nada dingin.
"Mau mampir ke toko kue," sahut Risya sambil tersenyum canggung.
Rizhan nampak tersenyum kecut. Alasannya pasti sangat tidak bisa diterima oleh Sigra. Nanti lelaki itu akan menanyakan 'kenapa tidak bareng dia saja?'
"Kenapa gak bareng Abang aja?" Tuh, kan! Tebakannya tak meleset sedikitpun. Rizhan menatap ke arah gadis itu. Lihat, bagaimana dia akan menanggapinya?
Risya terdiam seraya mengerjap pelan membuat Rizhan lantas menghela nafas panjang. Oke, biar dia yang turun tangan. Ia mendekat ke arah Sigra dan menepuk bahu lelaki itu.
"Pinjem bentar aja, Gra. Ntar gue balikin, kok, selamat sampai rumah," katanya.
Sigra langsung memicingkan mata curiga. Bahkan yang lain pun nampak menatap lekat ke arah Rizhan. Tumben anak itu mau jalan dengan perempuan?
"Gue gak bakal ngambil Risya, Gra, lu tenang aja." Rizhan seketika terkekeh kecil. "Dia gak bakal terluka, gue jamin itu."
Beberapa saat sempat terjadi berdebatan di antara keduanya, Risya pun sesekali menimpali saja jika saatnya ia diperlukan. Dan pada akhirnya, Sigra mengalah dan memperbolehkan sang adik pergi bersama temannya.
"Ingat jam yang udah ditentuin dan kamu udah harus sampai di rumah juga." Sigra berucap tapi dengan wajah tak bersahabat sama sekali. Sigra sulit sekali melihat adiknya pergi bersama laki-laki lain apalagi dengan temannya sendiri.
"Oke!" Seru Risya sambil tersenyum lebar. Saat semua sudah pergi meninggalkan parkiran dan kini hanya tertinggal Rizhan dan Risya sendiri.
"Pakai helm-nya dulu, Sya," ujar Rizhan seraya ngacak rambut Risya pelan. Gadis itu terlihat termenung sambil memeluk sebuah helm.
Kalau sudah berdua dengan Risya, contohnya sekarang ini, entah kenapa Rizhan malah terlihat seperti laki-laki dewasa ketimbang ketika ia sedang bersama dengan teman-temannya.
"Ck, kayak Abang gue aja lu, Zhan!" Celetuk Risya sembari menghentikan lamunannya. Ia pun memasangkan helm di kepala dengan benar.
"Kan gue emang lebih tua dari lu, Sya, patut aja 'kan kalau gue jadi Abang?" Ucap Rizhan seraya mengulas senyuman.
Risya meliriknya sekilas. "Abang? Bukannya kita seumuran, ya?" Tanyanya.
"Emang kalau seumuran gak bisa jadi Abang, gitu? Anak kembar aja bisa tuh!" Dengkus Rizhan. "Eh bentar-bentar, tapi lu dari mana kalau kita seumuran?" Ia menatap Risya dengan lekat.
Risya menghembuskan nafas dan berkata, "fans. Mereka sering ngomongin kalian. Bukan cuma lu, gue bahkan tau usia tiga temen lu yang lain."
Rizhan langsung terdiam. Iya juga, pasti sebagian orang mesti tahu usia mereka. Dan itu juga bukan termasuk sebuah rahasia.
"Udah ah, yuk! Berangkat aja," ajak Risya. Kalau berlama-lama nanti beneran kena omel Sigra. Rizhan kemudian mengangguk dan mereka pun bergegas meninggalkan sekolah yang mulai sepi.
Jalanan di dekat sekolah terlihat lumayan ramai sebab jam pulang mereka bersamaan dengan jam pulang sekolah tetangga.
"Zhan!" Risya menepuk pundak Rizhan dan membuat lelaki itu mengurangi kecepatan motornya agar bisa mendengar suara Risya.
"Kenapa?"
Risya sedikit mencondongkan kepalanya ke depan. "Lu inget 'kan apa yang gue bilang tadi?"
"Iya, iya, gue inget kok," sahut Rizhan. Ia berbelok dan melewati jalan pintas yang lain. "Sya, ntar jadi gak ke toko kue?" Tanyanya kemudian.
"Jadi lah! Lu mau digebukin Sigra apa kalau gak ada bukti kita pergi ke sana?"
"Benar juga," kata Rizhan dalam hati.
***
Tiga buah kendaraan roda dua nampak mengikuti seorang lelaki dari belakang. Rey, lantas menaikan gas motornya agar melaju dengan cepat. Namun ternyata mereka juga melakukan hal serupa. Tiga pemuda itu kemudian menghadang Rey dengan cara menghalangi jalan lelaki itu.
Rey otomatis berhenti karena ulah mereka. "Maksud lu apa?!" Ia sdah melepas helm yang terpasang di kepala seraya menatap nyalang ke arah tiga lelaki yang tidak dikenalnya.
"Oh bagus deh ternyata lu sendirian," celetuk salah satu di antara tiga orang itu.
"Lu siapa sih?" Sentak Rey. "Gak usah sok nyari masalah sama gue!"
"Iya, iya, kita tau lu hebat," sahut mereka sembari tertawa mengejek.
"Minggir. Gue gak ada urusan sama lu pada."
"Iya bener, tapi kita yang punya urusan sama lu di sini," katanya sambil menyeringai ke arah Rey.
***
"Lewat sana gak, ya?"
Soya terus bergumam sedari tadi sambil menimbang-nimbang sebuah pilihan. Ia terlihat bingung sampai-sampai ia membawa mobilnya dengan pelan saja sebelum sampai ke persimpangan.
"Eh tapi ngapain juga sih gue dengerin tuh pesan! Siapa tahu 'kan itu beneran orang jahat." Soya sangat bimbang dan ragu saat memutuskan pilihan. "Tapi dia bilang bukan orang jahat, ya?"
"Tapi kalau semisal ada yang jahat juga gue kan masih aman, ya, pakai mobil. Kalau ada yang nyegat, ya, gue tinggal tabrak. Beres."
"Tapi nanti gue malah dipenjara karena nabrak orang, gimana?"
"Ah au ah! Pusing gue!"
Setelah beberapa kali berpikir dan memutar otak, ia akhirnya memutuskan untuk memilih jalan sesuai apa yang tertulis di pesan. Kalau dari depan sini sampai hampir setengah jalan, masih terlihat rumah-rumah orang yang ramai. Namun jika pergi lebih ke sana lagi, jalannya bakal sepi dan lumayan sunyi.
"Gak apa-apa kali, ya?" Celetuk Soya. "Ya Tuhan, tolong lindungi hamba-Mu ini, dan jika ada orang jahat tolong hukum aja orang yang ngarahin jalan ke sini."
Usai berdo'a, Soya fokus pada jalanan di depannya. Ia mengemudi dengan santai sambil melihat ke arah depan dan sesekali melirik ke arah belakang melalui kaca spion. Tidak ada apa-apa.
"Lah 'kan bagus, ya, kalau emang gak ada apa-apa," dengkus Soya sendiri. "Ini oke, sih, gue juga udah lama gak lewat sini. Gak ada yang berubah kayaknya, suasananya juga masih tetap sama."
Sambil menyusuri jalanan yang memasuki wilayah sepi, Soya terdengar bernyanyi-nyanyi kecil untuk menghilangkan rasa bosan yang melandanya.
Soya seketika memperlambat kecepatan mobilnya, ia memicingkan mata ke arah depan sana saat terlihat ada sesuatu di tengah jalan.
"Apaan, tuh?" Gumamnya. "Itu orang bukan, ya? Lagi pada ngapain tuh?" Matanya seketika langsung terbelalak lebar kala menyadari kalau ada seseorang yang tengah dikeroyok oleh tiga orang pemuda.
"Buset dah!"
Tin! Tin! Tin!
Ia membunyikan klakson hingga membuat ketika pemuda tadi lantas menoleh ke arah sejurus.
"Cabut!" Ucap salah satu di antara mereka dan kemudian bergegas ke arah motor masing-masing.
"Woi, lu ngehajar anak orang, bangsat! Tanggung jawab dulu, ini!" Pekik Soya setelah keluar dari mobil dan berlari mengejar mereka. Tapi tak sempat sebab motor mereka sudah melaju dan meninggalkan tempat.
"Ah elah, malah pada cabut!" Gerutu Soya sembari mengatur nafasnya. Ia kemudian menengok ke arah bawah, menatap ke arah seseorang yang baru saja digebuki oleh mereka.
"Astaga! Rey?!" Kagetnya setelah melihat siapa yang telah menjadi korban pengeroyokan.
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...