
Tok!
Tok!
Tok!
Ketukan pintu itu seketika membuyarkan lamunan Risya dan membuat nya tersadar sekaligus tersentak kaget, ia segera menolehkan kepala ke arah kamar nya.
Karena kaca balkon itu bening jadi ia bisa melihat keseluruhan isi kamar nya. Namun keadaan nya kembali hening hingga membuat nya jadi berpikir kalau tadi ia hanya salah dengar saja.
Tok!
Tok!
Tok!
"Ca!"
Yang dipanggil pun sontak beranjak dari tempat duduk. Berarti telinga nya masih waras dan tak salah dengar. Itu kan suara nya Sigra? Berarti anak sekolahan memang sudah pulang. Risya kemudian melangkahkan kaki nya ke arah pintu dan membuka pintu tersebut.
Ia terkesiap dan mengerjap lucu saat melihat Sigra ternyata tak sendiri, ia bersama Rhaegar dan juga Alby. Eh? Dari mana mereka tahu kalau ia sudah pulang dari rumah sakit? Apakah Sigra yang memberi tahu mereka?? Ah itu tak mungkin!
Risya membuka pintu kamar nya dengan lebar sambil kepala nya celingak - celinguk ke sana kemari. "Gue sama Rhae doang, Sya. Yang lain gak ada," sahut Alby seolah mengerti apa yang membuat Risya jadi bertingkah seperti itu.
Risya menatap Alby seraya menghentikan aksi nya, ia mengangguk lalu mengajak mereka untuk masuk. "Yuk masuk!" Ajak nya.
"Eits!!"
Alby dan Rhaegar langsung menengok ke arah Risya yang nampak menahan Sigra untuk ikut masuk ke dalam. Risya masih merentangkan kedua tangan nya di depan Sigra, benar - benar seperti tak membolehkan lelaki itu untuk bergabung dengan mereka.
"Mau kemana?" Tanya Risya dan lantas membuat Sigra mengernyit heran.
"Mau masuk," sahut nya. Sigra hendak melangkah masuk namun Risya masih tetap kekeuh untuk menahan nya.
"Ayen gak boleh ikut masuk," kata Risya.
"Kenapa?"
Risya tersenyum menatap nya, ia mendekatkan mulut nya ke telinga Sigra. "Gak boleh, nanti temen - temen Caca ngerasa canggung kalau Abang ada disini," bisik nya seraya kembali menjauhkan kepala nya.
"Kenapa?" Tanya Sigra dingin. Hawa - hawa suram seketika menguar dan membuat Risya gelagapan. Kenapa Sigra tidak diperbolehkan untuk masuk? Alby dan Rhae itu laki - laki dewasa, apa yang akan mereka lakukan jika Risya seorang diri saja di dalam?!! Sungguh terlalu overthinking lelaki ini.
Cup!
Sigra langsung membeku kala Risya mengecup pipi nya walau dalam waktu singkat. Hawa - hawa tak enak tadi perlahan jadi menghilang. "Nurut, ya. Biarin Caca sama temen Caca dulu. Jangan khawatir, mereka gak bakal bisa macem - macem. Oke?"
Sigra seketika menganggukkan kepala, tentu itu membuat Risya senang dengan sikap penurut Sigra dibanding ia yang biasa nya keras kepala. Lagipula sebenar nya ia begitu malas bertingkah seperti ini.
"Tatahhh!!"
Brak!
Sigra jelas kaget saat Risya tiba - tiba menutup pintu kamar tersebut. Lelaki itu mendecakkan lidah saat merasa dipermainkan oleh adik nya sendiri. Lihat saja nanti, jika dua lelaki yang berada di dalam itu macam - macam bakal ia habisi mereka ditempat dan di detik itu juga.
Risya yang masih berdiri dibelakang pintu kini melangkahkan kaki nya menghampiri Rhaegar dan Alby yang duduk di pinggir kasur milik nya.
"Sya." Wajah Alby masih terlihat syok saat melihat adegan itu di depan mata nya. Gila! Kenapa Risya mencium Sigra?!!
Risya tersenyum tipis, ia melirik ke arah Rhaegar yang terlihat biasa saja. Seperti nya Rhae sudah tahu mengenai hubungan nya dengan Sigra. "Ke balkon, yuk. Entar gue jawab pertanyaan lu."
Mereka menurut saja dan langsung beranjak mengikuti Risya. Di balkon kamar itu, ada satu sofa yang muat dua orang dan satu kursi yang terletak meja di depan nya.
"Jadi?" Tanya Alby setelah menaruh bokong nya dengan tepat di sofa. Risya melirik sekilas sebelum kembali menatap ke arah ponsel yang berada di tangan nya.
"Menurut lu gimana?"
Alby terdiam sejenak, memikirkan kata - kata apa yang akan keluar dari mulut nya selanjut nya. "Pacaran?" Tanya nya kemudian ia kembali terdiam dan mengernyit. "Kayak nya bukan," gumam nya kecil membuat Risya tersenyum mendengar nya. "Kalau diperhatikan dengan teliti, muka lu berdua rada mirip."
Risya seketika tersedak ludah nya sendiri, apa benar wajah diri nya dan Sigra mirip? Berarti mata para murid GIBS dan juga para guru disana tidak pernah teliti dalam menilai orang - orang yang berada di ruang lingkup sekolah. Apakah begitu??
Tok!
Tok!
Tok!
Tuh kan benar! Bi Iyem berdiri di depan pintu dengan senyuman sambil membawa nampan berisikan minuman dan beberapa cemilan.
"Ini, Non."
Risya meraih nampan itu seraya berucap, "makasih ya, Bi." Kemudian si Bibi pun mengangguk dan berlalu dari hadapan Risya. Risya hanya menutup pintu kamar nya tanpa mengunci nya, ia membawa masuk nampan tersebut dan menaruh nya di atas meja kecil yang ada di balkon.
"Nih, minum dulu," ujar Risya lalu mendudukkan bokong nya. "Jadi gimana?" Sambung nya membuat Rhae yang sedari tadi tak menimbrung obrolan mereka pun jadi menyahut.
"Gimana apaan?" Tanya lelaki itu sambil menelengkan kepala.
Risya memutar bola mata nya. "Bukan elu, tapi Alby," sahut nya. "Egar pasti udah tau kan?" Rhaegar lantas melemparkan senyuman ke arah Risya. Sudah bisa di tebak sih, lelaki ini agak aneh.
"Jadi tebakan lu tentang gue sama Sigra apaan?" Tanya Risya pada Alby.
Alby melirikkan pandangan nya ke atas, sesaat. "Adek kakak?" Terka nya kalau menyesap jus milik nya.
"Bener!" Ucap Risya sambil menjentikkan jari nya.
Uhuk! Uhuk!!
Rhaegar langsung menepuk - nepuk punggung belakang Alby. "Santai Al minum nya, gak usah buru - buru."
Alby tak menanggapi perkataan Rhaegar, ia justru menatap Risya dengan lekat. "Beneran?" Tanya nya seolah tak percaya dengan tebakan nya sendiri. Risya justru menganggukkan kepala nya. "Padahal gue cuma ngomong asal," sambung Alby lagi.
Risya mengalihkan pandangan dari mereka, gadis itu terlihat sedang menghela nafas panjang. "Ya gitu sih kenyataan nya, mau gue berdalih juga gak bisa karena emang kayak gitu keadaan nya." Risya menatap ke arah Alby. "Tapi gue minta lu biasa aja ya kalau ketemu Sigra, gak usah kaget atau segan sama dia. Biasa aja lah gitu, anggap lu gak tau apa - apa."
Alby menarik lekuk bibir nya membentuk senyuman. "Oke," sahut nya seraya mengusal rambut Risya pelan. "Elu beneran udah sehat, Sya?"
Risya menganggukkan kepala nya. "Iya, udah sehat gue. Eh, Soya gak ikut ke sini apa?" Tanya nya usai Alby menjauhkan tangan nya dari rambut nya.
Rhae menggelengkan kepala membuat Risya membulatkan bibir nya. "Rin," panggil lelaki itu.
"Hm?"
"Tadi si wewe gombel bikin masalah sama Soya." Risya tersedak dan hampir menyemburkan minuman milik nya kala mendengar perkataan Rhaegar.
"Maksud lu si Nina?" Rhae menganggukkan kepala. "Ngapain dia?" Sambung Risya.
"Nabrakin diri nya ke Soya," timpal Alby. Ia juga tahu kisah itu karena diceritakan oleh Rhae saat mereka di kelas tadi.
"Terus gimana? Ada yang bela in Soya gak? Dia baik - baik aja kan?" Tanya Risya beruntun dan dengan sekali tarikan nafas.
Rhaegar menggaruk kepala nya yang mendadak terasa gatal. "Baik - baik aja, Rin. Cuma ya mungkin lecet dikit."
"Kenapa?"
"Ketumpahan kopi panas di baju seragam nya," sahut Rhae. "Tapi masih oke sih, ada ketua osis yang lerai mereka. Ada Relvan juga."
"Relvan bela in Nina?" Tanya Risya. Rhaegar menggelengkan kepala membuat gadis itu mengernyit heran. Kalau bukan pembela Nina, lalu Relvan pembela siapa?
"Dia bela in Soya," sahut lelaki itu sambil menatap lekat ke dalam mata Risya.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...