
Karena menyadari raut wajah adiknya, Sigra segera mengusap kepala Risya untuk menenangkan mood sang adik yang hancur seketika.
"Caca mau rasa apa, hm? Biar aku beliin," ucapnya.
Merasa tak mendapatkan respon dari Risya, Sigra nampak menghela nafas panjang. Entah mengapa sudah dua hari ini suasana hati Risya seperti sedang tidak baik-baik saja. Mungkin sebab pengaruh sesuatu atau apalah itu.
Kadang pemarah, ngambekan, padahal salahnya cuma secuil saja tapi diperbesar. Ia tak terlalu mengerti pasal perempuan itu bagaimana, apalagi tentang suasana hatinya yang selalu berubah-ubah.
Sigra kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Tunggu bentar ya," ucapnya sambil berlalu dari hadapan Risya.
Risya masih memasang raut cemberut, Soya yang menyadarinya pun dengan sigap mengusap punggung temannya itu. "Sya, lu nggak apa-apa, kan?" Tanyanya.
Risya menggelengkan kepalanya sebagai respon. Soya mengulas senyuman tipis, mood yang sering berubah-ubah dan marah tidak jelas juga. Apa Risya sedang berada dalam periode masa pms?
Tuk!
Satu cup es krim berukuran sedang Sigra letakkan di depan Risya, gadis itu mendongak memandangnya. Cepat sekali Sigra kembali?? Perasaan tadi lelaki itu baru saja pergi? Apa Sigra membelinya sambil berlari??
"Jangan ngambek lagi, Ca," ucap Sigra sambil sedikit mengusal rambut Risya.
Risya mengulum senyuman yang hampir tak bisa ia tahan, es krim rasa stroberi dengan toping kacang almond yang bertabur di atasnya. Ini begitu menggugah seleranya. Tapi... Ia tak bisa langsung menerima, sebab lelaki itu tadi juga membuat ia kesal. Sedikit.
"Aku gak mau!" Tukas Risya dengan raut kesal namun malah menjadi lucu di mata Sigra.
"Seriously?" Sigra tersenyum seraya menaikan sebelah alisnya. Menggoda adiknya, ia tahu Risya tak mungkin bisa menolak karena ini es krim dengan rasa yang paling ia sukai.
Kalau ia juga menolak, mungkin itu dengan hati yang berat.
"Ya," sahut Risya. "Ntar aku malah dibilang manja lagi." Ia kemudian membuang pandangan ke arah lain.
Bukannya ingin banyak bertingkah, tapi jujur saja ia masih kesal perihal perkataan Nina juga Sigra yang awalnya tidak menyetujuinya. Satu cup es krim tak akan bisa membuatnya sakit, kecuali ia memakannya sampai puluhan cup.
Bukan juga ingin jual mahal dan tak mau menerima pemberian Sigra apalagi tak menghargainya, ia hanya menguji seberapa gigih Sigra dalam membujuknya.
Ini juga bisa dijadikan pembelajaran saat Sigra nanti sudah punya pacar, cara menghadapi pacar yang ngambek dan dalam mood yang anjlok.
"Beneran nih?" Sigra tak mendapatkan jawaban dari sang empu. "Ya udah, aku buang aja kalo gitu." Ia hendak meraih cup es krim tersebut tapi langsung dihentikan oleh Risya.
"Eeh!" Risya jadi tak terima saat Sigra berucap seperti itu.
"Kenapa?" Tanya Sigra sambil tersenyum jahil ke arah adiknya. "Katanya tadi nggak mau?"
Risya mendengus sebal seraya merebut cup es krim dengan cepat lalu membuka tutup cup tersebut. "Buang-buang uang kalo akhirnya dibuang!" Ketusnya sambil memasukkan satu sendok es krim ke dalam mulutnya.
Sigra lantas mendengus tawa sambil geleng-geleng kepala. Salah siapa juga tadi berkata tidak mau? Saat ia ingin membuang malah tidak terima.
Risya terdiam meresapi rasa buah stroberi dan susu yang di mix menjadi satu, terasa dingin dan meleleh di atas lidahnya. Rasanya kenapa bisa seenak ini, ya? Ia begitu menyukainya.
"Ternyata Sigra bisa so sweet juga ya?" Celetuk Rey dengan nada berbisik.
Rizhan melirik ke arah lelaki yang bersebelahan dengannya itu . "Bisa lah, dia kan juga manusia, punya perasaan. Gak kaya elu!" Sahutnya membuat Rey lantas menyentil jidatnya pelan.
"Tapi Risya beneran pacarnya? Kok dia gak pernah cerita ke kita dan malah diam-diaman aja?" Tanya Rey lagi.
Benar, kan? Bukan kah mereka sudah menjadi teman? Berteman sudah lebih dari lima tahun, tapi mengapa masih ada rahasia di antara mereka? Ingat, rahasia bisa menghancurkan pertemanan kalian dalam sekejap mata.
Pihak satu memang melindungi atas dasar dirinya pribadi tetapi pihak lainnya pasti merasa terkhianati dengan hal tersebut padahal sudah saling percaya satu sama lain. Dan pada akhirnya semua memilih pergi dan meninggalkan kamu sendirian.
Tak semuanya begitu, namun rata-rata seperti itu.
Rizhan menghembuskan nafasnya ke udara. "Masalah pribadi. Gak semuanya bisa kita beritahu sama orang lain," katanya.
Rey tak merespon, ia memandangi Risya lekat-lekat sambil mengetuk-ngetukan jemarinya di atas meja.
Cukup lama, tidak terlalu lama juga sih hanya beberapa menit saja. Alisnya berkerut seketika. Kalau dipandangi lama-lama, kok sekilas rada mirip sigra, ya?
Rey langsung menoleh ke arah Rizhan dan kebetulan bocah itu juga tengah menatap ke arahnya dengan raut tanya.
"Yah... malah tumpah." Seketika semua yang ada di meja ini mengalihkan atensi mereka ke arah Nina.
"Kenapa?"
"Gak bisa duduk," tambahnya sambil melirik ke arah Risya. Biar perempuan itu memberikan kursinya pada Nina dan ia bisa duduk di depan Sigra.
"Di lap elah!" Celetuk Soya sambil memandang Nina dengan jengah.
Hanya ketumpahan air minum di atas kursi saja dibuat ribet, tinggal ambil lap atau pakai tisu 'kan bisa? Lagian kenapa juga pakai acara ketumpahan segala? Mau caper? Sekalian aja tumpahin ke seragam biar gak nanggung!
Kesal juga Soya melihat tingkahnya. Sedari tadi meja mereka selalu ribut saja, entah apa yang diributkan, bermacam-macam hal yang terus dipermasalahkan. Tidak jelas dan bikin muak saja.
Risya mendecakkan lidahnya dan beranjak seketika dari tempat duduk.
"Sya, elu mau kemana?" Soya mendongak menatap Risya.
Risya menatap Soya sekilas. "Balik," ucapnya. "Mood gue ancur mulu disini."
Setelah berkata seperti itu, Risya melangkahkan kakinya hendak meninggalkan meja dan keluar dari kafetaria. Tapi Sigra malah menarik lengannya hingga membuatnya berhenti. Risya menoleh dengan datar.
"Sini," perintah Sigra sambil menarik Risya untuk mendekat dan duduk di pangkuannya.
Risya tersentak dengan wajah yang nampak terkejut. Serangan mendadak dari Sigra hampir saja membuat jantungnya copot seketika.
Teman-teman Sigra sangat syok melihat mereka bahkan Nina dan Soya juga. Yang lain pun sampai syok juga sampai tak bisa berkata-kata lagi, sibuk menganga dan tercengang melihat pemandangan di depan mata mereka.
Sebagai ship GraSya, mereka tentu saja langsung tersenyum cerah bahkan ada yang langsung memotret momen tersebut tanpa disuruh. Kapal mereka harus berlayar dan jangan sampai karam.
"Abang jangan bikin malu!" Bisik Risya dengan wajah yang memerah seperti tomat. "Lepasin, Caca mau ke kelas," pintanya lagi.
Tapi Sigra malah semakin mengeratkan pelukannya di pinggang sang adik. Risya mendengus dengan kesal sambil memicingkan matanya dengan sangat.
"Lepasin atau aku pukul?"
"Emang kamu berani?" Tanya Sigra seraya mengambil alih cup eskrim yang dipegang oleh Risya.
Ia sendok eskrim tersebut dan menyuapkannya ke mulut gadis itu, adiknya itu ternyata malah menerimanya. Ia kira Risya akan menolak atau langsung menepis tangannya. Ternyata tidak.
"Ciee! Langsung publis, ya?" Kata Rizhan diiringi dengan tawa renyahnya.
"Anjir lu, Gra! Gue syok gila!" Seru Angga. "Untung gue tuh gak syok berat dan kejang-kejang sampai sekarat."
"Lebay banget lu!" Tukas Soya pada Angga. "Kayak gak pernah liat orang romantisan aja! Makanya cari pacar biar gak jomblo."
"Elah kayak situ punya pacar aja!" Sergah Angga.
"Gue punya! Emang elu? Jomblo dari orok aja bangga."
"Dih!"
"A--" Risya hendak ikut menimpali obrolan mereka namun Sigra malah menutup mulutnya dengan tangan besarnya.
"Diem. Abisin aja es krim kamu, nanti leleh semua," ucapnya sambil menjauhkan tangannya dari mulut Risya.
AAAAAA!!!! Risya ingin sekali berteriak di dalam hati, ia kesal dengan lelaki ini. Ya Tuhan, bisa tukar tambah Kakak laki-laki tidak??
Risya tak mau Sigra!
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...