
Menghilangkan kekesalan karna melihat Viona hari ini. Olive memutuskan untuk menghubungi Denia dan Salsa.
Olivia
Kalian berdua nggak kangen sama gue? βΉ
Salsa Comel
Kangen banget dong. Gue kangen kita ngumpul.π₯Ί
Deniaa
Ambil cuti yuk Sal.. kita balik ke Indo.
Salsa Comel
Enak aja lo ngomong ya Dee... lo pikir ini Universitas milik kakek lo.
Olivia
Udah gausah berantem.
Mendingan kalian pindah lagi aja kesini π€
Salsa Comel
Otw yuk Dee π
Deniaa
Yuk yuk π
Olive meletakkan kembali ponselnya. Chat singkat yang dilakukannya dengan Denia dan Salsa membuat mood nya sedikit membaik. Ia kemudian berbaring diranjang memikirkan ucapan Viona.
'Kalau dipikir-pikir ucapan Viona bisa aja benar. Kalau gue maafin Vio, musuh gue bekurang satu. Dan gue bisa manfaatin dia untuk ngebalas Dewi sialan itu. Tapi masa gue manfaatin Viona sih, kasihan banget dia.' Batin Olive
π¨
Aiden melihat Viona yang tertidur diruang tamu. Sedangkan Daren sudah pulang, Aiden menyuruh Viona tinggal dimansionnya untuk sementara agar Viona bisa dengan mudah mendapatkan maaf dari Olive. Aiden tahu kalau Olive adalah tipe orang yang sulit memaafkan.
'Kemana Olive? Mungkin dia istirahat dikamar.' Batin Aiden.
Aiden menghampiri Viona.
"Ekhm.." Aiden berdehem membuat Viona kembali dari alam bawah sadarnya. Viona terkejut melihat Aiden yang berdiri sambil menatapnya.
"Eh.. maaf, aku tertidur tadi.." ucap Viona takut-takut. Ia dapat merasakan kalau Aiden masih menatapnya.
"Kau tidurlah dikamar tamu. Daren sudah ku suruh pulang. Kau akan tinggal disini sementara waktu. Aku memberimu kesempatan untuk mendapat maaf dari Olive." Kata Aiden dingin dan berlalu meninggalkan Viona yang termenung.
Melihat kepergian Aiden, Viona tersenyum haru.
'Ternyata dia lelaki yang baik. Beruntung sekali Olive mendapatkan hatinya, tidak sepertiku..' batin Viona sedih.
"Kau tenang saja tuan, aku akan memanfaatkan waktu yang kau beri dengan baik. Aku janji tidak akan mengecewakanmu." Gumam Viona.
***
Aiden masuk kekamar Olive, ia melihat Olive sedang tidur. Kemudian Aiden menghampiri Olive, sejenak ia memandang wajah Olive.
"Aku ingin kau berbaikan dengan Viona. Entah mengapa aku merasakan rasa hangat saat berada didekatnya. Aku mencintaimu dan aku yakin Viona tidak berniat jahat padamu." Gumam Aiden. Ia mengecup pelan kening Olive dan beranjak pergi keluar dari kamar Olive.
Sepeninggal Aiden, Olive bangun dan sudut matanya mengeluarkan buliran air mata.
"Gue nggak nyangka lo setega itu sama gue. Gue pikir lo benar-benar cinta sama gue. Ternyata lo cinta sama Viona. Gue benci lo Aiden.." ucap Olive lirih, ia menangis mengingat apa yang dikatakan Aiden.
'Kenapaa... kenapa gue harus jatuh cinta sama orang sepertinya.. hiks. Dan kenapa harus Viona, kenapa harus dia yang menjadi sainganku.' Batin Olive.
π¨
"Iya makasih ya.." kata Viona lembut..
"Kalau begitu saya permisi nona." Pelayan itu ingin beranjak meninggalkan Viona. Namun, langkah nya terhenti.
"Eh.. tunggu! Siapa namamu?" Tanya Viona yang membuat pelayan itu menoleh.
"Nama saya Devi nona.." ucap pelayan itu.
"Mulai sekarang kita berteman. Kau bisa panggil aku Viona aja tanpa embel-embel nona. Karna nona dirumah ini adalah Olive bukan aku.." kata Viona yang mendapat anggukan dari pelayan itu.
"Iya Viona.." ucapnya membuat senyuman terbit diwajah Viona.
Kemudian Viona masuk kedalam kamar dan mulai membersihkan badannya.
π¨
Olive datang ke meja makan. Disana terlihat Aiden dan Viona duduk menunggu dirinya untuk makan malam. Olive melihat mereka dengan tatapan malas. Olive memilih duduk dikursi yang jaraknya agak jauh dari Aiden dan Viona.
Mereka mulai menikmati makan malamnya. Terkecuali Olive, dia selalu memperhatikan tingkah Viona. Ia menatap Viona dengan tatapan sinis.
Merasa diperhatikan, Viona mendongak menatap Olive dan tersenyum membuat Olive mendengus jijik. Viona yang mendapat perlakuan seperti itu tersenyum getir. Ia merasa pantas mendapatkan perlakuan itu dari Olive.
"Bagaimana Viona, apakah kau betah tinggal disini?" Tanya Aiden memecahkan perang dingin antara Olive dan Viona.
"Aku betah kok tinggal disini." Ucap Viona membuat Olive semakin kesal.
'Yaiyalah betah, disini fasilitasnya lengkap dan super mewah. Tentu saja kau akan betah.' Batin Olive. Olive beranggapan bahwa Viona hanya memanfaatkan keadaan untuk menikmati fasilitas disini. Dan entah mengapa ketika melihat Aiden menanyakan kenyamanan Viona membuat Olive muak.
Viona yang melihat Olive menggerutu, tersenyum maklum.
"Kenapa kau menggerutu Liv. Kau cemburu melihat Aiden menanyakan kenyamanan ku?" Tanya Viona yang bermaksud menggoda Olive. Aiden yang mendengarnya tersedak membuat Olive dan Viona panik sehingga dengan bersamaan mereka menyodorkan air putih kehadapan Aiden.
Dengan cepat aiden mengambil gelas yang dipegang Viona. Karena jaraknya lebih dekat daripada Olive.
Melihat hal itu membuat Viona menjadi canggung. Sungguh dia tak bermaksud untuk membuat Olive cemburu. Ia hanya panik saat perkataannya membuat Aiden tersedak makanan.
Sedangkan Olive tersenyum getir sambil meminum air putih yang dipegangnya.
"Aku tidak cemburu dan aku tidak akan pernah mencintainya. Kalau kau ingin, kau bisa mengambilnya." Kata Olive menjawab pertanyaan Viona. Olive kemudian beranjak pergi menuju kamarnya. Ia yang tidak selera makan semakin mual melihat adegan dimana Aiden meminum air yang diberikan Viona. Mereka sudah seperti sepasang kekasih yang melakukan dinner, sedangkan dirinya hanya seekor lalat yang menumpang makan. Pikir Olive.
Viona menatap kepergian Olive dengan perasaan bersalah. Viona beralih memandang Aiden yang termenung menatap makanannya.
Aiden merenungi ucapan kalimat yang diucapkan Olive.
'Apa aku sama sekali tidak mendapat tempat di hatimu? sehingga kau dengan mudah mengatakan kalau kau tidak akan pernah mencintaiku. Aku tidak peduli kalau kau tidak akan pernah mencintaiku, aku akan terus mencintaimu. Tapi aku sangat kecewa karena kau tidak memberikan kesempatan untukku masuk kedalam hatimu. Apakah di dalam hatimu sudah ada orang lain sehingga kau tidak memberi ku jalan masuk?' batin Aiden. Suara Viona membuat lamunan Aiden buyar seketika.
" Maafkan aku Aiden, aku nggak punya maksud untuk..." ucapan Viona terhenti melihat Aiden meletakkan sendok dan garpu nya.
"Selera makan ku sudah hilang. Kau lanjutkan makan mu." kata Aiden beranjak pergi meninggalkan Viona.
Viona semakin merasa bersalah. Jika saja ia tidak berniat menggoda Olive, pasti semua ini tak akan terjadi pikir Viona.
"Astagaa.. apa yang sudah ku lakukan." gumam Viona meraup wajahnya frustasi.
***
Olive menangis dikamarnya. Ia bersandar dibelakang pintu. Kejadian tadi membuat Olive berpikir kalau dia bukanlah orang yang penting di hidup Aiden. Ia merasa sangat bodoh telah berlindung pada Aiden, nyatanya Aiden memilih Viona dibandingkan dengan nya. Itulah yang ada dipikiran Olive saat ini.
Aiden yang melewati kamar Olive dapat mendengar suara tangis Olive. Sejenak Aiden berhenti didepan kamar Olive.
'mengapa dia menangis? bukankah dia tidak menyukai ku, lalu apa yang di tangisi nya.' batin Aiden. Kemudian ia beranjak pergi dari kamar Olive. Ia tahu kalau Olive sedang emosi. Jika ia masuk, Olive hanya akan semakin emosi melihatnya. Mungkin Olive butuh waktu untuk sendiri, pikirnya.
'Aku akan berusaha untuk pergi dari sini. Untuk apa aku berada disini, aku merasa perasaanku akan hancur ketika melihatmu dengan Viona. Lebih baik aku pergi dari sini. Aku akan berusaha mengikhlaskan mu dengan Viona jika kau bahagia bersamanya.' batin Olive.