Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
DNLM 4



"Olive, ayo kita pulang nak. Ini udah mau hujan" ucap Dewi lembut penuh kasih sayang yang pastinya cuma pura-pura.


"Iya." ucap Olive singkat.


🐨


Sesampainya dirumah, Olive langsung naik menuju kamarnya. Begitu juga dengan Dewi dan Viona, mereka memasuki kamar Dewi dan menguncinya. Viona langsung melepas kerudung putihnya dan mengusap wajah nya. Dewi yang melihatnya pun tersenyum.


"Capek juga ya mah akting kaya gini. Kering air mataku mah." ucap Viona yang membuat Dewi terkekeh.


"Santai dong sayang, setelah ini kita akan hidup senang. Gapapa kita bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian." ucap Dewi.


"Iya mah bener banget." mereka pun tertawa.


"Sekarang kita susun rencana agar Olive pergi dari rumah ini." ucap Dewi hang langsung diangguki oleh Viona.


Dilain sisi, Olive termenung dikamarnya memandang fotonya dengan Ayah Bundanya.


"Olive akan berusaha buat Bunda dan Ayah bangga sama Olive. Olive sayang kalian." ucap Olive lirih.


🐨


Ini adalah hari pertama Olive kuliah. Ia harus menyiapkan segala kebutuhan seorang maba sepertinya.


Hari ini dia akan bertemu dengan orang-orang yang baru. Melihat penampilannya sudah cukup, Olive turun kebawah. Ia melihat Viona dan Dewi dimeja makan.


"Kamu nggak sarapan dulu Liv?" tanya Dewi.


"Enggak mah, nanti aku sarapan di kampus aja" ucap Olive dengan sebutan mamah. Setelah Ayah nya meninggal sebulan yang lalu, Olive sudah mulai menerima Dewi dan Viona. Meskipun agak canggung, kenyataannya hanya mereka lah yang Olive punya saat ini. Ini juga saran dari Salsa dan Denia.


Flashback on


*Salsa, Denia dan Olive sudah janjian untuk bertemu di cafe z. Besok Salsa dan Denia akan pergi untuk kuloah diluar negri. Ini adalah pertemuan terakhir mereka sebelum keluar negri.


"Sekarang lo ada rencana apa Liv?" tanya Denia


"Gue belum tau Dee, gue coba jalanin aja dulu." ucap Olive.


"Atau gak lo ikut gue aja ke Malaysia Liv" ucap Denia yang ditanggapi senyuman oleh Olive.


"Nggak lah Dee, terus rumah sama perusahaan bokap gue gimana? Itu satu-satunya peninggalan bokap gue" ucap Olive.


"Jadi sekarang siapa yang pimpin perusahaan bokap lo Liv?" tanya Salsa penasaran. Karena Olive baru akan kuliah, jadi nggak mungkin kalau Olive yang disuruh mimpin perusahaan.


"Dipegang sama orang kepercayaan ayah gue Sal" ucap Olive.


"Emangnya tante Dewi gak bisa ngurus?" tanya Denia..


"Kurang tau juga gue Dee.. kan gue gak dekat sama dia" ucap Olive malas.


"Lo masih gak mau maafin tante Dewi sama Viona ya Liv?" tanya Denia. Melihat Olive hanya diam membuat Salsa ikut bicara.


"Menurut gue Liv, mendingan lo berbaikan aja sama tante Dewi dan Olive. Gue tau ini nggak mudah bagi lo, tapi untuk mengurangi beban lo, ada baiknya lo baikan aja sama mereka." ucap Salsa membuat Olive berpikir.


"Iya Liv, gue juga mikirnya sama kayak Salsa. Gue lihat juga mereka udah mulai baik sama lo. Kayaknya mereka udah nyesal sama perbuatannya selama ini."ucal Denia meyakinkan.


"Yaudah deh nanti gue coba." ucao Olive sambil tersenyum.


"Makasi ya udah selalu ada buat gue. Gue sayang banget sama kalian.. nnti jangan lupain gue dong." ucap Olive


"Siapa sih yang bisa move on dari lo" ucap Deniaa*.


Flashback off


"Olive pergi dulu ya mah.. gue dluan ya Vie" ucap Olive pada Dewi dan Viona. Sekarang Olive punya panggilan sayang untuk Viona yaitu 'Vie'.


"Iya kak.. hati-hati" ucap Viona. Viona memang lebih muda setengah tahun daripada Olive, itu makanya ia memanggil Olive dengan sebutan 'kak'.


Olive pun mengendarai mobilnya menuju kampus. Sesampainya dikampus Olive tak sengaja menabrak seseorang hingga dia terjatuh.


"Astaga!.. gue gak sengaja." ucap seorang gadis yang menabrak Olive. Olive pun mulai mengalihkan pandangannya pada orang yang menabraknya. Ia melihat penampilan wanita itu yang sangat berkelas.


"Sini gue bantu." ucap gadis itu membantu Olive. Gadis itu terkejut melihat Olive.


"Astaga! Olive?" gadis itu langsung memeluk Olive dengan semangat. Lain dengan Olive yang terlihat bingung.


"Lo gak kenal gue?... ini gue Bella!" ucap gadis hang bernama Bella itu. Seketika Olive terbelalak kaget.


"Bella!? Lo Bella?... maaf gue gak nyangka ini lo.. abisnya gue pangling liat penampilan lo sekarang. Lo tambah cantik." ucap Olive dengan nada menggoda, membuat Bella tersipu malu.


"Jadi lo kuliah disini juga?" tanya Bella mengalihkan pembicaraan.


"Iya Bel. Yuk sambil jalan ngobrol nya" ucap Olive.


Tak berapa lama, Olive sudah sampai di ruangan kelas nya.


"Ini kelas lo Liv? Yaudah kalau gitu ntar kita lunch bareng ya" ucap bella yang langsung diangguki oleh Olive.


"Bay πŸ‘‹πŸ» " ucap Bella yang ditanggapi senyuman oleh Olive.


🐨


Selesai makan siang dengan Bella, Olive langsung pulang kerumahnya. Saat tiba dirumah, dia melihat sebuah mobil keluar dari pekarangan rumahnya. Olive langsung masuk kedalam rumah dan melihat Viona dan mama Dewi menangis di ruang tamu.


"Vie.. kenapa ini?" ucap Olive berbisik pada Viona agar tak mengganggu mama Dewi.


"Kak, perusahaan papah bangkrut.. Orang kepercayaan Ayah udah kabur bawa semua uang papah.. hiks sekarang kita terlilit hutang di bank kak, perusahaan ayah udah disita sama bank hiks.." ucap Viona menangis dipelukan Olive.


"Olive, maafin mamah sayang.. mamah gak bisa jadi ibu yang baik buat kamu. Mamah gak bisa pertahanin perusahaan Ayah kamu hikss..." ucap Dewi sambil menangis. Olive tak menyangka perusahaan ayahnya akan bangkrut secepat ini. Dia sama sekali belum menyiapkan apa-apa untuk membantu perusahaan Ayahnya.


"Enggak mah, ini bukan salah mamah.. ini semua udah terjadi, gak ada yang perlu disalahin disini." ucap Olive sambil berpikir, entah bagaimana nasibnya saat ini. Belum lagi uang kuliah nya dan Viona. Ia tak tega melihat mama Dewi terus menangis.


"Vie, elo jagain mamah disini. Gue mau pergi dulu, gue bakalan berusaha cari pinjaman. Lo tenang aja ya." ucap Olive menenangkan Viona.


Kemudian ia pergi menuju GG Property menggunakan mobilnya.


'Gue harus minta bantuan kak Daniel. Gimanapun caranya gue harus bisa pertahanin perusahaan yang Ayah bangun dari dulu. Gue gak mau buat Ayah kecewa.' Batin Olive.


Sekarang Olive sudah berada di kantor Daniel. Dia menunggu Daniel menyelesaikan rapat disebuah ruangan. Tiba-tiba Daniel masuk, membuat Olive berlari memeluk kakak sepupu nya itu.


"Hey.. kamu kenapa Liv?" ucap Daniel berusaha menenangkan Olive yang terus menangis.


"Sekarang kamu duduk dulu cerita ke kakak apa yang sebenarnya terjadi." ucap Daniel menuntun Olive untuk duduk di sebuah sofa yang ada diruangannya.


"Kak.. hikss, Ayahh udah meninggal kak.." pernyataan Olive membuat Daniel terkejut.


"Sebulan yang lalu Ayah meninggal karena kecelakaan." ucap Olive menjelaskan.


"Kenapa kamu gak kasih tau kakak? Kenapa baru sekarang!?" ucap Daniel setengah membentak karena keterkejutannya.


"Perusahaan Ayah bangkrut kak, sekarang Ayah punya banyak hutang di bank.. hiks" hal itu membuat Daniel mengusap pelipisnya..


"Aku mohon bantu aku kak, aku gak punya siapa-siapa lagi. Cuma kakak yang bisa bantu aku.. hiks" Olivia terus menangis membuat Daniel tak tega melihatnya.


"Livia, maafkan kakak. Kakak tidak bisa membantumu. Perusahaan kakak sedang tidak stabil saat ini. Maafkan kakak Liv." ucap Daniel merasa bersalah karna tidak bisa membantu Olive. Olive yang mendengarnya pun merasa kecewa, tapi ini bukan salah Daniel.. mungkin Daniel sedang mengalami masalah seperti dirinya.


"Iya kak, tak apa. Olive ngerti kok." ucap Olive menatap Daniel tersenyum..


"Yaudah kalau gitu, Olive pulang dulu ya kak, kasihan mamah sama Viona menunggu dirumah." ucap Olive.


"Ayo kakak antar." ucap Daniel yang ditolak halus oleh Olive.


"Engga usah kak, aku bawa mobil sendiri kok. Aku pulang dulu ya kak." ucap Olive kemudian berlalu dari ruangan Daniel.


Sepanjang perjalanan Olive terus memikirkan cara agar perusahaan Ayahnya bisa bertahan. Kalau minta bantuan sama Denia, sangat tidak mungkin. Mengingat perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut, pasti sangat sulit memberikan pinjaman untuknya. Kalau Salsa sangay jauh untuk meminta bantuan padanya.


'Ya Allah, aku harus bagaimana lagi.. aku gak sanggup kehilangan perusahaan Ayah..' bati Olive menggerang frustasi.


🐨


Olivia sampai dirumahnya pukul 23.30 wib. Ia disambut oleh Viona yang masih terjaga.


"Kak, bagaimana? Kakak dapat pinjaman?" Tanya Viona mendekati Olive yabg baru sampai. Olive hanya menggeleng lemah pertanda ia tak mendapatkan apa-apa.


"Kak, aku akan berusaha mencari pinjaman seperti kakak. Aku gak mau lihat kakak berjuang sendirian." ucap Viona yang membuat Olive tersenyum. Ia tak menyangka bisa akur seperti ini dengan Viona.


"Iya Vio, kita berdoa sama-sama semoga cepat ada jalan keluar nya." ucap Olive memeluk Viona.


🐨


Olive memiliki jadwal mata kuliah pagi ini membuatnya harus bersiap-siap sepagi ini. Ia turun kebawah dan melihat mama Dewi dan Viona sedang sarapan.


"Selamat pagi mah, Vionaa" sapa Olive.


"Selamat pagi kak" ucap Vionaa


"Mah, gimana dengan kondisi perusahaan?" tanya Olive.


" Untuk saat ini perusahaan kita disita oleh pihak bank Liv. Kita harus membayar jaminan untuk menarik perusahaan kita kembali..." Dewi terdiam beberaoa saat sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Perusahaan yang terlanjur menanam saham di perusahaan kita ingin menarik kembali sahamnya. Dan kita tidak punya apa-apa untuk mengembalikan saham itu." lanjut mama Dewi lirih.


"Kapan jatuh tempo, perusahaannya dilelang mah?" tanya Olive.


"Minggu depan." Olive termenung mendengar jawaban mama Dewi.


'Bagaimana bisa mengumpulkan uang milyaran dalam waktu seminggu.' Batin Olive.