
"Liat Risya?" Yang diberi pertanyaan lantas menggelengkan kepala.
Sigra mengacak rambutnya dan bertanya lagi pada beberapa orang yang setiap lelaki itu lewati. Namun yang ia dapatkan hanya jawaban yang serupa dengan jawaban yang sudah ia terima.
Relvan menepuk pundak Sigra membuat lelaki itu menoleh ke arahnya. "Cari ke kelas dia aja, Gra. Siapa tahu dia ada di sana," usulnya.
Siapa yang tahu 'kan kalau Risya masih berada di kelasnya? Karena sedari tadi mereka hanya menyusuri lantai satu saja dan tidak mendapatkan apa-apa.
Angga mengangguk menyetujuinya. "Iya, Gra, mending cari aja langsung ke lantai dua. Bisa jadi omongan Relvan bener kalau Risya ada di sana," katanya ikut mengusulkan juga.
Sigra menatap ke arah tangga yang menuju ke lantai dua, tanpa berlama-lama, ia kemudian langsung pergi melangkah ke arah sana dengan sedikit bergegas.
Teman-temannya pun mengikutinya juga. Saat mereka melihat Sigra yang tiba-tiba berlari menerobos derasnya hujan itu sempat membuat mereka terkejut. Mereka tahu kala lelaki itu sempat menerima telepon dari seseorang, namun tak tahu apa yang tengah Sigra bicarakan.
Mungkin inilah yang membuat Sigra menjadi panik seketika, Risya seolah hilang dan mereka harus menemukannya. Sepertinya Risya memang seseorang yang begitu berharga bagi Sigra, karena jujur saja Sigra itu sosok lelaki yang anti dengan wanita. Dan tak pernah juga ia dekat dengan orang lain selain teman-temannya.
"Risya!" Panggil Sigra kala ia sudah tiba di depan pintu kelas adiknya.
Tak ada jawaban, lagipula di dalam ruangan ini tak terlihat manusia walau hanya satu. Jadi... Risya ke mana?
Sigra berdiri di depan pintu, jantungnya berdetak sangat cepat ditambah juga nafasnya yang tak beraturan. Lelaki itu terlihat ngos-ngosan sambil mengedarkan pandangan.
Netranya menilik ke sekeliling tempat, tak terlihat satu pun manusia yang berada di kelas ini. Namun pemikirannya tak sepenuhnya benar juga, sebab AC di kelas ini masih menyala walau sekarang kalah dengan dinginnya hembusan angin dari luar jendela.
Iya, kan? Ini mencurigakan. AC yang masih menyala dan jendela yang masih terbuka. Berarti ada seseorang yang sempat tertinggal di kelas ini sebelumnya.
"Ca!" Teriak Sigra lagi.
Masih tak ada sahutan dari sang empu. Entah yang dipanggil tak mendengar atau suaranya yang tak jelas karena kalah dengan derasnya suara air hujan di luar ruangan.
"Ada gak, Gra?" Tanya Angga yang baru saja menyusul bersama tiga teman lainnya. Ia juga ikut mengedarkan pandangan ke sekeliling, menilik dengan lekat ruangan yang nampak remang-remang ini.
Mereka terdiam bersama sepinya ruangan yang tak ada penghuninya ini. Hujan di luar sangatlah deras dan awan hitam semakin menggumpal di langit atas, anginnya juga lumayan kencang yang berhembus meniup helaian tirai jendela kelas.
"Dia gak mungkin pulang duluan, kan?" Tanya Rey juga dan membuat Rizhan meresponnya dengan gelengan kepala.
"Dia berangkat bareng Sigra, Rey," sahutnya. Rizhan tahu sebab tadi pagi ia menyaksikan mereka yang berangkat bersama ke sekolah ini. "Kalau dia pulang duluan, udah pasti dia ada ngabarin Sigra sebelumnya."
"Iya juga, Sigra gak mungkin sepanik ini kalau ada kabar dari tuh cewek sebelumnya," gumam Angga.
Sigra mulai melangkahkan kakinya ke dalam ruangan itu, langkahnya tak terlihat terburu-buru seperti sebelum ia sampai ke kelas ini. Tak ada yang menarik sebenarnya, hanya terlihat meja serta kursi, hiasan dinding, dan lain-lain.
Disudut ruangan nampak terlihat gelap, perhatian Sigra lantas tertuju pada sesuatu yang berada di bawah meja. Bayangan seseorang diujung ruangan, karena lampu kelas tidak dinyalakan jadi terlihat remang-remang saja.
Ini juga pengaruh cuaca, di mana awan hitam yang mendominasi langit dan itu terlihat dari kaca jendela.
Sigra mendekat ke arah sana sampai pada sesuatu yang menarik perhatiannya. Matanya terbelalak lebar kala menyadari kalau itu adalah seorang perempuan yang tengah menekuk lutut dan memeluk tubuh mungilnya sendiri.
Perempuan itu juga tengah memeluk sebuah tas, di tas itu terlihat sebuah gantungan buah stroberi yang ia kenali.
Risya?
Sigra segera menyingkirkan meja di dekat adiknya, dan lantas berjongkok dengan panik yang melanda dirinya sendiri.
"Ca, kamu gak apa-apa?" Sigra bertanya seraya mendongakkan kepala Risya agar dapat melihat ke arahnya. Jantung Sigra seolah ingin berhenti berdetak saat ia melihat adiknya tengah berurai air mata yang membasahi pipinya.
Maaf... Sigra datang sedikit terlambat.
Relvan, Rey, Rizhan dan Angga hanya saling pandang dan terdiam. Mereka juga ikut berjongkok di dekat Risya dan Sigra, menatap mereka yang saling berpelukan macam Teletubbies yang baru saja terpisah.
"Hiks... Takut... Huhuu..."
"Maaf... Jangan takut lagi, ada Abang di sini," ucap Sigra lembut.
"Abang?"
Sigra mengusap punggung sang adik memberinya kekuatan untuk pengobat rasa takut Risya, setidaknya sedikit juga tak apa.
"Mau Abang," tutur Risya sambil diikuti Isak tangisnya. Pelukan Risya juga mengerat seolah takut kalau Sigra tiba-tiba melepaskan.
"Kamu tenang, ya, Abang di sini, gak akan pergi ke mana-mana," sahut Sigra. "Maaf, Ca..." lirihnya kemudian seraya mengecup singkat pelipis sang adik.
"Abang?" Angga terlihat bingung, ia mengernyit seolah tengah mencerna sesuatu yang sepertinya tengah membuat bingung pikirannya.
Abang, ya? Lelaki itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Hem... Berarti, eh?! Berarti mereka adik kakang dong? Lah??
Jadi, jadi Risya itu adiknya Sigra dan begitupun sebaliknya?
"What?!!" Angga memekik seketika karena terkejut sendiri dengan pemikirannya.
Suara lantang Angga jadi terdengar seperti suara petir di pendengaran Risya hingga membuat gadis itu semakin ketakutan dengan tubuh yang bergetar hebat.
Sigra langsung menatap tajam Angga, Rey juga langsung membekap mulut Angga. Selain sepertinya itu nampak mengganggu Risya, suara Angga hampir memecah gendang telinganya karena Angga berteriak tepat di sebelahnya.
Buset. Bisa tuli juga dia.
"Elu jangan bikin ulah, Cok! Dan jangan teriak di samping telinga gue juga!" Sentak Rey seraya melepaskan bekapan tangannya.
Relvan yang melihat keributan mereka pun seketika meletakkan jari tunjuk di bibirnya, Rizhan yang melihat itu langsung menyenggol kedua orang tadi untuk melihat ke arah Relvan.
Angga menelan ludahnya kesusahan. Relvan seperti berkata; diam, jangan tanya apapun dulu. Keluar dan biarin mereka.
Setelah mengartikan hal itu dan benar saja, Relvan seketika berdiri dan melangkah keluar dari ruangan ini. Nampaknya lelaki itu akan menunggu di depan ruangan kelas.
Rey pun menghela nafas lalu kemudian beranjak dari tempat. Keluar dari kelas ini juga beserta Rizhan dan Angga yang mengikutinya dari belakang. Membiarkan kakak beradik itu menenangkan diri masing-masing.
Rizhan sempat mematikan AC kelas Risya sebelum keluar dan menutupkan beberapa jendela yang tadinya terbuka dan menutup tirainya juga. Kelasnya malah jadi seperti gelap gulita seketika. Baik juga budak kecil satu ini tapi sedikit tak berperasaan membiarkan Sigra dan Risya gelap-gelapan.
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...