Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 84 | DNLM



"M-maaf, kak. Aku gak sengaja."


"Gak sengaja?! Lu kira ini jalan sempit apa?! Pake acara mepet - mepet ke gue?! Gue udah jalan di pinggir masih aja lu tabrak!!" Bentak Soya lagi. Kesal sudah, ia sungguh kesal dengan perempuan itu.


Soya sudah tidak lagi mencoba mengganggu hubungan Nina dengan Relvan pun masih saja si perempuan gila ini mencari gara - gara dengan nya.


Dari arah sebelah kanan, tiba - tiba ada yang sengaja mendorong bahu Soya dengan tidak tahu malu nya. Beruntung Soya bisa menjaga keseimbangan kaki nya, kalau tidak bisa - bisa ia terjerembab ke lantai.


Soya menatap nyalang ke arah seorang laki - laki yang nampak membantu Nina berdiri. "Oi! Lu apa - apaan sih?!" Keluh Soya. Ini kan si Rey, salah satu teman Relvan yang dengan kentara nya jadi budak cinta Nina.


"Lu yang apa - apaan?!!" Tanya Rey, balik. Dari meja yang mereka tempati, ia berlari ke arah sini hanya untuk melindungi Nina yang tengah ditindas oleh Soya.


Teman - teman se meja nya pun terkesiap kaget saat ia tiba - tiba beranjak dari tempat duduk. Dari arah belakang, terlihat lah mereka yang nampak menyusul diri nya.


Rey membantu Nina berdiri, menahan perempuan itu agar tak terhuyung dan jatuh ke lantai lagi. "Lu gak apa - apa, kan?" Nina menggeleng pelan dengan wajah yang sangat menyedihkan.


"Eh mak lampir! Lu kenapa sih nyari gara - gara mulu?! Bisa gak lu sehari aja gak nyari masalah sama Nina?! Lu gak punya tujuan hidup lagi apa selain caper ke kita?" Sarkas Rey tanpa perasaan.


Ia tak tahu saja kalau perkataan nya itu bisa menyakiti perasaan orang lain yang mendengar nya. Soya tidak pernah mencari perhatian untuk kalian semua, cukup satu orang saja, ia tidak perlu yang lain nya.


Soya mengernyitkan kening nya. "Gue?" Tanya nya sambil menunjuk diri sendiri. "Eh, burik! Gue caper? Noh!" Telunjuk nya berbalik arah dan menunjuk ke arah Nina. "Princess yang kalian agungkan itu kali yang caper?!" Tukas nya.


Soya menggeser telunjuk nya ke arah Rey. "Buka mata lu lebar - lebar! Gue udah jalan di pinggir sini aja masih sempet dia serempet. Emang buta dah!"


"Gak mungkin lah Nina lakuin hal kayak gitu. Elah, bilang aja lu yang nabrak dia, kan?! Kalau emang caper mah gak perlu nyalah - nyalahin orang!" Balas Rey dengan tatapan sinis. "Lebay banget, cuma ketumpahan gitu doang sok kepanasan!"


Soya mengeratkan gigi nya kuat, gila sih! Dia kira yang tumpah tadi itu air dingin apa?! Air panas woi lah!! Coba aja Lo bayangin!


"Oh, lebay?" Rey terdiam memperhatikan pergerakan Soya yang nampak menjangkau sebuah gelas plastik di atas meja.


Byurr!!


"Woi! Gila lu!" Rey meringis kala tahu ternyata Soya mengambil sisa kopi yang ada di dalam gelas tadi dan tanpa ia duga juga, Soya menyiramkan nya ke lengan nya yang tak tertutup seragam.


"Lebay banget!" Celetuk Soya sambil tersenyum remeh. Panas, kan? Maka nya jangan banyak omong. Bilang lebah lah, cuma ketumpahan gitu doang. Sekarang saat disiram balik dia meringis juga, kan?


"Soya kamu kok gitu?" Tanya Nina. Ia menghawatirkan Rey dan mencoba meniup - niup lengan lelaki itu.


Cuih!! Soya menatap malas adegan sok so sweet di depan nya. Bukan nya ambil tisu dulu terus di lap, ini malah ditiup - tiup. Di bersihkan dulu lah, Dugong!!


"Diem lu! Mau gue siram juga?!" Ancam soya. Ia hendak bersiap menyiram secuil air di dalam gelas itu ke arah Soya tapi tak jadi saat Angga menghentikan diri nya.


"Cukup, La."


"Ck." Soya menatap malas sambil mendecakkan lidah nya pelan. "Belain aja terus tuh monyet!"


"Bukan gitu--"


"Bacot!"


Rizhan mengambilkan tisu untuk Rey, kasian juga dengan nasib lelaki itu. "Di lap dulu, Rey," kata nya. Rey menerima dan mengambil dua lembar tisu yang berada di tangan Rizhan.


"Kenapa ini?" Tanya Angkasa yang baru datang ke kafetaria.


"Urus tuh Mak lampir yang suka cari masalah!" Celetuk Rey sambil terus memandang Soya dengan sinis.


"Heh, jelmaan monyet! Kalau gak ada pemicu nya, gue juga gak akan nyari masalah, dongo!" Sahut Soya.


"Elu Mak lampir!"


"Elu jelmaan monyet!"


"Diam!!" Suara Angkasa seketika membuat suasana terasa membeku, hening. Lelaki itu menatap Soya, Rey serta Nina secara bergantian. "Kalian mau saya bawa ke ruang BK?"


Angkasa menghela nafas berat saat tidak ada yang menjawab pertanyaan nya, semua nya terdiam, tak ada yang membuka suara. Ia menatap ke arah baju Soya yang terlihat kotor, gadis ini tak memakai almamater, kemana almamater nya??


"Bawa baju ganti?" Soya menggeleng karena tahu kemana arah pembicaraan Angkasa. Ia tak membawa baju ganti, ada sih baju olahraga di loker tapi sudah ia pakai tadi. Bau keringat, tak mungkin ia pakai lagi.


Ia menengadah kan kepala nya menatap bingung ke arah Angkasa. Angkasa tersenyum tipis. "Di loker gue ada baju ganti, lu bisa pakai itu," kata nya menjelaskan.


Soya menganggukkan kepala. "Makas-" seketika ia terkesiap kaget kala Relvan tiba - tiba melemparkan Hoodie yang di pakai lelaki itu ke arah nya dan dengan reflek pula Soya menangkap nya ke dalam pelukan nya.


"Pakai."


Ia menatap Relvan dan Hoodie itu bergantian. "Ck. Lu gak tau cara pakai nya gimana?" Tanya Relvan sambil mendecakkan lidah. Ia memasukan kedua tangan nya ke dalam saku seraya menatap Angkasa dengan raut tak bersahabat.


"Thanks, tapi gue gak perlu, Van." Soya hendak mengembalikan hoodie milik lelaki itu tapi langsung ditahan oleh sang empu.


Dengan wajah dingin tersebut, Relvan merebut paksa kunci yang berada di tangan Soya lalu meletakan kembali ke tangan Angkasa. "Punya lu kan? Simpan aja, Soya gak butuh itu," ucap nya dingin.


Angkasa menggenggam kunci di tangan nya dengan erat, seketika suasana di antara mereka terasa tak nyaman. Soya juga merasa tak enak dengan Angkasa karena perlakuan Relvan.


"Van, lu apa - apaan sih!" Protes Soya. Kenapa Relvan jadi mencampuri urusan nya lalu lelaki itu juga jadi sok perhatian pada nya, apa Relvan cemburu seolah takut Soya di rebut oleh Angkasa?


Relvan menatap Soya dengan tajam. "Pakai." Satu kata yang terlontar dari mulut lelaki itu seolah menjadi perintah untuk nya. Ia ingin menolak tapi di satu sisi ia seakan tak bisa untuk melakukan hal itu.


"Satu."


Langsung saja Soya buru - buru mengenakan hoodie milik lelaki itu. Jantung nya berdebar - debar, antara takut dan juga gugup. Aura Relvan terlalu mendominasi disini. Relvan mengulas senyuman tipis.


"Pinter," ucap nya. Soya mengerjapkan mata saat tangan besar Relvan mengusap rambut nya lembut.


Pemandangan itu sungguh membuat Nina menjadi panas, ia meremat jari - jari nya dengan kuat untuk melampiaskan kekesalan nya. Kenapa Relvan tak melirik ke arah nya? Apakah ia sudah tak menarik lagi di mata lelaki itu? Relvan malah memperhatikan Soya, bahkan untuk melirik ke arah nya saja tidak. F*ck!!


"Kak Sigra," panggil Nina. Rey melirik Nina yang memandang Sigra dengan wajah memelas. Dia kenapa? Bukan, maksud Rey kenapa Nina memanggil Sigra? Apakah ingin meminta tolong pada lelaki itu?? Kenapa tak pada nya saja? Jelas - jelas ia ada di samping Nina.


"Kaki aku sakit," ujar Nina pelan.


Sigra lantas menaikan sebelah alis nya, seolah berkata seperti: terus kenapa? Kalau sakit ya tinggal pergi ke UKS lah apa susah nya? Kenapa jadi melaporkan hal itu pada nya? Sigra kan bukan dokter. Tapi ia memilih menatap Rey dan memerintah lelaki itu untuk membawa Nina menuju Unit Kesehatan Sekolah.


Walau tak terlalu mengerti dengan situasi tapi Rey nampak menatap Nina dengan khawatir. "Kaki lu sakit? Ayo, biar gue bawa lu ke UKS," ajak Rey. Nina sontak mengumpat dalam hati, kenapa jadi lelaki ini?? Ia kan mau nya Sigra!


"Kalian mau kemana?" Tanya Angkasa saat melihat Nina dan Rey yang hendak menjauh dari kerumunan. Kedua orang itu langsung menoleh menatap Angkasa.


"Selesaikan dulu masalah kalian disini, jangan main kabur kayak gini."


Rey menatap jengah lelaki songong itu, sok berwibawa dan sok bijaksana. Hanya karena jabatan nya ketua osis saja! Cih!


"Bukan nya udah selesai?" Angkasa menaikan sebelah alis nya, nampak tak paham dengan perkataan lelaki itu. Memang nya kapan masalah ini selesai?? Angkasa belum mendengar pernyataan maaf dari kedua belah pihak.


"Ck." Rey mendecakkan lidah sambil menatap ke arah Soya. "Lu, minta maaf sama Nina," ucap nya membuat Soya melotot tak terima.


"Heh Ryshaka Raditya! Yang harus nya yang minta maaf itu dia!" Geram Soya seraya menunjuk ke arah Nina yang menundukkan kepala. "Apa?! Lu gak terima kalau dia yang harus minta maaf?!! Sini lu berantem sama gue!" Soya hendak menyerang Rey, Rey yang terlihat panas pun hendak menyergah ke arah gadis itu.


Keributan kembali berlangsung sampai membuat Angkasa menggeram kesal sambil mengurut pangkal hidung nya. Kepala nya bisa sakit dan telinga nya bisa mendadak tuli mendengar pekikan mereka berdua. Rasa nya ia ingin mengundurkan diri saja dari tugas ini!! Tuhan tolong dia!!


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...