
Dua pemuda itu terlihat termenung sambil mendudukkan diri di sofa yang ada di rooftop sekolah nya. Setelah memastikan Soya tak kenapa - kenapa saat perselisihan di kafetaria tadi, Rhae kembali meneruskan langkah nya dan membawa Sigra ke arah rooftop sekolah.
"Kenapa?" Rhaegar menoleh sekilas menatap Sigra yang nampak memulai pembicaraan di antara mereka saat kedua nya sempat terdiam beberapa saat. "Kenapa lu ngomong gitu ke Relvan?"
Ah, ternyata itu yang ingin di pertanyaan oleh Sigra. Rhaegar memandang lurus ke depan sambil tersenyum tipis. "Ya gak apa - apa, siapa tau aja dia tiba - tiba inget sesuatu," ucap nya dengan kekehan kecil.
Sigra menghela nafas berat. "Dia gak bakal bisa inget itu," sahut nya. Apa yang bisa diingat oleh orang amnesia jika cuma kata "hai" saja yang menyapa nya?? Kecuali kau membawa kenangan - kenangan yang membekas yang bisa membentur ingatan di kepala nya.
"Kenapa di sini cuma gue yang inget itu? Harus nya gue juga diberi penghilang ingatan tentang hal ini," celetuk Rhaegar dengan pandangan mata yang sendu.
Sigra tak bisa berbuat apa - apa, juga tak bisa berbuat banyak hal untuk mereka. "Terus gue gimana?" Pertanyaan nya sontak membuat Rhaegar terdiam. Sigra terlihat menghembuskan nafas nya ke udara berkali - kali seolah ada beban berat yang sudah lama ia tahan. "Semisal lu ikut lupa, terus gue gimana? Kalian biarin gue tersiksa sendiri dan terjebak dalam kenangan itu lagi? Sendirian?" Sigra terkekeh kecil. "Kenapa gak sekalian kita berempat aja yang dibikin lupa?"
Rhaegar tidak tahu, ternyata Sigra pun mencoba menahan diri sendiri untuk tidak mengungkit apa pun yang berhubungan dengan masa lalu mereka. Ia biarkan semua berjalan pada semesti nya tanpa harus berusaha untuk kembali lagi.
"Gra, tato lu masih ada?" Tanya Rhaegar tiba - tiba.
"Tato?" Gumam Sigra seraya mencerna perkataan Rhaegar itu. Ia memang mempunyai sebuah tato di pinggang bagian kiri, apakah itu yang di maksud Rhaegar?
"Kenapa?" Tanya Sigra sambil mendelik ke arah lelaki itu.
"Gue masih ada," ucap Rhaegar. Ia tersenyum sambil menatap sejurus ke arah langit biru di depan mata nya. "Relvan gimana ya? Apa dia gak ngerasa aneh sama hal itu?" Ia bergumam kecil lalu menoleh ke arah Sigra. "Eh, Gra. Bukan nya waktu itu Relvan pindah ke luar negeri ya?" Tanya nya membuat Sigra menganggukkan kepala. "Terus kenapa kalian sekarang bisa satu sekolah?"
"Elu sendiri kenapa bisa satu kelas sama Risya?" Tanya Sigra.
"Karena pindah?"
"Relvan juga gitu." Rhaegar langsung membulatkan bibir nya. "Dari kapan?" Tanya Rhaegar.
"Kita ketemu waktu SMP."
"Gimana reaksi lu saat ketemu dia?"
Sigra mengernyitkan dahi nya. "Biasa aja," sahut nya singkat. Rhaegar menganggukkan kepala lalu terdiam sebelum Sigra kembali bertanya. "Lu ngapain ngajak gue ke sini?"
Seketika Rhaegar jadi mengingat itu, bukan kah tujuan nya mengajak Sigra ke sini adalah untuk membicarakan tentang keadaan Risya. Kenapa mereka jadi berbasa - basi tentang hal lain?!
"Oh, iya. Risya udah pulang, kan?"
Sigra mengangguk sekali. "Mau apa?" Tanya nya membuat cengiran terbentuk di bibir Rhaegar.
"Mau jenguk lah. Gue-"
"Gak," tolak Sigra santai. Rhaegar mendecakkan lidah nya sambil menggerutu pelan.
"Pelit amat lu!" Sahut Rhae ketus. "Gue kan cuma mau jenguk dia bukan mau nyulik!" Wajah Sigra tampak datar dan seolah malas untuk menanggapi ocehan pemuda itu. "Gra, temen lu gak tau apa kalau Risya itu adek lu?"
Sigra menghela nafas panjang, Rhae ini ternyata sangat banyak bicara sampai - sampai mulut nya terasa lelah untuk menyahuti perkataan nya. " Gak," sahut nya.
Rhaegar membulatkan bibir nya. "Kenapa gitu?" Tanya nya justru membuat Sigra sontak mendecakkan lidah nya.
"Gak perlu gue jawab pertanyaan lu!" Ketus nya.
Rhaegar memutar bola mata nya." Iya deh," sahut nya sambil mencebikkan bibir. "Inti nya gue mau jenguk tuh bocah."
"Siapa yang lu sebut bocah?" Tanya Sigra seraya melirik tajam ke arah Rhaegar.
"Adek lu lah!" Rhaegar nyengir kuda. "Risya emang mirip bocah, Gra. Soal nya masih imut. Kalau lu gak bolehin gue, gue bakal laporin ke bokap lu kalau anak laki - laki nya gak bolehin calon adik ipar ke rumah."
Penuturan Rhaegar lantas membuat Sigra melotot lebar. "Gak setuju gue!" Sahut nya tak terima kalau Rhae akan jadi bagian keluarga nya.
Sigra memutar bola mata jengah seraya menatap lurus ke depan. "Rhae," panggil nya. Rhaegar menoleh dengan raut tanya. "Kalau kita berempat balik kayak dulu lagi gimana?" Rhaegar seketika terbelalak lebar. Apa kah berarti Sigra juga punya keinginan yang sama dengan nya??
**
Risya berguling - guling di ranjang empuk milik nya karena bosan hampir seharian tidak beraktivitas apa - apa. Infus sudah dilepas karena ia yang meminta, sungguh jika benda itu melekat di tangan nya maka ia pastikan tubuh nya tak dapat bergerak bebas seperti sekarang ini.
"Bosen." Risya bergumam sambil tengkurap lalu balik terlentang menghadap langit - langit kamar nya. "Pengen sekolah," ucap nya seketika. "Pa pengen balik ya?" Ia mengerucutkan bibir Cherry nya. "Balik ke dunia asli gue maksud nya."
Risya menghela nafas panjang sambil sejenak memejamkan mata. Entah ini kesialan atau keberuntungan, yang jelas ia nyaman berada disini tapi nyaman lagi kalau dia berada di dunia nya sendiri. Jadi diri nya sendiri bukan jadi orang lain.
Ia beranjak dari tempat tidur dan melangkahkan kaki ke arah meja rias. Sejenak ia menatap pantulan diri nya di dalam cermin itu. "Muka gue gak pucet - pucet amat," celetuk nya usai mengamati diri dengan cermat. "Arti nya gue udah sehat, nih." Ia terdiam sejenak. "Gue kan emang udah sehat."
Risya mengangkat bahu nya acuh, tangan nya meraih sebuah ikat rambut yang terletak di atas meja tersebut lalu mengikatkan nya ke rambut nya dengan asal tanpa mengurangi kecantikan alami yang dimilikinya.
Ia melangkah turun ke lantai bawah. Saat ia berjalan ke arah dapur, terlihat ada Bi Iyem sedang berkutat di sana. Mungkin sedang memasak makan siang untuk tuan rumah. Risya berjalan pelan lalu memeluk si Bibi dari belakang. "Bibi," ucap nya senang.
BI Iyem justru tersentak kaget dengan kedatangan nona muda nya itu, mana bisa ia marah, ia hanya bisa mengelus dada nya yang masih terkejut. "Ya ampun, Non. Bibi kaget." Risya lantas tertawa kecil dengan posisi masih memeluk sang Bibi. "Kenapa turun ke bawah? Enon kan masih sakit, harus nya tadi panggil Bibi aja."
Risya mengulas senyuman. "Caca udah sembuh, Bi. Jalan dari kamar ke dapur aja Caca gak kenapa - kenapa." Ia memeluk Bibi dengan sayang. "Jangan khawatir," ucap nya lagi.
BI Iyem mengusap kepala Risya dengan lembut. "Enon mau apa?" Tanya nya sambil sibuk menyelesaikan pekerjaan nya.
Risya kini melepaskan dekapan nya sambil memandang ke arah Bi Iyem. "Bibi masih sibuk gak?" Tanya nya. "Caca mau susu hangat sama buah."
"Ya sudah, Bibi bikinin dulu ya," sahut Bi Iyem seraya mematikan kompor tersebut. "Enon bisa tunggu di meja makan."
Risya mengangguk dengan semangat sambil melangkah riang ke arah meja makan. Ia duduk dengan tenang sambil memperhatikan pekerjaan Bi Iyem. Tak membutuhkan waktu lama, Bi Iyem pun membawakan segelas susu dan beberapa potong buah yang ia taruh di piring untuk anak majikan nya.
"Terimakasih, Caca mau bawa ke atas dulu," ucap Risya seraya mengangkat segelas susu dan sepiring kecil buah tersebut.
"Mau Bibi bantu, Non?" Tawar Bi Iyem.
Risya menggelengkan kepala nya. "Caca kuat, ini gak berat, kok. Papaiii!!" Ia kemudian melangkah meninggalkan meja makan dan Bi Iyem yang masih menatap punggung nya yang perlahan menghilang dari pandangan.
Risya duduk santai di balkon kamar nya sambil menikmati susu hangat dan potongan buah apel milik nya. Sekarang sudah memasuki waktu siang, entah jam berapa tapi seperti nya anak sekolahan sudah hampir pulang.
Ia menyesap susu di gelas itu sambil meresapi rasa manis nya. "Rasa nya enak," celetuk nya kecil. "Enak lagi sih kalau bikinan tangan Kak Agas." Risya terkekeh sendiri. "Ngomong - ngomong rasa susu nya gak jauh beda ya sama di dunia gue."
Ia menatap jauh ke depan, memandang sekitar tempat tinggal nya yang dipenuhi gedung tinggi menjulang. Mirip sekitar tempat tinggal nya dulu, beda nya disini ia bersama keluarga baru bukan bersama kakak perempuan nya dulu.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...