
Selesai kuliah, Olive dan teman-teman nya berkeliling mall untuk menghilang kan rasa suntuk. Mereka berjalan beriringan sambil bercanda dan tertawa. Dengan tak sengaja, Olive menabrak seseorang membuat semua perhatian tertuju pada mereka.
"Eh, maaf gue nggak sengaja." Ucap Olive sambil membantu orang itu untuk membersih kan baju nya yang terkena minuman Olive.
"Iya.. maafin temen gue ya, dia nggak sengaja kok." Ucap Denia sembari mengeluarkan tisu dari tas nya dan memberikan beberapa lembar yang langsung disambut oleh orang itu.
"Lo sih! Ngajak gue nengok-nengok itu, sampe gue nabrak nih." Ucap Olive menyalah kan Denia. Karena Denia menunjuk seorang badut yang besar membuat nya tertawa.
"Iya ini juga salah gue. Maafin kita yaa." Ucap Denia menatap seorang lelaki yang mereka tabrak.
"Iya. Lain kali kalian hati-hati kalau jalan." Ucap lelaki itu yang masih sibuk membersih kan baju nya menggunakan tisu.
"Apa perlu gue ganti baju lo?" Tanya Denia membuat lelaki itu membelalak kaget.
"Kamu mau ganti baju saya?" Tanya lelaki itu tak percaya.
"Iya, gue sanggup kok buat beli baju baru untuk ganti in baju lo." Ucap Denia membuat lelaki itu membuang jauh pikiran yang sempat hinggap diotak nya.
"Saya kira kamu mau bantu saya ganti baju." Ucap lelaki itu yang membuat Olive dan teman-teman nya berteriak tertahan.
"Lo gila ya. Mesum banget sih!" Ucap Denia ketus kemudian berlalu pergi meninggalkan teman-teman nya dan lelaki itu.
Olive dan teman-teman nya berjalan menyusul Denia tanpa mempedulikan lelaki mesum itu. Namun, lain dengan Bella. Ia berjalan mendekati lelaki itu kemudian mencolek lengan lelaki itu.
"Heh? Nama lo siapa?" Tanya Bella menatap lelaki itu.
"Bastian." Ucapnya singkat.
"Oke Bastian, nama gue Bella." Kata Bella memasang senyum manis nya.
"Gue dukung kalau lo naksir sama Denia." Ucap Bella berlalu pergi sambil mangacungkan jempol nya ke arah Bastian.
Sedangkan Bastian hanya mematung melihat tingkah Bella.
'Menarik... aku akan dapatkan salah satu dari kalian.' Bastian menggeleng kan kepala nya, ia sendiri tak percaya dengan dirinya yang menyukai ABG seperti mereka.
Sementara itu, Olive dan teman-teman nya masih mendengarkan segala gerutuan Denia sejak beberapa menit yang lalu.
"Gila banget sih tu orang, masa iya dia berpikir kalau gue mau bantu ganti in baju nya. Dasar mesum." Denia menggerutu kesal memgingat lelaki yang di tabrak oleh Olive tadi.
"Jangan salahin dia dong Dee, kan lo yang bilang mau gantiin baju dia. Wajarlah dia nganggap kek gitu." Ucap Salsa sewot.
"Bener tuh Sal. Lain kali kalau mau ngomong itu difilter dulu Dee, biar orang-orang nggak salah paham gitu." Ucap Sarah yang berpihak pada Salsa membuat Denia semakin kesal.
"Btw dia ganteng loh Dee, lo nggak mau? Buat gue aja yah.. yah.." kata Bella sambil mengedip - ngedip kan mata nya.
"Apaan sih lo Bel, ambil aja sana. Bawa pergi jauh-jauh dari gue." Ucap Denia sambil mengibas kan tangan nya.
Sedangkan Olive dan teman-teman nya tertawa melihat kekesalan Denia.
"Lo jangan benci-benci gitu deh.." Ucap Salsa menoel-noel pipi Denia.
"Ntar naksir lo.." sambung Olive yang langsung di 'iya' kan oleh teman-teman nya kecuali Denia.
"Lo juga ikut-ikutan mojokin gue ya Liv?" Tanya Denia kesal.
"Iya jelas lah" kata Olive tertawa.
****
Sedangkan Aiden dan Roby sudah sampai dirumah Indira. Aiden langsung masuk, entah mengapa ia sedikit curiga saat rumah Indira tidak memiliki penjaga sama sekali. Aiden menepis pikiran buruk yang hampir besarang dikepala nya.
"Indira!!" Aiden berteriak membuat suara nya menggema sampai ke sudut rumah Indira.
Indira yang sedang menonton dikamar bersama Viona pun terkaget mendengar suara orang berteriak memanggil nama nya.
"Siapa sih kak? Bikin kaget aja." Ucap Viona yang terbangun dari tidur nya.
"Kakakmu lah, siapa lagi.." Ucap Indira yang memang sudah hapal dengan suara Aiden.
Indira langsung beranjak membuka pintu kamar dan langsung turun menghampiri asal suara. Viona yang mendengar perkataan Indira mengikuti nya dari bekakang.
Sesampainya diruang tamu, Viona melihat Aiden dan langsung berlari memeluk Aiden. Aiden juga menyambut pelukan Viona dengan pelukan hangat.
"Kak Aiden.. hikss.." ucap Viona lirih sambil menangis haru.
"Aku merindukan mu.." kata Viona yang masih memeluk Aiden.
"Aku juga merindukanmu. Maafkan kakak yang selama ini tidak bisa menemukan mu." Ucap Aiden membelai rambut Viona.
Aiden merasa bersalah pada adik nya itu. Apalagi Aiden berniat untuk membalas kejahatan yang dilakukan Viona pada Olive dulu.
Aiden semaki menyesal saat mendengar cerita Daren, kalau Daren sudah mengambil kehormatan Viona. Ia merasa telah gagal menjaga adik nya. Bahkan ia sudah merusak sang adik walaupun pelaku utama nya bukan diri nya.
"Aku masih disini kalau kalian lupa." Kata Indira menatap dingin kearah Aiden dan Viona.
"Bagaimana dengan tawaranku Aiden?" Tanya Indira sembari berjalan kearah Aiden dan Viona. Sedangkan Viona melihat Indira dengan tatapan bingung.
'Bukan kah dia sudah menganggap kak Aiden sebagai kakak nya juga, lalu apa yang dimaksud kak Indira dengan tawaran itu.' Batin Viona.
"Baiklah, aku akan menikahimu." Kata Aiden mengalihkan pandangan nya dari Indira.
Hal itu membuat nya tak sadar kalau Indira sedang menahan tawa nya. Sedangkan Viona yang melihat Indira seperti itu membuat nya sadar kalau Indira hanya berusaha mengerjai kakak nya.
"Apa kakak tidak mencintai Olivia?" Tanya Viona penasaran.
Aiden spontan menoleh ke arah Viona. Dan menatap nya lembut.
"Aku yakin kalau Olive adalah jodohku, tuhan akan mempertemukan kami walau pun jalan nya sangat sulit." Ucap Aiden membuat Viona tersenyum kearah Indira membuat Aiden mengernyit heran.
"Kalau begitu aku akan membantu kakak untuk memuluskan jalan agar kakak berjodoh dengan Olive." Kata Viona menatap Aiden.
"Apakah aku juga bisa membantumu kak Aiden?" Kata Indira yang membuat Aiden merasa sangat asing dengan kalimat Indira.
"Kenapa kau menatap ku begitu? Kau tidak mau menganggap ku sebagai adik mu?" Tanya Indira pura-pura kesal. Ia tahu saat ini Aiden merasa bingung dan terkejut dengan kata-kata nya.
"Iya kak, kak Indira ingin menjadi adik mu. Dia nggak mau menjadi istrimu. Karena kak Indira sadar, dia hanya mencintai mu sebatas seorang adik terhadap kakak nya. Bukan sebagai sepasang kekasih. Benar begitu kan kak?" Tanya Viona memastikan kepada Indira.
"Iya benar, aku ingin menjadi adikmu." Ucap Indira membenarkan perkataan Viona.
Aiden tersenyum bahagia mendengar hal itu. Itu berarti Aiden tidak perlu melepaskan wanita yang dicintai nya. Saat ini ia hanya perlu meyakinkan Olivia kalau dia benarbenar mencintai gadis itu.
'Aku mencintai mu Olivia' batin Aiden